Catatan Kecil: Volunteering
Tampilkan postingan dengan label Volunteering. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Volunteering. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Agustus 2025

Awal Mula

Agustus 13, 2025 0
Awal Mula


Aku terbangun dengan badanku demam tinggi. Aku meminta izin kantor untuk berisitirahat di rumah. Tak kuat rasanya aku harus pergi berpayah-payah ke kantor dengan suhu badan hampir mencapai 38. Kepala pusing, dan tenggorokan sakit. Entah apa yang terjadi. Padahal, kemarin aku sangat sehat. Aku teringat satu hal, hari ini aku janjian ketemuan dengan Kak Flo. Dia mengajakku untuk meet up. Aku harus segera mengabarinya dan membuat janji baru. Tak enak rasanya, tapi badanku tidak bisa diajak kompromi saat itu.



Setelah menjadwalkan ulang, akhirnya aku ketemu dengan dia. Dia mengajakku ketemuan di PP. Lokasi yang tak terlalu jauh dari kantorku. Dengan menggunakan taksi, aku berangkat di saat jam istirahat. Dia sudah menungguku di sana. Aku, orang yang tak terlalu bisa berbasa basi, segera menanyakan maksud dan tujuan ketemuan itu. Singkatnya, dia menyatakan akan pensiun.


Bagai sambaran geledek di siang terik, aku bingung harus merespon apa. Ada beberapa rencana yang tak bisa tertulis di sini. Pada intinya, 2025 adalah acara terkahir dia. Dia menawariku untuk mengambil peran lebih dari sebelumnya. Aku menyatakan ingin menjadi Project Manager. Iya, aku bertaruh waktu, tenaga dan biaya untuk menjadi PM. Sebuah posisi yang tak terbayangkan sebelumnya untuk aku ambil.


Selang minggu kemudian, kami berkumpul dengan beberapa tim yang menyatakan bersedia berkontribusi di TEDx Jakarta 2025. Karena kami tidak punya ruangan meeting, jadi kami berkumpul di food court Plaza Senayan. Dengan sangat pede dan cueknya, kami menggelar meeting di food court. Sebuah tempat yang tidak cukup ideal, namun pada akhirnya kami ambil. Beruntung pagi itu masih sepi, sehingga tak mengganggu fungsi utama tempat itu.


Sebagai orang yang hanya berkutat di belakang layar, aku tak mengenali semua wajah. Padahal, mereka sudah berperan di event sebelumnya. Masing-masing dari kami menyatakan aspirasi posisi yang kami ingin ambil perannya. Ada yang berubah dari peran tahun sebelumnya, ada yang masih bertahan di divisi yang lama. Kami menyepakati akhir April sebagai target penyelenggaraan event.


Singat cerita, terbentuklah core tim yang terdiri dari beberapa divisi. Ini itu segera dirancang di akhir tahun. Target awal dari penyelenggaraan event ini adalah akhir April. Namun, menimbang satu dan lain hal, event kita putuskan untuk diundur di awal Agustus. Mengapa 2 Agustus? Karena hanya tanggal itu Gedung PPHUI tersedia. Bagaiamana kelanjutan proses sampai event? Akan aku gambarkan di tulisan berikutnya.


Aku ingin merefleksikan awal-awal tawaran peran ini. Project Manager, sebuah posisi yang tak pernah terbayangkan untuk ditawarkan ke aku, atau aku ambil, apalagi di organisasi TEDx Jakarta. Organisasi yang tidak hanya lebih dari 10 tahun aku bergabung, tapi sebuah organisasi yang aku kagum padanya. Aku sudah kagum dengan TEDx Jakarta sejak aku kuliah di Bandung, jauh sebelum aku bergabung. Tak pernah aku punya kesempatan hadir di eventnya. Aku hanya menikmati karyanya melalui Youtube. 


Pernahkah kamu mencintai sesuatu, sampai level kamu menolak diberi benda itu karena takut merusaknya? Memang TEDx Jakarta bukan benda dan bukan milih pribadi. Komunitas ini adalah milik semua volunteer dan semua sahabat yang mendukungnya. Tapi begitu perasaanku saat ditawarkan peran lebih. Tentu aku ingin berkontribusi lebih, namun karena kekagumanku terhadap komunitas ini, ada perasaan untuk mencegahku. Takut aku merusak sesuatu yang aku cintai dan kagumi benar.


Pada akhirnya aku menerimanya, dengan beberapa prasyarat yang aku ajukan ke diriku sendiri. Pertama, aku sadar aku tidak bisa menjalankan peran ini dengan kemampuanku yang ada saat itu, sehingga aku harus segera mengupgrade kemampuanku dengan berbagai cara. Membeli beberapa buku, dan menghubungi senior leader yang ada di kantorku untuk mentoring. Kedua, aku harus mau berproses bersama Kak Flo dan tim lain. Banyak hal yang aku tak tahu sebelumnya, sehingga open mindset harus benar-benar tertanam.


Dengan dua prinsip itu, aku menerima tawaran kala itu. Kak Flo, dengan leadershipnya yang mengagumkan itu, tak pernah terlalu menuntutku ini itu. Dia hanya menemaniku dalam berproses. 


Dan bagaimana prosesnya? Sampai jumpa di tulisan berikutnya.

Minggu, 18 Agustus 2019

Menyalakan Harapan dari Tulin Onsoi

Agustus 18, 2019 0
Menyalakan Harapan dari Tulin Onsoi

Kalau kata orang, cara paling mudah untuk memprediksi masa depan adalah merancangnya saat ini dan terus bekerja untuk mewujudkannya. Dan pertanyaan itu kembali berkembang, bagaimana cara mudah memprediksi masa depan bangsa ini? Perhatikan anak-anaknya, dan bekerja keraslah untuk menyiapkan mereka untuk menjadi penerus masa depan bangsa ini. Dengan apa? Tentu saja pendidikan. Dan diantara masalah yang berderet di dunia pendidikan, yang senyatanya berdiri di depan kelas dan mengajar anak-anak adalah guru.

Di Tulin Onsoi, sebuah kecamatan di Kabupaten Nunukan, kita terlalu jauh bila kita bicara Industrial Revolution 4.0, atau paper yang dikeluarkan World Economic Forum tentang skills 2020. Mungkin terlalu keras mengatakan bahwa tema-tema itu hanya untuk pulau jawa. Tidak di Tulin Onsoi. Tema yang dibicarakan guru-guru mulia nan ikhlas di sana adalah bagaimana menghadirkan anak-anak di ruang kelas ketika upacara adat berlangsung berhari-hari, bagaimana memotivasi anak-anak untuk lanjut ke pendidikan lebih tinggi dan tidak menikah selepas sekolah dasar, dan bagaimana membangkitkan semangat anak-anak untuk membaca. Sehari-hari mereka berjuang dengan isu-isu dasar itu.

Dengan semangat ingin berbagi, kami berlima berangkat ke Tulin Onsoi dari Jakarta. Di bawah naungan bendera RuBIxPPIDunia, dengan hati yang penuh pertanyaan kami pun mendarat di bandara Tarakan. Dalam daftar relawan tercatan 9 relawan narasumber dan 3 relawan dokumentator. Pada nyatanya yang menjejakkan kaki di Tarakan adalah 4 relawan narasumber dan saya sendiri sebagai relawan dokumentator. “Ini beneran cuma kita nih yang berangkat?”  But show must go on right? Dari bandara Tarakan kami naik taksi bandara ke pelabuhan Pelabuhan Juwata. Dari Pelabuhan Juwata, kami naik speed boad ke Pelabuhan Pembeliangan dengan memakan waktu 4 jam. Dari Pembeliangan kami disambut oleh Pengajar Muda yang bertugas di sana. Berbekal kendaraan pinjaman dari Pak Danrem, kami menuju Tulin Onsoi yang memakan waktu 1 jam melewati jalanan berdebu kadang berbatu. Di rumah orang tua salah satu PM lah kami menginap sekaligus basecamp RuBI Tulin Onsoi. Mamak dan Bapak dengan sangat ramah menyambut kami.

Sekilas tentang Ruang Berbagi Ilmu atau disingkat RuBI, ini adalah salah satu gerakan dari Yayasan Indonesia Mengajar. Gerakan ini memanggil beberapa relawan untuk berbagi ilmu dengan penggerak pendidikan lokal dengan tema-tema tertentu sesuia dengan kebutuhan penggerak pendidikan setempat.

Untuk RuBI Tulin Onsoi kali ini mengangkat tema guruku kreatif dan solutif. Bahasan yang dibawakan adalah Konseling dan Metode Belajar Kreatif. Tema konseling dibawakan agar guru-guru di Tulin Onsoi dapat menangani masalah murid dengan persuasif. Materi ini dibawakan dengan sangat apik oleh Azmi dan Ninette. Dengan latar pendidikan psikologi, guru-guru dikenalkan dengan prinsip dasar mendengar aktif dan disiplin positif. Para guru juga diajak untuk membuat studi kasus di sekolah masing-masing. Seketika studi kasus ini menjadi ajang curhat para guru yang menemui masalah yang beragam di sekolah mereka. Di hari kedua, materi yang dibawakan adalah Metode Belajar Kreatif. Para guru diajak bersama-sama menemukan cara-cara baru dalam membawakan materi di kelas. Para guru juga diajak untuk membuat alat peraga sederhana yang terbuat dari bahan-bahan yang ada di sekitar mereka. Tidak seperti di hari pertama yang cenderung serius, di hari kedua diisi dengan penuh keseruan dan gelak tawa. Di hari kedua ini sekaligus menjadi penutup rangkaian Ruang Berbagi Ilmu Tulin Onsoi.

RuBI ini bukanlah sekadar kumpulan Event Organizer, Pengisi Materi, Tukang Foto dan guru yang berkumpul di suatu tempat. Bukan. Ini adalah usaha menyalakan harapan. Meidika, salah satu PM Tulin Onsoi, bercerita padaku bahwa banyak guru di Tulin Onsoi sebenarnya mempunyai potensi. Tapi kepercayaan diri mereka dibatasi semak-semak kelapa sawit yang mengelilingi desa mereka. Perlu dorongan agar mereka menggunakan potensi yang dimiliki. Dengan pembekalan secara terus menerus diharapkan mengisi tangki kepercayaan guru-guru ini. Kalau berbicara tentang materi RuBI kali ini, kita dengan gampang menemukannya di internet. Jaringan 4G Telkomsel juga sudah masuk di pusat kecamatan. Logikanya informasi mereka mudah dapatkan. Tapi sadarkah kita ada jarak antara kemudahan akses informasi dengan kesadaran informasi? Kesadaran menggunakan internet untuk menunjang aktifitas sehari-hari mungkin masih harus didorong untuk lebih maksimal.

Keluarlah, berpetualanglah, dan berbagilah, maka kau akan mendapat lebih banyak. Lebih banyak hal-hal yang tak pernah kau temui sebelumnya. Masalah yang kau kira hanya dongeng dan cerita akan kau temui dengan sangat nyata. Pernikahan dini yang kau hanya “pernah mendengar”, kini kau saksikan di depan matamu. Namun  di saat yang sama, kau akan mendapatkan jiwa-jiwa pejuang yang ditularkan oleh guru-guru di sana untuk membuat republik ini menjadi lebih baik. Dan kembali ke pertanyaan, bagaimana cara paling mudah untuk memprediksi masa depan bangsa ini? Jadilah pejuang pendidikan.

Salam hormat saya untuk seluruh penggerak pendidikan di seluruh pelosok negeri ini.

Sabtu, 05 Agustus 2017

Relawan yang Tidak Rela Awalnya

Agustus 05, 2017 0
Relawan yang Tidak Rela Awalnya
“Bapak dari mana?”, “Aceh” “Jauh ya Pak” “Enggak kok, masih Indonesia juga.” Kalimat yang khas seorang TNI jika ditanya tentang Indonesia. Menarik sekali berbincang dengan relawan Kelas Inspirasi Brebes 2 ini.



Pagi itu matahari masih malu-malu menampakkan dirinya di Kota Brebes. Kami, relawan Kelas Inspirasi Brebes, sudah bersiap-siap membagi inspirasi di MI Islamiyah Sawojajar. Dengan menggunakan pick up terbuka pengangkut bawang, kami meluncur ke sekolah.


Tiba di sekolah, kami mempersiapkan upacara dan pembukaan acara. Setelah semua persiapan selesai, kami memulai upacaranya. Saya, sebagai dokumentator, tidak ikut dalam upacara karena harus mengabadikan momen. Di tengah upacara itulah seorang prajurit TNI datang.


Berpakaian seragam dinas TNI lengkap dengan segala atribut pangkatnya, dia berjalan mendekati saya. Bersalaman dengan penuh kharismatik. Senyumnya mengembang saat saya menjabat tangannya.  Di bagian dadanya tertulis nama “Adnan”. Tentu saya bingung, siapa beliau, dan ada acara apa beliau kemari? Apakah acara ini dianggap berbahaya sehingga harus diawasi TNI? Berbagai pertanyaan muncul di benak saya, karena setahu saya, tidak ada relawan yang berprofesi sebagai Prajurit TNI yang ada di kelompok kami.


Sebagai informasi, bahwa setiap relawan, baik fasilitator, pengajar, maupun dokumentator harus mendaftar dan diseleksi oleh panitia. Kami mendaftar dengan suka rela untuk berpartisipasi dalam acara ini.


Setelah upacara dan pembukaan sudah selesai, seluruh relawan berkumpul di ruang guru untuk briefing bersama guru dan kepala sekolah. Pada saat itulah saya baru tahu, bahwa ada relawan inspirator tambahan. Komandan Kodim Brebes telah memerintahkan beberapa prajurit untuk berpartisipasi dalam acara ini. Rasa syukur datang dalam hati kami karena memang kami kekurangan relawan inspirator untuk mengajar karena beberapa mengundurkan diri.


Relawan? Hmmm… mungkin awalnya tidak terlalu tepat, Pak Adnan, kami memanggilnya, datang karena surat perintah dari atasan. Beliau bahkan tidak tahu apa itu Kelas Inspirasi dan detail aktifitasnya. Yang beliau tahu adalah, dia harus mengajar dengan materi yang sudah ditetapkan oleh atasannya. Kurang lebih isinya adalah materi wawasan kebangsaan dan bela negara, tentang profesi TNI, dan keberanian bercita-cita.

Setelah mengajar beberapa kelas, kami semua istirahat di ruang guru. Saat inilah saya mengobrol lebih jauh dengan Pak Adnan. Beliau mulai bercerita perjalanan dinasnya. Mulai dari Aceh, Timor-timur, hingga sekarang di Brebes. Menurut beliau acara ini sungguh sangat bagus untuk memperkenalkan profesi, juga mendekatkan contoh-contoh hasil pendidikan kepada adik-adik yang sedang bersekolah. Pak Adnan merasa senang bisa berpartisipasi di acara ini. Selain bisa membagi inspirasi dengan adik-adik, beliau juga merasa nostalgia, karena dia juga berasalah dari Madrasah, sehingga ketika beliau mengajar madrasah, dia merasa pulang. Seorang isnpirator yang tidak rela awalnya, merasa senang menjadi bagian dari kegiatan baik ini.