Catatan Kecil: 30 Hari Bercerita
Tampilkan postingan dengan label 30 Hari Bercerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 30 Hari Bercerita. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Februari 2022

New Endings Jakarta

Februari 06, 2022 0
New Endings Jakarta

Setelah di tulisan sebelumnya saya melakukan refleksi selama saya tinggal di Jakarta, izinkan kali ini saya membagi awang-awang ke depan. Awang-awang yang berupa harapan dan kekhawatiran sekaligus. Saya membagi menjadi tiga bagian utama: Perpindahan Ibukota, Iklim, dan kesempatan hidup. Tulisan ini juga sebagai penutup seri #30HariBercerita tentang Jakarta.

 


Saya pernah diskusi dengan beberapa orang tentang isu perpindahan ibukota Indonesia. Kami tidak membahas alasan, kajian dan anggaran. Biarlah itu jadi urusan bapak-bapak di atas sana. Kami membahas pertanyaan besar, “Bagaimana wajah Jakarta tanpa gelar DKI?” Kami ngobrol ngalor ngidul tentang ini, namun kesimpulan kami sama. Jakarta akan tetap menjadi Jakarta. Jakarta sudah mempunyai identitas dan kepribadian lebih dari gelar DKI.

 

Dengan pindahnya ibukota, kamu akan tetap menemui tetanggamu yang jualan nasi uduk. Kamu masih bisa menyapa abang penjaga warkop favoritmu. Jakarta juga masih punya Monas. Pasar Minggu tetap tidak libur walau hari minggu. Kami menduga, seluruh kehidupan dan interasi sosial tidak mengalami pergeseran yang berarti. Hanya para abdi negara yang akan terdampak karena harus pindah. Dari itu semua, kami berharap dengan pindahnya para pejabat ke ibukota baru, voorijder yang menyebalkan itu akan lenyap dari jalanan Jakarta.

 

Bagian kedua adalah tentang iklim. Tidak banyak orang Jakarta yang menyadari bahwa kehidupan kota ini terancam dengan perubahan iklim dan kerusakan lingkungan. Untuk melihat orang-orang yang paling terdampak terhadap kerusakan lingkungan, kamu bisa berjalan-jalan ke Jakarta bagian utara. Penurunan ketinggian tanah begitu masif dan dirasakan langsung. Mereka terpaksa bersahabat dengan banjir rob.

 

Belum lagi tentang krisis air bersih. Cakupan layanan PAM Jakarta baru menyentuh 65% dari total penduduk (suara.com, 2020). Masih banyak yang kesulitan mengakses air bersih padahal akses terhadap air bersih merupakan hak setiap warga negara. Akhirnya mereka terpaksa menggunakan air tanah. Penggunaan air tanah ini akan mempercepat penurunan ketinggian tanah di Jakarta.

 

Kualitas udara, pengelolaan sampah, banjir, pendangkalan sungai dan sebagainya masih menjadi catatan panjang pekerjaan rumah di bidang lingkungan. Diharapkan pemegang kebijakan mempunyai roadmap perbaikan dan regulasi akan hal ini. Mengurangi penggunaan sedotan plastik memang baik, namun regulasi plastik industri akan berdampak lebih besar.

 

Hal ketiga adalah kesempatan hidup. Saya bukan ahli ekonomi, namun ini yang saya lihat dan rasakan. Akses ekonomi dan akses ruang hidup masih jadi sorotan utama. Berdasarkan kajian tim Anies-Sandi saat pilkada, kemampuan daya beli kebutuhan pokok menjadi isu utama bagi penduduk Jakarta. Mungkin tidak pernah terdengar di sosial media, namun itu kenyataan yang dihadapi.

 

Untuk kelas menengah, kesulitan untuk ruang hidup (tempat tinggal) jadi perbincangan. Melipir ke luar Jakarta menjadi pilihan yang sering diambil walaupun istilah tua di jalan harus dihadapi.

 

Apakah kamu masih optimis tentang Jakarta? Masih ada lilin harapan walau kadang redup. Hidup di Jakarta memang penuh dengan semoga.

Refleksi Sewindu di Jakarta

Februari 06, 2022 0
Refleksi Sewindu di Jakarta

Saya mengingat lagi kapan saya pertama kali berkenalan dengan Jakarta. Tahun 2010 akhir tepatnya saya menginjakkan kaki pertama kali ke kota yang sebelumnya cuma bisa saya lihat melalui televisi. Tidak pernah terbayangkan seorang anak yang besar di pelosok desa di Jawa Timur bisa menginjakkan kaki di Jakarta. Kala itu saya cuma sebentar di Jakarta. Ada sebuah acara di stasiun televisi di daerah Kebon Jeruk.

 


Kesan pertama adalah panas. Saat itu saya hidup di Bandung. Walaupun hidup di Dayeuh Kolot yang juga panas dan berdebu, saya tidak membayangkan Jakarta sepanas itu. Selama menaiki transportasi umum, beberapa kali saya terjebak macet. Ruwet sepertinya. Di jam pulang kerja, saya melihat pekerja di Jakarta yang menunjukkan wajah lelah. Jakarta menjadi kota yang tidak saya idamkan untuk saya tinggal dan bekerja.

 

Melompat di tahun 2014, akhirnya saya diterima kerja di Jakarta. Pada tanggal 1 Januari 2014, saya resmi menjadi penduduk Jakarta (walau KTP masih Jatim). Saya mulai berkenalan lebih intens dengan Jakarta. Tidak semua menyenangkan, namun tidak semua mengerikan. Jakarta itu seperti sahabat yang menyebalkan. Awal kenal, pasti kamu sebal dan bikin marah. Makin kenal, saya makin tahu sis baiknya. Bahkan beberapa kali dia membantu saya saat kesulitan. Nah itulah Jakarta.

 

Stockholm Syndrome kata orang. Kamu akan simpati bahkan jatuh cinta kepada orang yang menawanmu dalam tahanan. Kamu tidak sadar apa yang terjadi. Tahu-tahu, kamu akan bersahabat dan tidak ada keinginan untuk meninggalkannya. Saya mulai mengenal orang-orang baik, tempat-tempat menyenangkan, sejarah yang mengasyikkan, atau kesempatan yang sebelumnya tidak ada.  Saya teringat dengan jelas ketika Irwan Ahmett mengucapkan kalimat ini di TEDx Jakarta, “Sulit hidup di Jakarta, tapi jauh lebih sulit untuk dapat meninggalkannya.”

 

Wualaa... Saya akhirnya di sini. Apakah Jakarta ini menjadi tempat persinggahan sebelum melanjutkan ke kota lain? Saya belum tahu. Namun selama hidup di Jakarta, saya setidaknya mencoba untuk tetap bermain di dalam segala keterbatasan yang ada. Saya mencoba untuk menjadikan Jakarta tempat yang menyenangkan untuk ditinggali.

Sabtu, 05 Februari 2022

Kebanggaan Umat

Februari 05, 2022 0
Kebanggaan Umat

Namanya harus disamarkan menjadi Ketuhanan saat dia mengajukan rancangannya ke panitia pembangunan. Panitia diketuai langsung oleh Presiden Soekarno sedang memilih rancangan terbaik yang akan menjadi masjid terbesar di Asia Tenggara tersebut. Di akhir perlombaan, pemenang dari sayembara itu diumumkan dari 22 arsitek yang mengumpulkan karya. Arsitek dengan nama asli Friedric Silaban memenangkan sayembara pembangunan Masjid Istiqlal.

 


Masjid Istiqlal ini didasari oleh usulan beberapa tokoh Islam kepada menteri Agama saat itu. Ibukota Indonesia baru saja pindah ke Jakarta. Sebagai ibukota negara, Jakarta belum mempunyai masjid yang besar. Menteri Agama menyambut baik usulan tersebut. Usulan itu disampaikan ke Presiden Soekarno. Soekarno juga sepakat dengan usulan tersebut, bahkan beliau ingin menjadi ketua panitia sayembara desain Masjid Istiqlal.

 

Dipilihlah lokasi di Taman Wijaya Kusuma, sebuah taman dengan bekas benteng Belanda di atasnya. Pembangunan dimulai pada tahun 1961. Dikarenakan gejolak politik di masa transisi kekuasaan, pembangunan masjid tersendat. Pembangunan Masjid Istiqlal memakan waktu hingga 17 tahun. Pada akhirnya, Masjid Istiqlal diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tahun 1978 dengan menelan biaya sebesar Rp. 7.000.000.000,00 (tujuh miliar rupiah) dan US$. 12.000.000.

 

Rancangan Silaban ini sangat khas dengan bentuk geometri sederhana. Dia sangat sadar terhadap iklim dan cuaca. Dibuatlah sirip dan kolom untuk tepian masjid agar panas dari matahari dapat tertahan, namun angin dapat masuk ke dalam. Cahaya matahari juga bisa masuk lewat celah kolom. Selasar dibikin agak miring agar saat hujan, tampias air dapat mengalir dan lantai bisa segera kering. Seperti rancangan zaman Soekarno lainnya, gedung ini mengandung makna seperti tinggi Menara, jumlah tiang, jumlah lantai dan diameter kubah.

 

Silaban merancang Istiqlal dengan jenis bahan yang sangat sedikit. Bahan utamanya hanyalah beton, baja, dan marmer. Dengan penggunaan bahan yang kuat terhadap perubahan cuaca ini, diharapkan masjid ini dapat bertahan hingga waktu yang lama. Penggunaan bahan ini juga mempertimbangkan iklim di Jakarta. Bahan-bahan ini dapat menahan panas sehingga jamaah dapat beribadah dengan nyaman walaupun tanpa adanya pendingin.

 

Ngomong-ngomong soal kubah, Silaban menggunakan pipa-pipa baja kecil yang disusun menggunakan prinsip polyhedron. Saat itu, hanya negara maju yang bisa membuat bangunan seperti itu. Karena itu, Silaban beserta panitia berkonsultasi langsung ke Jerman. Ada tantangan sendiri dalam menggarap kubah ini. Kesuksesan Silaban dan tim ini membuat kubah tersebut dikenal sebagai Silaban Dome.

Jumat, 04 Februari 2022

Tempat Pengharapan

Februari 04, 2022 0
Tempat Pengharapan

Setiap Imlek tiba, saya selalu merencakan hunting foto. Keleteng yang terbayang selalu di Vihara Dharma Bakti di kawasan Petak Sembilan, Glodok. Sebelum pandemic, pasti kelenteng itu padat orang. Ada tiga jenis orang yang memadati kelenteng Kim Tek Ie ini. Pertama tentu saja umat yang ingin beribadah di kelenteng. Kebanyakan mengenakan pakaian berwarna merah. Warna keberuntungan di hari Imlek. Kedua adalah fotografer dan wartawan. Berciri menenteng tas kamera dan berdiri di tepian kelenteng yang sudah disiapkan panitia.  Selalu bersiap membidik momen lewat kamera. Ketiga adalah pedagang burung. Banyak pedagang yang menawarkan burung untuk dibeli dan dilepaskan oleh umat yang merayakan. Ada tradisi pelepasan burung seusai beribadah di kelenteng.

 


Mengapa Kelenteng Kim Tek Ie menjadi tempat yang terbayang pertama? Karena ini adalah kelenteng yang paling terkenal dan ini merupakan kelenteng tertua di Jakarta. Tidak heran perayaan Imlek terpusat di sini. Saya hampir tidak pernah mengunjungi kelenteng lain saat Imlek. Namun, berkat @jktgoodguide, saya mengenal sebuah kelenteng yang tersembunyi di kawasan Pasar Baru. Kelenteng Sin Tek Bio.

 

Kelenteng Sin Tek Bio ini berdiri di tahun 1698, sekitar 120 tahun lebih dulu dibandingkan berdirinya Pasar Baru. Kelenteng ini didirikan oleh kaum cina miskin yang berprofesi sebagai petani. Kaum ini tidak mampu tinggal di dalam benteng kota ataupun sekitarnya. Konseukensi dari terbentuknya komunitas penduduk adalah timbulnya kebutuhan tempat ibadah. Karena itulah Kelenteng Sin Tek Bio ini berdiri.

 

Setiap kelenteng, memiliki dewa tuan rumah, begitupun juga dengan Kelenteng Sin Tek Bio. Kelenteng ini terdiri dari dua bagian bangunan berdasarkan dewa tuan rumah. Bagian utama dihuni oleh Dewa Hok Tek Ceng Sin atau Dewa Bumi dan Rejeki. Sangat lazim bahwa kelenteng sekitar pusat perdagangan mempunyai Dewa Hok Tek Ceng Sin sebagai dewa tuan rumah. Kelenteng dijadikan tempat berdoa agar usaha yang dilakukan lancar dan banyak rejeki.

 

Bagian kedua dihuni oleh Dewi Kwan Im sebagai Dewi Welas Asih dan Penolong. Dewi Kwan Im terkenal membantu orang yang tengah kesulitan. Diharapkan umat yang memohon di sini mendapatkan kemudahan jika mendapat kesulitan.

 

Tempat dari Kelenteng Sin Tek Bio ini memang agak sulit ditemukan. Patokannya, kamu bisa berangkat dari Bakmi Gang Kelinci. Di sebelah Bakmi GK, ada gang kecil. Masuk saja dan ikuti gang yang berkelok-kelok. Kamu akan menemukan kelenteng ini di sisi kiri.

Oase Keberagaman di Batavia

Februari 04, 2022 0
Oase Keberagaman di Batavia

Kehidupan sosial suatu masyarakat, sering kali tidak lepas dengan suasana religi dan spiritual. Begitupun juga dengan kehidupan penduduk Batavia lama. Semakin banyaknya orang-orang Belanda dan Eropa yang menetap di Batavia, makin besar kebutuhan akan gereja sebagai tempat beribadah dan ekspresi religiusitas. Gereja pertama disinyalir berada di lokasi museum wayang kota tua. Bangunan aslinya sudah tidak berbentuk. Di situ juga disinyalir makam dari pendiri Batavia, Jan Pieterzoon Coen.

 


Pejabat VOC yang didominasi pemeluk Kristen Protestan menjadikan Kristen sebagai agama resmi dan mayoritas di Batavia kala itu. Bahkan pekerja Poturgis yang beragama Katolik dipersyaratkan untuk memeluk agama Kristen jika ingin tinggal di Batavia. Hal ini membuat komunitas Katolik tidak bisa berkembang, apalagi mendirikan gereja. Hal ini berlangsung cukup lama hingga angin segar berhembus saat kekuasaan Belanda jatuh ke tangan Perancis.

 

Di saat Herman Williem Daendles menjadi gubernur Hindia Belanda, dia memindahkan pusat pemerintahan dari Batavia lama ke Welte Vreden. Di saat itu juga, komunitas Katolik diberi kelonggaran untuk menyelenggarkan misa. 1808 digelar misa terbuka pertama di Batavia. Dua tahun kemudian, umat Katolik di Batavia memiliki gereja Katolik pertama yang berlokasi di kawasan Senen. Mulai saat itu, umat Katolik mulai berkembang di Batavia.

 

Pada 1826, gereja ini terbarkar sehingga setahun kemudian, umat katolik mendirikan gereja baru di kawasan waterlooplein (lapangan Banteng). Gereja itu diberi nama Gereja Santa Maria Diangkat ke Surga. Setelah mengalami beberapa pemugaran, pada tahun 1890 gereja ini rubuh total. Umat Katolik mendirikan gereja baru di tanah tersebut. Karena kesulitan dana, pembangunan gereja ini memakan waktu yang cukup lama. Pembangunan gereja akhirnya selesai pada tahun 1901.

 

Pembangunan gereja Katedral digawangi oleh Pastor Antonius Dijkmans, seorang Pastor yang juga arsitek. Gereja ini dibangun dengan gaya arsitektur neo-gotik yang saat itu sangat lazim digunakan untuk membangun gedung gereja. Jika kita perhatikan Menara-menaranya, makin ke atas makin sedikit ornament dan makin runcing. Ini melambangkan jika kita menghadap ke Tuhan, kita bersiap untuk “polos”, tidak banyak kosmetik. Gereja Katedral ini berbentuk salib jika dilihat dari atas. Hingga sekarang, bangunan yang ada tidak mengalami banyak perubahan. Bentuk asli masih dipertahankan.

 

Saat ini, gereja Katedral masih aktif menggelar peribadatan untuk umat Katolik di Jakarta.

Kamis, 03 Februari 2022

Kemegahan Gedung Kesenian

Februari 03, 2022 0
Kemegahan Gedung Kesenian

Awalnya saya mengenal bangunan ini sebagai tempat pementasan yang sering dipakai oleh Teater Koma. Letaknya ada di pojokan dekat Pasar Baru. Hanya itu. Saya tidak terlalu tertarik mengenal lebih jauh. Untuk urusan gedung teater, saya lebih kenal dan lebih “dekat” dengan Graha Bakti Budaya (GBB) di Taman Ismail Marzuki, bukan gedung ini. Mungkin karena penampilan tater di sana memiliki kecenderungan tiketnya lebih mahal dari yang digelar di GBB. Begitu kesan pertamaku tentang Gedung Kesenian Jakarta (GKJ).

 


Akhirnya kesempatan saya berkenalan lebih dekat dengan GKJ terjadi pada bulan Juni 2017. Saat itu TEDx Jakarta akan menggelar acara di GKJ. Sebagai salah satu relawan, saya datang ke GKJ untuk survey lokasi. Begitu masuk, saya kagum betul dengan tempat ini. Desain yang menganut romawi ini begitu megah. Langsung terbayang saat era kolonial, tempat ini menjadi tempat penampilan kesenian untuk orang Eropa. Tuan dan Nyonya Belanda menonton pertunjukan kesenian di gedung ini.

 

Gedung ini diinisiasi oleh Gubernur Jendral Herman Williem Daendles. Setelah dia menginisiasi pemindahan pusat kota dari Batavia Lama (Kota Tua) ke Kawasan Welte Vreden (Lapangan Banteng), dia mulai memikirkan sarana pendukung untuk kehidupan di Welte Vreden, salah satunya gedung kesenian. Sayang, sebelum terwujud, Perancis kalah perang dengan Inggris, maka posisi Daendels digantikan oleh Sir Thomas Stamford Bingley Raffles. Di masa Raffles lah gedung ini berdiri dengan nama Schouwburg Weltevreden.

 

Awalnya gedung ini berdiri menggunakan bahan yang sangat sederhana. Berdinding bambu dan kayu beratap rumbia. Pada tahun Pada tahun 1817 mulai dibangun gedung yang ideal menggunakan bahan sisa reruntuhan benteng Batavia lama. Mulai dari saat itu, gedung itu mulai aktif menampilkan berbagai pertunjukan kesenian untuk orang Eropa di Batavia.

 

Gedung ini beralih fungsi dari masa ke masa. Pada masa pendudukan Jepang, gedung ini difungsikan untuk markas tantara dan pusat penyebaran propaganda. Sejak jaman kemerdekaan pun gedung ini sering beralih fungsi mulai dari gedung kuliah fakultas ekonomi dan fakultas hukum Universitas Indonesia hingga menjadi gedung bioskop. Pada 1984, Gubernur Soeprapto mengembalikan fungsi gedung ini sebagai gedung pertunjukan kesenian.

 

Hingga saat ini, GKJ masih sering dimanfaatkan untuk menampilkan berbagai pertunjukan kesenian mulai dari teater, tari, balet, dan kesenian lainnya.

Senin, 31 Januari 2022

Tempat Aman Berkesenian

Januari 31, 2022 0
Tempat Aman Berkesenian

Kalau saya disuruh menyebutkan tempat di mana saya merasa nyaman di Jakarta, mungkin saya akan menjawab Taman Ismail Marzuki atau biasa disebut TIM. Kawasan yang berada di Jalan Cikini ini merupakan pusat fasilitas berkesenian di Jakarta. Mulai dari seni teater, musik, rupa, hingga tari diakomodir di tempat ini.

 


Kegiatan favorit saya di TIM adalah menonton film pendek di Kineforum. Sebuah tempat pemutaran independent yang terletak di belakang Graha Baktu Budaya TIM. Di setiap akhir pekan, Kineformum memutarkan film pendek yang telah dikurasi oleh pengurusnya. Kadang berbayar, kadang berbayar suka rela. Tidak jarang pula gratis. Setiap saya bingung menghabiskan waktu di akhir pekan, saya selalu meluncur ke TIM.

 

Di TIM juga tempat bioskop Cinema XXI paling murah di Jakarta. Di saat yang lain tiket bioskop dihargai di 40 ribu, di TIM tiket dijual dengan harga 25 ribu. Selain murah, XXI TIM ini juga tidak terlalu umum dikunjungi oleh orang-orang yang saya kenal. Sebagai anak ansos berat, XXI ini sangat nyaman buat saya. Ketika saya ingin menyendiri, larilah saya ke TIM.

 

Selain itu nonton teater, ikutan festival sastra, atau nonton pertunjukan tari. Singkatnya, TIM ini menjadi tempat paling favorit melarikan diri dari bisingnya Jakarta. Apalagi kamu suka dengan berbagai kesenian. Kamu tidak akan dianggap aneh ketika mengekspresikan seni di sini. Saya boleh bilang, TIM ini tempat aman untuk seniman berkarya dan menampilkan karya tanpa dihakimi ini itu.

 

Pemprov DKI Jakarta memutuskan merevitalisasi Taman Ismail Marzuki ini pada tahun 2019. Pemprov ingin lebih memasimalkan fungsi TIM dengan membangun beberapa fasilitas yang lebih memadai di sana. Akan dibangun gedung pertunjukan yang lebih lengkap, tempat Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin yang lebih nyaman dan sebagainya. Termasuk pembangunan hotel yang bisa digunakan menginap para seniman dari luar Jakarta jika ada acara di TIM.

 

Graha Bakti Budaya yang klasik itu akhirnya dirobohkan, bersamaan dengan perobohan beberapa fasilitas lainnya. Untuk sementara, fasilitas lainnya pun tidak bisa digunakan. Galeri Buku Bengkel Deklamasi yang terletak di pojok GBB juga direlokasi. Alhasil, seluruh kegiatan kesenian di TIM berhenti total untuk sementara waktu.

 

Siang itu, setelah saya sholat Jumat di Masjid Amir Hamzah yang terletak di bagian belakang kawasan TIM, saya memutuskan untuk jalan-jalan melihat perkembangan revitalisasi. Beberapa gedung utama sudah terlihat bentuknya. Ada gedung utama yang berbentuk seperti kapal memanjang. Fasad pada gedung tersebut berbentuk not balok dari lagu Rayuan Pulau Kelapa ciptaan Ismail Marzuki. Gedung tempat parkir juga mulai terlihat. Belum sempurna, namun cukup membahagiakan.

 

Diharapkan revitalisasi tahap 1 selesai pada tahun 2022. Saya sangat merindukan kegiatan seni di sini. Saya berharap, semua seniman bisa berkarya dan menampilkan karya dengan lebih nyaman di TIM setelah revitalisasi rampung.

Senin, 24 Januari 2022

Ruang Aman Bernama Perpusnas

Januari 24, 2022 0
Ruang Aman Bernama Perpusnas

Saat itu saya masih SMA ketika saya menyaksikan film National Treasure 2. Di salah satu adegan, Benjamin Gate sedang mencari buku presiden di The Library of Congress. Tergambar sebuah perpustakaan yang sangat besar, rapi dan syahdu. Entah kenapa saya memilih kata syahdu untuk perpustakaan. Ada dua hal yang terlintas di benak saya. Pertama, suatu saat saya ingin mengunjunginya. Kedua, saya membayangkan Indonesia punya perpustakaan yang mirip dengan itu.

 


Perkenalan pertama saya dengan perpustakaan milik pemerintah tentu saja Perpustakaan Kota Blitar, tempat saya dulu tinggal. Kemudian di Kota Blitar terbangun perpustakaan yang jauh lebih bagus yaitu Perpustakaan Bung Karno yang terletak di kompleks makam Bung Karno yang menjadi satu bangunan dengan Museum Bung Karno. Saya sering mengunjungi perpustakaan ini setelah jam sekolah. Setelah saya kuliah, saya tidak pernah lagi berinteraksi dengan perpustakaan milik pemerintah. Saya lebih memilih membaca buku di perpustakaan kampus.

 

Pada tahun 2017, Pak Jokowi meresmikan gedung baru perpustakaan milik pemerintah dengan nama resmi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Gedung ini terletak di Jalan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat. Terletak antara Lemhanas dengan Balai Kota Jakarta. Gedung dengan tinggi 27 lantai ini disebut dengan gedung perpustakaan tertinggi di dunia. Itu pertama kali saya tahu bahwa Indonesia punya perpustakaan nasional.

 

Walau sudah lama diresmikan, saya baru mengunjungi perpustakaan ini minggu ini. Selama ini saya hanya tahu bagaimana bentuk dalamnya dari unggahan teman-teman di media sosial. Menarik sepertinya untuk dikunjungi.

 

Untuk mengunjungi, kamu perlu mendaftar dulu keanggotaan di laman website milik perpusnas agar kamu tidak perlu mengantri saat di sana. Kedua, kamu harus meminjam kunci loker untuk meletakkan tas dan barang-barang yang kamu bawa di lantai dasar. Pengunjung dilarang membawa tas milik pribadi ke atas. Kamu diberi tas pengganti kalau kamu ingin membawa buku atau laptop ke atas.

 

Ketiga, jika masih ada kuota, kamu bisa mencetak kartu anggota di lantai dua. Ada kuota cetak kartu 300 kartu per hari. Jika kamu tidak kebagian, tenang, kamu masih bisa naik ke atas untuk membaca buku atau beraktifitas di perpusnas. Keempat, jika kamu ingin pulang, jangan lupa untuk mengembalikan kunci loker ke petugas lantai dasar.

 

Setelah kunjungan ke perpusnas, ada beberapa kesan yang ingin saya bagi. Untuk hal positif pertama dari perpusnas ini adalah bersih, mewah dan terang. Jauh dari kesan perpustakaan milik daerah yang kebanyakan tua, berdebu, dan sering kali gelap. Ini seperti layaknya gedung perkantoran modern.

 

Kedua adalah nyaman. Nyaman untuk membaca, mengerjakan tugas, bahkan nyaman untuk bengong. Dengan ademnya AC di sini dan tenangnya suasana di dalam, sangat cocok untuk kamu yang ingin mendapatkan ketenangan untuk membaca hingga bengong. Di beberapa lantai ada yang ramai, namun tidak ribut karena semua orang mengetahui adab selama berada di perpustakaan.

 

Ketiga adalah akses yang mudah. Lokasinya yang berada di jantung kota Jakarta sangat mudah untuk diakses dengan kendaraan pribadi maupun transportasi umum. Jika menggunakan Transjakarta, kamu bisa menggunakan jalur 1A dan turun di halte Balai Kota.

 

Di samping kelebihan di atas, tentu saja ada yang perlu perbaikan. Pertama, kalau sedang ramai, lift yang ada tidak mampu menampung kebutuhan lalu lintas orang yang ada di dalam. Saya terpaksa menggunakan tangga darurat jika sedang ramai. Kedua tentang masih ditutupnya beberapa fasilitas, sehingga tidak bisa digunakan untuk pengunjung. Ketiga adalah koleksi. Saya belum tahu apakah koleksi di perpusnas ini lebih lengkap dibanding perpustakaan nasional negara lain. Saya berharap perpusnas tidak lagi membanggakan “perpustakaan tertinggi”, namun suatu saat bisa membanggakan “perpustakaan terlengkap”.

 

Secara keseluruhan, perpustakaan ini sangat nyaman. Ini adalah ruang aman untuk kamu yang suka membaca buku dan mengerjakan tugas dengan gratis. Ini adalah ruang ketiga untuk penduduk Jakarta dan penduduk Indonesia secara keseluruhan. Kamu bisa menggunakan fasilitas dan berinteraksi satu sama lain tanpa membedakan kelas sosial. Bahkan, perpustakaan ini adalah ruang aman untuk kamu yang tidak suka membaca buku. Kamu bisa menikmati pemandangan sekitar monas dengan adem dari ketinggian.

 

Apakah harapan saya Indonesia mempunyai perpustakaan seperti The Library of Congress sudah terpenuhi. Mungkin belum, namun saya sangat bersyukur kita sudah punya perpusnas ini.

Minggu, 23 Januari 2022

Anak Betawi di Parlemen

Januari 23, 2022 0
Anak Betawi di Parlemen

MH Thamrin, kebanyakan orang Jakarta mendengar nama ini sebagai salah satu jalan utama di Jakarta. Atau paling mentok mengetahui perawakan beliau dari patung yang berdiri tegap di perempatan monas, tepatnya di depan gedung X. Namun di samping itu semua, perannya untuk Jakarta jauh lebih besar. Saya akan bercerita tentang anak Betawi satu ini.

 


Lahir dari keluarga kaya, ayah Thamrin adalah Wedana keturunan Belanda bernama Tabri Thamri. Ibunya seorang Betawi asli bernama Nurhana. Sebagai anak seorang Wedana, tentu dia mempunyai akses pendidikan dan pengetahuan lebih dari anak seumurannya. Walaupun kalau kata anak sekarang dia sangat berprivileged, dia sangat dekat dengan rakyat kecil.

 

Untuk karir politik, dia berjuang melalui parlemen kala itu. Gemeenteraad atau Dewan Kota adalah majelis pertimbangan untuk kota Batavia. Kalau sekarang mungkin disebut DPRD. Melalui Gemeenteraad inilah Thamrin menyuarakan beberapa kepentingan rakyat pribumi di Batavia. Hal yang baling dicatat dalam karirnya di Dewan Kota adalah dia mendorong perbaikan fasilitas umum di kampung pribumi seperti saluran irigasi dan kanal penggendali banjir.

 

Kemudian karir Thamrin berlanjut ke Volksraad, kalau sekarang DPR. Posisi ini mulanya kosong, kemudian ditawarkan ke HOS Cokroaminoto dan Dr Sutomo, namun keduanya menolak. Akhirnya jabatan itu ditawarkan ke Thamrin. Melalui Volksraad, Thamrin mengkritik keras kebijakan perburuhan di Sumatra Timur. Berkat diplomasi yang dilakukan, sistem perburuhan itu dihapus.

 

Thamrin sangat peduli kepada dunia sepak bola. Kala itu, anak-anak pribumi kesulitan dalam mengakses lapangan sepak bola. Padahal menurutnya, sepak bola bisa dijadikan menggalang kekuatan dan persatuan di antara kaum pribumi. Thamrin menggunakan jaringan dan kemampuan diplomasinya untuk pembentukan Voetbalbond Indonesische Jacatra (VIJ), yang kini dikenal dengan Persija. Tidak hanya di level kebijakan, dia juga berperan dalam penyediaan infrastruktur sepak bola. Tidak tanggung-tanggung, dia menyumbangkan 2000 gulden untuk pembelian lapangan sepak bola. Sekarang lapangan itu masih ada yang bernama Lapangan VIJ di Petojo.

Jumat, 21 Januari 2022

Terbaik dari Daerah

Januari 21, 2022 0
Terbaik dari Daerah
Banyak orang yang mengatakan bahwa Jakarta adalah melting pot. Jakarta merupakan kota dengan identitas yang dihasilkan oleh leburan dari berbagai budaya, latar belakang, suku dan agama. Sintesa dari semua itu menjadikan Jakarta saat ini menjadi seperti ini. Tidak heran, orang Jakarta mempunyai beragam bahasa tutur, perayaan agama, ekspresi budaya, dan tentu saja makanan.
Kamu bisa mencari segala jenis makanan di Jakarta. Rentangnya bergam. Mulai dari makanan Aceh, sampai makanan Papua. Mulai dari makanan murah, sampai makanan berkelas atas. Mulai dari ngemper sampai hotel berbintang. Semua itu membuat Jakarta menyenangkan untuk dijelajahi kulinernya.

Sebagai perantau, tentu saya mempunyai standar untuk makanan daerah, terutama daerah tempatku berasal, Jawa Timur. Pedagang yang menjual nasi pecel mungkin banyak, tapi yang sama atau setidaknya mirip dengan pecel di Jatim sana jumlahnya sedikit. Kemiripan ini bisa dalam bentuk rasa, tekstur, sajian, sampai pelayanan. Jika simpangannya terlalu jauh, saya merasakan ada yang kurang walaupun namanya sama-sama nasi pecel.

Menyenangkan sekali ketika kita menemukan masakan yang mirip dengan yang ada di kampung halaman. Apalagi kalau pelayanannya membuat kita merasa di kota asal. Bukan bermaksud rasis, namun kalau ada pedagang masakan Jawa Timur berbicara dengan bahasa Jawa dan dialek Jawa Timur, akan menjadi nilai tambah dalam menikmati makanan.

Pasti perasaan ini dirasakan juga oleh perantau dari suku mana saja yang ada di Jakarta. Karena itu, saya akan menceritakan beberapa daftar makanan daerah yang bisa saya beri sebagai masakan daerah terbaik. Kebanyakan ini adalah street food karena saya juga jarang makan di resto mahal.

Untuk Nasi Pecel, saya memberikan penghargaan ke Nasi Pecel Pincuk Borma. Ini berada di Jalan Fatmawati. Letaknya di halaman Bank BTN Fatmawati 2. Buka pada pukul 19.00 sampai sekitar 23.00. Hidangan utama berupa Nasil Pecel Madiun, namun kamu bisa memilih hidangan pendamping seperti usus, kikil, paru atau berbagai jenis gorengan. Di sini juga terkenal untuk Iga Bakarnya.

Kalau untuk Coto Makassar, saya menanyakan ke teman dari Makassar. Hanya satu nama yang sering tersebut: Coto Makassar Daeng Ngawing yang berada di Senen. Dengan harga 30 ribu, kamu bisa menikmati satu mangkok Coto Makassar. Untuk isiannya, kamu bisa memilih sesuka kamu, seperti daging, berbagai jeroan, dan lemak.

Nah, untuk Sate Padang, pasti tidak lain dan tidak bukan jatuh kepada Sate Padang Ajo Ramon. Sate Padang Ajo Ramon ini sudah ada beberapa cabang, walaupun sebagian besar berada di Jakarta Selatan. Kuahnya yang kaya akan rempah dan sate dengan aroma khas membuat sepiring Sate Padang ini sulit untuk ditolak.

Itu beberapa makanan daerah yang menurut saya (dan beberapa teman) terbaik untuk mewakili makanan daerah di Jakarta. Kalau kamu, pedagang mana yang menjadi makanan daerah favoritmu?

Kamis, 20 Januari 2022

Gereja Milik Rakyat

Januari 20, 2022 0
Gereja Milik Rakyat

Gereja Willemskerk atau yang sekarang lebih dikenal dengan Gereja Immanuel yang berada di kawasan Gambir memiliki keterkaitan erat dengan gereja yang berada di Pasar Baru. Gereja tersebut adalah Gereja Pniel atau yang lebih dikenal dengan gereja ayam karena terdapat bentuk ayam yang berada di pucuk atap gereja ini. Letak dari gereja ini tepatnya ada di Samanhudi nomer 12, Jakarta Pusat. Uniknya, bangunan gereja ini menyerong dengan orientasi barat daya – tenggara.



Lalu, apa hubungannya dengan Gereja Willemskerk? Perlu diketahui bahwa letak Gereja Willemskerk ini berlokasi di Weltevreden, sebuah lokasi elit yang juga menjadi pusat pemerintahan pada masa Hindia Belanda. Tidak hanya itu, kawasan pendukung Weltevreden, yaitu Menteng juga dihuni oleh pejabat-pejabat pemerintahan dan orang-orang kaya. Hal ini mempengaruhi profil jemaat yang datang. Jemaat Gereja Willemskerk kebanyakan kalangan pejabat atau orang-orang kaya

 

Rakyat kalangan bawah yang terdiri dari Bumiputra, Cina dan Tamil merasa tidak nyaman beribadat di Gereja Willemskerk. Karena itu, mereka berinisiatif untuk mendirikan gereja sendiri, terpisah dengan Gereja Willemskerk. Awalnya hanya didirikan kapel kecil bernama Kapel Haantjeskerk. Lama-kelamaan, kapel ini tidak bisa menampung jemaat yang semakin banyak.

 

Pada tahun 1913, didirikan sebuah gereja pada tapak Kapel Haantjeskerk. Gereja bergaya Neo-Romanik, merupakan karya biro arsitek Cuypers en Hulswit. Mempunyai Menara kembar di kedua sisinya. Pada puncak atapnya, dihiasi Ayam Jago. Karena itu gereja ini disebut juga Gereja Ayam.

 

Menurut Pendeta Adriano yang dikutip dari NetGeo, gereja ini simbol inklusifitas. Gereja sewajarnya melayani semua jemaat tanpa memandang golongan dan kelas masyarakat. Gereja juga harus berperan membantu masyarakat sekitar baik dalam peyanan untuk orang tidak mampu, maupun program lingkungan hidup.

Renovasi sang Tuan Putih

Januari 20, 2022 0
Renovasi sang Tuan Putih

Kalau kamu datang ke Jakarta menggunaka kereta dan turun di stasiun Gambir kamu akan melihat dua bangunan yang gampang terlihat. Di kanan kamu akan melihat Monumen Nasional atau Monas. Di sebelah kiri, kamu akan melihat gedung putih yang cukup besar dengan beratap kubah setengah lingkaran. Gedung itu adalah Gereja Imanuel atau namanya GPIB Immanuel Jakarta.

 


Kali ini saya tidak membicarakan sejarah, namun tentang sebuah kabar gembira mengenai Gereja Immanuel ini. Gereja ini sudah berumur lebih dari 180 tahun dan sudah ditetapkan masuk cagar budaya. Untuk mempertahankan fungsinya, diperlukan pemeliharan dan pemugaran secara berkala. Pemprov DKI Jakarta mengadakan revitalisasi terhadap Gereja Immanuel.

 

Revitalisasi dimulai dengan terbitnya surat rekomendasi dari gubernur pada bulan April 2021. Dikarenakan Gereja Immanuel merupakan bangunan cagar budaya, maka revitalisasinya pun mengikuti protocol khusus. Arsitek pendamping revitalisasi diharuskan bersertifikasi IPTB A.

 

Revitalisasi telah berhadil dirampungkan pada bulan Desember 2021. Gubernur DKI Jakarta meresmikan selesainya revitalisasi ini sekaligus pertanda Gereja Immanuel bisa kembali digunakan umat kristiani untuk beribadah. Pada perayaan Natal tahun 2021, gereja ini bisa dimanfaatkan untuk peribadatan.

 

Selain pemeliharaan bagunan utama gereja, ada beberapa penataan yang dilakukan terhadap gereja Immanuel. Pertama adalah penataan halaman dan lingkungan gereja. Halaman dan taman gereja ditata lebih rapi. Kedua, penambahan lift pada samping gereja. Hal ini untuk memudahkan jemaat difabel atau yang tengah menggunakan kursi roda. Perlu diketahui, lantai gereja ini cukup tinggi terhadap tanah sekitarnya.

 

Diharapkan dengan revitalisasi ini, jemaat dapat beribadah dengan lebih tenang. Selain untuk memberikan rasa nyaman, revitalisasi ini menjadi bukti kesetaraan dan kebersamaan antar penduduk DKI Jakarta.

Selasa, 18 Januari 2022

Istana Para Presiden

Januari 18, 2022 0
Istana Para Presiden

Seperti yang kita ketahui, bahwa kepresidenan RI mempunyai 6 buah istana. Istana Negara, Istana Merdeka, Istana Bogor, Istana Cipanas, Gedung Agung Yogyakarta, dan Istana Tampak Siring. Banyak yang tidak mengetahui bahwa dalam kompleks Istana Presiden yang ada di kawasan Gambir tersebut terdiri dari dua istana. Istana Negara dan Istana Merdeka. Apa saja bedanya dan bagaimana kisahnya?

 


Saat memutuskan memindahkan pemerintahan dari Batavia (Kota Tua) ke Weltervreden (Kawasan Jakarta Pusat), Daendles mendirikan istana impiannya untuk pusat pemerintahan dan kediaman Gubernur Hindia Belanda, yaitu istana putih (sekarang gedung kementrian keuangan). Sebelum istana itu jadi, Daendles ditarik ke Belanda oleh Napoleon. Saat Perancis mengalami kekalahan dari Inggris di waterloo, pemerintah Belanda harus mundur dan digantikan orang Inggris yaitu Thomas Standford Rafless pada 1811.

 

Raffles jatuh cinta kepada bangunan yang berada di Rijswijk. Bangunan putih berlantai dua dan megah di tepi kanal ini sering disebut Rijswijk Palais. Raffles lebih senang tinggal di situ daripada kediaman resminya. Semenjak dari jaman Raffles dan seterusnya, penginapan itu sering dijadikan tempat para gubernur jendral rapat. Pada tahun XXXX dialihkan fungsi menjadi gedung pemerintahan dan kediaman gubernur jendral.

 

Pada tahun 1873, Rijswijk Palais dinilai terlalu sempit. Dibutuhkan ruangan atau gedung tambahan. Maka dibangunlah gedung yang menghadap ke Koningsplein (Lapangan Merdeka/Monas) sebagai tambahan kantor pemerintahan.

 

Fungsi dan penggunaan dua istana ini berganti-ganti, bergantung siapa pemimpinnya. Contohnya Bung Karno memungfikan Istana Merdeka sebagai kediaman. Di jaman Pak Harto, beliau lebih memilih tinggal di rumah pribadinya di Jalan Cendana, sehingga Istana Merdeka hanya difungsikan sebagai menerima tamu negara.

 

Di saat Pak Jokowi, setahu saya beliau lebih memilih tinggal di Istana Bogor. Istana Merdeka hanya difungsikan sebagai tempat penerimaan tamu negara.

Senin, 17 Januari 2022

Dewa Penunggu Harmoni

Januari 17, 2022 0
Dewa Penunggu Harmoni

Jika kamu melewati persimpangan Harmoni dari arah jalan Hayam Wuruk menuju ke Monas, kamu akan menemukan patung kecil anak kecil berdiri yang bertumpu satu kaki dengan tangan kanan menunjuk ke langit. Ukuran patungnya kecil, jadi sangat wajar kalau ini tidak terlihat oleh orang yang lewat di sekitar Harmoni. Itu adalah patung Hermes.

 


Sebelum saya menceritakan sejarah dari patung ini, kita akan berkenalan dulu dengan Hermes. Dalam mitologi Yunani, Hermes adalah dewa pembawa pesan dari Zeus, raja seluruh dewa, untuk manusia di Bumi. Sebagai dewa pembawa pesan, Hermes mengenakan sepatu bersayap yang bisa melesak cepat, topi bersayap dan membawa tongkat yang dililit dua ular. Dia juga dikenal sebagai dewa ahli diplomasi untuk meyampaikan kepentingan Zeus.

 

Lalu mengapa ada patung Hermes nongkrong di Harmoni? Perlu dikertahui bahwa sekitar jalan Juanda (Rijswijk), Jalan Veteran (Rijswijk) adalah deretan pertokoan elit yang dimiliki oleh orang-orang eropa. Salah satunya adalah Karl Wilhelm Stolz, seorang pedagang kelahiran Jerman yang akhirnya menjadi warga negara Belanda membuka toko bernama Jenny & Co. Toko ini menjual barang-barang logam dan gelas yang dia import dari Jerman.

 

Pada tahun 1920, Stolz membeli patung Hermes dari Hamburg. Awalnya patung yang didesain oleh Giambologna ini adalah barang dagangan, namun karena Stolz sangat suka dengan patung ini, maka dia memindahkan patungnya ke rumahnya yang berada di kawasan Meezter Cornelis (Jatinegara). Istrinya, Matilda Jenny, tidak menyukai patung ini karena vulgar. Istrinya menyuruh Stolz membuang patung ini. Karena Stolz sangat menyukai patung ini, dia tidak lantas membuang.

 

Pada tahun 1930, Matilda meninggal dunia. Stolz memutuskan untuk menjual seluruh bisnisnya yang ada di Rijswijk. Dia memberikan patung Hermes ini kepada pemerintah kota Batavia sebagai rasa syukur bahwa sudah diberi kesempatan berbisnis di kota Batavia. Oleh pemerintah kota Batavia, patung itu dipasang di jembatan Harmoni, dengan tujuan agar memberikan keberuntungan kepada pemilik bisnis di kawasan Harmoni.

 

Pada tahun 1999, patung asli dari Hermes ini dipindahkan dari Harmoni ke Museum Fatahillah. Untuk menggantikannya, pemprov DKI membuat replikanya dan ditempatkan di mana patung itu dipasang mulanya.

 

Patung Hermes ini telah menjadi saksi bisu bagaimana kemajuan dan kejayaan Harmoni di masa Batavia yang dikenal sebagai kawasan nongkrong elit, hingga menjadi pusat pemerintahan Republik Indonesia.

Minggu, 16 Januari 2022

Sederhana meski Legenda

Januari 16, 2022 0
Sederhana meski Legenda

Pasar Baru, adalah kawasan yang salah satu jadi favorit saya untuk saya kunjungi di akhir pekan. Sebelum pandemi, saya sering hunting foto di sini karena padatnya manusia dan beragamnya penjual. Pasar yang berdiri sejak tahun 1820 ini juga menyimpan banyak cerita dan gedung bersejarah. Tidak cuma itu, hal yang menjadi favorit saya di Pasar Baru adalah jajanan. Ada roti, kopi, dan mie. Bakmi Gang Kelinci mungkin menjadi yang paling tersohor, namun ada satu jajanan yang cukup jadi legenda. Cakwe Koh Atek.

 


Cakwe Koh Atek mulai berdiri sejak tahun 1971. Lokasinya berada di Jalan Belakang Kongsi Nomor 31, Pasar Baru. Kalau kamu kesulitan menemukannya, coba cari dulu Bakmi Gang Kelinci. Di sebelah kanan BGK, ada gang kecil masuk ke dalam. Kamu akan menemukan kios Cakwe Koh Atek di sebelah kiri. Kiosnya kecil dengan nuansa biru. Cakwe Koh Atek ini mulai buka sekitar pukul 10 pagi.

 

Koh Atek menjual dua jenis gorengan, cakwe dan kue bantal. Tekstur cakwe dan kue bantalnya renyah dan lebih enak kamu nikmati saat masih hangat. Saya suka karena cakwenya tidak terlalu berminyak. Hal ini disebabkan karena Koh Atek memakai minyak kelapa untuk menggoreng, bukan memakai minyak sawit.

 

Untuk menjaga cita rasa dari cakwe dan kue bantal, sejak berdiri Koh Atek selalu membuat adonan sendiri. Dia belum mempercayakan pembuatan adonan ke orang lain. Untuk penggorengan, sudah ada karyawan yang membantu.

 

Untuk mendapatkan cakwe dan kue bantal ini, sebaiknya kamu datang pagi-pagi. Jika ramai, kamu harus menunggu 30 sampai 60 menit untuk dari pemesanan, karena Koh Atek selalu menyiapkan dan menggoreng dadakan jika ada pesanan agar pelanggan dapat menerima cakwe dan kue bantal dalam keadaan hangat.

 

Satu cakwe dan kue bantal dijual dengan harga 6.000 rupiah. Jangan datang lebih dari jam 3 karena kemungkinan kamu akan kehabisan cakwe dan kue bantal ini.

Sabtu, 15 Januari 2022

Saling Berbagi di Kota Jakarta

Januari 15, 2022 0
Saling Berbagi di Kota Jakarta

Beberapa orang berkata bahwa Jakarta mengubah orang menjadi sangat individualis. Tidak ada kehangatan dan kemanusiaan di kota keras ini. Mungkin anggapan itu tidak sepenuhnya salah. Berdasarkan pengamatan dan kesotoyan saya, tingkat kesulitan hidup di suatu kota berbanding terbalik dengan kehangatan dan keramahan penduduknya. Ditambah lagi indeks kebahagiaan penduduk DKI Jakarta berada di bawah indeks kebahagiaan nasional. Antar penduduk juga saling curiga dan waspada sehingga kerelaan untuk menolong orang lain juga rendah. Sekali lagi ini berdasarkan sotoynya saya.

 


Saya memasuki kota Jakarta juga sangat pesimis. Saya ragu menemukan kehangatan kota Bandung tempat saya kuliah. Apakah di sini komunitasnya se oke Bandung? Bagaimana kalau penduduknya galak-galak? Ada orang yang bantuin ga ya kalau ada kesulitan? Pertanyaan semacam itu sering datang saat saya mengenal kota ini.

 

Setelah beberapa lama tinggal di Jakarta, saya mulai mengenal beberapa komunitas kerelawanan yang bergerak membantu orang sekitar dalam berbagai bidang dan bentuk. Ada yang bergerak di bidang pendidikan, penggerak ekonomi, Kesehatan dan lingkungan, atau komunitas berbagi ide. Jumlahnya tidak ada data pasti, namun saya menduga sampai puluhan. Setidaknya itu yang saya amati.

 

Sisi postif dari komunitas kerelawanan di Jakarta adalah kerapihan dalam eksekusi dan pergerakan organiasi. Kalau dibandingkan kota lain yang penggerak komunitas didominasi oleh mahasiswa, di Jakarta kebanyakan komunitasnya digerakkan oleh professional muda yang sudah bekerja. Tidak mengherankan beberapa komunitas memiliki tata kelola standar orang kantoran yang rapi dan terstruktur seperti tata kelola keuangan, cara menjalankan rapat dan pengambilan keputusan. Dalam hal eksekusi pun koordinasi antar fungsi maupun dengan pihak luar terlihat lebih lancar.

 

Bentuk sumbangannya apa aja sih? Bermacam-macam, tergantung keahlian dan kegemaran masing-masing individu. Komunitas kerelawanan sangat menghargai semua bentuk bakat dan minat anggotanya. Ada yang berkontribusi di desain, dokumentasi berupa foto dan video, atau yang ahli di administrasi. Ada juga yang memang gemar mengajar anak kecil, atau mencari ide-ide baru, mencari sponsor atau langganan jadi MC buat yang suka nampil. Apapun bentuk kontribusinya, semuanya didasari satu niat: memberi.

 

Terlalu banyak individu yang saya kenal total dalam memberi di komunitas, tanpa mengesampingkan pekerjaan utamanya. Kebanyakan sih kalau ditanya kenapa mau jadi relawan, jawabannya sih “seneng aja berbagi sesuatu”. Sebuah alasan yang klasik tapi itulah adanya.

 

Jakarta ini memang bukan kota yang sempurna, namun dengan adanya komunitas kerelawanan, setidaknya ada kemajuan untuk menjadikan Jakarta tempat yang lebih baik.

Jumat, 14 Januari 2022

Bertahan dalam Karya

Januari 14, 2022 0
Bertahan dalam Karya

Kamu yang sering berkunjung ke Taman Ismail Marzuki di Cikini saat sebelum revitalisasi, kamu mungkin pernah melihat bapak-bapak berambut putih panjang yang sedang mengajar anak-anak berlatih teater di teras Graha Bakti Budaya (GBB). Kadang waktu, ia sedang menjaga toko buku miliknya yang berada di pojok Graha Bakti Budaya TIM. Ia adalah Jose Rizal Manua.

 


Jose Rizal Manua, tokoh teater berdarah Padang yang lahir pada 14 September 1954. Menurut beberapa sumber, ia pernah mengikuti Bengkel Teater milik WS Rendra. Dari situ, kemampuan Jose Rizal terus terasah. Beranjak dari situ, Jose sering memenangkan perlombaan teater.

 

Selain menjadi dosen di Institut Kesenian Jakarta (IKJ), ia aktif dalam pengembangan seni teater, khususnya teater anak-anak. Melalui Teater Tanah Air, ia melatih anak-anak bermain teater dan mengadakan pertunjukan baik di dalam negeri maupun luar negeri. Banyak apresiasi telah ia dapatkan. Puncaknya, ia dan kelompok teaternya memenangkan perhargaan sebagai Penampil Terbaik dalam acara Festival Teater Anak Sedunia ke- 15 di Jerman pada tahun 2018. Sebelum itu pada tahun 2008, ia juga sempat mendapat penghargaan sebagai pertunjukan terbaik dalam acara Festival Teater Anak sedunia ke- 10 di Moskow.

 

Berdasarkan cerita dari vlog Pandji Pragiwaksono, setelah pulang ke tanah air, ia menawarkan kepada sebuah stasiun televisi nasional untuk menampilkan teater yang baru saja ia pertunjukan di Jerman. Televisi menolak dengan alasan, orang Indonesia tidak paham teater. Ia meragukan alasan tersebut karena pertunjukannya di Jerman, negara yang mempunyai bahasa dan kontek budaya berbeda, berjalan meriah.  Setelah ia berdiskusi lebih dalam, ia mengetahui bahwa alasan utama dari penolakan tersebut adalah teater itu tidak komersil.

 

Tentu saja ia tidak berhenti berkarya di dunia teater. Sebelum pandemi, aktifitas teaternya masih berjalan. Teater Tanah Air masih aktif berlatih dan mengadakan pertunjukan.

 

Saya berkunjung ke Galeri Buku Bengkel Deklamasi miliknya tadi siang. Sebuah toko buku yang dulunya berada di pojok GBB. Menurut beberapa sumber, galeri tersebut diinisiasi oleh Jose Rizal Manua dan WS Rendra. Ide pendirian galeri tersebut datang saat ia berdua berkunjung ke Broadway, dan melihat toko buku literasi yang ramai dikunjungi orang. Atas bantuan Gubernur Jakarta Soerjadi Soedirdja, berdirilah galeri buku di pojok GBB.

 

Saat kawasan TIM direvitalisasi dan GBB dirubuhkan, galeri buku tersebut sempat direlokasi ke Perpusda, dan sekarang berada di bagunan semi permanen, di sekitar tempat parkir mobil. Tidak terlalu luas, namun cukup nyaman. Seluruh buku tertata rapi di rak-rak yang ada di dalamnya. Jika kamu berkunjung ke sana, kamu akan menemui koleksi buku yang sangat banyak mulai dari buku budaya hingga buku sains.

 

Jose Rizal Manua, dunia teater dan galeri bukunya mungkin mengalami pasang dan surut, namun seorang seniman tetap bertahan dalam karya karena itu laku hidupnya.

Kamis, 13 Januari 2022

Memenangkan Pejalan Kaki

Januari 13, 2022 0
Memenangkan Pejalan Kaki

Sebagian dari kita pernah ke luar negeri seperti Singapore atau Kuala Lumpur. Saya yakin sebagian dari kita mengandalkan transportasi publik dan jalan kaki untuk berpindah tempat. Taksi atau sewa mobil bukan menjadi pilihan pertama karena pertimbangan biaya. Selain itu, transportasi publik di sana sudah sangat nyaman, aman, dan terintegrasi. Cukup mengandalkan satu kartu dan peta digital, kamu bisa bebas ke mana saja tanpa ribet tanpa bingung.

 


Selain transportasi yang nyaman, kota didesain untuk ramah pejalan kaki. Trotoar yang cukup lebar, bersih dan tertib. Pengguna jalan lain juga tertib lalu lintas dan menghargai pejalan kaki sehingga tidak ada kekhawatiran berlebihan kita terserempet sepanjang kita juga tertib aturan. Kita juga tidak dilelahkan dengan harus turun dan naik jembatan penyebrangan.

 

Begitu kembali ke Jakarta, keluhan panjang kita tentang transportasi publik dan dukungan ke pejalan kaki langsung keluar. Pejalan kaki harus berebut tempat dengan kendaraan bermotor dan pedagang kaki lima. Transportasi publik yang kita tidak bisa pastikan kapan datangnya dan berapa lama waktu tempuh dari satu tempat ke tempat lain. Kalau kata orang, transportasi publik kita tidak cocok untuk orang yang sedang terburu-buru.

 

Kabar baik dari Jakarta adalah, pemerintah provinsi telah menentukan prinsip-prinsip pembangunan infrastruktur dan transportasi dengan perumusan prioritas sebagai berikut:

  1. Pejalan kaki
  2. Kendaraan bebas emisi
  3. Transportasi umum
  4. Kendaraan pribadi

Diharapkan semua desain pembangunan infrastruktur fasilitas umun atau transportasi umum mematuhi prinsip tersebut.

 

Mungkin kamu yang menggunakan mobil pribadi mengeluh bahwa jalanan ini udah macet, kenapa trotoarnya malah diperlebar? Prinsip pembangunan itu jawabannya. Peleberan trotoar memang terjadi di beberapa tempat, seperti Jalan Cikini, kawasan Kemang, dan jalan Sudirman sampai jalan Thamrin. Sekarang pejalan kaki menjadi masyarakat kelas paling atas dalam urusan transportasi.

 

Sudah konsisten? belum sempurna. Saya masih melihat desain infrastruktur yang belum mempertimbangkan pejalan kaki sebagai prioritas. Beberapa fasilitas masih memanjakan pengendara kendaraan bermotor. Setidaknya, kita sudah di jalur yang benar walau belum sempurna.


Khusus untuk kawasan tempat tinggal saya di Cikini, ada beberapa perkembangan yang saya amati. Pertama adalah pelebaran trotoar dengan mengambil sedikit luasan jalan. Kedua adalah pembenaman kabal listrik dan telepon dari mulanya di atas menjadi di bawah tanah. Ketiga adalah panduan trotoar untuk pengguna trotoar difabel. Keempat adalah penambahan pelindung untuk pejalan kaki berupa tiang-tiang besi.

 

Sebagai pejalan kaki dan pengguna transportasi publik wajib menjaga kebersihan dan fungsi dari fasum yang sudah ada. Sebagai yang masih menggunakan kendaraan pribadi, selayaknya kita saling menghargai dan memprioritaskan pejalan kaki di kota ini. Dengan ini, kita bersama mengharapkan kita bisa jalan kaki dan menggunakan transportasi publik senyaman di Singapore.

Rabu, 12 Januari 2022

Alternatif Toko Buku

Januari 12, 2022 0
Alternatif Toko Buku

Di mana orang Jakarta mencari dan membeli buku fisik? Mungkin kamu akan menyebut nama-nama besar seperti Gramedia, Kinokuniya, Periplus, atau Books & Beyond. Mungkin juga kamu menyebut pasar buku di Blok M, Pasar Buku Kenari, atau Pasar Buku Kwitang. Untuk saat pandemi seperti ini, rasanya banyak orang yang memilih membeli buku secara daring karena sudah banyak penyedia buku secara daring. Dari sekian toko buku fisik yang ada, apakah ada toko buku yang berbeda dari yang lain?


 

Dari sekian banyak toko buku di Jakarta yang bisa kita kunjungi, ada satu toko buku yang menjadi favorit saya dan mungkin bisa jadi alternative kamu untuk mencari dan membeli buku. Toko Buku Post Santa. Toko buku ini berada di lantai atas Pasar Santa, tempat yang dulu sempat hits menjadi tempat nongkrong. Saya lupa blok di mana tepatnya, namun kamu bisa menanyakan orang di sekitar situ di mana letak Post. Kebanyakan orang di situ sudah mengenal betul Post.

 

Apa yang menarik dari Post? Kurasi. Menurut saya nilai lebih dari Post adalah buku yang dijual di sini sudah dikurasi oleh penjaga toko. Kebanyakan mereka menjual buku yang sudah mereka baca, atau buku tersebut direkomendasikan oleh teman-teman. Mengapa ini menarik? Buku yang ada di pasar jumlahnya ribuan mungkin jutaan, dan kita tidak mungkin membaca semua buku tersebut. Kurasi membantu kita untuk menyusun daftar buku bacaan. Pilihan mereka tidak selalu sesuai dengan pilihan kita karena masing-masing individu  mempunyai pengalaman membaca sendiri-sendiri, tapi setidaknya ada referensi yang bisa dijadikan pertimbangan.

 

Karena sudah terkurasi, buku yang dijual memang disesuaikan dengan “warna” penjaga toko ataupun pelanggan Post. Kita tidak akan menemukan buku cara beternak cacing atau buku agama di sini. Kita tetap bisa menemukan buku yang beragam mulai fiksi dan non fiksi. Ada yang berbahasa Indonesia, maupun Bahasa Inggris. Ada dari penulis lokal maupun buku import. Bukunya tidak monoton walaupun pilihannya tidak sebanyak di toko buku pada umumnya. Buku yang dijual di sini kebanyakan tidak dijual di toko buku arus utama seperti Gramedia.

 

Post ini tidak hanya berfungsi sebagai toko buku. Mereka juga mempunyai penerbitan yang sudah menerbitkan beberapa buku di antaranya Cerita-cerita Jakarta, Semasa dan Na Willa. Selain itu, sebelum pandemi Post juga sering mengadakan kegiatan luring tentang buku seperti peluncuran buku, diskusi buku, atau kelas penulisan. Post memang tidak ditujukan hanya untuk penjualan buku, namun juga ruang interaksi.

 

Jika kamu tidak sempat datang ke Post, kamu bisa membeli buku-buku yang mereka jual di lokapasar yang tersedia seperti Tokopedia dan Shopee.

Selasa, 11 Januari 2022

Strategi Pecah Belah

Januari 11, 2022 0
Strategi Pecah Belah

Glodok. Mungkin kamu mengenalnya sebagai pusat elektronik, pasar kebutuhan etnis tionghoa, atau penjualan DVD bajakan.  Mungkin juga sebagian kamu mengenal glodok sebagai pusat perayaan imlek karena di sana terdapat vihara paling tua di Jakarta. Sebagian lagi kamu mengenal glodok sebagai kawasan jajanan yang enak. Di balik itu semua, tahukah kamu bahwa Glodok terbentuk dari sebuah tragedi?

 


Pada awal abad 17, imigran dari Cina didatangkan besar-besaran untuk mendukung industri gula. Sebagian mereka tinggal di dalam benteng Batavia, sebagian mereka tinggal di luar benteng. Orang menyebutnya dengan Ommelanden. Lalu terjadilah tragedi pada tahun 1740, apa yang disebut dengan Geger Pacinan, yaitu pembantian orang etnis Cina. Lebih dari 10 ribu orang etnis Cina dibunuh oleh pasukan VOC. Konflik ini dikarenakan beberapa hal, namun pencetus utamanya adalah masalah industri gula.

 

Beberapa sejarawan berpendapat bahwa geger pacinan ini bukanlah konflik antara orang Cina dan VOC semata. Orang Cina berkoalisi dengan orang jawa (dan bumiputra) untuk melawan VOC. Konflik ini sebenarnya tidak hanya terjadi di Batavia. Konflik ini juga terjadi beberapa daerah di Jawa, namun menurut catatan, jumlah korban paling besar ada di Batavia.

 

Setelah peristiwa tahun 1740, orang Cina tidak boleh lagi menetap di dalam Batavia. Mereka diusir keluar dari kota benteng. Seluruh orang Cina dikumpulkan di satu lokasi dan ditempatkan di daerah sebelah selatan kota benteng, namun tidak terlalu jauh dari benteng agar masih bisa ditembak oleh meriam. VOC masih bisa mengawasi dan mengontrol, namun tidak terlalu bahaya untuk kota benteng Batavia.

 

Apakah ini pengusiran ini hanya untuk orang Cina? Tidak. Orang Jawa juga tidak diperbolehkan tinggal di dalam kota Batavia, namun bedanya, orang Jawa tidak ditempatkan atau dikonsentrasikan di kawasan tertentu. Orang Jawa masih bisa menyebar di seluruh daerah Ommelanden, karena itu mulai terbentuk perkampungan bumiputra di beberapa tempat seperti di kawasan Kwitang.

 

Ada strategi VOC yang cukup cerdas. Mereka mengambil pelajaran dari peristiwa 1740 bahwa persatuan antar etnis ini sangat membahayakan kedudukan VOC. Memecah belah adalah pilihan mutlak. Itulah muncul strategi Devide et Impera, yaitu memecah-mecah kelompok kecil dan memberinya kekuasaan di daerah tertentu dengan tujuan agar kelompok kecil ini tidak bersatu. Itulah mengapa VOC mengkonsentrasikan orang Cina di kawasan Glodok.

 

Walaupun Batavia runtuh dan dipindahkan ke Weltervreden, orang Cina enggan untuk berpindah dari Glodok. Kini, glodok menjadi pusat perniagaan dengan perputaran ekonomi yang fantastis. Saya lebih mengenal Glodok sebagai tempat kuliner dan tempat street photography yang seru. Apa ceritamu tentang Glodok?