Yang menyapa pantai sebentar saja lalu pergi
Dan kembali ke pelukan samudra yang menenangkannya
Dihancurkannya dia oleh ombak yang berdebar
Dan tetap menunggu meski ia terkikis
Lalu ia tenggelam dalam senja
21 Agustus 2016
Malam pernah berkomplot dengan senja
Untuk mengintip hangatnya matahari
Sesaat saja lalu pergi, karena ia tahu diri
Apakah malam pernah bermimpi memeluk matahari?
Aku rasa malam punya logika dan rasa
Ia hanya menikmati lilin, api unggun, dan lampu-lampu kota
Bukan dengan matahari yang selalu bercumbu dengan pagi
Aku melepaskan waktu dari cinta
Agar padamu, ia tak berbatas usia
Aku melepaskan rupa dari cinta
Agar padamu, bersemayam selamanya
Dan tak kusandarkan pada harta
Agar padamu, ia tak sekadar fana
Izinkan aku meletakkan iman di atas cinta
Agar padamu, ia terjaga dari murkaNya
Ketika mata dipeluk dosa
Pikiran tertawan prasangka
Dan rasa yang tertahan di bilah-bilah waktu
Berputar mempergilirkan harap dan takut
Ketika cinta tertanam di bumi
Hati kan terlepas dari langit
Dan hidup yang tertelikung paras dunia
Mengharapkan dedangan puja dan sanjung
Di surau kecil ujung jalan ini aku bersimpuh
Aku mengadu kepadaMu tentang harap dan takut
Yang terselundup dalam setiap sujud
Jakarta, 14 Juni 2016
Menepis debu di pelipis
Pedas mata menyapa asap
Mengencangkan ikat pinggang untuk sekadar berkompromi dengan lapar
Suara pekak di telinga, meneriakkan segala kesedihan
Lima ratus meter dari situ, tuan dan nyonya berdansa-dansa
Mendentingkan gelas wine merah
Berteman daging setengah matang
Tertawa dan terbahak, menertawakan dunia yang dimainkannya
Jakarta begitu adil, dengan definisi yang dimilikinya
Adil yang penuh pemakluman dan kompromi
Adil yang dimainkan dan ditertawakan
Ditulis pada dini hari
Jakarta, 1 Mei 2016
Ini bukan soal jumlah
Karena yang berlimpah bisa melalaikan dan yang berbatas bisa mengerdilkan
Ini bukan soal jalan
Karena yang mudah bisa menyombongkan dan yang sulit penuh menyalahkan
Ini bukan soal ruang
Karena yang lapang penuh syukur dan yang sempit penuh sabar
Dan sebenarnya ini soal berkah
Seberapa mendekatkan kepadaNya, seberapa mengingatkan kepadaNya
Berkah, sebuah kata yang menghantuiku satu tahun terakhir
Aku merindumu Jakarta
Dalam ramaimu, kesepianku tersamar
Dalam kejammu, lemahku termaafkan
Dalam riuhmu, bisuku tenggelam
Aku merindumu Jakarta
Kusisakan ruang kecil dalam benciku
Kubiarkan lilin kecil menyala di sana
Agar hangat ketika aku ingin memelukmu
Aku merindumu Jakarta
Aku melihat bayangan kehidupan
Dalam setiap lembaran kaca gedung megah itu
Dan aku tahu di mana aku harus berpulang
Ditulis tanggal 7 Feb 2016
Chinatown, Singapore.
Menjejaki setiap meter mendekat ke kota itu
Kota yang menjadi nyawa dalam ceritaku
Aku dibawa sajakku ke sana
Tuhan memang tak pernah menjanjikan sesuatu itu selalu sama
Perjalanan ini pun menjadi cerita yang berbeda
Dan aku tak suka dengan itu
Aku meninggalkan cerita lama dengan manis di setiap meternya
Berdamai dengan cerita baru di ujung rel ini
Dan menyusun sajak baru di sana
Ditulis di atas rel ke Bandung
3 November 2015
Aku tak ingin menjadi seperti pygmalion
Yang jatuh cinta pada galatea
Dan pada dewa-dewi ia meminta
Untuk menjadikannya nyata
Aku tak ingin menjadi seperti dalang
Yang jatuh cinta pada sinta
Dan menghadang rama dan rahwana
Lalu membunuh keduanya
Ketika kesederhanaan menjadi sebuah kemewahan
Ketika bahagia dan kesedihan jadi rancu dalam definisinya
Aku mau membeli kesederhanaan itu
Aku mau mencari definisi itu
Merindukan akal sehat sebagai hakim
Merindukan logika sebagai pengadil
Merindukan hati nurani sebagai penyeimbang
Merindukan iman sebagai pengambil keputusan
Membuat keputusan besar untuk mengembalikan kesederhanaan
Kesederhanaan berpikir
Kesederhanaan merasa
Kesederhanaan bahagia
Langkah besar itu berat
Langkah besar itu kadang perih
Tapi pada akhirnya dia akan mengembalikan kesederhanaan itu
Bahagia itu sederhana, tapi pikiran kita yang menutupinya
Kemang, 13 September 2015
Dalam kegalauan mencari akal sehat
Engkau yang bersamaku saat ini
Menatap matamu yang kosong itu
Tubuhmu hadir tapi ruhmu tidak
Tawamu terdengar tapi bahagiamu lenyap
Engkau yang terjebak pada masa lalumu
Tidakkah kau bisa bersamaku dengan utuh?
Berjalan dan bergandengan tangan denganku dengan seutuhnya dirimu
Engkau yang terus meronta dariku
Ku coba menggenggammu sekuat tenaga
Kuat dan rapat
Tapi tanganku mulai lemah, dan menyerah
Bukan aku tak berusaha, tapi aku tak kuasa
Melepasmu bukan keinginan, menahanmu bukan jawaban
Menunggumu menari sampai dirimu lelah, dan kembali padaku
Itu pun cuma jika engkau mau kembali
Kemang, 5 September 2015
Insipired from Korean Drama, Hello Monster
Seriusan, bukan puisi galau. Cuma keisengan waktu baca sajaknya Rendra sambil nonton K-Drama