Catatan Kecil: Travelling
Tampilkan postingan dengan label Travelling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Travelling. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Juni 2025

Nilai dari Purwokerto

Juni 07, 2025 0
Nilai dari Purwokerto

Kalau kamu melakukan perjalanan di kota-kota kecil, ada saja nilai atau kebiasaan yang dilakukan oleh penduduk sekitar yang kamu tidak akan temukan di kota besar seperti Jakarta. Sebagai penduduk Jakarta, kamu akan terheran-heran ketika kamu melihat dan mengalaminya. Apa saja hal baru yang aku temui di Purwokerto?



Sabtu, 09 Oktober 2021

Solo, Kenangan dan Ketenangan

Oktober 09, 2021 0
Solo, Kenangan dan Ketenangan

Apa kabar teman-teman kali ini? Apakah teman-teman sudah mulai berani untuk bepergian, makan di tempat, atau hal-hal lain yang saat Covid sedang parah menjadi kegiatan yang tidak mungkin dilaksanakan? Rasanya laju vaksiniasi berhasil menekan tingkat penyebaran Covid dengan sukses.

 

Jalanan Jakarta pun kembali merayap. Tempat makan, café, bahkan tempat pariwisata mulai penuh dengan pengunjung. Denyut Jakarta kembali hidup walau tak akan sempurna seperti dulu. Aku tahu, bahwa denyut ini memakan biaya yang tidak sedikit. Banyak diantara kita, termasuk aku, kehilangan sahabat, teman, atau bahkan keluarga. Sebuah denyut yang dibayar sangat mahal.


Denyut yang kembali hidup ini aku manfaatkan dengan memberanikan diri untuk bepergian ke luar kota. Aku ingin mengambil jeda sejenak untuk mengkalibrasi hidupku di luar Jakarta. Aku memilih Solo sebagai kota untuk aku beristirahat. Kota yang aku pikir punya kecepatan hidup yang tak sekencang Jakarta, riuhnya tidak terlalu bingar, dan keramahannya tidak aku ragukan.

 


Ada satu alasan lagi yang membuat aku memilih Solo. Aku menganggap Solo ini punya kedekatan akar budaya dan emosional dalam diriku. Almarhum ayahku sangat menyukai kota ini. Mungkin karena ini tempat dia kuliah. Waktu aku kecil, dia seringkali mengajak keluarga kami untuk jalan-jalan di kota ini, dan menginap di hotel yang selalu sama. Aku juga menganggap Solo mempunyai budaya Jawa yang masih kuat. Kegelisahaanku mengenai kehilangan akar jati diri sedikit terobati.

 


Berangkat dari Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, aku menaiki pesawat ke Solo. Setelah mendarat dan menitpkan tasku di hotel, aku menuju tujuan pertamaku, pasar buku bekas. Kenapa pasar buku bekas? Aku berpikir buku bekas dapat menjadi jembatan antara aku dengan ajaran kebudayaan jawa yang didominasi oleh teks bahasa kuno. Aku menemukan beberapa buku yang mengulas syair jawa kono yang dilengkapi terjemahan dan maknanya. Aku senang sekali dengan buku ini. Kapan-kapan aku akan mengulasnya.

 






Tujuan kedua adalah kuliner. Aku janjian dengan sahabat satu kantor asal Solo, Tyas, untuk makan siang di tengkleng Bu Edi. Aku masih mengingat dengan jelas bahwa tengkleng ini tutup saat aku mengunjungi Solo dua tahun lalu. Akhirnya aku bisa merasakan masakan yang legendaris ini.

 

Pasar buku bekas dan kuliner Solo memang menyenangkan, tapi kehidupan kota ini sendiri sangat mempesona. Kamu masih bisa menemukan supir Gojek yang menyapamu dengan sangat ramah. Menikmati wedangan di malam hari sambal mengobrol dengan hangat Bersama penjualnya. Keheningan kota jika kamu jalan-jalan di malam hari. Tidak ada kemacetan atau klakson tanda ketidasabaran di siang hari. Suasana ini mengkalibrasiku tentang kewarasan dan hidup tenang.

 


Total aku menghabiskan 5 hari di sana. Aku harus segera kembali ke Jakarta. Selain aku tak mau tagihanku terus membengkak, aku takut terlalu jauh dari Jakarta. Takut kaget ketika aku harus kembali ke Jakarta.

 

Terima kasih Solo atas kenangan dan ketenangan.

 

Jakarta, 9 Oktober 2021.

Senin, 19 November 2018

Cukup Di Jakarta Saja

November 19, 2018 0
Cukup Di Jakarta Saja
Hari kejepit!! Yeaayy…. Saya tiba-tiba senang mengetahui di November ini ada hari kejepit. Saya baru mengetahui seminggu sebelumnya, karena saya jarang sekali melihat kalender. Selasa libur, berarti senin harus cuti nih, pikir saya. Dan seketika saya mendapatkan long weekend. Seketika pilihan liburan ke mana menjadi topik utama di otak saya. Dan seketika membuka web Sriwijaya Air. Mau ke mana kita long weekend itu?

Sekilas Cerita di UWRF

November 19, 2018 0
Sekilas Cerita di UWRF
Tenyata niat untuk merekam setiap aktivitas di UWRF per harinya tidak terlaksana. Kegiatannya lebih padat dari yang saya banyangkan sebelumnya. Hampir penuh dari pagi sampai malam hari, mulai dari diskusi, pesta puisi, sampai screening film. Dan saat kembali ke hotel pun rasanya sudah lelah dan segera istirahat untuk memastikan besok pagi sudah segar untuk kegiatan lagi. Keliling ubud pun tidak terjadi dalam travelling ini. Kegiatan saya hanya terpusat di tiga tempat, yaitu venue kegiatan, tempat makan, dan hotel. Venue kegiatan UWRF ada di beberapa titik. Disediakan shuttle car setiap 30 menit jika kamu semua tidak membawa kendaraan. Jika kamu memang cukup mobile untuk beberapa hari itu, mungkin sewa motor jadi alternatif menarik.

Rabu, 24 Oktober 2018

UWRF, Nunggu Boarding

Oktober 24, 2018 0
UWRF, Nunggu Boarding
Catatan ini ditulis di bandara sambil menunggu boarding. Sebelum subuh saya sudah rapi dengan minyak wangi dan mata yang berkedip 5watt. Hari ini saya akan menuju Bali, tepatnya di daerah ubud. Ubud Writer and Reader Festival (UWRF) begitu nama acara yang membuatku rela cuti dua hari di tengah gempuran kerjaan dari Pak GM. Meninggalkan kantor dua hari memang tidak pernah mudah, tapi melewatkn UWRF bukan pilihan yang menarik untuk diambil. Entah dari bulan kapan, saya sudah merencanakan untuk hadir. Berbekal tiket terusan early bird, tiket sakti sriwijaya, dan hostel murah di ubud, saya beranikan diri berangkat.

Mulanya saya tidak ingat kapan saya mengenal acara ini. Kemungkinan dari instagram penulis-penulis sakti macam Aan Mansyur atau Dee yang hadir tahun lalu. Saya sebagai penulis pembaca, merasa sayang untuk melewatkan acara ini. Sebenarnya acara macam ini juga ada di Jakarta. Salah satunya International Writer Festival. Tapi daya pesona ubud memang membuat acara satu ini begitu menarik. Agendanya? Ada diskusi, workshop, pertunjukan seni, dan acara paling asyik yaitu poem slam. Ya semacam open mic kalau di stand up comedy atau ngejam di musik..

Catatan kecil akan merekam kegiatan UWRF perharinya. Semoga menyenangkan semuanyaa….

Kamis, 05 Juli 2018

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 2)

Juli 05, 2018 0
Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 2)
Melanjutkan petualangan kuliner di kota Surakarta, dan di saat malam sudah mulai menemui kota ini, saya menuju Nasi Liwet Wongsolemu. Nasi liwet adalah nasi gurih mirip nasi uduk, yang disajikan dengan sayur labu siam, suwiran ayam dan areh (santan kental). Ketika kita mengetikkan nasi liwet, nama nasi liwet wongsolemu berada di beberapa list rekomendasi. Nasi liwet Wongsolemu berada di daerah keprabon. Nasi liwet di sini cenderung manis, tapi juga gurih. Manis didapat dari masakan sayur labu siam yang dimasak mirip dengan gudeg, dan rasa gurih dominan berasal dari areh. Anda juga bisa meminta menambahkan jeroan, kepala ayam, telur, atau lauk lain. Makan di sini sangat nikmat karena juga diiringi alunan lagu jawa yang dimainkan oleh pemain siter.
 
Nasi Liwet Wongso Lemu
Jl. Teuku Umar, Keprabon, Banjarsari, Kota Surakarta
Buka: 16.00 – 24.00
Kisaran Harga: 15.000 per orang

Keesokan harinya setelah saya check out dari hotel, saya berniat sarapan di Timlo Sastro. Timlo Sastro berada di daerah Pasar Gede. Daann… ini menjadi kuliner favorit saya di Solo. Timlo Solo ini kalau saya bilang terlalu gelap untuk dibilang sup, tapi terlalu ringan kalau dibilang soto. Jadi bayangkan saja gabungan soto atau sop yang berisi potongan sosis khas solo, daging ayam, telur ayam, atau jeroan ayam. Sosis khas solo itu berbentuk seperti martabak, tapi isinya sangat tipis. Ketika anda mencicipi kuahnya, ini sangat segar, gurih, tapi cukup ringan. Kalau menurut saya, ini cocok dinikmati kapan saja. Tapi saya menikmatinya di saat sarapan. Anda bisa memesan denga nisi sesuai dengan keinginan kamu. Timlo komplit bisa kamu nikmati dengan harga 20.000 Ditemani nasi putih hangat jika kamu ingin. Alunan lagu keroncong dari pengamen menambah kenikmatannya.

Timlo Sastro
Jalan Kapten Mulyadi No.8, Sudiroprajan, Jebres, Sudiroprajan, Jebres, Kota Surakarta
Buka: 06.00 – 03.30
Kisaran harga: 25.000 per orang

Dan sebagai penutup sebelum pulang ke Jakarta, saya meluncur ke sate Buntel Mbok Galak. Berada agak di pinggir solo, saya meluncur menggunakan ojek online. Sesampainya di sana, saya dikejutkan dengan berjejalnya pelanggan. Di warung ini tersedia olahan kambing seperti sate, sate buntel, tengkleng, dan gule. Kali ini saya memesan sate buntel. Sate buntel terbuat dari cincangan daging kambing, yang dililitkan ke tusuk sate, dan dibungkus (dibuntel) dengan lemak kambing. Satu porsi berisi dua buah sate. Tapi tenang, karena ukurannya yang cukup besar, dua tusuk sudah sangat cukup untuk satu orang. Gurih, tidak prengus, dan nikmat yang saya bisa ucapkan untuk masakan ini. Untuk sate, kamu bisa memesan langsung di dapur.

Sate Buntel Mbok Galak
Jl. Ki Mangun Sarkoro No.112, Sumber, Banjarsari, Banyuanyar, Sumber, Banjarsari, Kota Surakarta,
Buka: 08.00 – 19.00
Kisaran Harga: 40.000 per orang

Minggu, 01 Juli 2018

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 1)

Juli 01, 2018 0
Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 1)
Membalaskan dendam tidak bisa kulineran waktu ke Jogja kemarin karena memang sedang bulan puasa, kali ini saya membuat bucket list kulineran, tapi bukan di Jogja, agak bergeser sedikit, tepatnya di Solo. Surakarta, atau lebih dikenal dengan Solo, tidak hanya terkenal dengan kota batik dan budaya, namun juga surga kuliner. Jadi kamu yang ingin traveling ke kota dengan segudang legenda kuliner, mungkin Solo harus berada di urutan teratas daftarmu.

Jika kamu ingin menuju pusat kota Solo dari bandara, pilihan transportasinya sangat terbatas. Hanya ada taksi resmi, atau bus Damri. Kali ini saya menggunakan Bus Damri dengan ongkos 25 ribu. Tiketnya bisa kamu beli di pintu keluar di terminal kedatangan. Turun di jalan Slamet Riyadi. Dari situ kamu bisa gunakan transportasi online.

Kembali ke kuliner, list pertama saya adalah Tengkleng Bu Edi, letaknya di dekat pasar klewer. Tengkleng ini sangat terkenal. Namanya muncul di setiap rekomendasi kuliner Solo. Dengan semangat saya menuju ke sana. Dan ternyata kejutan menemui saya. Tengklengnya tutup 4 hari. Menurut penjual sekitar, tengklengnya di booked salah satu pejabat tinggi untuk acara open house.

Dengan kesal, saya langsung menuju ke list kedua, yaitu Warung Sate Pak Manto. Di warung ini kamu bisa menikmati berbagai olahan kambing, yaitu tengkleng kambing, sate kambing, sate buntel, rica kambing. Pengunjungnya rame pake banget. Untuk memesan kamu harus menuju ke kasir dulu. Kali ini saya memesan rica kambing karena item lain akan saya coba di warung lain di list saya. Saya tidak menyangka satu porsi cukup banyak. Mungkin bisa untuk dua atau tiga orang. Rasanya? Hmmm… rasa rempah yang didominasi merica sangat terasa bercampur kecap manis. Dagingnya sangat empuk, saking empuknya, kamu tidak perlu susah melepas dari tulangnya. Degan porsi besar, harganya 60 ribu. Buat kamu yang tidak tahan merica atau punya penyakit maag, hati-hati yaa. Merica yang kuat bisa membuat perutmu panas jika kamu menikmatinya dengan perut kosong.

Sate Kambing Pak Manto
Jalan Honggowongso No.36, Sriwedari, Laweyan, Kota Surakarta, Jawa Tengah
Buka: 07.00 - 21.00
Kisaran Harga: 100ribu untuk 2 orang

Berlanjut sore harinya saya ke tengkleng Mbak Diah. Letaknya di daerah Solo Baru. Saya ke sini untuk menggantikan tengkleng Bu Edi yang tutup. Tengkleng Mbak Diah ini juga cukup terkenal. Menurut beberapa referensi, Tengkleng Mbak Diah ini langganan presiden kedua RI, Bapak Soeharto.Warung ini juga menyediakan sate, namun kali ini saya hanya memesan tengkleng. Setelah saya rasakan, kuahnya segar, dagingnya empuk dan tidak prengus. Jika ingin ada rasa pedas, kamu bisa menggeprek cabe yang disertakan. Tengkleng bisa kamu nikmati dengan harga 30 ribu perporsi. Karena rasa kuahnya gurih dan segar namun cukup ringan, tengkleng bisa kamu nikmati untuk makan siang ataupun makan malam.
Tengkleng Mbak Diah
Desa Tanjunganom RT.002 / RW.001, Kwarasan, Grogol, Kwarasan, Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah
buka: 09.00 - 21.00
Kisaran Harga: 35.000 - 40.000 per orang

Penelusuran kuliner saya berlanjut ke minuman, dan saya memilih susu segar. Mungkin banyak kedai susu segar di kota Solo, tapi kali ini saya memilih kedai susu Shi Jack cabang veteran. Kedai susu ini buka di malam hari. Di kedai ini selain menyediakan susu dengan berbagai rasa, juga terdapat cemilan atau jajanan khas angkringan seperti sate usus, sate bakso, gorengan, nasi kucing, dan favorit saya, ketan bakar. Harganya masuk untuk kantong mahasiswa sekalipun. Saya memesan susu segar tanpa rasa. Dan rasanya cukup menghangatkan badan saya di malam itu.

Susu Segar Shi Jack
Jalan Veteran 180, Surakarta
Buka: 16.00-23.00
Kisaran Harga : 7.000 - 15.000 per orang 

Masih ada beberapa list yang saya kunjungi, namun akan saya ceritakan di part 2. Surga kuliner itu memang bernama Solo.

Senin, 11 Juni 2018

Short Escape ke Bali

Juni 11, 2018 0
Short Escape ke Bali
Bali merupakan destinasi wisata yang tak akan habis untuk dieksplorasi. Tidak sedikit waktu yang diperlukan untuk menikmati seluruh keindahan bali. Saya berkesempatan untuk solo traveling ke Bali. Namun kali ini, saya hanya mempunyai waktu tidak lebih dari dua hari satu malam di Bali. Di waktu sesingkat itu, apa saja yang saya lakukan di Bali? Bagaimana itinerary yang saya buat?

Saya memilih untuk menikmati bali dengan sangat “slow”, karena tujuan saya ke Bali kali ini memang menikmati waktu senggang. Juga sekalian nyolong-nyolong human interest photography. Yang dibenak saya, saya ingin nyantai se nyantai-nyantainya. Karena itu saya tidak membuat itinerary yang mengintimidasi waktu saya. Dikarenakan saya memakai “tiket sakti” Sriwijaya Travel Pass, saya harus mengikuti waktu yang dipunyai Sriwijaya Air. Beruntungnya dari Jakarta ke Denpasar ada penerbangan pagi. Ya lumayanlah sedikit waktu yang terbuang. Saya sampai di bandara Ngurah Rai sekitar pukul 10.00. Kali ini saya menyewa motor matic agar lebih enak kemana-mana. Lebih fleksibel.

Tujuan saya yang pertama adalah Pura Tirta Empul. Mengapa pura ini? Pura ini terkenal dengan pemandian untuk mensucikan diri. Terdapat 16 pancuran yang berjejer, namun hanya 14 yang boleh digunakan untuk ritual mensucikan diri. Setiap orang akan berurutan mandi di 14 pancuran (tirta)jung tanpa terlewatkan. Dan ternayat, tidak hanya umat hindu yang melakukan pemandian ini, namun pengunjung umum, baik warga local maupun manca negara bisa melakukannya. Disediakan persewaan baju dan loker jika Anda datang ke pura ini. Anda dilarang meletakkan barang di semabarang tempat.


Untuk Anda yang suka human interest photography, tempat ini cukup menarik untuk dikunjungi. Namun ketika pura ramai pengunjung, hanya harus mengalah kepada orang-orang yang bersembahyang atau mandi untuk mendapatkan spot yang bagus. Dan hati-hati, daerah kolam sangatlah licin. Jangan membawa barang elektronik terlalu banyak, karena jika terpeleset bisa bahaya.

Kompleks pura ini cukup besar dan sejuk. Lokasi pura ini bersebelahan persis dengan istana kepresidenan tampak siring, salah satu dari enam istana kepresidenan Indonesia. Letaknya sebenarnya cukup jauh jika dari bandara, dan cukup lama jika anda memakai motor, namun karena saya memang santai, ya dinikmati saja. Saya sempat tersasar ke sana ke mari karena saya hanya mengandalkan Google Maps. Kali ini, Google Maps memang sahabat terbaik perjalanan ini.

Setelah dari Pura Tirta Empul, saya melanjutkan ke dareah Kuta. Selain karena memang hotel saya berada di daerah itu, tujuan utama saya ke Bali kali ini adalah mantai. Terakhir saya ke Bali sekitar tahun 2014, ada acara kantor yang berlokasi di hotel Harris Kuta. Lokasinya cuma beberapa langkah dari pantai, namun karena padatnya jadwal, saya tidak pernah menikmati sunset pantai Kuta. Setelah check in dan beristirahat sejenak, saya pergi ke pantai. Yap, saya menikmati sunset dengan sangat bebas tanpa buruan jadwal. Saya berada di sekitar Kuta sampai keesokan harinya saat check out.

Bagi Anda yang membutuhkan makanan halal, di sekitar Kuta sudah banyak warung makan yang halal, namun letaknya tidak di jalan sunset Kuta. Yang harus Anda coba adalah Nasi Pedas Bu Andhika yang cukup terkenal dan harganya cukup murah.


Setelah makan siang di daerah Kuta, motor saya geber ke daerah Uluwatu, daerah selatan Bali. Memakan waktu sekitar 1,5 jam menggunakan motor dengan kecepatan agak tinggi, saya sampai di Pura Uluwatu. Apa yang menarik di pura ini? Di sini terdapat tari kecak uluwatu yang cukup terkenal. Tiket yang harus Anda bayar untuk pertunjukan kecak sekitar 100 ribu. Penjualan tiket di mulai pukul 16.00, dan pukul 17.00, penonton sudah mulai memadati arena kecak. Pukul 18.00 tepat pertunjukan dimulai dan berakhir di pukul 19.00. Bagi Anda yang tidak mengikuti tari kecak, sunset di sini juga tidak bisa dilewatkan karena sangat bagus.

Setelah pertunjukan kecak selesai, saya memacu motor saya dengan kecepatan penuh agar sampai di bandara dengan tepat waktu dan selamat, karena penerbangan saya boarding jam 21.00. Bagi Anda yang memakai mobil, Anda harus mewaspadai kemacetan yang terjadi pasca pertunjukan karena orang akan keluar dalam waktu yang sama. Untungnya saya memakai motor, sehingga bisa lincah dan tiba di bandara tepat waktu.

Ya begitulah short escape saya ke Bali. Tidak banyak tempat memang, namun kesan santai saya dapatkan dalam perjalanan ini. Mau ikutan mejelajah Bali lebih lama? Yuk…

Minggu, 10 Juni 2018

Well planned traveler vs Free spirit traveler

Juni 10, 2018 0
Well planned traveler vs Free spirit traveler
Ketika Anda ingin traveling, pasti Anda akan memikirkan Anda ingin ke mana saja. Namun untuk beberapa orang, akan berbeda-beda tingkat detail dari itinerary perjalanannya. Karena itu saya membagi menjadi dua, well planned traveller, dan free spirit traveler.

Well planned traveler, seorang traveler yang sangat memperhitungkan itinerary perjalanannya. Setiap jam diperhitungkan, setiap spot dijatah berapa lama, dan setiap pergerakan ditentukan transportasinya. Dia bahkan mempersiapkan plan B jika plan A tidak terlaksana akibat sesuatu yang di luar kontrolnya, contohnya cuaca. Apakah saya pernah? Pernah. Saya pernah mempersiapkan 3 itinerary sekaligus ketika saya traveling ke Singapore. Kebetulan saya traveling dengan beberapa rekan saya, dan saya hanya orang di rombongan itu yang pernah ke Singapore. Dikarenakan tidak ingin mengecewakan rombongan, saya tidak boleh menghabiskan waktu terlalu lama untuk berpikir jika terjadi sesuatu di luar kontrol saya.

Kebalikan dari well paned traveller, adalah free spirit traveller. Saya tidak tahu istilah ini tepat atau tidak, jika Anda tahu istilah yang lebih tepat, let me know. Pada intinya, golongan ini berprinsip pada “ke manapun angin berhebus”. Apakah ini tidak punya rencana? Pasti punya. Namun kebanyakan hanya gambaran besarnya saja. Golongan ini sudah browsing tempat-tempat yang menarik, namun kadang tidak membuat itinerary yang detail. Apakah saya pernah? Pernah, ekstrim bahkan. Saya pernah ke Malaysia, namun belum tahu mau ke mana saja. Data pertama yang saya punya, saya hanya memikirkan saya pingin ke Malaka dan sekitar Kuala Lumpur. Data ke dua adalah tiket berangkat dan pulang saya sudah ditentukan. Singkat kata saya punya empat hari tiga malam di Malaysia. Ya cuma itu. Akibatnya, saya baru memikirkan ketika saya menjejakkan kaki di bandara KLIA2.

Apakah ada yang salah dan benar? Menurut saya ini masalah selera. Ada beberapa kelebihan di masing-masing golongan ini.

Kelebihan well planned traveller

  1. Waktu akan benar-benar efektif. Anda tidak akan kehabisan waktu untuk bengong memikirkan Anda mau ke mana saja. Tidak ada waktu yang terbuang untuk menunggu jadwal transportasi, dan tidak ada waktu yang terbuang untuk tersesat. Anda tidak akan menghamburkan waktu sedetik pun.
  2. Biaya akan terkontrol. Tentu saja ketika itinerary jelas, Anda tidak akan mengeluarkan biaya tambahan atau biaya dadakan. Apalagi jika hotel sudah dipesan jauh-jauh hari, maka kemungkinan besar akan mendapatkan rate yang lebih bagus.
  3. Anda bisa mengunjungi banyak tempat. Karena waktu benar-benar efektif, Anda akan bisa mengunjungi banyak tempat dalam waktu yang sama jika dibandingkan dengan tanpa itinerary detail.


Sedangkan kelebihan free spirit yang saya rasakan adalah:

  1. 1Saya lebih mendapatkan detail tempat yang saya kunjungi. Untuk cerita di Malaysia, akhirnya saya menghabiskan dua malam di Malaka, dan semalam di Kuala Lumpur. Untuk di Makala, dengan tempat sekecil itu saya mengeksplore dua hari. Saya benar-benar mendapat detail tempatnya. Saya sudah hafal sebagian jalan di sekitar Malaka, saya hafal mural yang ada, saya tahu bagaimana mereka berinteraksi, bagaimana sifat wisatawan yang ada, saya tahu tempat makanan halal, dan sebagainya.
  2. Penuh kejutan. Kejutan menambah seru petualangan perjalananmu. Tersesat, nanya sana-sini, salah naik bus, menemukan tempat-tempat menarik yang jarang di bahas di internet. Dan ini kadang yang saya kejar ketika saya traveling.
  3. Berinteraksi dengan orang sekitar. Ketika Anda tinggal di tempat yang sama dengan waktu relative lama, Anda akan “terpaksa” berinteraksi dengan orang-orang sekitar. Ya di situlah Anda akan belajar socio culture tempat itu.
  4. Tidak merasa diburu. Anda tidak akan merasa diburu jadwal ketika Anda termasuk dalam golongan ini. Perjalanan akan menjadi lebih santai.

Anda termasuk golongan yang mana? Yang manapun boleh, namun harus menyesuaikan hal-hal seperti waktu yang tersedia, biaya yang dialokasikan, dan dengan siapa Anda traveling. Jika ada hal-hal yang belum ada di atas, Anda bisa tulis di kolom komentar.

Salam traveling….

Sabtu, 02 Juni 2018

Menikmati Kampung Ramadhan Jogokaryan

Juni 02, 2018 0
Menikmati Kampung Ramadhan Jogokaryan
Saya memutuskan menikmati Ramadhan dengan agak berbeda. Saya dengan sangat mendadak memutuskan untuk pergi ke Jogja, tepatnya ke daerah Jogokaryan. Saya mendengar bahwa di sana ada perayaan Kampung Ramadhan Jogokaryan yang diselenggarakan sebulan penuh. Berbekal tiket dari program SJ Travel Pass, saya meluncur ke Jogja. Saya meniatkan ingin melihat aktifitas di sekitar masjid Jogokaryan dan ingin hunting street photography.

Penjaja Makanan Sekitar Jogokaryan

Saya sampai di kawasan Jogokaryan sekitar jam 15.30. Suasana jalan masih relatif sepi. Saya segera check in di hotel  Burza yang terletak di ujung jalan Jogokaryan. Sambil menunggu mendekati jam berbuka dan beristirahat sejenak, saya mempersiapkan kamera untuk hunting. Saya menggunakan gear yang cukup sederhana, yaitu Canon G7xmii, kamera pocket yang cukup bagus. Ketika jam menunjukkan pukul 16.45, saya keluar hotel. Dan betapa kagetnya saya, jalanan yang masih sepi sekitar sejam yang lalu berubah menjadi sangat ramai. Di kanan-kiri jalan banyak penjual kaki lima yang menjajakan berbagai makanan berbuga. Mulai dari sosis bakar, sate, batagor, dan masih banyak lagi. Penjual berjejer dari ujung jalan Jogokaryan sampai di kawasan masjid Jogokaryan. Anda tidak adakan kesulitan menemukan makanan berbuga puasa di sini, namun Anda akan kesulitan untuk memilihnya.

Antri Untuk Mendapatkan Hidangan Berbuka

Di kawasan masjid, petugas masjid menyiapkan makanan berat sekitar 1200 sampai 2000 porsi setiap harinya untuk dibagikan. Ibu-ibu penduduk sekitar masjid sibuk mempersiapkan makanan ini ke piring dan gelas yang disediakan. Ini memang merupakan bagian dari program pemberdayaan masjid Jogokaryan. Mendekati waktu berbuka, orang-orang mulai antri untuk mendapatkan makanan berbuka. Dengan duduk rapi sampai ke jalanan di luar masjid, orang-orang akan menunggu waktu berbuka. Setelah adzan maghrib terdengar, orang-orang segera menyantap hidangan yang telah disediakan. Setelah beberapa saat, persiapan sholat maghrib segera dimulai. Dikarenakan banyaknya jamaah yang hadir, maka sholat maghrib terpaksa dibuat dua gelombang. Setelah sholat maghrib selesai, perlahan jalan Jogokaryan kembali sepi. Namun di kawasan masjid, masih ada beberapa jamaah yang beribadah.

Ibu-ibu warga sekitar menyiapkan hidangan

Program Kampung Ramadhan Jogokaryan memang sudah sejak lama ada. Ini adalah tahun ke sebelas diselenggarakannnya. Spirit yang dibawa oleh pengurus masjid adalah kebermanfaatan masjid harus dirasakan oleh warga sekitar. Selain itu, ibadah Ramadhan harus dilaksanakan dengan suka cita dan hati gembira. Tak heran masjid yang menjadi percontohan pengelolaan masjid tingkat nasional ini sangat ramai di bulan Ramadhan. Kegiatannya beragam, ada tabligh akbar, buka puasa gratis, sahur bersaama, sholat tarawih berjamaah, dan berbagai event yang tersusun selama sebulan. Yang paling berbeda adalah adanya sholat tarawih ala Madinah, yaitu shalat tarawih yang diimami oleh imam dari timur tengah, dan menghabiskan satu juz dalam malam itu. Sholat tarawih ini tidak dilaksanakan setiap malam, namun hanya malam-malam tertentu saja.
Warga Menunggu Waktu Buka Puasa

Menikmati suasana Ramadhan di Jogokaryan memang sangatlah meriah. Anda bisa mencobanya sehari atau dua hari menginap di kawasan ini untuk merasakannya.

Info:
Masjid Jogokaryan

Selasa, 30 Agustus 2016

Ketinggalan Kereta dan Nikahan Bimo

Agustus 30, 2016 0
Ketinggalan Kereta dan Nikahan Bimo
Jakarta dan segala keabsurdan lalu lintasnya sepertinya tidak bisa Anda remehkan. Kalau Anda lolos dari absurdnya Jakarta, mungkin Anda sedang beruntung. Tidak untuk diulangi karena Anda tidak beruntung setiap saat.

Ceritanya kami berdelapan orang berencana akan ke Jogja dalam rangka menghadiri pernikahan Bimo. Tiket sudah dibeli, dan semua sudah dipersiapkan. Kami terjadwal berangkat pada hari Jumat, jam 21.45. Pagi hari kami sudah saling mengingatkan agar tidak terlambat, dan hadiah sudah dibeli.

Dan malam tiba, dan Allah memberi berkah ke Jakarta berupa hujan deras mulai dari sore sampai malam. Bingung segera melanda karena jam 20.30 saya masih terjebak di kosan dalam keadaan ga punya payung. Okee,... ambil resiko. Ambil jaket, lari ke luar gang dan naik taksi. Sepatu nyelup, baju dan tas basah. Sampai stasiun senen Jam 21.20 Di tengah jalan, saya baru tahu bahwa Meta masih di Ciplaz. Langsung saya pesankan Uber untuk mengantarkannya ke Stasiun Senen.

Hakim yang sudah berada di senen mencetak tiket kami berdelapan. Saya berpikir bahwa Meta adalah penumpang yang paling kritis. Ternyata, Meta adalah penumpang ke 3 dari kami ber 8. Yang lain? Suma dan Moan masih di kantornya, Dicky dalam perjalanan, Fery entah di mana, dan Rudy sudah menyatakan menyerah. Pada titik-titik kritis, Dicky datang. Dia memilih untuk menunggu Fery. Saya, Hakim, dan Meta sudah masuk ke kereta. Dan sampai kereta bergerak, fix kami cuma ber 3 yang selamat.


Minggu, 31 Juli 2016

First VLOG Trip - Singapore Tour

Juli 31, 2016 0
First VLOG Trip - Singapore Tour
Ini adalah Vlog pertama yang saya buat. Tidak berniat untuk mengantikan Blog, karena pada dasarnya saya tetap penikmat kata-kata dan sastra. Hanya berniat untuk medokumentasikan diri dalam bentuk lain.

Perjalanan ini adalah perjalanan ke Singapura pada saat Lunar New Year. Perjalanan ini ditemani Niken Firdha, Petty dan Intan Hapsari