Catatan Kecil: Personal
Tampilkan postingan dengan label Personal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Personal. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Agustus 2025

Awal Mula

Agustus 13, 2025 0
Awal Mula


Aku terbangun dengan badanku demam tinggi. Aku meminta izin kantor untuk berisitirahat di rumah. Tak kuat rasanya aku harus pergi berpayah-payah ke kantor dengan suhu badan hampir mencapai 38. Kepala pusing, dan tenggorokan sakit. Entah apa yang terjadi. Padahal, kemarin aku sangat sehat. Aku teringat satu hal, hari ini aku janjian ketemuan dengan Kak Flo. Dia mengajakku untuk meet up. Aku harus segera mengabarinya dan membuat janji baru. Tak enak rasanya, tapi badanku tidak bisa diajak kompromi saat itu.



Setelah menjadwalkan ulang, akhirnya aku ketemu dengan dia. Dia mengajakku ketemuan di PP. Lokasi yang tak terlalu jauh dari kantorku. Dengan menggunakan taksi, aku berangkat di saat jam istirahat. Dia sudah menungguku di sana. Aku, orang yang tak terlalu bisa berbasa basi, segera menanyakan maksud dan tujuan ketemuan itu. Singkatnya, dia menyatakan akan pensiun.


Bagai sambaran geledek di siang terik, aku bingung harus merespon apa. Ada beberapa rencana yang tak bisa tertulis di sini. Pada intinya, 2025 adalah acara terkahir dia. Dia menawariku untuk mengambil peran lebih dari sebelumnya. Aku menyatakan ingin menjadi Project Manager. Iya, aku bertaruh waktu, tenaga dan biaya untuk menjadi PM. Sebuah posisi yang tak terbayangkan sebelumnya untuk aku ambil.


Selang minggu kemudian, kami berkumpul dengan beberapa tim yang menyatakan bersedia berkontribusi di TEDx Jakarta 2025. Karena kami tidak punya ruangan meeting, jadi kami berkumpul di food court Plaza Senayan. Dengan sangat pede dan cueknya, kami menggelar meeting di food court. Sebuah tempat yang tidak cukup ideal, namun pada akhirnya kami ambil. Beruntung pagi itu masih sepi, sehingga tak mengganggu fungsi utama tempat itu.


Sebagai orang yang hanya berkutat di belakang layar, aku tak mengenali semua wajah. Padahal, mereka sudah berperan di event sebelumnya. Masing-masing dari kami menyatakan aspirasi posisi yang kami ingin ambil perannya. Ada yang berubah dari peran tahun sebelumnya, ada yang masih bertahan di divisi yang lama. Kami menyepakati akhir April sebagai target penyelenggaraan event.


Singat cerita, terbentuklah core tim yang terdiri dari beberapa divisi. Ini itu segera dirancang di akhir tahun. Target awal dari penyelenggaraan event ini adalah akhir April. Namun, menimbang satu dan lain hal, event kita putuskan untuk diundur di awal Agustus. Mengapa 2 Agustus? Karena hanya tanggal itu Gedung PPHUI tersedia. Bagaiamana kelanjutan proses sampai event? Akan aku gambarkan di tulisan berikutnya.


Aku ingin merefleksikan awal-awal tawaran peran ini. Project Manager, sebuah posisi yang tak pernah terbayangkan untuk ditawarkan ke aku, atau aku ambil, apalagi di organisasi TEDx Jakarta. Organisasi yang tidak hanya lebih dari 10 tahun aku bergabung, tapi sebuah organisasi yang aku kagum padanya. Aku sudah kagum dengan TEDx Jakarta sejak aku kuliah di Bandung, jauh sebelum aku bergabung. Tak pernah aku punya kesempatan hadir di eventnya. Aku hanya menikmati karyanya melalui Youtube. 


Pernahkah kamu mencintai sesuatu, sampai level kamu menolak diberi benda itu karena takut merusaknya? Memang TEDx Jakarta bukan benda dan bukan milih pribadi. Komunitas ini adalah milik semua volunteer dan semua sahabat yang mendukungnya. Tapi begitu perasaanku saat ditawarkan peran lebih. Tentu aku ingin berkontribusi lebih, namun karena kekagumanku terhadap komunitas ini, ada perasaan untuk mencegahku. Takut aku merusak sesuatu yang aku cintai dan kagumi benar.


Pada akhirnya aku menerimanya, dengan beberapa prasyarat yang aku ajukan ke diriku sendiri. Pertama, aku sadar aku tidak bisa menjalankan peran ini dengan kemampuanku yang ada saat itu, sehingga aku harus segera mengupgrade kemampuanku dengan berbagai cara. Membeli beberapa buku, dan menghubungi senior leader yang ada di kantorku untuk mentoring. Kedua, aku harus mau berproses bersama Kak Flo dan tim lain. Banyak hal yang aku tak tahu sebelumnya, sehingga open mindset harus benar-benar tertanam.


Dengan dua prinsip itu, aku menerima tawaran kala itu. Kak Flo, dengan leadershipnya yang mengagumkan itu, tak pernah terlalu menuntutku ini itu. Dia hanya menemaniku dalam berproses. 


Dan bagaimana prosesnya? Sampai jumpa di tulisan berikutnya.

Selasa, 06 Agustus 2024

Surat Kangen untuk Internet

Agustus 06, 2024 0
Surat Kangen untuk Internet


 

Andai saya punya mesin waktu di laci meja, saya akan kembali di sekitar tahun 2010 sampai di tahun 2018. Tahun-tahun di mana saya benar-benar menikmati apa yang ada pada dunia internet. Saya hampir bisa menikmati semua platform mulai dari facebook, twitter, blog, dan awal kemunculan Instagram. Saat ini saya masih mempunyai akun di semua platform itu, tapi banyak hal yang saya sukai hilang.

Minggu, 13 Februari 2022

Dahlan Iskan dan Korannya

Februari 13, 2022 0
Dahlan Iskan dan Korannya

Minggu lalu, saya senang ketika teaser Beginu minggu lalu keluar. Saya menyaksikan di akun Instagram milik Wisnu Nugroho. Bintang tamu kali ini adalah tokoh senior di industri media cetak, Dahlan Iskan. Dari teasernya tergambar bahwa Pak Dahlan akan bercerita tentang Jawa Pos. Oh, mungkin karena menyambut Hari Pers, pikir saya. Setelah video penuhnya terbit, benar saja Pak Dahlan bercerita tentang Jawa Pos dan pers.

 


Saya begitu senang karena Pak Dahlan dan Jawa Pos adalah dua hal yang sangat berpengaruh di hidup saya. Khususnya di bagian kehidupan literasi. Kegemaran saya membaca dibentuk salah satunya oleh Jawa Pos. Untuk hal-hal menulis blog dan opini, saya mencontek banyak dari tulisan Pak Dahlan. Dalam tulisan ini, saya akan bercerita lebih dalam tentang Pak Dahlan dan koran yang dibesarkan beliau itu.

 

Untuk diketahui konteksnya, sepengamatan saya saat kecil, ada dua koran yang paling sering dibaca di Jawa Timur, Jawa Pos dan Surya. Jawa Pos menempati koran dengan harga yang mahal, setara dengan Kompas. Untuk Surya, dia mengisi pasar yang lebih murah. Itu sepengamatan saya saat kecil, saya tidak menemukan data pastinya.

 

Ayah saya adalah orang yang juga suka membaca, walau sepenglihatan saya tidak terlalu gemar membaca banget. Hal yang pasti dia baca tiap hari adalah koran. Setiap pagi di sela jam kerja, dia membaca koran. Dia berlangganan koran dan koran itu adalah Jawa Pos. Setiap pagi sejak saya TK, saya melihat wujud Jawa Pos di rumah saya.

 

Saya lupa persisnya kapan saya mulai membaca koran. Jika saya tebak, mungkin kelas 5 SD akhirnya saya ikutan membaca koran. Semenjak saat itu, saya rutin membaca Jawa Pos. Saat SMP saya selalu rebutan membaca Jawa Pos dengan Pak Satpam di perpustakaan sekolah sebelum masuk kelas. Saat SMA, saya membaca Jawa Pos di rumah setelah pulang sekolah. Hal itu berlanjut sampai saya lulus SMA.

 

Saat kuliah di Bandung, saya tidak membaca Jawa Pos. Jawa Pos tidak dijual di pedang koran dekat kampus. Saya tidak tahu apakah Jawa Pos memang tidak dijual di Bandung ataukah memang  mamang penjual koran tidak mengambil Jawa Pos. Akhirnya saya berpindah ke Kompas di awal bulan dan Koran Tempo di akhir bulan.

 

Balik lagi ke Jawa Pos, saat itu Jawa Pos dibagi menjadi tiga bagian. Bagian utama, Radar Kediri, dan Olahraga. Mungkin pada bagian utama, saya membaca sebagian besar artikel, baik dari politik, ekonomi dan internasional. Mungkin yang saya agak sering lewati adalah di bagian ekonomi bisnis karena banyak istilah yang saya belum paham saat itu. Untuk bagian Radar Kediri, saya membaca selintas saja karena saya tidak terlalu terarik dengan berita lokal. Saya tidak pernah menyentuh bagian olahraga, karena memang saya tidak tertarik dengan olahraga.

 

Dari membaca Jawa Pos mulai SD hingga SMA itulah daya tahan saya dalam membaca terlatih. Saya bisa duduk cukup lama untuk membaca Jawa Pos. Hal itu berdampak ke kegemaran saya membaca buku saat dewasa. Itulah mengapa saya menyebut jawa Pos adalah hal yang sangat berpengaruh di hidup saya. Apakah saya masih membaca koran? Saya menuliskannya di kiriman ini.

 

Saya kadang membaca rubrik Catatan Dahlan Iskan, kolom yang diampu oleh sang CEO sendiri. Rubrik ini ada seminggu sekali. Saya mulai rutin membaca Catatan Dahlan Iskan ketika beliau menceritakan pengalamannya dalam menjalani transplantasi hati. Saat itu, beliau menderita sirosis sehingga hati miliknya harus diangkat dan diganti oleh hati milik pendonor. Pengalaman beliau menjalani pengobatan di Tiongkok inilah yang beliau tuliskan di Catatan Dahlan Iskan. Diberi judul khusus, yaitu Ganti Hati. Pada akhirnya, kumpulan catatan ini diterbitkan dalam buku berjudul Ganti Hati.

 

Saya begitu menyukai tulisan beliau. Strukturnya enak, ringkas namun tetap menampilkan hal-hal detail dan kecil. Saya merasa tidak membaca opini yang njlimet padahal kadang topiknya berat. Saya seperti didongengin seseorang dalam penuturannya. Kekuatan tulisan beliau ada pada kemampuan story telling yang sangat kuat dan mengalir.

 

Hal yang paling saya sukai dari tulisan beliau adalah opininya berani dan otentik. Beliau tidak takut mengemukakan pendapat walau pendapatnya tidak jamak di khalayak. Dengan argument yang runtut, beliau dapat menjelaskan alasan di balik pernyataan sikap. Kedua adalah, beliau sering mengambil sudut pandang yang tidak umum. Seringkali sudut pandang yang tidak terpikirkan oleh saya.

 

Dari tulisan-tulisan beliau saya belajar tentang struktur penulisan dan gaya bahasa di awal saya nulis blog. Bahkan saya contek struktur tulisannya. Saya ingin menjadi Dahlan Iskan singkat kata. Tentu saja tidak pernah sebaik beliau, tapi setidaknya saya berlatih menulis dengan struktur yang tidak awut-awutan.

 

Beliau saat ini masih menulis setiap hari di Disway, sebuah media yang beliau dirikan. Gaya tulisannya berubah menyesuaikan karakter pembaca saat ini. Walapun saya lebih menyukai tulisan beliau yang dulu, beliau tidak kehilangan nakalnya dalam beropini.


Photo by Ashni on Unsplash

Kamis, 13 Mei 2021

Sudah Minta Maaf Sama Diri Sendiri?

Mei 13, 2021 0
 Sudah Minta Maaf Sama Diri Sendiri?

Hei… Lebaran sudah tiba. Sejak malam hari, HP terus tang ting tung orang-orang saling minta maaf lahir batin. Kita juga pasti ngirim ke keluarga, teman kantor, teman yang ga sekantor, teman kuliah maupun teman SMA. Kalau lagi rajin, ngirimnya pake japri, tapi kalau lagi males, ngirimnya ke group biar cepet. Kamu udah minta maaf ke siapa aja?

 

Di tengah riuhnya orang minta maaf ke orang lain, nemu tweet yang bilang,Selain minta maaf ke orang lain, jangan lupa minta maaf ke diri sendiri. @andihiyat” Lha iya sih, lebaran ini sekalian aja dijadiin momen buat minta maaf dan memaafkan ke diri sendiri. Banyak memendam, lupa ngajak ngobrol sama diri sendiri.

 


Jadi, Hei Hardian Cahya, jikalau kamu membaca ini di masa depan, kamu sudah berusaha berdamai sama diri sendiri yak.

 

Hei Hardian Cahya, aku mina maaf ke kamu. Aku ga punya gaya hidup sehat, jadinya badanmu sebesar ini sekarang. Semoga ke depan aku makin rajin olahraga.

 

Hei Hardian Cahya, aku minta maaf ke kamu. Di masa lalu, mungkin aku ambil keputusan yang salah, jadinya kamu sekarang masih berjuang untuk baik-baik saja.

 

Hei Hardian Cahya, aku minta maaf ke kamu. Sering kali aku memaksa kamu merasa kuat, padahal lagi babak belur. Mungkin saatnya kita lebih ekspresif dan jujur dengan diri sendiri.

 

Hei Hardian Cahya, aku minta maaf ke kamu. Kadang aku males-malesan, sehingga kamu terlewatkan kesempatan baik. Ke depannya, lebih bertanggung jawab ya.

 

Hei Hardian Cahya, aku minta maaf ke kamu. Kadang, kamu mengutamakan orang lain terlebih dahulu, padahal kamunya juga butuh dibela. Sabar yaa… sebentar lagi selesai.

 

Hei Hardian Cahya, aku minta maaf ke kamu. Seringnya ego dulu yang bicara, bukan logika. Akhirnya kamu dapat kesulitan ini itu.

 

***

Hei Hardian Cahya, aku terima permintaan maafmu. Aku tahu kamu tidak sempurna. Sering salah dalam melangkah, kadang tak tepat dalam ambil keputusan, kadang jatuh, kadang bangkit.

Aku maafin kamu kok. Yuk ke depannya, kita lebih baik lagi. Dunia akan terus berputar. Kalau kamu capek, ga perlu berlari, tapi sebaiknya jangan berhenti. Cukup jalan pelan-pelan aja

 

Hai Hardian Cahya, mohon maaf lahir batin yak.

Photo by Karim MANJRA on Unsplash

Jumat, 28 Agustus 2020

Saya Sedang Kangen Blog

Agustus 28, 2020 0
Saya Sedang Kangen Blog

    Halo pembaca blog. Saya boleh tahu, kapan kalian terakhir mengikuti sebuah blog pribadi secara aktif? Kalau saya, sejujurnya saya sudah tidak ingat kapan saya membaca blog pribadi dengan aktif. Mungkin saya sesekali membaca blog jika seseorang membagi tautannya di media social.

    Sebenarnya ada beberapa sebab saya sudah sangat jarang membaca blog. Pertama adalah penulis blog yang saya dulu berlangganan, sudah tidak aktif menulis lagi. Dari jajaran blog yang saya ikuti, Cuma satu blog yang masih bertahan aktif menulis yaitu Padepokan Budi Rahardjo (rahard.wordpress.com), sebuah blog milik dosen ITB. Sedang yang lain, sudah tidak pernah muncul lagi.

    Sebab kedua adalah waktu luang saya dikonsumsi dan teralihkan oleh media social yang cara konsumsinya lebih mudah dibanding dengan konsumsi blog. Instagram contohnya. Mata kita dimanjakan dengan sajian gambar tanpa harus kerepotan membaca.

    Mengapa saya tiba-tiba kangen membaca blog pribadi saat ini? Pandemi. Ya, kata itu yang paling dipersalahkan tahun ini untuk kekacauan yang terjadi. Pandemi ini membatasi ruang interaksi antar manusia. Sebagai makhluk pemakan segala sosial, saya sangat merindukan interaksi social dengan manusia.

   Nah, kan saya tetap bekerja dan berinteraksi dengan manusia? Itu hape kagak pernah berhenti karena boss telepon tiap jam? Kan ya beda Bambaaang… Hubungan professional tidak sehangat hubungan personal. Dulu, waktu senggang atau saat istirahat, kita banyak ngobrol mengenai hal-hal di luar pekerjaan, tahu kabar satu sama lain, dan bercanda hahaha hihihi. Saat pandemi? Itu vicon ga kelar-kelar tapi bahas pekerjaan mulu.

    Kamu kan bisa tahu kabar teman kamu melalui sosial media? Kalau menurut saya, sosial media arus utama seperti Instagram dan twitter kurang dalam personalnya. Keterbatasan karakter dan kebutuhan untuk pencitraan menjadi kendala seseorang meceritakan dirinya dengan bebas. Podcast? Podcast yang saya temui lebih banyak tentang sambat bahasan suatu topik, bukan curahan hati pribadi.

    Kenapa ga menghubungi langsung? Jika itu mudah bagi introvert mentok seperti saya, sudah saya lakukan dari awal. Tapi, yaaa…. Ribet lah pokoknya.

    Ya itulah sebabnya saya aktif lagi membaca blog pribadi. Saya mulai mencari-cari lagi blog pribadi yang masih aktif. Pelacakan ini dimulai dari blog milik pengulas buku. Dari blog itu, saya mengetahui blog pribadi mana yang masih aktif. Ketemulah beberapa blog yang saya rajin membaca saat ini. Hal yang ditulis sangatlah remeh, seperti pengalaman #DiRumahAja selama pandemi, pengalaman membaca buku, dan hal-hal personal lainnya. Dari situlah saya mulai merasa, atau sebenarnya halu, dekat dengan orang lain lagi.

    Tidak hanya membaca, saya mulai menata kembali blog saya. Saya memperbaiki tampilannya, mulai menata lagi konten yang dulu saya pasang secara perlahan, dan mulai menulis lagi.

    Bagaimana dengan kamu? Pengalaman apa yang kamu alami tentang blog akhir-akhir ini? Silahkan tulis di kolom komentar ya.

Sabtu, 08 Agustus 2020

Memulai Lagi

Agustus 08, 2020 0
Memulai Lagi

Sejarah akan mencatat, tahun 2020 merupakan tahun yang akah mengubah segala aspek hidup manusia modern ini. Benda sekuuran 65–125 nm telah mengubah cara kita bepergian, interaksi, belajar, bekerja, dan beribadah. Selain kesehatan fisik masyarakat, pandemic ini juga menyerang kesehatan psikis. Aku tak luput. Orang yang terbiasa loncat travelling sana-sini seketika tak mengenal lagi bandara.

Sabtu, 20 Oktober 2018

Morning Person atau Night Owl

Oktober 20, 2018 0
Morning Person atau Night Owl

Ada yang mengatakan bahwa morning person atau night owl tertanam dalam genetic kita. Ada yang mengatakan ini merupakan kebiasaan saja yang bisa saja dibentuk. Dan beberapa sumber mengatakan masing-masingnya punya kelebihan. Jika morning person lebih bisa mencapai keberhasilan akademik, namun night owl lebih mudah mengingat. Namun apapun itu pada kenyataannya dunia kerja tertama yang berada dalam ikatan office hour 9 to 5, secara tidak langsung menuntut kita menjadi morning person.

Jika pertanyaan ini ditanyakan sebelum saya kerja, mungkin dengan tegas saya akan menjawab Night Owl, tapi saat ini? Hemm… nanti dulu.

Kebiasaan night owl saya dimulai saat saya SMP. Saat itu, saya tergabung dalam kontingen kesenian karawitan. Guru kami membiasakan untuk menggarap musik di malam hari. Selain distraksinya kecil, entah mengapa ide-ide musik liar bermunculan di malam hari. Akhirnya dalam sebulan, kami sering bermalam di ruang musik di sekolah.

Kebiasaan night owl berlanjut ke SMA dan kuliah. Banyak kegiatan, entah itu rapat, mengerjakan tugas, atau riset saya lakukan malam hari. Dan alasannya sama, distraksinya kecil. Kebiasaan menulis pun saya lakukan di malam hari. Ide serasa bersembunyi di siang hari. Mungkin ide-ide itu adalah makhluk nokturnal. Dan puncaknya saat pengerjaan tugas akhir. Seingat saya, saya tidak pernah mengerjakannya di siang hari. Baik penulisan maupun simulasi saya kerjakan di malam hari sampai dini hari.

Kenapa saya begitu menyukai menjadi night owl? Distraksi, itu alasan utamanya. Entah kenapa saya gampang terganggu atau konsentrasi saya teralihkan jika siang hari. Riuhnya orang, suara kendaraan, musik, atau bunyi-bunyi lainnya begitu mengganggu saya untuk hadir utuh di mana saya berada. Karena itu saya harus menghadirkan diri saya sendiri untuk hadir di tempat sunyi, tanpa musik, tanpa dialog yang tidak perlu.

Dan bencana mulai saat bos saya mengharuskan saya datang on time, pulang on time. Karena sebelumnya, saya bisa datang siang dengan konsekuensi saya pulang juga malam. Oh My God. Saya tahu datang on time dan pulang on time merupakan kebiasaan baik, tapi saya masih terus belajar. Bagaimana saya bisa hadir utuh dan penuh di siang hari? Membiasakan kebiasaan baik memang tidak pernah mudah, dan tidak ada salahnya untuk dicoba.

Jumat, 12 Oktober 2018

Coffee Person

Oktober 12, 2018 0
Coffee Person

Coffee person atau tea guy?

Kalau ini dengan tegas aku jawab coffee person.

Dalam sejarahnya, kopi diduga masuk ke nusantara pada sekitar tahun 1690 dengan diselundupkan oleh bangsa belanda dari kawasan Arab ke nusantara. Dengan aroma khasnya dan rangsangan yang ditimbulkannya, kopi dengan cepat populer di nusantara. Dan hingga sekarang, mungkin sebagian dari kita tidak akan melewatkan pagi hari tanpa kopi. Don’t talk to me before coffee, begitu istilah populernya.

Saya tidak ingat kapan saya berkenalan dengan kopi dengan sangat intense. Sewaktu kecil, orang tua saya menanamkan pemahaman kalau kopi itu adalah minuman orang dewasa, sehingga saya boleh meminum ketika saya sudah dewasa. Karena itu seingat saya, saya tidak intense atau setidaknya suka minum kopi hingga SMA. Begadangan saat itu bisa saya lalui tanpa kopi sedikitpun. Rasanya badan saya bisa diajak bekerja sama sampai malam tanpa berkenalan dengan minuman hitam itu. Bahkan sampai di awal kuliah, saya tidak suka minum kopi.

Saya menduga, saya berkenalan dengan kopi dengan sangat intense ketika saya masuk lab. Bukan karena saya jatuh cinta dengan senyawa bernama kafein, lebih karena lingkungan saya minum kopi sejati. Membahas paper sampai riset malam hari kami lalui dengan segelas kopi panas untuk masing-masing kami. Sekali dua kali, dan mulai keterusan. Dan tubuh ini mulai dirasuki biji-biji kopi nan harum itu. Mulai dari kopi susu yang lebih banyak susunya, hingga kopi hitam. Puncaknya saat masa-masa pengerjaan TA berlangsung. Saya tidak pernah melewatkan malam-malam TA  tanpa kopi. Yap, dan resmilah saya menjadi coffee person.
Penderita maag dan penikmat kopi, adalah dua kepribadian yang tidak bisa bersatu. Dan kesialan tersendiri jika itu berkumpul dalam satu tubuh. Perut yang sensitif memang tidak bersahabat dengan biji asli Ethiopia itu. Kopi yang sangat ringan menjadi pilihan terakhir jika tubuh butuh asupan kafein di pagi hari. Lupakan kopi artisan dengan keharumannya di pagi hari. Bolehlah kalau Anda mengajak saya ngopi-ngopi di malam hari.

Jumat, 15 Desember 2017

Tahun Belajar Kembali

Desember 15, 2017 0
Tahun Belajar Kembali
Halo Desember, sudah di penghujung tahun rupanya. Masih ingat aku memulai tahun ini dengan perjalanan konyol bersama rizkon ke ujung provinsi Banten. Bermodal satu sepeda motor, google map dan kenekatan, kami berangkat pagi hari dari kost kami hanya untuk melihat pantai, dan kembali pada malam harinya. Entah apa yang ada dipikiran dua bujang yang kurang kerjaan ini.

Tahun lalu, aku melewati dengan baik. Sangat baik malah. Traveling ke berbagai negara yang dulu aku impikan, mengikuti sederat kegiatan volunteering, dan karir kantor juga cukup bagus. Karena itu aku menamai tahun 2016 dengan tahun happiness, travelling and volunteering. Dengan sederet kesan positif tahun lalu, setahun ini mungkin aku diingatkan untuk kembali rendah hati dan belajar. Dan tahun 2017 aku menamainya dengan tahun “Belajar Kembali”. Dan maafkan tulisan ini hanya berisi curhatan ga penting, tetapi untuk aku sendiri, inilah catatan pelajaran.

Quartal satu, aku mengambil sebuah keputusan pribadi yang cukup penting. Dengan sedikit sombong dan tidak waspada, aku berpikir sudah cukup ilmu untuk mengambil keputussn tersebut. Ternyata Tuhan mentraining aku dan orang-orang yang terlibat di dalamnya untuk belajar lagi. Kenyataan menunjukkan ilmu yang ada jauh dari cukup. Belajar sabar, belajar komunikasi, dan belajar untuk rendah hati. Tetapi ada yang disyukuri adalah kegiatan volunteeringku tidak berhenti. Beberapa kegiatan Kelas Inspirasi aku ikuti. Tidak sebagai inspirator, tetapi lebih banyak ke fotografer. Mulai belajar lagi mengenai teknik-teknik fotografi. Mulai lagi ngulik human interest. Yang dulu udah pede dengan modal DSLR entry level, dipertemukan dengan orang-orang yang tekniknya jauh lebih keren.

Quartal dua giliran urusan kantor yang diuji. Sebenarnya ini sebuah penghormatan karena diberi tantangan yang baru. Dipindahkan ke bagian yang dulu aku pikir bagian yang paling tidak produktif. Ditantang dengan ekspektasi tinggi. Tapi sayangnya tantangan tersebut berbarengan dengan permasalahan pribadi dan terlebih rotasi pimpinan baru. Demotivasi parah di quartal ke dua ini. Rasanya kehilangan alasan untuk pergi ke kantor. Ternyata aku diberi “kesempatan” untuk belajar lagi hal-hal baru di luar zona nyaman. Enak? Enggak. Semangat? Tidak terlalu. Tapi kalau aku pikir sekarang, aku dituntut tidak cengeng ketika keadaan tidak ideal lagi, aku harus tetap produktif. Tapi di quartal ini aku dipertemukan dan diberi kesempatan untuk menjadi panitia Kelas Inspirasi Jakarta untuk dokumentator. Makin banyak kenal dengan fotografer keren.

Quartal tiga, aku terus mencari alasan untuk datang ke kantor. Aku sebenarnya malas dengan pekerjaan yang biasa-biasa saja. Mau membuat menjadi luar biasa juga tidak ada tenaga. Hidupku totally monoton pada quartal ini. Tidak ada hasil yang dideliver dengan baik di quartal ini. Hanya operational sehari-hari. Tahukah rasanya bekerja di bagian support? Kalau boleh menganalogikan adalah aku ini hanya seperti listrik di rumah-rumah. Keberadaannya akan diingat hanya jika bermasalah. Jika kau mempunyai performa dengan baik, juga tidak ada yang diingat. Pernahkan kamu bersyukur dan berterima kasih ketika listrik di rumahmu bekerja dengan baik? Aku rasa tidak.

Nah, di quartal empat ini lah aku menemukan video kuliah online yang menarik. IndonesiaX, sebuah portal kursus gratis. Saat itu aku mendengar kuliah dari Prof Rhenald Kasali bertema Be Driver. Intinya adalah kalau dirimu kuat, kamu adalah pengendali terhadap dirimu sendiri. Tidak terpengaruh oleh lingkungan atau respon buruk. Dan mulailah aku bercermin diri. Yap, mungkin aku masih menjadi orang-orang yang mengizinkan diri disetir oleh keadaan. Reality bites nya adalah aku masih cengeng untuk kehidupan ini.

Dan itulah curhatan panjang kenapa aku menamai tahun ini dengan tahun “Belajar Kembali”. Alhamdulillah, puji syukur masih diingatkan untuk tidak sombong dan tidak berhenti belajar untuk menghadapi tahun depan. Alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk ikut di beberpa kegiatan volunteering. Bagaimana dengan tahun depan? Ada kejutan apalagi? Yuk, kita jalanin aja dengan sebaik-baiknya.

Minggu, 06 Agustus 2017

Sastra, Aku Pulang

Agustus 06, 2017 0
Sastra, Aku Pulang
Niat baik itu benih. Dia membutuhkan tanah yang subur berupa lingkungan baik untuk bertumbuh menjadi dahan, ranting dan buah berupa karya besar. Ia terus tumbuh hingga bisa menjadi lingkungan baik bagi niat-niat baik berikutnya. Begitu pikirku.

Aku dua hari ini datang ke Asean Literary Festifal, sebuah festifal bagi penikmat sastra dan kata. Sejumlah satrawan besar hadir pada diskusi ini. Diskusi begitu produktif, provokatif dan inspiratif. Puisi dan sastra biasanya dianggap nerd dan aneh, di tempat ini begitu dirayakan. Semua apresiatif terhadap karya yang yang ada. Aku seperti menemukan tanah di mana aku bisa tumbuh.

Puisi, rasanya sudah lama aku tidak menysun kata-kata lagi. Mungkin sibuk kantor, TEDx, Kelas Inspirasi menjadi pledoi paling mudah ketika aku ditanya mengapa. Namun jika argumentasiku itu di jegal, aku masih punya satu. Aku tak menemukan tanah yang subur untuk niat baik. Sudah lama aku tidak mendengar bahasa indah nan berima, kata-kata dengan selipan makna, prosa cantik dengan karakter tajam. Itu membuat rasanya otak jadi tumpul dan hati jadi dingin. Butuh kesegaran baru. Mungkin aku penikmat kata yang masih abal-abal. Diterpa angin sibuk sedikit saja, aku menghilang. Butuh tanah yang kuat sebelum aku tumbuh kuat dan menjadi lingkungan untuk ide baru.

Di ALF 2017 ini aku serasa pulang. Kembali ke pangkuan kata-kata nan penuh makna. Kembali bercumbu dengan rima dan sajak-sajak. Kembali ke pangkuan cerita. Apakah ini pulang sesaat, ataukah aku tetap bisa tumbuh? Entahlah. Mungkin terlalu cengeng jika aku berharap tanah yang bagus untuk tumbuh. Semoga aku bisa menciptakan tanah yang subur untuk bibit-bibit niat baikku.

Minggu, 26 Juli 2015

Kutukan Pak Suko

Juli 26, 2015 0
Kutukan Pak Suko

Saya menyebut ini dengan kutukan Pak Suko. Bukan karena Pak Suko mengutuk saya sehingga punya kebiasaan ini, tapi karena kebiasaan ini menurun dari Pak Suko.

Pak Suko Wiyono adalah guru seni saya waktu SMP. Guru yang mempunyai desikasi penuh terhadap seni. Belajar arti totalitas, passion, kerja keras, dan kreativitas langsung dari beliau adalah kehormatan bagi saya. Ya mungkin beliau adalah orang yang berhasil menyentuhkan saya kepada seni.

Saat itu SMPN 1 Blitar mempunyai acara pentas seni di akhir tahun. Setiap kelas wajib mempertunjukkan penampilan tari dan musik di hadapan wali murid. Dan mulailah setiap kelas membuat musik dan tari dengan bimbingan Pak Suko. Saat itu saya tergabung ke dalam pemain musik kelas 2D. Nah, disinilah kutukan itu dimulai.

Pak Suko terbiasa membuat musik pada malam hari. Yap, di atas jam 12 malam. Kami sering menginap di sekolah untuk mempersiapkan pertunjukan itu. Membuat musik selalu di malam hari, siangnya mematangkan apa yang telah dikonsep. Alasanya, "Demit e metune wayah wengi" (Setannya keluar waktu malam). Setan di sini bukanlah setan sebenarnya, tetapi inspirasi dan kemampuan mencipta. Pada malam hari adalah waktu terbaik untuk menggali inspirasi dan menciptakan sesuatu.

Dan sialnya, kebiasaan ini berlanjut sampai kuliah. Waktu riset atau baca jurnal terbaik adalah di atas jam 10 malam. Merenung di lab pada malam hari adalah jurus jitu jika TA mentok di suatu titik. Alasannya? Demit e metune wayah wengi.

Kutukan ini berlanjut sampai sekarang. Entah berapa draft tulisan untuk blog yang menganggur di laptop. Bukan karena malas menyelesaikan, tapi kadang takut. Inspirasi selalu datang larut malam. Jika diteruskan, bisa begadang dan ga tidur. Alhasil jadi zombie di kantor pada pagi harinya.

Tetapi, kutukan ini saya nikmati dan entah kenapa, memang saya selalu menemui Demit di malam hari.

Salam kangen saya untuk Pak Suko Wiyono ...

Diselesaikan di SeVel Mampang pukul 00.24

@Hardian_cahya

Selasa, 04 Februari 2014

Mendengar Kisah Mereka, dan Saya Bersyukur

Februari 04, 2014 0
Mendengar Kisah Mereka, dan Saya Bersyukur

Hari ini adalah hari kedua Induction Program. Sebuah program yang ditujukan untuk Telkomsel Trainee Program dalam mempersiapkan tantangan karier ke depan. Apa yang paling menarik dalam dua hari ini? Momen. Ya, momen. Mendapat momen yang sangat berharga. Kesempatan bertemu dengan kawan-kawan Trainee seluruh Indonesia. Bertemu dengan Insan Telkomsel yang sudah berkarya banyak. Bertemu dengan inspirator dengan segudang ilmunya. Yang saya akan share di tulisan ini adalah cerita tentang perjuangan trainee yang ditempatkan di temapt yang namanya baru terdengar dan itu menambah rasa syukur saya yang ditermpatkan di Wisma Mulia.

Aditya Zulkifli, Trainee Sales and Outlet Operation Kupang
Namanya paling atas di daftar trainee yang mengikuti Induction. Title jabatan yang disandangnya, Trainee Sales and Outlet Operation Kupang. Yap, tertulis dia bertugas di Kupang. Pemuda asal jember lulusan ITS ini sebenarnya tidak penuh bertugas di Kupang. Dia bertugas di Kefamenanu. Sebuah daerah yang namanya saja baru saya dengar. Kefamenanu, sebuah daerah yang berbatasan dengan timor leste, perjalanan 6 jam dari Kupang. Jangan bayangkan itu kota besar, menurut ceritanya, kefamenanu adalah “kota satu jalan” dan lainnya adalah hutan. Jangan bayangkan dia bertugas di kantor dengan fasilitas lengkap. Mobil adalah kantornya. Dia difasilitasi sebuah mobil dan seorang driver. Tidak ada kantor, tidak ada meja kerja.  Bertugas mengkoordinir sales kartu seluruh kefamenanu. Hari sabtu dan minggu pun tetap kerja karena di hari itulah penjualan meningkat. Makan? Mahal. Untuk makan lele goreng harus merogoh kocek 32 ribu, tapi untungnya harga daging sapi lebih murah.

Rifki Nandhi Wardhana, Trainee Radio, Transport and Power Operation Sintang.
Bertugas di Sintang, Kalimantan Barat. Dengan segala pengalaman troubleshoot yang di daerah yang sangat sulit. Siaga 24 jam. Dengan fasilitas mobil 4WD dia menjelajah pedalaman sintang untung menghadirkan layanan yang terbaik bagi pelanggan. Pernah diberi ikan arwana yang harganya mahal karena troubleshoot di dareah pengusaha ikan arwana. Karena jika site di sekitar tempat usahanya down, maka usahanya merugi. Karena itulah, sebagai rasa terima kasih, dia diberi ikan arwana.

Sebenarnya masih banyak kisah dari kawan-kawan trainee dari daerah yang menarik. Ada Lena, wanita asal medan yang bertugas di Jayapura, Faizal yang bertugas di Palu dengan segala tantangannya, Zadid yang bertugas di Bau-bau, dan masih banyak lagi.

Dengan berbagai kisah yang sebenarnya lebih banyak lagi, apakah masih pantas saya mengeluh dengan fasilitas yang ada di (Head Office) Wisma Mulia. Keluhan tentang menu sarapan, keluhan macet ke kantor, keluhan pekerjaan menumpuk yang saya dengar setiap pagi dari rekan di kantor rasanya tak seberapa jika dibandingkan dengan insan Telkomsel yang bertugas di daerah.

Dan salam hangatku untuk seluruh Insan Telkomsel yang bertugas di mana saja dengan penuh semangat.

Hardian Cahya Wicaksono
Trainee VAS and Core Procurement

Senin, 23 Desember 2013

Romantisme ku di Hari Ibu

Desember 23, 2013 0
Romantisme ku di Hari Ibu


Setiap orang mempunyai sikap atau cara romantis yang berbeda-beda. Cara dan sikapnya sangat bergantung pada didikan keluarga, lingkungan pergaulan dan pendidikan, bacaan, dan sebagainya. Pada tanggal 22 Desember, diperingati sebagai hari Ibu. Romantismenya berbeda-beda. Ada yang mengirim sms, memberi hadiah, mengirim voice note dan sebagainya, tergantung seleranya masing-masing. Hari itu, saya memilih romantisme yang lain, dan ini menjadi pilihan saya. Cara saya merayakan hari ibu adalah


“Berjanji untuk menjaga kehormatan Ibuku dengan tidak menjadi koruptor, kini hingga nanti, karena saya yakin rahim ibu saya tidak digunakan oleh calon koruptor.”



Cara ini saya dapatkan dari Bapak @aniesbaswedan. Beliau mengundang para Ibu yang bergerak dan turun tangan di Hari Ibu untuk mengingatkan anaknya untuk tidak menjadi koruptor, karena setinggi apapun pangkat Anda, Ibu Anda berhak menjewer Anda.

Rabu, 14 Agustus 2013

Pulanglah!

Agustus 14, 2013 2
Pulanglah!
Ku berdiri di stasiun itu, stasiun Kiara Condong Kota Bandung. Suasananya masih sama, masih sama dengan 3 tahun yang lalu ketika aku pertama kali menginjak pertama bumi parahyangan ini. Kali ini aku akan pulang ke kota asalku, Blitar. Aku akan pulang. Tidak ada yang istimewa dengan kepulanganku ini. Pulang rutin setiap liburan. Di tahun akhir kuliahku, pulang menjadi hal yang tidak terlalu menarik lagi. Entah Bandung terlalu indah, atau ini adalah perasaan yang biasa dialami mahasiswa tingkat atas. Yang jelas, pulang menjadi tak semenarik dulu ketika aku jadi mahasiswa baru.

Keretaku datang. Malabar. Sebuah kereta yang jadi sahabatku 2 tahun terakhir. Kupersiapkan tiket yang sudah kupesan. 350 ribu. Sial, mahal sekali. Mungkin kalau bukan karena omelan ibuku yang menyuruhku pulang, rasanya tak sudi aku membeli tiket kereta semahal itu. Lebih baik rasanya aku beli tiket kereta di hari lain yang mungkin lebih murah. Ibuku yang tak mau dinego. Aku harus pulang hari itu juga.Tiket dengan tempat duduk nomer 16C. Kereta pun mulai menyusuri rel ke timur. Aku pulang juga akhirnya.

Di kursi 16D sudah duduk seorang ibu. Kutaksir umurnya kurang dari umur ibuku. Mungkin sekitar 40 tahun. Sepertinya dia naik dari stasiun Hall Kota Bandung. Aku duduk disampingnya, kusunggingkan senyuman terbaikku,

“Permisi Bu”
“Silahkan Mas, 16C ya mas”
“Iya Bu”
“Oooo,..silahkan”
Kumulai percakapan standar ketika seseorang naik kereta. “Turun mana Bu?”
“Turun Blitar Dik, Adik turun mana?”
“Sama Bu, saya juga turun Blitar”
“Di Bandung kuliah?”
“Iya Bu, Di Telkom. Ini lagi liburan mau pulang.”

Dan obrolanku pun berlanjut. Dari obrolan itu kuketahui dia alumni SMA yang sama dengan SMAku. Tertebaklah jika ada dua alumni beda generasi bertemu, obrolan berlanjut tentang SMA. Cerita semasa berseragam putih abu-abu kembali mengemuka. Obrolan itu menjadi menyenangkan.

Kereta terus membawa kami timur. Stasiun demi stasiun terlewati. Pedagang asongan, pegawai Reska, security, dan teknisi hilir mudik menemani perjalanan ini. Beginilah suasana kereta, angkutan murah nan bebas macet.

 “Kapan libur dik? Liburnya lama?
“Liburnya sudah seminggu lebih yang lalu bu, liburnya sekitar sebulan.”
“Loh kok baru pulang sekarang?”
“Iya Bu, males pulang. Ini kalau ga diomelin Ibu, paling pulangnya seminggu lagi. Ibu sendiri di Bandung ada urusan apa?”

“Ngeterne anak. Aku nduwe anak loro. Sing gede lanang, saiki kelas 5 SD, sing cilik wedok, saiki kelas 3 SD. Saiki aku dianggep wae ra nduwe bojo. Bojoku lunga ga ngerti nang ngendi. Ga jelas. Yo wis, aku nggedekne anak dhewe. Tapi, setahun iki aku kudu nggrawat Bapakku sing wis tua. Bapakku saiki lara-laranen. Ya aku kudu sing nggrawat, lha kangmas mbakku ora enek sing urip ning Blitar. Akhire waktu lan biayane kesedot ning Bapakku. “

(“Nganterin anak. Aku punya dua anak. Yang besar laki-laki, sekarang kelas 5 SD, yang kecil perempuan, sekarang kelas 3 SD. Sekarang anggap saja aku ga punya suami. Suamiku pergi ga tahu ke mana. Ga jelas. Ya sudah, Aku besarin anak sendiri. Tapi setahun terakhir, Aku harus merawat Bapakku yang sudah tua. Bapak sekarang sakit-sakitan. Ya aku yang harus merawat, karena saudara sudah ga ada yang tinggal di Blitar. Akhirnya waktu dan biaya tersedot untuk Bapakku”)

Dia berhenti sejenak. Aku pun terdiam saja. Dia melanjutkan ceritanya dengan suara berat dan dalam. “Aku dadi mikir piye dadine anakku. Aku kangelan biayane, lha saiki sekolah pada larang. Masku sing tinggal ning Cimahi nawari nggrumat anakku. Masku janji nanggung sekolah lan uripe anakku. Asline aku ya ora tega ninggal anak, tapi ya piye wis kahanane ngono”

(Aku jadi berpikir bagaimana jadinya anakku. Aku kesulitan biayanya, sekarang sekolah mahal. Kakakku yang tinggal di Cimahi menawari merawat anakku. Kakakku janji menanngung sekolah dan kehidupan anakku. Sebenarnya aku tidak tega meninggalkan anak, tetapi bagaimana lagi sudah keadaannya begini.)

Terdiam aku mendengar ceritanya. Mataku tak beralih dari ibu itu. Beban berat kehidupannya seketika merasuk ke dalam diriku seakan aku berdiri di setiap episode kehidupannya. Dia tetap memaksakan diri untuk tersenyum, entah untuk menghibur dirinya sendiri atau dia tak mau aku ikut dalam kesedihannya.

Berpisah dengan anak-anaknya yang masih kecil pasti sangat berat baginya. Dia bercerita bahwa yang mengantarkan dia di stasiun hanya anaknya yang lelaki. Dia tidak berani mengajak putrinya. Dia tahu itu akan menjadi hal yang berat bagi putrinya, berpisah dengan ibundanya. Namun ku rasa, itu akan terasa lebih berat bagi dia. Meninggalkan putri yang sewajarnya ada di pelukannya.

Sesaat kemudian teleponnya berdering. Sebuah panggilan dari putrinya. Dipaksakan dirinya untuk berkata “Halo” dengan riang agar putrinya tak terlalu sedih. Tapi menutupi perasaan tak semudah yang dikira. Pecahlah tangisannya. Tersengguk dia menjawab pertanyaan putrinya yang juga dalam tangisan. Berat kawan jika engkau menyaksikan langsung. Ditutupnya telepon itu dengan salam yang coba dimaniskan. Setelah itu terisak lagi.

Setelah menyeka air matanya dan menenangkan diri, dia kembali berkata kepadaku,

“Dik, kalau ada waktu pulang, coba segera pulanlah. Anak laki-laki memang biasanya senang merantau, tetapi yang harus diingat, ada ibu yang menunggu di rumah. Kalau anak-anaknya ga ada yang di rumah, ibu itu merasa sepi. Mumpung masih kuliah, ada waktu libur, pulanglah. Kalau adik sudah kerja, di Jakarta atau di Bandung, susah untuk pulang. Kasihan ibu di rumah. Ibunya pasti seneng lo Dik kumpul sama anak-anaknya”

Kali ini aku yang tertegun. Aku serasa berhadapan dengan aku yang lain. Kami bertatapan dan berkontemplasi bersama. Apakah aku langsung pulang jika aku liburan? Seberapa sering aku memikirkan penantian ibuku untuk aku pulang? Dan, seberapa pentingkah arti pulang bagiku?

Aku tidak langsung memberi respon atas kata-kata ibu itu yang rasanya sebuah hantaman 500 kilogram membentur dadaku. Aku tidak tahu respon yang terbaik apa. Aku tidak tahu, karena aku belum berhasil dan selsai atas kontemplasiku. Senyum dan anggukan merupakan respon terbaikku saat itu.

Kereta ini trus membawaku ke timur. Malam sudah semakin larut. Hening. Hanya terdengar suara kaki-kaki besi kereta ini yang menapak di lintasan rel. Hampir semua penumpang sudah terlelap, tetapi aku masih dalam kebingunganku. Ah, sudahlah. Mungkin esok pagi akan kutemukan jawabannya. Ketika aku menjejakkan kakiku di kotaku. Ketika aku bertemu dengan ibuku.



Salam cinta untuk Indonesia


@Hardian_cahya

Kamis, 07 Februari 2013

Catatan Kecil Perjalanan Malang-Blitar

Februari 07, 2013 0
Catatan Kecil Perjalanan Malang-Blitar

Stasiun Kota Malang, pukul 19.30

Kereta yang kutunggu akhirnya datang juga. Setelah kemarin hari di social media aku puji Pak Jonan dan tim karena perjalanan Bandung-Blitar dengan kereta Malabar terasa memuaskan, malah kini kereta penataran terlambat. Tak tanggung, terlambat 30 menit. Pikirku, ya sudahlah. PT. KAI memang bukan BUMN terbaik, tetapi mereka tengah berbenah. Berbenah merupakan proses, bukan kepastian dari hasil. Tak mungkin menuntut hasil terbaik di tengah proses.
Cepat kucari tempat duduk sesuai tiketku, karena kakiku sudah pegal rasanya.Seharian menikmati Kota Malang dan seisinya membuat kakiku sudah berat dilangkahkan. Ah, mataku juga sudah berat rasanya. Kupeluk erat tas punggungku dan mataku mulai terpejam.Stasiun terakhir yang kuingat adalah stasiun Malang Kota Lama. Setelah itu tak ingat lagi. Biar kereta ini membawa tubuhku melaju menuju Blitar, dan biar pikiranku melayang sejenak ke negeri mimpi. Semakin dalam dan lelap.
Ketika mataku mulai terbuka. Oh, sudah di stasiun Kesamben ternyata. Lumayan juga aku terlelap. Setelah nyawa mulai terkumpul, aku mulai melihat sekitarku. Ada bapak yang sudah beruban, tetapi badan masih tegap. Mulailah aku berkenalan. Tak sopan rasanya setelah aku terlelap lama, baru aku berkenalan. Ah, tak apa lah, memang ragaku sudah tak bisa berkompromi lagi. Dan mulailah bercerita tentang masa mudanya, masa kerjanya, dan anak-anaknya. Anak muda memang harus banyak mendengar dari pegalaman orang tua agar banyak pertimbangan dalam langkah lanjut hidupnya.
Melewati stasiun Wlingi, di tengah obrolanku dengan Bapak itu, muncul dari arah gerbong belakang dua orang cleaning service yang tengah bertugas. Satu berbadan kurus tinggi dengan sapu dan pengki di kedua tangannya. Dan satu lagi tak terlalu tinggi, memegang sebuah trashbag ukuran standar. Hampir penuh trashbag itu dengan sampah. Dengan helaan nafas tanda lega, orang yang tinggi itu berkata, “Alhamdulillah, akhirnya selesai juga.”
Sesampai di stasiun garum, Bapak beruban tadi pamit turun. Beliau berdiri dan bersiap menuju pintu gerbong. Bangku kosong di depanku diduduki oleh cleaning service berbadan tinggi tadi. Raut muka lelah begitu Nampak, namun dia masih berusaha tersenyum kepadaku. Kubalas senyum semampuku. Dia pun mulai pembicaraan. “Dik, padahal siang ini tadi, kereta sudah disapu dari ujung sampai ujung. Sekarang disapu lagi dari belakang sampai depan, dapat sampah segini banyaknya.” Sambil menunjukkan trashbag yang penuh dengan sampah, dia melanjutkan, “Masa ini wajah Indonesia. Wajah yang katanya ramah, tapi mampu menghasilkan sampah sebanyak ini.” Trashbag itu memang ukuran standart, tapi itu sangat besar untuk ukuran sampah.”Masa sih orang Indonesia ga mampu ngangkut sampahnya sendiri-sendiri dan buang di tempat sampah” Memang tak ada guratan marah dan kecewa dari wajahnya, tetapi makna dalam terasa. Setiap katanya terucap dalam. Dalam sekali. Banyak orang melihat dia hanya sebagai seorang tukang sapu, tetapi dia lebih dari itu. Dia warga yang mempunyai harapan besar terhadap bangsanya, terlebih warga pemakai kereta, untuk lebih menahan diri untuk tidak membuang sampah semarangan.
Remeh? Ya mungkin remeh. Tetapi bukankah yang besar itu selalu dimulai dari hal yang remeh? Banyak orang yang mengharapkan kereta nyaman, kereta aman, tapi tak jarang kita menjadi bagian dari masalah itu. Bagi kita yang terdidik, malulah kita bila kita masih melanggenggkan kebiasaan buruk seperti itu. Tak besar mungkin sampah yang kita punya, tapi menjadi bagian dari solusi perbaikan kereta api dengan membuang sampah pada tempatnya. Dan jika kita membawa kebiasaan bersih ini di mana kita berpijak, bukan tidak mungkin kita menjadi bagian dari solusi bangsa ini. Mungkin dari tukang sapulah kita bisa berkaca.

Stasiun Kota Blitar, pukul 22.05

Alhamdulillah, walau telat dari yang dijadwalkan, kereta telah sampai dengan selamat. Dan saya turun dengan membawa satu tekad, tekad menjadi bagian dari solusi perbakaikan kereta api Indonesia dengan tidak membuang sampah sembarangan.

Terima kasih kepada Pak Jonan dan jajaran, semoga tetap semangat dalam berbenah.
Terima kasih kepada petugas cleaning service atas pelajaran berharganya
Terima kasih kepada @aldamonn yang menemaniku seharian di Kota Malang

Salam Optimis untuk Indonesia
Blitar, 6 Pebruari 2013
@Hardian_cahya

Jumat, 09 April 2010

Petualangan Hidupku Dimulai

April 09, 2010 0
Petualangan Hidupku Dimulai
Dengan berbekal nilai UNAS hanya 26,87 saya ragu untuk melangkah ke dalam gerbang sebuah sekolah menengah atas. Saya tidak terlau yakin dapat di terima di sekolah itu. Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Kota Blitar. SMA yang terfavorit di kota kecil ini. Pendaftaran di buka tiga hari. Pada hari pertama saya memasukkan berkas saya. Dengan cemas saya memantau perkembangan PSB. Saya takut tiba-tiba terdepak dari jajaran siswa yang diterima di SMA itu. Akhirnya pada hari ke tiga, saya masih bisa diterima di SMA 1. Aku berada di urutan 225 dari 320 siswa yang diterima.
Saya memulai petualangan di sebuah kelas yang bernama kelas X.9. Bersama 23 murid lainnya saya menjalani kehidupan kelas yang unik. 24 orang tersebut mempunyai karakter yang berbeda dan sangat sulit untuk disatukan (tentang kelas ini akan saya jelaskan pada tulisan yang lain). Pada kelas sepuluh, saya termasuk murid yang kuper. Ekstra yang saya ikuti pada saat itu hanyalah Ta’mir Musholla Baitul Muttaqiin. Satu tahun masa SMAku saya jalani dengan sangat biasa. Tidak ada dinamika yang saya alami. Walaupun ada beberapa kejadian yang cukup unik,yaitu dipukul preman, bazar pertama pada dies natalis SMASA. Tapi secara keseluruhan kehidupan saya sangat biasa.

Potongan Kecil Hidupku

April 09, 2010 0
Potongan Kecil Hidupku
Suara tangisku terdengar pertama kali pada hari Rabu tanggal 22 Mei 1991 di RSUD Dr. Hardjono yang berada di sebuah kota kecil propinsi Jawa Timur. Sebuah kota yang dikenal masyarakat umum sebagai Kota Reog. Ponorogo tempat aku dilahirkan.
Aku ditakdirkan terlahir di keluarga yang berkecukupan. Ayahku seorang dokter umum dan Ibuku seorang ibu rumah tangga. Aku anak kedua dari dua bersaudara. Kakakku lebih tua dua tahun dariku. Alhamdulillah, aku dapat tumbuh dengan sehat. Aku dibesarkan di kota yang dijuluki Bumi Bung Karno. Blitar,nama kota itu. Julukan itu dialamatkan pada kota Blitar karena di kota itulah sang Proklamator,Ir soekarno dimakamkan.