Catatan Kecil: Book
Tampilkan postingan dengan label Book. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Book. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 November 2021

The Great Mental Models: General Thinking Concepts

November 21, 2021 0
The Great Mental Models: General Thinking Concepts

Buku ini aku baca berawal dari kekesalanku yang terkadang tidak bisa menjawab pertanyaan oleh VPku ketika aku mempresentasikan sesuatu. Kekesalan itu selalu bersumber dari satu hal, mengapa hal yang ditanyakan itu tidak terpikirikan olehku sebelumnya. Pertanyaannya sangat valid. Menjadi menyebalkan karena aku merasa bodoh karena tidak memikirikan hal itu sebelumnya. Masih banyak blind spot yang tersisa saat aku presentasi.

 


Aku mulai mengevaluasi diriku dan mulai mencari di mana titik kesalahannya. Aku menemukan bahwa aku tidak disiplin dalam berpikir dan merumuskan sesuatu. Berangkat dari situ, aku mulai mencari beberapa buku yang membantuku untuk belajar. Critical Thingking kalau orang-orang mengistilahkan. Ketemu beberapa referensi. Dari instagram@alymaharani aku menemukan buku berjudul The Great Mental Models Volume 1: General Thinking Concepts tulisan Shane Parrish dan Rhiannon Beaubien.

 

Di dalam buku ini, aku mendapatkan alat-alat untuk membantu kita berpikir lebih terstuktur dan disiplin. Ada 6 model yang membantu mempersempit blind spot di antaranya: First Principle Thinking, Though Experiment, Second Order Thingking, dan Inversion. Setiap model bisa diaplikasikan ke persoalan masing-masing. Kamu tidak perlu memakai semua model untuk memecahkan satu masalah. Pilih model yang tepat untuk masalahmu.

 

Sebagi contoh dalam First Principle Thingking, kita diajari untuk menjelaskan permasalahan yang kompleks dengan memisahkan antara fakta dan asumsi. Lima pertanyaan selalu kamu tanyakan ke dirimu saat kamu mengemukakan pendapat.

  1. Mengapa aku berpikir demikian?
  2. Bagaimana aku tahu bahwa yang aku pikirikan benar?Apa tidak sebaliknya?
  3. Apakah ada data pendukung?
  4. Apa yang dipikirkan orang lain yang mungkin jadi perspektif baru?
  5. Bagaimana jika aku salah?Apa konsekuensinya
  6. Kembali ke pertanyaan pertama untuk mengevaluasi.

Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti itu, maka kamu akan memperkecil resiko mengemukakan data yang salah atau tidak lengkap. Kamu akan mengerem sedikit sebelum berbicara. Ada 5 model lain seperti ini yang membantu kita lebih eksploratif dalam berpikir.

 

Apakah ini akan membantumu 100% dan pasti tidak salah? Tentu saja tidak. Dalam bagian awal buku ini pun, penulis menganalogikan bahwa model ini sebagai peta. Peta itu tidak 100% sama dengan kenyataan. Peta hanya membantu pembaca untuk menyederhanakan apa yang ada di kenyataan sehingga lebih mudah untuk digunakan dan dipahami.

 

Aku suka buku ini karena sangat bisa diaplikasikan ke dalam kehidupan nyata. Tidak banyak framework yang teoritis. Bahasa yang digunakan sangat sederhana. Diberikan contoh-contoh sesuai konteks. Tidak perlu banyak waktu bagi pembaca untuk mengasosiasikan permasalah yang ada di buku dengan permasalahan yang dihadapi.

 

Akses ke buku ini bisa aku katakan lebih terbatas. Buku ini tidak tersedia di toko buku import di Jakarta. Aku sempat memesan buku fisiknya di Bookdepository. Sampai lebaran kuda tidak sampai juga itu buku. Akhirnya aku membeli buku digitalnya melalui kindle. Buku ini tidak tersedia di Playbook maupun Kobo.

 

Buku ini sangat layak dibaca oleh siapapun yang ingin memperbaiki cara berpikir dalam menyelesaikan kehidupan sehari-hari. Mungkin aku bisa katakana buku ini bisa jadi pengantar untuk beranjak ke referensi yang lebih serius dalam mempelajari berpikir kritis seperti Thinking Fast and Slow tulisan Daniel Kahneman.

Minggu, 14 November 2021

Semasa : Keihkasan dalam Melepaskan

November 14, 2021 0
Semasa : Keihkasan dalam Melepaskan

Ketika momen terlalu manis untuk dilupakan dan melekat di sebuah benda, membuat kita mempunyai perasaan yang berbeda mengenai benda tersebut. Seiring dengan berjalannya waktu, sudut pandang orang-orang akan berubah dan menjadi berbeda-beda, meskipun itu orang di dekat kita. Tidak jarang hal ini akan menjadi konflik di kemudian hari.

 

Hal ini yang aku tangkap dari novella tulisan Teddy Kusuma dan Maesy Ang berjudul Semasa. Novel ini memantikku untuk berpikir lebih dalam tentang momen manis. Aku menuanggkannya ke dalam sebuah tulisan. Kamu bisa membacanya di sini.

 


Novel ini menceritakan sebuah keluarga pada umumnya di Indonesia yang mempunyai sebuah rumah peristirahatan di luar kota. Rumah ini mempunya banyak kenangan bagi keluarga ini, terutama Bapak dan Bibi Sari. Bapak dan Bibi Sari ini membuat rumah tersebut di atas tanah warisan orang tua mereka.

 

Di kemudian hari, keduanya mempunya keluarga masing-masing. Bibi Sari menikah dengan pria berkebangsaan Yunani, dan mempunyai putri Bernama Sachi. Sedangkan Bapak menikah dan mempunyai anak bernama Coro. Ibu dari Coro meninggal saat Coro sedang kuliah.

 

Semua anggota keluarga mempunyai kenangan manis akan rumah itu. Mereka berkumpul dan mengunjunginya tiap akhir pekan. Banyak kisah dan petualangan yang membekas di tiap pribadi penghuninya mengenai rumah itu. Sebagaimana keluarga normal, tidak berarti mereka bebas konflik. Kadang pertengkaran menghampiri mereka, terutama antara Sachi dan Coro. Namun dengan itu semua, rumah itu sangat berharga untuk mereka.

 

Seiring berjalannya waktu, isi kepala dan pengalaman hidup masing-masing anggotanya berbeda-beda. Kebutuhan tiap orang pun menjadi berubah. Karena itu ada, suatu titik mereka harus melepaskan rumah itu. Hari itu, mereka mengunjungi rumah itu untuk terakhir kalinya. Dalam kunjungan itulah segudang dialog terjadi. Tentang masa lalu, kisah seru, kasih sayang, hingga kemarahan yang terpendam.

 

Apa saja konflik dan bagaimana akhir dari perjalanan keluarga dan rumah itu? Kamu harus membacanya sendiri di novel ini.

 

Hal yang aku suka dari novel ini adalah kekuatan dan kemudahan narasi yang digunakan. Novel ini tidak terlalu panjang, namun cukup kuat untuk menarik pembaca ikut dalam ceritanya. Kamu akan memahami sudut pandang dan suasana batin setiap tokoh. Menurutku tidak ada bagian cerita yang “mubazir” yang ada dalam novella ini. Kamu akan sangat jarang mengerutkan dahi untuk memahami. Semua dituliskan dengan kadar yang tepat.

 

Konfliknya pun tidak mengada-ngada. Cukup dekat untuk kamu rasakan sebagai anggota keluarga. Konflik yang sangat mungkin terjadi di setiap keluarga. Bahkan konflik pribadinya pun sangat dekat dengan kehidupan kita.

 

Akhir yang sangat bisa diprediksi dan minimnya twist adalah hal yang aku catat sebagai kekurangan dalam novella ini. Bahkan di ¾ bagian novella, kamu sudah tahu ini akan mengarah ke penyelesaian seperti apa.

 

Jika aku merangkum ke dalam satu kata, novella ini akan aku deskripsikan sebagai “hangat”. Kehangatan sebuah keluarga yang mencakup kasih sayang, pengertian, pengorbanan, konflik, hingga berujung dengan keikhlasan. Saya rasa kamu bisa menyelesaikan novel ini dalam sekali atau dua kali duduk. Sangat layak untuk kamu baca di akhir pekan.

Minggu, 24 Oktober 2021

Gadis Kecil Penjaga Bintang: Sebuah kisah perjalanan doa

Oktober 24, 2021 0
Gadis Kecil Penjaga Bintang: Sebuah kisah perjalanan doa

Seminggu ini aku menikmati tiga buku sekaligus, namun ketiga buku tersebut memiliki genre yang sama. Buku anak. Aku tertarik membaca buku anak-anak setelah aku mendengar siniar Kepo Buku yang tengah membahas buku anak. Tertarik terhadap buku yang dibahas, akhirnya aku membeli buku dengan judul Gadis Kecil Penjaga Bintang, karya Wikan Satriati.

 

Aku memperkirakan buku ini dapat aku selesaikan dengan waktu baca yang singkat, maka aku memutuskan untuk membeli buku anak satu lagi, yaitu Na Willa, karya Reda Gaudiamo. Selain itu aku membaca ulang buku anak yang pernah aku baca yaitu Kita, Kami, Kamu, tulisan Soca Sobhita & Reda Gaudiamo. Ketiga buku tersebut aku tekatkan untuk habis dibaca dalam waktu seminggu.

 


Namun pada tulisan ini, aku hanya membahas buku yang pertama, yaitu Gadis Kecil Penjaga Bintang

 

Kesanku ketika aku selesai membaca buku Gadis Kecil Penjaga Bintang adalah buku ini di luar dugaanku. Persis apa yang dikatakan di siniar Kepo Buku. Aku tidak menyangka bahwa buku anak bisa sesastrawi ini. Buku anak dalam bayanganku mempunyai struktur yang sederhana, dengan kalimat yang tidak terlalu panjang. Cukup S-P-O-K sederhana. Berbeda dengan buku anak umumnya, buku ini ditulis dengan bahasa yang indah dan puitis.

 

Buku ini menceritakan tentang doa dan harapan, dengan nuansa agama Islam. Saya berasumsi, buku ini memberikan pemahaman kepada anak-anak, apa itu doa, ke mana doa itu pergi setelah dipanjatkan, dan apakah doa itu bisa sampai kepada yang didoakan. Penulis juga menyelipkan pentingnya berbagi terhadap sesama.

 

Nilai-nilai di atas disajikan dalam bentuk cerita pendek dengan tokoh yang berbeda-beda. Alih-alih memberikan pehaman langsung, penulis memberikan pengibaratan yang sangat indah. Sebagai contoh, doa dilambangkan dengan bintang. Bintang yang dikirim seorang anak yang berdoa akan pergi ke langit dan disampaikan ke rumah orang tua yang kelam untuk menerangi. Rumah yang tidak terang, dikarenakan anaknya tidak mengirim bintang Hal ini menggambarkan doa seorang anak kepada orang tua yang telah meninggal. Pun dengan nilai-nilai yang lain, penulis pengguaan simbol dengan sangat cantik.

 

Sebagi orang dewasa yang membaca buku ini, makna tertulisnya aku bisa pahami segera. Untuk mendapatkan makna yang lebih dalam lagi, aku harus mengambil jeda sejenak untuk merenung. Pada akhirnya, aku akan mengucap, “Ohh… maksudnya ini.” Aku sangat mengagumi penulis dan karyanya ini di setiap akhir cerpen. Nilai baik dapat dimasukkan dengan sangat halus pada setiap cerita.

 

Kemudian saya berpikir apakah ini bisa dicerna anak-anak secara langsung. Ini hanya asumsi saya, kemungkinan tidak bisa. Buku ini dirancang untuk dibacakan oleh orang tua untuk pengantar tidur. Di akhir cerpen, orang tua akan menerjemahkan dan menerangkan makna dari cerita tersebut. Di situlah terjadi interaksi antara orang tua dan anak.

 

Buku ini dilengkapi dengan ilustrasi yang menurutku sangat artsy. Ilustrasi pada buku anak-anak biasanya ilutrasi sederhana berwarna-warni. Tidak banyak goresan yang “tidak perlu” untuk memperjelas isi cerita. Hal itu tidak terjadi pada buku ini. Semacam lukisan indah pada setiap lembarnya.

 

Walaupun buku ini ada nuansa Islam dan beberapa doa Islam, menurutku buku ini masih bisa dibaca oleh penganut agama lain. Kalian tidak perlu membacakan dua kalimat doa di setiap ceritanya. Nilai yang ditampilkan sangatlah universal. Dikarenakan penulis selalu menggunakan perandaian/simbol, maka tidak ada latar masyarakat tertentu yang dirujuk.

 

Apakah buku ini layak dibaca oleh orang dewasa? Sangat layak. Selain menikmati pesan yang disampaikan, aku sangat menikmati kisah dan bahasa yang digunakan. Sangat indah. Aku menikmati setiap twist yang ditampilkan untuk memberikan kesan yang mendalam. Selain itu, tentu saja aku menikmati nilai-nilai yang disampaikan penulis untuk menjadi bahan refleksi.

 

Buku ini bisa kamu dapatkan di secara digital PlayBook dan Gramedia Digital. Untuk buku fisiknya, aku kurang mengetahui karena sudah lama tidak menguncungi toko buku fisik.

Minggu, 20 Juni 2021

Cerita-Cerita Jakarta, karena Jakarta Punya Cerita

Juni 20, 2021 0
Cerita-Cerita Jakarta, karena Jakarta Punya Cerita

Jakarta, ibu kota negara dengan segala riuhnya. Cerita Jakarta bukan hanya istana negara, monas, bundaran HI, dan gemerlapnya jalanan protokol. Cerita Jakarta juga bukan hanya tentang macet, banjir, semrawut dan semua keluh kesahnya. Jakarta masih menyimpan banyak cerita yang mungkin tidak terangkat di media, dan sebagian tertuang dalam antologi cerpen ini.

 


10 penulis menyajikan Jakarta dari sudut pandang mereka melalui sebuah cerpen. 10 cerpen itu dibukukan dalam sebuah antologi cerpen diberi judul Cerita-cerita Jakarta. Sekumpulan cerita interaksi antar penduduk Jakarta dan interaksi dengan ruang bernama kota.

 

Sekadar untuk latar belakang, buku ini sebenarnya sudah pernah terbit pada akhir tahun 2020 dalam bahasa Inggris dengan judul The Book of Jakarta terbitan Comma Press. The book of Jakarta ini merupakan bagian dari rangkaian Reading The City. Kamu bisa menemukan cerita tentang kota-kota lain di dunia melalui seri ini.

 

Buku ini berisi sepuluh cerita penduduk Jakarta dengan berbagai latar yang mengisi kota ini. Mulai dari sekumpulan lansia yang bertamasya di penutupan Istana Boneka, sepasang kekasih yang berboncengan motor, seniman yang tidur di emperan toko Cikini, seorang PSK yang tinggal di Kalibata, pengamen yang terjebak demonstrasi di Palmerah, Pak Haji dan dua muridnya yang pemabuk di Kampung Melayu Pulo.

 

Kalau boleh saya rangkum adalah, ini adalah cerita tentang tetanggamu yang belum tentu kamu kenal. Mungkin juga ini adalah ceritamu sendiri yang tak pernah kamu ceritakan ke orang banyak. Atau cerita yang bahkan kamu tidak tahu bahwa ada penduduk semacam itu di Jakarta. Cerita semua orang yang tak ingin mereka tampilkan di sosial media.

 

Jika boleh memilih cerpen favorit dalam buku ini, saya memilih cerpen dengan judul Anak-Anak Dewasa tulisan Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie. Cerpen ini mengisahkan sekumpulan manula di masa mendatang, yang saat ini sedang dalam usia remaja atau dewasa. Mereka pergi bertamasya ke Dufan untuk merayakan penutupan wahana Istana Boneka. Sekumpulan manula yang merasa bingung untuk apa mereka masih hidup di kota ini. Premis yang aneh tapi sangat dekat dengan siapapun yang menua di Jakarta. Twistnya pun sangat menarik.

  

Sebagai penduduk Jakarta yang tinggal di kota ini selama 7 tahun, saya merasa begitu dekat dengan kisah-kisah yang tersaji dalam buku ini. Kisah, yang kebanyakan kelam, tentang Jakarta. Sebagian bahkan saya mengalami sendiri, sebagian saya melihatnya sendiri, sebagian saya mendengarnya dan sebagian lagi saya baru tahu. Semua kisah itu memang ada di Jakarta.

 

Karena ini buku antologi cerpen, jadi gaya penulisannya juga beragam. Hal ini membuat kita merasa terus berpetualang di setiap cerita. Apalagi nih? Tentang apa nih? Siapa yang diceritakan? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu ada setiap saya memulai membaca cerpen yang baru. Pembaca dibuat tidak bosan dalam menyelesaikan buku ini.

 

Saya tidak mengetahui apakah buku ini bisa dekat secara emosi dengan orang yang tidak pernah mengenal Jakarta secara langsung. Beberapa cerita memang sangat lokal, cerita yang mungkin hanya bisa dirasakan penduduk Jakarta. Dengan penulisan yang bagus, semoga buku ini bisa dekat dengan siapapun yang membaca.


Buku ini layak dibaca siapapun yang ingin mengenal kota Jakarta dan penduduknya dengan lebih dekat. Dengan membaca buku ini, kita tidak hanya mengenal Jakarta dari layar televisi, Instagram atau cerita teman-temanmu. Buku ini membuka lapisan Jakarta lebih dalam lagi.

Minggu, 25 April 2021

Anak Semua Bangsa: Kesadaran Kebangsaan Seorang Minke

April 25, 2021 0
Anak Semua Bangsa: Kesadaran Kebangsaan Seorang Minke

Setelah saya membaca kembali buku pertama dari tetralogi Pulau Buru, yaitu Bumi Manusia, akhir pekan ini saya menyelesaikan buku kedua yaitu Anak Semua Bangsa. Dalam buku kedua ini, Pramoedya Ananta Toer melanjutkan petualangan intelektual seorang Minke


Sebelum saya membahas tentang buku Anak Semua Bangsa, izinkan saya memberi kilasan latar cerita dari tetralogi Pulau Buru ini. Ini adalah kisah seorang remaja bernama Minke. Dia adalah pribumi seorang anak bupati. Sebagaimana anak pejabat lainnya, Minke mendapat kesempatan bersekolah di HBS Surabaya. Latar waktu dalam kisah ini sekitar 1890, tahun saat Ratu Wilhelmina diangkat menjadi Ratu Belanda.

 


Saat itu, masyarakat terbagi menjadi tiga kelas utama. Lapisan paling bawah adalah pribumi. Di atas itu adalah lapisan indo (anak belanda-pribumi, china, dan arab. Lapisan paling atas adalah totok belanda. Semakin ke atas, kedudukan sosialnya semakin tinggi. Kedudukan di mata hukum juga dipengaruhi oleh lapisan kelas manusia ini.

 

Pada buku pertama, Bumi Manusia, menceritakan awal kesadaran seorang Minke terhadap ketidakadilan terhadap pengelompokan kelas ini. Diawali dengan keinginan Minke untuk kebarat-baratan, dia justru disadarkan oleh Nyai Ontosoroh atas kesamaan harkat martabat manusia. Seharusnya semua manusia mempunyai derajat yang sama. Bumi ini tidak diciptakan untuk ras tertentu, karena ini bumi untuk semua manusia.

 

Setelah kesadaran atas persamaan harkat martabat manusia, dalam buku kedua ini, Pram menceritakan tentang awal kesadaran Minke akan nasionalisme. Kesadaran nasionalisme ini datang dari pengamalam untuk mengenal bangsa sendiri dan dialog dengan orang yang mengetahui kisah bangsa lain. Mengenal bangsa sendiri ini dimulai dari pertemuan Minke dengan Trunodongso, seorang petani yang ditindas oleh pabrik gula milik belanda. Minke melihat langsung penderitaan petani atas tindasan korporasi besar.

 

Berlanjut ke pertemuannya dengan Khouw Ah Soe, seorang pelarian Tiongkok yang akhirnya menjejak di Surabaya. Dialog dengan Khouw Ah Soe ini membuat Minke mendapat pengetahuan baru tentang kisah di Tiongkok dan di negara lain yang memperjuangkan kepentingan pribumi atas penjajah. Ditambah lagi dialog Minke dengan Tuan Ter Haar di atas kapal dalam perjalanannya ke Betawi. Minke mendapat sudut pandang lain tentang penentuan nasib suatu kaum oleh kaum itu sendiri, bukan oleh penjajah yang datang.

 

Akumulasi dari pengetahuan dan pengalaman itu memicu Minke untuk mulai membayangkan, apa jadinya Hindia tanpa Belanda. Bayangan tentang pribumi bisa memegang kendali atas bangsa sendiri. Bayangan apa yang sekarang disebut dengan nasionalisme.

 

Seperti buku pertama, saya bisa membagi buku Pram ini menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah kisah yang menjelaskan tentang kondisi psikologi yang dialami oleh Minke. Bagian kedua adalah mulainya kesadaran dan pemikiran baru akan sesuatu. Bagian ketiga adalah bagian konflik dan perlawanan atas kesadaran itu.

 

Pembagian atas tiga bagian ini membuat pembaca dapat memahami betul apa yang dirasakan Minke. Dengan demikian, pembaca mau untuk ikut dan larut dalam petualangan yang dialami oleh Minke. Saya bisa merasakan kemarahan, kegeraman, atau kegamangan yang dialami oleh Minke dalam berkonflik.

 

Risiko untuk pembentukan karakter ini adalah, ceritanya terasa menumpuk di akhir. Konflik di akhir buku terasa sangat padat dan terburu-buru untuk diselesaikan.

 

Pram kembali mampu menarik pembacanya ikut petualangan dan pertumbuhan intelektual dari Minke. Anak Semua Bangsa mampu memberikan kegelisahan sekaligus pemahaman tumbuhnya nasionalisme di kalangan terpelajar kala itu. Saya tidak sabra ikut lagi berpetualang Bersama Minke di Jejak Langkah.

Minggu, 18 April 2021

A Monk's Guide to a Clean House and Mind. Belajar lagi bersih-bersih biar nyaman dan tenang

April 18, 2021 0
A Monk's Guide to a Clean House and Mind. Belajar lagi bersih-bersih biar nyaman dan tenang

Saya mengetahui buku ini dari rekomendasi Florensia Niradewi pada video Klub Buku Narasi bareng relawan TEDxJakarta. Akhirnya saya masukkan pada daftar keinginan. Beberapa hari kemudian, saya mendapatkan pemberitahuan bahwa harga buku ini didiskon di platform Playbook. Akhirnya saya membeli buku ini. Setelah saya selesai membaca, banyak yang menarik pada buku ini.

 

Buku berjudul A Monk's Guide to a Clean House and Mind ditulis oleh Shoukei Matsumoto, seorang biarawan budha di Komyoji Temple, Tokyo. Shoukei Matsumoto menuliskan kesehariannya di kuil yang berhubungan dengan bersih-bersih. Tidak hanya cara dan Teknik bersih-bersih yang dia terapkan sehari-hari, buku ini juga berisi filosofi dari bersih-bersih untuk setiap elemen di kuil.

 


Buku ini diawali dengan filosofi bersih-bersih secara keseluruhan dan efeknya ke ketenangan pikiran para biarawan. Kemudian dilanjutkan teknis bersih-bersih ke dalam 6 bagian besar, mulai dari bersih-bersih bagian biara sampai bersih-bersih tubuh. Setiap bagian dibagi lagi menjadi bab-bab kecil.

 

Hal yang saya suka dari buku ini adalah cara penulisannya. Pembagian menjadi bab-bab kecil ini membuat pembaca tidak lelah karena tertuntut untuk menyelesaikan bab yang panjang. Di setiap bab berisi tempat dan elemen yang berbeda di kuil, sehingga tidak ada ketergantungan untuk membaca bab sebelumnya. Pembaca bisa dengan leluasa berhenti membaca dan melanjutkan kapan saja, sehingga kecepatan membaca buku ini bisa dikontrol penuh oleh pembaca.

 

Hal kedua adalah buku ini sangat aplikatif. Memang tidak semua hal bisa kita aplikasikan di tempat tinggal kita, namun buku ini tidak berisi hal-hal yang rumit untuk dilakukan. Kita tidak perlu mempunyai pemahaman filosofi yang tinggi untuk mengaplikasikan buku ini. Bahasa yang sederhana dan ringan juga sangat memudahkan pembaca dalam memahami buku ini. Jika penulis memasukkan istilah kuil, maka penulis akan menerangkan dengan singkat sehingga pembaca masih bisa mengkuti walau sangat awam dengan dunia kuil budha.

 

Kesan saya dalam membaca buku ini adalah ringan dan segar. Kita akan direfreshkan kembali tentang kegiatan yang mungkin setiap hari kita lakukan, yaitu bersih-bersih. Setelah membaca buku ini, kita akan mempunyai pemahaman berbeda tentang bersih-bersih. Bersih-bersih bukan menjadi kegiatan yang menyiksa, namun menjadi kegiatan yang membantu menenangkan diri karena lingkungan tempat tinggal kita bersih dan rapi.

 

Buku ini tidak tebal, hanya sekitar 130 halaman. Sangat cocok untuk bahan bacaan akhir pekan.

Minggu, 11 April 2021

Kembali Berbahasa Indonesia

April 11, 2021 0
Kembali Berbahasa Indonesia

Ada kalanya saat saya menulis blog, saya merasa kemampuan menulis dan berbahasa Indonesia saya tidak sebaik yang dulu. Bukan berarti saya pernah mempunyai kemampuan berbahasa yang sangat baik, namun saya menemui kesulitan dalam menyusun kalimat dengan tata bahasa dan pilihan kata yang baik. Kalimat yang saya tulis menjadi bertele-tele dan panjang tanpa makna yang padat. Saya mulai memeriksa diri saya. Apa yang menyebabkan kemampuan berbahasa Indonesia saya melorot, dan bagaiman saya menanggulanginya?


Setelah saya merenungkan ini, saya mengambil hipotesis yang menjadi penyebab kemampuan bahasa Indonesia saya memburuk adalah kekurangan bacaan bahasa Indonesia. Pertama, ketika saya melihat daftar bacaan buku saya, materi yang saya baca didominasi oleh bacaan berbahasa Inggris. Buku bahasa Indonesia yang saya baca sejak awal tahun hanya novella Srimenanti. Selebihnya buku berbahasa Inggiris.

 


Hal kedua adalah kebiasaan saya membaca koran dan berita berhenti. Saya memang tidak membaca berita lagi baik dari portal daring maupun koran sejak pandemi melanda dunia. Waktu itu saya merasa membaca berita tentang pandemi membuat kecemasan saya bertambah. Saya memutuskan untuk berhenti membaca berita. Kebiasaan ini sangat jauh berbeda ketika saya kuliah. Hampir setiap hari saya membeli koran dan membaca sampai habis.

 

Untuk menangani kegelisahan saya tentang bahasa Indonesia, saya melakukan beberapa hal. Pertama, saya menghentikan membaca buku berbahsa asing untuk sementara waktu. Saya mengalihkan bacaan saya ke buku berbahasa Indonesia yang ditulis oleh orang Indonesia. Mengapa harus buku berbahasa Indonesia yang ditulis orang Indonesia? Agar saya bisa merasakan kembali bentuk penulisan kalimat orang Indonesia.

 

Pilihan saya jatuh ke buku Happy Wednesday Top 40 Wkwkwkwk, tulisan Azrul Ananda. Buku ini adalah kumpulan tulisan Azrul di situs web pribadinya. Azrul menulis dengan rutin setiap hari rabu, karena itulah laman itu diberi nama Happy Wednesday. 40 tulisan terbaik dari situs web itu dibukukan menjadi buku yang saya baca ini.

 

Hal kedua yang saya lakukan adalah berlangganan koran Tempo secara daring. Berlangganan membuat saya bisa mengakses berita secara utuh dibanding dengan versi gratis. Dengan berlangganan, saya merasa harus mendisiplinkan diri dalam membaca koran Tempo yang terbit setiap pagi. Langganan ini juga memungkinkan saya membaca majalah Tempo yang terbit mingguan.

 

Saya berharap bisa memperbaiki tata bahasa yang saya miliki dengan bertahap. Membaca kembali tulisan bahasa Indonesia yang tertata rapi merangsang saya dalam menulis bahasa Indonesia lebih baik. Tulisan ini merupakan tulisan pertama dalam rangka perbaikan kemampuan bahasa Indonesia. Bagaimana menurut Anda?

Minggu, 04 April 2021

Think Again: Ga Usah Sok kepedean dan Belajar Lagi

April 04, 2021 0
Think Again: Ga Usah Sok kepedean dan Belajar Lagi

Saya lupa bagaimana saya mengetahui kalau Adam Grant, seorang psikolog organisasi, menerbitkan buku berjudul Think Again: The Power of Knowing What You Don’t Know. Saya hanya ingat kalau saya membelinya dengan setengah sadar di tengah malam melalui google Play Book. Esok paginya saya keheranan sudah ada nota pembelian buku. Setelah sebulan lebih saya endapkan, akhirnya saya tergerak juga untuk membaca.

 

Apa jadinya jika seseorang percaya bahwa dirinya mempunyai pengetahuan dan kemampuan yang lebih dari kenyataan sebenarnya? Seseorang tersebut akan merasa cukup, mungkin membawa kesombongan, atau paling ekstrim adalah bisa membahayakan dirinya dan orang lain. Penting bagi seseorang untuk terus mengevaluasi dan memvalidasi apa yang sudah dia tahu dengan informasi baru atau pandangan orang lain. Fenomena bahwa orang kepedean atas pengetahuannya ini yang ditangkap oleh Adam Grant dan dituliskan ke dalam buku ini.

 

Buku ini dibagi menjadi tiga bagian besar yaitu Personal, Interpersonal, dan Collective Rethinking. Pada bagian Personal, Adam Grant menuliskan pentingnya refleksi dalam lingkup personal untuk memikirkan kembali apa yang dia sudah tahu. Belajar merupakan aktifitas yang membutuhkan tenaga, namun belajar kembali membutuhkan tenaga yang lebih lagi. Seseorang harus meletakkan ego untuk menerima bahwa dia mempunyai kemungkinan salah. Sehubungan dengan ini, Adam Grant membagi seseorang menjadi empat jenis manusia, yaitu preacher, prosecutor, politician, dan scientist.

 

Setelah kita berhasil menghidupkan sikap Rethinking dalam lingkup individu, maka sikap ini juga harus terimplementasi ke dalam interaksi manusia sehari-hari. Asumsi awal, stereotype, dan ego membuat kita sering menganggap orang lain salah dan kita yang benar. Seseorang akan cenderung untuk menyerang pihak lain dengan fakta dan data yang dimiliki. Karena itu, seorang negosiator harus mampu mencari common ground dan mengajukan pertanyaan yang tepat agar seseorang mau untuk memikirkan kembali apa yang dia sudah yakini. Pada akhirnya kalau mampu mengaplikasikan Collective Rethinking ini, dialog produktik akan tercipta.


Budaya Rethingking ini seharusnya dibagun dimulai dari budaya yang ada di dunia Pendidikan, sehingga akan terbentuk generasi yang tidak terlalu kepedean tentang apa yang dia tahu. Memeriksa kembali apa yang sudah diakui sebagai kebenaran publik walaupun sangat mungkin salah adalah pekerjaan rumah yang besar.

 

Bagian yang menyenangkan dari pengalaman membca buku Think Again ini adalah, Adam Grant selalu menyertakan cerita dari kasus nyata sebelum mengemukakan poin yang ingin diutarakan. Pembaca dapat menghubungkan poin yang dia bicarakan dengan apa yang terjadi sehari-hari. Poin yang dibicarakan menjadi tidak mengawang-ngawang. Cara ini memang selalu Adam Grant gunakan dalam menulis buku.


Bahasa yang digunakan di buku ini juga sangat mudah dipahami. Tidak menggunakan istilah dan diksi yang rumit. Bagi saya yang mempunyai kemampuan bahasa Inggris yang cekak, tidak sulit mengikuti alur yang disajikan. Hanya sesekali menggunakan kamus untuk kata-kata yang tidak saya mengerti artinya.


Buku ini sangat bisa menjadi refleksi setiap pembaca untuk mau belajar kembali tentang apa yang kita sudah ketahui. Learn, unlearn, and relearn adalah isitilah yang cukup popular untuk menggambarkan buku ini. Buku ini membuat saya tetap menapak ke tanah, dan tetap merasa bodoh dan haus ilmu untuk belajar kembali. Mengerem seseorang untuk menepuk dada sendiri dan melabeli diri sendiri sebagai pakar.

Sabtu, 06 Maret 2021

Srimenanti, antara Joko Pinurbo dan Sapardi Djoko Damono

Maret 06, 2021 0
Srimenanti, antara Joko Pinurbo dan Sapardi Djoko Damono

Dan saat itu pun tiba. Saya datang ke rumahnya malam hari. Saya ketuk-ketuk pintu rumahnya dengan lembut. Setelah saya ketuk berkali-kali, pintu terbuka. Dari balik pintu muncullah Tuan Sapardi. Saya menyapanya, “Tuan, Tuhan bukan? Tunggu di luar, saya sedang berdoa sebentar.”

 


Siapa yang tidak kenal Joko Pinurbo? Seorang penyair asal Yogyakarta ini telah banyak menelurkan karya buku puisi. Puisi dengan karakter pendek, sederhana namun nakal ini menjadi salah satu penyair yang karyanya saya koleksi, baik fisik maupun digital. Jika meminjam isitilah dari Om Rane dari @kepobuku, Joko Pinurbo ini penyair yang efektif dalam penggunaan kata.

 

Karyanya tidak lepas dari sosok Sapardi Djoko Damono, penyair legenda asal Solo yang Joko Pinurbo sendiri mengaku bahwa dia banyak belajar dari Sapardi pada awal karir kepenulisannya. Banyak karya Sapardi yang dikenal luas bahkan oleh orang yang bukan penggemar sastra. Romantis, diksi keren, dan sekaligus mistis untuk menyihir pembacanya. Gaya kepenulisan ini yang coba ditiru oleh Joko Pinurbo hingga Jokpin menemukan sendiri gaya kepenulisannya.

 

Interaksi Joko Pinurbo dengan karya Pak Sapardi ini sudah sangat lama, namun kali ini Joko Pinurbo menuangkan kisah interaksi dirinya dengan karya Pak Sapardi dalam bentuk prosa. Puisi yang “diterjemahkan” adalah puisi berjudul Pada Suatu Pagi Hari. Karya prosa itu diberi judul Sirmenanti. Mungkin Srimenanti ini bisa dikategorikan sebagai novella. Ini adalah novella pertama Joko Pinurbo.

 

Sebenarnya ini bukan penulisan interaksi dan apresiasi pertama dari Joko Pinurbo. Joko Pinurbo sudah memprosakan puisi yang sama dalam bentuk cerpen yang diberi judul Laki-Laki Tanpa Celana yang diterbitkan di Harian Kompas. Kemudian Joko Pinurbo meneruskan interpretasi puisi Pada Suatu Pagi Hari dalam bentuk yang lebih Panjang yaitu prosa novella, sehingga lahirlah Srimenanti ini.

 

Srimenanti berkisah interaksi dua orang yang bertemu secara tidak sengaja, yaitu Srimenanti dan Penyair. Mereka dipertemukan dalam sebuah lorong dalam keadaan hujan. Kemudian interaksi kedua orang ini dilanjutkan dalam proyek kesenian hingga pertemuan yang intens di lingkungan seniman di Yogyakarta.

 

Srimenanti adalah seorang pelukis yang mempunyai masa kecil yang tidak menyenangkan. Trauma itu terus mengikutinya hingga dewasa. Ayahnya adalah aktifis 65 yang dihilangkan paksa oleh pihak berwajib. Keluarganya menanggung stigma yang tidak menyenangkan dari masyarakat. Dia terus belajar melukis, salah satunya belajar dari pelukis kenamaan Nasirun.

 

Penyair adalah anak muda yang sedang memulai karir kepenulisan puisi. Dia sangat mengagumi Sapardi Djoko Damono sampai ingin bertemu di rumah Pak Sapardi. Setelah banyak menulis, belajar dan berinteraksi dengan Pak Sapardi, penyair berhasil menerbitkan sebuah buku kumpulan puisi.

 

Hal yang sangat menarik dari Srimenanti ini adalah, kisah ini dikisahkan dari dua sudut pandang tokoh utamanya, yaitu Srimenanti dan Penyair. Dua sudut pandang ini dituliskan dalam sudut pandang pertama, dan keduanya dicampur dalam bab-bab kecil. Pembaca akan gemas dan sedikit kesulitan dalam menentukan siapa yang sedang berkisah pada bagian awal. Pada bagian tengah hingga akhir, pembaca sudah terbiasa dan paham siapa yang sedang bekisah.

 

Jika kita berbicara tentang plot kisah, mungkin ini bukan novella dengan plot yang sangat menarik atau plot yang romantis. Novella ini bertitik berat pada kepenulisan diksi dan puisi, sehingga buku ini akan membosankan dalam hal plot cerita. Pada akhirnya buku ini menjadi sangat segmented untuk kalangan penggemar puisi terkhusus penggemar Joko Pinurbo atau Pak Sapardi.

 

Jika kamu adalah penggemar puisi, buku ini sangat cocok untuk kamu untuk menikmati puisi dalam bentuk lain.

Selasa, 19 Januari 2021

Kobo, Alternatif eReader Selain Kindle

Januari 19, 2021 0
Kobo, Alternatif eReader Selain Kindle

Halo teman-teman, kali ini saya akan bercerita pengalaman saya menggunakan Kobo sebagai eReader selama tiga bulan pemakaian. Untuk disclaimer, saya belum pernah menggunakan eReader lain sebelumnya, jadi saya tidak bisa membandingkan Kobo dengan ereader lain yang ada di pasaran.

 

Tampilan sampul buku jika dibuka di Kobo

Sehari-hari, platform buku digital yang saya gunakan adalah Google Playbook. Kemudahan pembayaran menjadi alasan utama mengapa saya menggunakan Google Playbook. Kita bisa menggunakan pulsa Telkomsel untuk pembayaran belanja digital di Google Play Store, termasuk belanja buku digital. Saya tidak perlu diharuskan mempunyai kartu kredit. Selain itu, Playbook adalah platform yang cukup fleksibel dalam pemakaiannya karena bisa dibaca di HP, laptop, maupun tablet. Nah, akhirnya koleksi buku saya di Playbook sudah cukup banyak.

 

Sebelum memtuskan memakai eReader, saya memilih iPad sebagai device untuk membaca buku digital. Semakin lama saya merasa, mata saya menjadi cepat lelah jika menggunakan iPad. Akhirnya saya mulai mempertimbangkan untuk membeli eReader. Saya berpikir bahwa eReader akan lebih nyaman di mata saat membaca. Selain itu, eReader juga lebih ringan dibanding dengan iPad walau fiturnya tidak selengkap iPad.

 

Ada beberapa eReader yang tersedia di pasaran. Kindle adalah produk yang paling terkenal di antara yang lain karena pemakainya sudah cukup massif dibanding eReader yang lain. Walau tidak resmi masuk ke Indonesia, Kindle banyak dijual di marketplace seperti Tokopedia atau Bukalapak. Perbedaan harga dari harga resminya pun tidak jauh. Bahkan banyak juga yang menawarkan jastip kindle dari luar negeri. Lalu mengapa saya memilih Kobo sebagai eReader saya?

 

Kompabilitas dengan Playbook adalah alasan utamanya. Saya tidak harus berpindah platform secara drastis jika saya memakai Kobo. Saya bisa memindahkan buku digital yang ada di Playbook ke Kobo tanpa membuang sertifikat digitalnya, sehingga bisa dikatakan buku saya di Playbook bisa dibaca di Kobo secara legal. Memang di Kobo tidak bisa membuka aplikasi Playbook, tapi dengan bantuan Adobe Digital Edition, kita bisa memindahkan buku Playbook ke Kobo.

Semua buku yang saya beli di Playbook dapat dibaca di Kobo secara legal

 

Dari sekian jenis Kobo, saya memutukan membeli Kobo ClaraHD. Di Tokopedia, sangat jarang yang menjual Kobo. Akhirnya saya membeli melalui platform Hargadunia. Walaupun ada drama dan memakan waktu lama untuk pengirimannya, akhirnya Kobo saya tiba di rumah dengan selamat.

 

Bagaimana pengalaman membaca di Kobo? Sejauh ini saya puas. Mata saya tidak dipaksa bekerja keras saat membaca buku digital dibanding membaca di iPad. Tampilan seperti kertas sangat nyaman di mata. Selain itu, dalam Kobo juga mempunayi fitur seperti di aplikasi Playbook seperti membuat catatan buku, bookmark, atau highlight pada halaman tertentu. Dalam Kobo juga ada kamus definisi jika kamu kebingungan mencari arti sebuah kata. Kebutuhan membacamu akan terpenuhi selama memakai Kobo. Oh iya, kamu juga bisa berbelanja buku di platform Kobo Rakuten, walau pembayarannya menggunakan kartu kredit.

Tampilan teks dan fitur highlight

  

 

Kekurangan dari Kobo adalah tidak tersedianya kamus bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Selain itu, kebanyakan buku dari penerbit Indonesia itu berformat pdf, bukan ePub, sehingga tampilannya sangat kaku jika dibaca di Kobo. Namun kekurangan format ini akan dialami oleh semua device. Semoga ke depannya, penerbit Indonesia lebih banyak memproduksi buku digital dalam format ePub.

Kumpulan highlight dan catatan


Minggu, 18 Oktober 2020

Pengalaman Membaca Raditya Dika

Oktober 18, 2020 0
Pengalaman Membaca Raditya Dika


Raditya Dika, seorang creator dan story teller yang cukup fenomenal. Sejak kemunculanya pada tahun 2005, Raditya Dika merambah ke berbagai bentuk story telling, mulai dari buku, stand up comedy, mini series, dan film. Untuk mini series dan filmnya, Raditya Dika mengambil peran sebagai penulis scenario, sutradara, dan pemain peran. Dan dari semua lini produknya dia, satu roh yang mendasari itu semua, komedi.

 

Saya menonton sebagian besar film Raditya Dika, menonton mini series dan stand up comedynya di Youtube. Dari ketiga bentuk karya itu, saya hanya bisa menikmati stand up comedy. Komedi dalam film dan mini series tidak bisa saya menikmati dalam artian lelucon yang dituangkan dalam film dan mini series tidak bisa membuat saya tertawa. Karena itu saya penasaran dengan bentuk karya satu lagi, buku. Apakah saya bisa menikmati buku Raditya Dika? Itulah yang membuat saya penasaran.

 

Saya memilih buku pertama dan terakhirnya, walaupun pada akhirnya saya menyadari saya salah beli. Saya membeli buku Kambing Jantan dan Koala Kumal. Setelah selesai membaca keduanya, saya baru tahu kalau Koala Kumal itu bukan buku terakhirnya. Masih ada satu judul buku terakhirnya yaitu Ubur-ubur Lembur. Tapi ya sudahlah ya.

 

Tulisan ini bukanlah ulasan buku, namun hanya sharing pengalaman saat membaca kedua buku tersebut. Saya membaca dua buku tersebut secara parallel, maksudnya tidak menunggu satu buku selesai lalu membaca buku yang lain. Saya langsung merasakan lompatan gaya penulisan Raditya Dika.

 

Mari kita bahas satu per satu bukunya.

 

Kambing Jantan, buku yang terbit pada tahun 2005, namun saya baru mendengar judul buku itu di tahun 2007 atau 2008 saat saya masih SMA. Maklum, saya tinggal di kota terpencil, jadi akses buku baru tidaklah begitu lancar. Berawal tulisan blog pribadi Raditya Dika selama dia pelajar dan mahasiswa yang kemudian dikumpulkan menjadi satu dan dibukukan. Berisi kisah-kisah lucu dan kejadian konyol yang dia alami sehari-hari.

 

Saat membaca Kambing Jantan ini, saya mencoba memungut lagi memori dan membayangkan saya saat SMA agar saya cukup relevan dengan tulisannya. Setelah membaca, tidak heran buku ini meledak di kalangan remaja. Gaya penulisan yang dipakai sangat ringan namun tidak jamak dipakai dalam buku-buku saat itu, sehingga menjadikan buku ini menjadi sangat unik. Saya masih ingat gaya itu pada akhirnya ngetrend di kalangan remaja, dan dicoba dipakai oleh banyak remaja dalam menulis di blog, Friendster, atau facebook.

 

Jika dirangkum menjadi satu kata saat membaca Kambing Jantan adalah, menyenangkan. Saya bisa merasakan kejujuran dan otentiknya seorang Raditya Dika di buku ini. Seperti menulis lepas di blognya tanpa membayangkan tulisan ini menjadi buku. Karena memang berasal dari blog, jadi membaca Kambing Jantan ini seperti membaca blog pribadi, bukan buku komedi. Struktur bahasanya tidak sebagus buku, tapi tidak chaos karena saya yakin ini pasti juga melalui tangan editor.

 

Koala Kumal, buku yang terbit pada tahun 2015, 10 tahun setelah Kambing Jantan. Buku ini mempunyai tema komedi patah hati. Pada bagian awal, buku ini berisi tentang pengalaman dia saat kecil, pada bagian tengah adalah pengalaman pacarana saat remana, dan pada bagian akhir, barulah berisi tentang patah hati. Struktur yang dipakai dalam buku ini sudah sangat baik. Memang diniatkan menulis untuk buku. Struktur komedi yang dibangu juga sudah sangat rapi. Ada premis dan punchlinenya.

 

Jika kembali ke pertanyaan awal, apakah saya bisa menikmati komedi Raditya Dika dalam bentuk buku? Kalau harus memilih ya dan tidak, saya akan menjawab tidak. Saya menikmati kedua buku itu, dan bisa membacanya sampai habis, namun tidak cukup membuat saya tertawa. Saya tidak tahu apakah memang ekspektasi saya yang terlalu tinggi, atau buku komedi memang seperti ini. Entahlah. Mungkin kalau memang Raditya Dika mengeluarkan karya lagi, saya akan memilih yang dalam bentuk stand up comedy.

Jumat, 11 September 2020

Kim Ji Young Born 1982: Kisah Pilu di Lingkungan Misoginis

September 11, 2020 0
Kim Ji Young Born 1982: Kisah Pilu di Lingkungan Misoginis

Korea Selatan, dengan segala gemerlap budaya K-Pop dan K-Drama, menyimpan berbagai kisah pilu yang menyertainya. Di lingkungan yang mengutamakan laki-laki, kisah pilu ini dialami oleh seorang perempuan kelahiran 1982 bernama Kim Jiyoung. Walaupun ini merupakan kisah fiksi tulisan Cho Nam Joo, tetapi banyak review yang mengatakan ini adalah salah satu buku protes terbaik dari kalangan perempuan akan budaya dominasi yang terjadi di Korea Selatan.

 

Kim Jiyoung, seorang anak kedua dari 3 bersaudara. Ayahnya adalah pegawai negeri, dan ibunya adalah ibu rumah tangga. Kakanya seorang perempuan dan adiknya adalah laki-laki. Keluarganya dari kalangan menengah bawah sehingga rumahnya bisa dikatakan kecil. 2 kamar dan 1 ruang bersama. Sedangkan mereka juga tinggal bersama nenek Jiyoung, sehingga Jiyoung harus berbagi dengan 5 penghuni lainnya.


Ketidakadlian terhadap gender dialami Jiyoung sejak masa anak-anak. Neneknya sangat menyangi adiknya hanya karena adiknya laki-laki. Pengutamaan itu mulai dari hal-hal yang remeh, seperti urutan siapa yang boleh makan duluan, siapa yang diutamakan mendapatkan kamar sendiri ketika mereka pindah ke rumah yang lebih besar, dan siapa yang bisa mengakses Pendidikan yang lebih baik.


Tidak hanya dirumah, ketidakadilan ini dalami juga di sekolah. Ketika ada yang bertengkar, yang disalahkan pertama adalah perempuan.  Gurunya bahkan belum menanyakan apa yang terjadi. Pun walau yang laki-laki mengaku salah, gurunya tetap membela anak laki.


Singkat cerita, ketidakadlian ini dialami Jiyoung dari anak-anak sampai dewasa. Dalam kehidupan pribadi dan kehidupan professional. Perempuan tentu saja banyak dirugikan dalam kalangan professional karena perusahan lebih mengutamakan laki-laki dalam promosi karir. Dalam kehidupan pribadi pun, sang laki-laki yang memegang kendali. Walaupun Jung Daehyun, suaminya, sangat sayang kepdanya, namun beberapa keputusan rumah tangga akhirnya mengorbankan pihak perempuan.


Dengan sifatnya yang tidak terlalu konfrontatif, akhirnya Jiyoung mengalami gangguan mental. Suaminya yang menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan kesehatan mental istrinya. Akhirnya Daehyun membawa Jiyoung untuk berobat ke psikiater.

 

Hal yang saya suka dari novel ini adalah suasana yang dibangun dari awal sangat konsisten. Kedua adalah karakter dalam novel ini cukup kuat, dan ketiga adalah kesederhanaan plot. Tiga keunggulan itu dirangkum ke dalam novel yang tidak terlalu tebal sehingga bisa dihabiskan di akhir pekan.


Suasana yang dibangun dalam novel ini sangat gelap. Suasanya itu dibangun dari perbuatan tokoh-tokoh sekitar Jiyoung atau respon mereka terhadap suatu masalah. Suana gelap ini dipelihara sampai akhir cerita. Anda akan ikut merasakan suasana batin Jiyoung dalam menghadapi lingkungannya.


Karakter yang kuat juga mendukung suasana itu. Penulis menyertakan kisah latar ibunya untuk memperkuat alasan mengapa ibunya yang cukup dekat dengan Jiyoung tidak cukup melindungi Jiyoung dari ketidakadilan gender.

 

Dan ketiga adalah kesederhadaan plot.Tidak ada plot yang rumit dalam novel ini. Alurnya juga sederhana sehingga pembaca tidak perlu mengerutkan dahi. Penulis lebih mengutamakan suasana hati Jiyoung ketimbang plot yang rumit.

 

Hal yang saya tidak suka dari novel ini adalah novelnya terlalu deskriptif. Dialog antar tokoh sangatlah minim. Sebagian besar diutarakan dalam rangkaian deskripsi. Si A merasa ini, Si B berpikir itu. Menurut saya, diskripsi yang panjang itu akan menimbulkan kebosanan. Estetika penulisan sangat dikorbankan untuk mengejar kesederhanaan.

 

Novel ini juga sudah diangkat ke layer lebar walau ceritanya tidak sama. Ada pengembangan di sana sini. Semangat yang dibawa tetaplah sama. Uniknya, filmnya tidak mendapatkan nilai yang tinggi oleh publik Korea Selatan. Setelah dibedah lagi, nilai rendah disumbangkan laki-laki yang merasa bahwa cerita ini telah menjelekkan budaya korea. Sebaliknya, kaum perepmuan di korea selatan memberi nilai yang tinggi untuk film ini.

 

Kim Jiyoung tidak sekadar protes atas patriarki, namun juga menekankan akan kesehatan mental. Cukup menarik untuk Anda baca.


Senin, 31 Agustus 2020

The Perfect world of Miwako Sumida: Alasan Orang Bunuh Diri yang Disusun Sangat Rapi

Agustus 31, 2020 0
The Perfect world of Miwako Sumida: Alasan Orang Bunuh Diri yang Disusun Sangat Rapi

Ada alasan di balik setiap kejadian. Entah itu kejadian yang menyenangkan, untung, sial, sedih, kehilangan, maupun tragedy. Begitu pula dengan kejadian bunuh diri. Pelaku bunuh diri pasti mempunyai alasan untuk melakukan bunuh diri. Kadang disampaikan melalui orang sekitar melalui surat yang ditinggalkan, kadang juga tidak. Alasan yang tidak disampaikan ini yang membuat orang dekat pelaku menjadi sedih dan penasaran.

 

Alasan Miwako Sumida melakukan bunuh diri ini yang dituliskan oleh Clarissa Goenawan ke dalam novel berjudul The Perfect World of Miwako Sumida. Ketidaktahuan alasan Miwako melakukan bunuh diri ini menimbulkan kesedihan bagi Ryusei Yanagi, Chie Ohno, dan Fumi Yanagi. Clarissa membuka kartu alasan Miwako bunuh diri melalui mata ketiga orang terdekat Miwako tersebut.

 

Ryusei adalah teman pria yang bertemu Miwako saat dia sudah kuliah. Bertemu pada sebuah pertemuan perjodohan kecil-kecilan. Pertemuan mereka berlanjut pada perbincangan tentang buku dan sebagainya. Pada bab pertama diceritakan tentang kebingungan Ryusei tentang Miwako yang menghilang dan berujung ke berita bunuh diri

 

Bagian kedua menceritakan sudut pandang Chie, teman Miwako saat SMA. Dari sudut pandang Chie inilah Clarissa membuka lebih banyak alasan mengapa Miwako bunuh diri. Tidak semua hal diketahui Chie, tapi pembaca mulai digiring, atau bahkan “dijebak” untuk memperkirakan alasan Miwako bunuh diri.

 

Dan bagian terakhir adalah sudut pandang Fumi. Fumi ini adalah kakak perempuan dari Ryusei. Fumi mempunyai kemampuan melihat sesuatu yang tidak dilihat oleh orang lain. Dalam bagian inilah, alasan Miwako dibuka habis-habisan.

 

Satu kata yang menggambarkan novel ini adalah rapi. Penulisan yang sangat rapi, penyusunan kartu cerita yang rapi, dan pembukaan kartu cerita yang juga sangat rapi. Pembaca dibawa terus ke dalam suasana penasaran dengan membuka kartu cerita secara perlahan. Tidak terlalu lambat, tidak terlalu cepat. Walaupun di akhir saya merasa Clarissa menumpuk terlalu banyak kartu di belakang. Dengan penyusunan kartu ini, pembaca tidak akan merasa bosan, yang pada akhirnya membuat pembaca bertahan hingga akhir

 

Bahasa yang digunakan juga cukup simple. Saya membaca yang versi Bahasa Inggris walaupun sudah terbit dalam versi Bahasa Indonesia. Dengan keterbatasan kemampuan Bahasa inggris saya, saya bisa mengikuti jalan cerita dengan nyaman. Tidak terlalu menggunakan istilah yang aneh-aneh. Cukup ringan lah untuk Anda yang mungkin belajar membaca novel Bahasa inggris.

 

Penggambaran karakter di novel ini cukup bagus, walaupun tidak terlalu kuat. Motivasi setiap tokoh dituliskan dengan rapi. Tidak terlalu lebay untuk setiap tokohnya.

 

Premis novel ini adalah terangkum dalam satu kalimat pada halaman 272 (versi ebook) yaitu pada kalimat,"I shouldn't have pretended everything was perfect." Mempunyai kemampuan untuk mengakui tragedi dan hidup kita tidaklah mulus mungkin tidaklah mudah, karena setiap tragedi pasti membekas di diri setiap pelakunya. Berbohong terhadap diri sendiri dan orang lain juga bukanlah hal yang bagus karena menutup kemungkinan baik dan pertolongan.

 


Dan hal yang membekas di kepala saya adalah, perasaan kita mengenal orang yang kita anggap dekat sangat bisa menjebak kita. Ternyata kita tidak mengenal orang seutuhnya orang-orang yang kita anggap dekat. Novel ini menampar saya dengan menyisakan pertanyaan, “Seberapa yakin Anda mengenal orang di sekitar Anda?”.

 

Yang mungkin saya kurang suka di novel ini adalah suasana Jepang terkesan tempelan di awal-awal novel. Saya kurang mendapat alasan mengapa ini harus dilatarbelakangi oleh latar belakang Jepang. Pada bagian akhirlah mulai terkuak alasannya, walaupun menurut saya masih terlalu tipis.

 

Secara kesuluruhan, saya suka akan novel ini. Walau bertema alasan orang bunuh diri, namun suasana yang dibangun tidak terlalu gelap. Cukup ringan untuk dibaca menemani Anda di akhir pekan.

Rabu, 19 Agustus 2020

Orang-orang Oetimu: Sebuah pembacaan karakter dan sindiran sana-sini

Agustus 19, 2020 0
Orang-orang Oetimu: Sebuah pembacaan karakter dan sindiran sana-sini
Saya tertarik membaca buku ini setelah saya mendengar resensi buku ini melalui siniar Homecoming with Leila Chudori. Saya belum pernah mendengar nama Felix K. Nesi sebelumnya. Akhirnya saya langsung meluncur ke laman penerbit Marjin Kiri. Singkat cerita buku ini mendarat di meja saya. Saya mulai “terbang” ke Oetimu, sebuah daerah pelosok NTT.

Orang-orang Oetimu adalah novel yang dilatarbelakangi oleh peristiwa di Timor di awal tahun 90an yang penuh dengan konflik dan tragedi. Orang-orang yang terlibat dalam sebuah konflik selalu mempunyai cerita sendiri. Terlalu naif untuk menilai hitam putih dalam sebuah konflik. Cerita setiap orang itulah yang coba ditangkap oleh Felix.

Rabu, 12 Agustus 2020

Laut Bercerita: Tragedi dan kisah yang menyertai dan lanjutannya

Agustus 12, 2020 0
Laut Bercerita: Tragedi dan kisah yang menyertai dan lanjutannya

Anda bisa membayangkan perasaan seseorang yang menanti ketidakpastian akan keselamatan jiwa raganya, dan menyaksikan satu per satu kawan baik Anda menghilang dan tak pernah kembali? Apakah Anda dapat membanyangkan menjadi buronan dan karena itu harus berpisah dengan orang-orang yang Anda kasihi? Atau Anda diposisi orang yang ditinggalkan anggota keluarga karena dia harus berjuang untuk nilai yang dia yakini benar? Menyedihkan, gelap, dan meninggalkan luka batin yang dalam. Perasaan inilah yang coba ditangkap oleh Leila S Chudori melalui sebuah novel.

Rabu, 03 April 2019

Orang-Orang Biasa: Sekelompok orang bodoh dan pilunya pendidikan

April 03, 2019 0
Orang-Orang Biasa: Sekelompok orang bodoh dan pilunya pendidikan
Setelah karya ke 10 berjudul Sirkus Pohon, pada penghujung Maret 2019, Pak Cik Andrea meluncurkan karya ke 11 berjudul Orang-Orang Biasa. EmmmSebelum berlanjut, mungkin tulisan ini mengandung spoiler. Jadi, bagi yang ingin membaca bukunya, sebaiknya melawatkan dulu tulisan ini.