Kalau kamu melakukan perjalanan di kota-kota kecil, ada saja nilai atau kebiasaan yang dilakukan oleh penduduk sekitar yang kamu tidak akan temukan di kota besar seperti Jakarta. Sebagai penduduk Jakarta, kamu akan terheran-heran ketika kamu melihat dan mengalaminya. Apa saja hal baru yang aku temui di Purwokerto?
Sabtu, 07 Juni 2025
Selasa, 06 Agustus 2024
Andai saya punya mesin waktu di laci meja, saya akan kembali di sekitar tahun 2010 sampai di tahun 2018. Tahun-tahun di mana saya benar-benar menikmati apa yang ada pada dunia internet. Saya hampir bisa menikmati semua platform mulai dari facebook, twitter, blog, dan awal kemunculan Instagram. Saat ini saya masih mempunyai akun di semua platform itu, tapi banyak hal yang saya sukai hilang.
Sabtu, 01 Januari 2022
Selamat Tahun Baru 2022 untuk semuanya. Syukur Alhamdulillah sudah sekian lama Jakarta bertahan di PPKM level 1, yang mempunyai pertanda bahwa wabah ini mulai terkendali. Ya, terkendali, belum usai. Masih ada varian baru yang mengancam. Paa ahli belum mengetahui benar bagaimana varian baru ini bekerja dan seberapa bahaya dibanding dengan varian-varian sebelumnya.
Sebagaimana bulan
januari tahun lalu, saya mulai kembali #30HariBercerita. Kita mulai saja dulu.
Kalau pun berhenti di tengah jalan, ya ga papa. Seperti tahun kemarin juga,
karena saya malas untuk mencari topik, saya menggunakan kata kunci yang dipakai
komunitas thepodcaster Indonesia saat mereka menyusun tantangan 31HariBersuara
yang mereka laksanakan di bulan desember.
Untuk 30HariBercerita
ini, saya mencoba menghubungkan kata kunci yang ada dengan Jakarta. Provinsi
yang kuhuni selama 8 tahun terakhir. Hubunganku dengan Jakarta ini sangat
berwarna. Semua rasa pernah ada. Harap, marah, lelah, pesimis, senang, bahkan
cinta. 30 tulisan saya persembahkan untuk Jakarta. Lebih sulit tentu saja
karena pengetahuanku tentang Jakarta juga masih terbatas walaupun saya sudah
sewindu di Jakarta.
Saya ingin bercerita
tentang penyebutan-penyebutan layanan dan infrastukutur di Jakarta. Semenjak
Pak Anies menjabat sebagai gubernur, beliau selalu mengusahakan pemberian nama
layanan dan infrastruktur di Jakarta dengan sebutan dan istilah menggunakan
bahasa Indonesia. Tidak hanya itu, kepanjangan dari singkatan asing pun diubah
menjadi bahasa Indonesia.
Ini bukan
pertama kali Pak Anies mengutamakan bahasa Indonesia sebagai pilihan utama dalam
pemberian istilah. Saya mendengar beberapa istilah dipopulerkan bahasa Indonesia
atau bahasa daerah untuk penyebutan sesuatu saat beliau menjabat sebagai menteri.
Saya pertama kali mendengar istilah smong sebagai pengganti kata tsunami saat
beliau menjadi pembicara di salah satu acara blogger. Smong adalah istilah dari
Aceh untuk menyebut gelombang laut yang besar setelah gempa bumi atau yang kita
sering menyebutnya sebagai tsunami.
Apakah ini hal
yang baru? Tidak. Entah di umur berapa saya mengetahui kepanjangan asli dari
ATM adalah Automatic Teller Machine. Saya mengenal ATM dari kecil sebagai
Anjungan Tunai Mandiri. Berarti pengindonesiaan istilah asing sudah dilakukan
sejak dulu.
Apa saja layanan
dan infrastruktur di DKI yang memakai istilah bahasa Indonesia?
MRT
Mass Rapid Transportation.
Begitu istilah yang jamak dipakai. Pemprov DKI melalui PT MRT Jakarta memilih
istilah Moda Raya Terpadu. Kalau disingkat tetap MRT. Bukan sekedar
menerjemahkan bahasa Inggris, namun ada upaya memberi makna baru dalam istilah
tersebut. Terpadu atau integrasi merupakan jargon utama layanan transportasi umum
di era Pak Anies.
JakLingko
Saat masa
kampanye, pasangan Anies-Sandi tidak menyebut integrasi transportasi ini sebagai
JakLingko. OkOtrip adalah istilah yang dipakai saat itu. Saat peluncuran
program ini, dipilih nama resmi yaitu JakLingko. Lingko adalah system persawahan
yang ada di Kabupaten Manggarai, provinsi Nusa Tenggara Timur. Lingko adalah system
persawahan yang berbentuk seperti jaring laba-laba. Filosofi ini yang coba
dipakai dan ditularkan menjadi prinsip terintegrasinya antar layanan
transportasi.
Apakah ini penggunaan
bahasa Indonesia ini sudah konsisten? Belum. Masih banyak infrastruktur yang lahir
di era Pak Anies, tapi menggunakan istilah asing. Pelican Crossing, Sky View
Deck, dan Penamaan Jakarta International Stadium merupakan contoh penggunaan
istilah asing dalam penamaan layanan dan infrastruktur.
Seberapa
penting? Penting menurut saya pribadi. Ini bukan masalah kebanggaan penggunaan
bahasa dari negeri sendiri. Pertama, dengan penyebutan istilah dengan bahasa Indonesia
atau bahasa daerah, kita juga melestarikan kekayaan bahasa yang dimiliki Indonesia.
Kedua, mendekatkan konteks lokal ke masyarakat. Penggunaan Anjungan Tunai
Mandiri sebagai kepanjangan ATM berfungsi memberi gambaran ke masyarakat tentang
cara kerja mesin tersebut.
Bagian 1: Panggilan
Jumat, 31 Desember 2021
Entah dimulai kapan saya mulai menyenangi membaca koran. Satu hal yang saya ingat pasti adalah, mulai kelas dua SMP, saya rebutan dulu-duluan dengan Pak Satpam untuk membaca koran di perpustakaan sekolah. Saat saya datang di pagi hari, saya meletakkan tas di kelas dan langsung meluncur ke perpustakaan. Pustakawan bahkan belum membuka dan menata koran pagi kiriman pengantar koran.
Koran apa yang
saya baca? Jawa Pos. Setahu saya, koran besutan Pak Dahlan Iskan itu merupakan
koran dengan oplah terbesar di Jawa Timur. Selain headline di halaman depan,
ada beberapa rubrik yang suka saya baca, yaitu tulisan kolom Pak Dahlan Iskan,
Deteksi, dan ekonomi bisnis. Di jawa timur, ada satu koran yang cukup terkenal
yaitu Surya. Mungkin karena harganya murah. Saya tidak pernah membaca koran
itu.
Berlanjut ke
SMA, saya tidak ke perpustakaan lagi. Saat itu perpustakaan di SMA saya gelap,
pengap, dan tidak nyaman. Akhinya saya membaca koran saat pulang ke rumah. Ayah
memang langganan Jawa Pos. Kali ini competitor rebutan saya adalah kakak saya,
tapi sering kali dia membaca rubrik olahraga terlebih dahulu. Rubrik yang tidak
pernah saya sentuh.
Berlanjut ke
kuliah, saya tetap membaca koran. Saya rela memangkas budget sarapan saya untuk
membeli koran. Kalau sedang awal bulan, saya membaca Kompas. Harganya 3.500
rupiah. Jika akhir bulan, saya membeli Koran Tempo dengan harga 1,000 rupiah.
Biasa saya baca saat jeda perkuliahan atau saat menunggu sarapan favorit saya
kala itu, nasi kuning, disiapkan oleh penjualnya.
Era Dotcom
Meledak
Saya mungkin
orang yang terlambat membaca berita di laman daring. Saat kuliah saya masih
sempat dan nyaman membaca koran cetak. Tidak ada kebutuhan untuk membuka portal
berita elektronik. Hanya sesekali saja. Saat saya mulai bekerja di Jakarta,
saya menilai koran cetak tidak praktis lagi. Alasan klasik, saya harus bekerja
pagi hingga petang. Mulai saat itu saya mulai mengkonsumsi portal berita
daring.
Kelebihan dari
portal berita daring adalah kecepatan. Tidak perlu menunggu ke percetakan dan
distribusi untuk sampai ke masyarakat. Hanya dalam hitungan detik, semua bisa
tersebar. Keunggulan kedua adalah gratis. Bisnis modelnya tidak sama dengan
koran cetak. Pemasukan dari oplah koran tidak ada lagi. Masyarakat dapat
menikmati berita tersebut secara gratis. Portal berita mendapatkan pemasukan
dari iklan yang terpasang pada laman berita tersebut.
Di balik
keunggulan itu semua, ada dua hal yang paling menjengkelkan saya. Pertama
adalah kualitas dan keakuratan berita. Dengan tuntutan kecepatan, wartawan
kurang waktu untuk mendalami fakta-fakta yang ada. Saya paham ada namanya
validasi berjenjang. Portal berita akan melempar berita ke masyarakat berdasar
temuan awal. Seriring berjalannya waktu, wartawan menemukan fakta-fakta yang lebih
lengkap dan komplit, sehingga berita yang benar-benar valid adanya di ujung.
Kedua adalah
iklan. Saya sudah tidak ingat kapan terakhir kali membuka detikdotcom karena
jengah dengan banyaknya iklan yang terpampang. Iklan merupakan pemasukan utama
dari portal berita, sehingga pasti mereka mengundang produk untuk beriklan di
portal mereka sebanyak-banyaknya. Bahkan ada fenomena klik bait yang diduga
untuk mendongkrak traffic yang ujung-ujungnya ke perolehan pendapatan iklan.
Portal
Berita Daring Berbayar
Sekarang
perusahaan portal berita daring ramai meluncurkan model bisnis berbaru yaitu
langganan berbayar. Dengan adanya langganan berbayar, saya mengharapkan
kualitas konten berita akan lebih baik karena portal berita tidak kejar setoran
iklan. Tidak muncul lagi berita klik bait ataupun berita yang terburu-buru
sehingga validitasnya masih tanda tanya. Dengan adanya layanan berbayar ini,
portal berita gratis tidak serta merta menghilang. Mereka masih mempertahankan
portal berita gratis dengan bisnis model yang lama
Saya pertama
kali langganan portal berita adalah Tempo. Saya mengincar Koran Tempo dan
Majalah Tempo. Sesuai yang saya uraikan di atas, saya tidak nyaman membaca
berita daring yang realtime. Ada ketidakpercayaan tentang validitas beritanya.
Membaca Koran Tempo ini seperti kembali saat kuliah, bedanya ini benda
elektronik. Berita tentang suatu topik diulas lebih tajam dan lebih lengkap.
Kalau kita berbicara Majalah Tempo, lebih dalam lagi keakuratan investigasinya.
Langganan kedua
adalah Gramedia Digital. Kamu tidak hanya mendapatkan koran dan majalah secara
lengkap, tapi kamu bisa membaca seluruh konten digital di Gramedia, termasuk
semua eBooknya. Untuk ini memang best deal menurut saya.
Langganan
ketiga adalah Kumparan+. Ini sebenarnya isinya bukan konten berita, namun lebih
banyak kolom dan opini. Kekuatan dari Kumparan+ terletak pada kontributornya.
Penulis konten di sini bukanlah orang main-main. Hampir semua expert atau
senior di bidangnya. Ada Seno Gumira Aji, Dea Anugrah, Zainal Arifin Mochtar
dan expert lainnya. Kamu akan mendapatkan sudut pandang dari orang yang
kredibel.
Pengalaman saya
berlangganan di ketiga portal ini sejauh ini sangat memuaskan. Saya bisa
mendapatkan konten yang saya bisa percaya dan saya bisa jadikan referensi. Tata
bahasa yang digunakan pun lebih enak dibaca dibanding portal berita gratisan.
Untuk harga,
saya berpendapat biaya yang saya keluarkan sudah layak. Worth it kalau kata
orang. Jika kamu berlangganan satu portal berita saja, itu jauh lebih murah dibanding
dengan membeli koran cetak di jaman dulu. Ada beberapa orang yang enngan
membayar dengan alasan sudah terbiasa dengan berita gratis. Ada juga yang
berkeberatan karena memang langganan berita berbayar tidak untuk semua level
pendapatan.
Harapan Portal
Berita Mendatang
Jika kualitas
berita berbayar sudah semakin baik, maka konten berita berkualitas semakin
melimpah. Kita bisa mendapatkan tentang topik apapun dengan mudah. Lalu, apa
selanjutnya? Dengan melimpahnya konten berkualitas ini akan menimbulkan satu
ruang perbaikan lagi yaitu kurasi.
Kurasi, atau pemilihan konten, sering dianggap
remeh. Dengan melimpahnya informasi, ada orang yang berpendapat kurasi
merupakan kegiatan yang mudah dilakukan. Menurut saya, justru melimpahnya
informasi itu perlu kemampuan pemilahan informasi agar orang-orang dapat
menikmati konten yang sesuai dengan dia.
Jika kita
mengandalkan alogoritma, maka ada resiko orang-orang akan terkungkung ke bubble
kebenaran yang dia yakini karena portal berita hanya mengumpan berita yang
sesuai dengan kesukaan dia. Nah, di sinilah konsep kurasi yang saya bayangkan
akan dibutuhkan di masa mendatang. Kebutuhan perimbangan informasi untuk semua
orang yang akan mengurangi bubble kebenaran masing-masing orang.
Saya semakin
senang dengan muculnya langganan porta berita ini. Semoga industri media
semakin sehat dan masyarakat makin mudah mendapatkan konten berkualitas.
Selasa, 21 Desember 2021
Lagu itu mulai mengalun saat es di kopiku mulai mencair setengahnya. Buku yang kubaca kutaruh sebentar. Kupasang dengar lebih tajam dari biasanya. Sang penyanyi mulai melantunkan liriknya. Begini kata Nadin Hamizah dalam Bertaut.
Bun, hidup berjalan seperti bajingan
Seperti landak yang tak punya teman
Kubiarkan lagu
itu berlalu, sambil kukenang dalam liriknya.
Di kesempatan
lain, aku dan seorang sahabat berada di Bali. Kami hendak pergi ke Tulamben
dari posisi kami di Ubud. Kucari rute terbaik di Google Map. Aku diarahkan oleh
peta elektronik ini ke arah utara melalui Danau Batur. Awalnya kami sangat
menikmati perjalanan ini. Melalui desa asri, persawahan terhampar luas, dan jalanan
mulus tapi sepi. Ada saatnya kami menyusuri tepian Danau Batur dengan hawa yang
sejuk.
Permasalahan
dimulai setelah kawasan Danau Batur. Jalanan mulai mendaki dan sulit. Di
beberapa titik, sepeda motor kami yang 150cc bahkan tidak kuat mengangkat kami
berdua. Sebagai yang punya badan besar dan lebih gampang dipersalahkan mengenai
beban, akhirnya aku turun dan jalan kaki sampai di titik motor kembali normal.
Di titik lain, kami melewati turunan curam yang sedikit saja terlambat
mengerem, kami tidak akan bisa menikmati Nasi Kedawetan Ibu Mangku selepas
pulang.
Singkat kata
kami sampai ke Tulamben. Aku iseng mengganti warna peta menjadi indeks
ketinggian. Aku baru sadar kami dilewatkan gunung. Sebuah tempat yang menjadi
pilihan tak bijak untuk dilalui motor matic. Saat pulang, aku memilih jalur
lain yang lebih manusiawi walau jauh memutar.
Peta memang tak
menggambarkan kenyataan secara detail. Ada faktor kompleks yang dipangkas untuk
mendapatkan kesederhanaan penjelasan. Kita tidak bisa mengandalkan peta
sepenuhnya, namun dia bisa menjadi alat bantu. Tidak sepenuhnya akurat, tapi
cukup bisa menjelaskan. Peta itu termasuk jenis pemodelan.
Pun dengan
analogi. Kita sering menggunakan perandaian untuk menyederhanakan penjelasan yang
disampaikan ke seseorang agar lebih mudah dipahami. Seperti dalam teknik pemodelan
lain, banyak faktor yang dipangkas untuk mendapatkan kesederhanaan. Untuk menjelaskan
lebih detail, kamu harus menarik lagi penjelasanmu dari analogi tersebut kembali
ke kenyataan.
Hal yang aku
benci dari analogi adalah menganalogikan persoalan hidup. Banyak analogi hidup
yang kita dengar sejak kita mulai ditampar kenyataan. Dengan niatan meringankan
penderitaan kita, orang lain mulai berceramah tentang hidup menggunakan analogi.
Hidup itu bagaikan….
Dalam
pengandaian itu, banyak faktor yang dipangkas seperti kondisi perasaan, situasi
pendukung, reaksi orang sekitar, atau keberuntungan tidak berpihak. Kita dipaksa
untuk tidak menjejakkan kaki di persoalan sebenarnya hanya untuk mengejar
kesederhanaan pikirian. Seolah persoalan yang kita hadapi itu jalan lurus dan
datar seperti pemodelan peta sederhana.
Kesalahan pemilihan
analogi menjadi hal yang menyebalkan kedua. Untuk mengacaukan persoalan
sebenarnya, ada yang memilih analogi yang sama sekali tidak menggambarkan
keadaan yang terjadi. Pendengar digiring untuk masuk ke analogi yang disampaikan
dan meninggalkan jauh inti persoalan sebenarnya.
Hal yang menyebalkan
lagi adalah, kita cenderung menggambarkan diri kita menjadi tokoh protagonist
dalam cerita analogi tersebut. Melindungi diri dan keengganan untuk menunjuk
hidung siapa yang bermasalah menjadi latar kenapa kita cenderung menggambarkan
diri kita sebagai pahlawan atau korban dalam sebuah analogi. Kita tidak pernah
menggambarkan diri kita menjadi kurawa atau sengkuni dalam cerita mahabarata,
padahal kita sangat mungkin lebih berangasan dari pada kurawa dan lebih licik dari sengkuni.
Hadapi saja kenyataan
hidup yang ada. Tunjuk saja di mana titik yang busuk. Bukan untuk menyerah,
namun untuk memperbaiki. Aku benci saat kita menipiskan kenyataan. Kita tidak
bisa menutupi bau bangkai dengan tumpukan bunga melati.
Es dalam gelas
kopi susuku terus mencair. Gelasnya mulai berembun banyak. Lagu itu terus megalun
sampai habis hingga berganti lagu lain. Liriknya masih tersisa di ingatan. Apakah
hidup sesederhana di lirik lagu itu? Hidup belum tentu berjalan seperti
bajingan, karena sangat mungkin lebih jahat dan lebih menyakitkan.
Minggu, 19 Desember 2021
Malam itu, seusai hujan rintik-rintik, aku melajukan sepedaku mengitari lapangan merdeka, atau lebih diknenal lapangan Monas, di pusat kota. Setelah mengitari lapangan tersebut empat kali dan merasa aku telah mengucurkan keringat yang cukup untuk disebut olahraga, aku memutuskan untuk pulang. Aku mengarahkan sepedaku ke daerah tugu tani. Setelah lampu merah, aku melaju seperti biasa menuju ke arah Cikini.
Di antara
mobil-mobil, tiba-tiba banku terperosok ke celah kecil penutup lubang drainase.
Karena seolah banku dijepit, sepedaku langsung limbung. Aku terpelanting.
Beruntung mobil di belakangku sempat mengerem, sehingga aku selamat dari
kecelakaan lebih lanjut. Banku bengkok tak karuan dan harus diganti. Lubang
tersebut tak pernah aku sadari karena itu tidak akan terasa bagi sepeda motor
atau mobil. Sangat berbahaya untuk sepeda yang mempunyai penampang ban yang
kecil.
Kisah lain di
saat makan siang di kantor, ada seorang kawan mengomel-ngomel. Di daerah tempat
tinggalnya, sedang ada pelebaran trotoar untuk pejalan kaki. Dia, sebagai
pengguna mobil, merasa itu mengganggu kelancaran berkendara. Laju mobil lebih
lambat dari biasanya. Omelan yang sama aku baca juga dari cuitan seorang
politisi yang sudah ditendang keluar oleh partainya. Dia ngomel soal pelebaran
trotoar di daerah Kemang. Dia menganngap ini tidak pro pengendara mobil.
Kisah lain saat
aku berjalan kaki, lagi-lagi, di daerah Tugu Tani. Aku merasa sangat kesulitan
untuk menyebrang dari KFC ke arah Tugu Tani. Di tempat itu ada zebra cross,
namun rasanya sangat berbahaya kalau kita menggunakannya mengingat padatnya
lalu lintas di kawasan itu. Rasanya aku sudah melewati Tugu Tani ratusan kali,
tapi tak pernah menyadari kesulitan tersebut karena aku selalu lewat
menggunakan sepeda motor.
Sebagai manusia, rasanya kita memang ingin
rasa nyaman dalam segala hal, termasuk berkendara. Permasalahan terjadi ketika
kenyamanan kita bersinggungan dengan kenyamanan orang lain. Konflik terjadi di
antara irisan zona kenyamanan antar orang. Di situlah peran dari aturan dan
hukum. Tidak semua orang bisa mendapatkan kenyamanan yang penuh, namun tidak
sampai menderita juga.
Lalu, orang mana yang harus didulukan untuk
mendapatkan prioritas kenyamanan. Nah, di sini pentingnya narasi pembangunan.
Pak Gubernur sudah menyatakan bahwa prioritas transportasi adalah pejalan kaki,
lalu kendaraan bebas emisi, lalu transportasi publik, dan terakhir adalah
kendaraan motor pibadi.
Beberapa tahun
terakhir, memang pembangunan Jakarta mengikuti narasi pembangunan ini. Trotoar
dibuat lebar, nyaman dan aman. Jalur permanen sepeda dibuat di beberapa ruas.
Penambahan dan pengintegrasian layanan transportasi umum juga semakin baik.
Kebijakan tidak
mungkin menyenangkan semua pihak. Aku tidak akan menyalahkan siapa yang
mengeluh tentang kenyamanannya terganggu karena memang manusia itu makhluk
sambat, namun rasanya perlu kita mencoba sekali-kali berdiri di sepatu orang
lain dalam hal transportasi ini. Sudah terlalu sering rasanya aku membaca
perang cuitan di media sosial mengenai urusan bagaimana manusia berpindah.
Pesepeda ngomel
tentang motor yang mengambil jalur sepeda, mobil yang ngomel karena pesepeda
yang bergerombol, motor yang mengomel mobil memenuhi jalanan dari kanan sampai
kiri, dan segala omelan tentang transportasi Jakarta. Semua terjadi di atas
sepatu masing-masing.
Atau sebenarnya
kita tidak perlu berdiri di sepatu orang. Hanya dibutuhkan ruang dialog antar
pengguna moda untuk mendapatkan tesa, antitesa dan sintesa secara terus
menerus, sehingga kebijakan transportasi ini akan dapat diterima oleh semua
orang. Tidak mungkin sempurna, setidaknya diterima.
Siapapun
gubernur dari Jakarta tidak bisa menghentikan omelan-omelan yang akan abadi
terjadi di kota ini karena sekali lagi, kita memantg makhluk sambat. Aku teringat satu cuitan yang aku baca di twitter. Ada yang bilang, "Pas gue naik sepeda, gue ngomel-ngomel ke mobil yang menuhin jalanan. Pas selesai sepedahan dan sepedanya gue naikin ke mobil, gue mulai ngomel ke pesepeda yang ngerasa punya jalan."
Iya, tulisan ini juga sebuah omelan dari seseorang yang sangat cinta dengan kota ini. Tak punya kuasa banyak, hanya mengomel yang dia bisa. Akhirnya aku balik lagi ke sepeda yang kukayuh di Jakarta ini.
Senin, 29 November 2021
Halo semua, bagaimana kabar kalian akhir pekan ini? Semakin menurunnya kasus Covid diiringi dengan meningkatnya kepercayaan diri masyarakat untuk beraktifitas di luar ruangan. Berapa acara luring mulai digelar. Paling mencolok bagiku adalah Ubud Writer and Reader Festival (UWRF) diadakan dengan cara campuran (gabungan daring dan luring). Kesuksesan UWRF disusul dengan penadaan beberapa acara campuran. Di akhir pekan ini ada dua acara yang aku tahu yaitu Patjar Merah dan Ideafest. Aku datang ke Patjar Merah, dan mendapatkan beberapa cerita menarik. Aku akan ceritakan di kiriman selanjutnya.
Minggu ini aku juga melakukan hal yang sudah lama sekali yang tidak
aku lakukan, yaitu menggunakan layanan Pos Indonesia. Waktu itu aku ada
kebutuhan untuk mengirimkan barang ke beberapa penerima. Tentu pilihan
penyelenggara ekspedisi beragam, namun aku menjatuhkan pilihan ke Pos
Indonesia. Mengapa? Karena satu sosok yaitu Faizal Rochmad Djoemadi, CEO Pos
Indonesia.
Aku melihat wawancara Pak Faizal dalam sebuah acara di Youtube,
yaitu Beginu. Dipandu oleh Wisnu Nugroho, pimred Kompas.com, Pak Faizal
mengisahkan proses transformasi yang dia lakukan di Pos Indonesia. Ada beberapa
langkah strategis maupun taktis yang dia lakukan untuk membawa Pos Indonesia
yang hampir mati ini menjadi bertahan atau malah lebih baik lagi. Langkah dari
A sampai Z dia paparkan dalam sesi itu. Kalau istilah orang Jakarta, aku kebeli
oleh paparan beliau.
Itulah kenapa aku memutuskan untuk menggunakan layanan Pos
Indonesia. Sangat kebetulan tempat tinggalku berdekatan dengan kantor Pos yang
buka 24 jam, sehingga memudahkanku untuk
mengirim barang itu kapan saja. Mungkin 3 kali aku datang ke kantor Pos
tersebut. Dalam kantor Pos tersebut aku memang melihat beberapa kemajuan yang
disebutkan oleh Pak Faizal, namun masih banyak ruang yang perlu perbaikan.
Perbaikan yang aku rasakan sebagai pelanggan adalah dibukanya
layanan 24 jam itu sendiri sudah sangat bagus. Pos keluar dari kungkungan
kerangka kerja itu ya jam 8 pagi sampai 5 sore. Hal kedua adalah adanya
fasilitas untuk umpan balik dari pelanggan mengenai kinerja Pos Indonesia.
Mulai dari memuaskan di paling atas, dan level kriminal di level paling bawah.
Hal ketika adalah kemampuan pelacakan pengiriman dari barang kita. Hal ketiga
yang aku apresiasi adalah ketepatan waktu penyampaian barang tersebut. Sampai
sekarang aku tidak mengalami keterlambatan pengiriman barang. Bahkan jika aku
mengirim barang ke orang tuaku yang ada di pelosok desa, Pos Indonesia
mereupakan jasa layanan ekspedisi yang tercepat.
Mungkin kamu berpikir bahwa hal-hal tersebut memang standar minimum
di penyedia ekspedisi, bahkan itu tidak perlu diapresiasi karena itu kewajiban.
Betul, memang tidak ada yang istimewa dari hal-hal tersebut, namun aku tetap
mengapresiasi perbaikan ini di Pos Indonesia.
Ruang perbaikan masih banyak yang aku rasakan. Pertama adalah
standarisasi harga layanan. Harga layanan memang sudah tertera, namun aku
menemui petugas nakal yang memainkan harga layanan. Dia menagihkan angka yang
lebih besar dibanding dengan harga yang tertera. Jawaban dari dia tidak jelas.
Karena aku malas berdebat dan menggali lebih dalam, ya sudah aku bayar dengan
nominal yang dia tagihkan.
Packaging juga belum standar baik bentuk maupun harganya. Aku akan
mengirimkan buku dari kantor pos di Pos Bloc, maka aku menanyakan apakah ini
akan dibungkus lagi? Petugas di situ menjawab tidak. Waktu aku mengirimkan buku
dari kantor Pos Cikini, petugasnya membantu membungkus lagi dengan plastik. Aku
sebagai pelanggan tidak keberatan jika memang diharuskan membayar lebih untuk
mendapatkan layanan pembungkusan yang bagus. Perhatian utamaku adalah
keselamatan barang yang aku kirimkan, jadi membayar lebih ya tidak masalah.
Jika di ekspedisi lain, pasti akan diberi plastik pembungkus yang
aman dan gratis. Jika kamu mengirimkan barang dengan kebutuhan perlindungan
yang lebih, baru kamu akan dikenakan biaya tambahan. Biaya tambahannya pun
standar di seluruh outlet. Hal ini yang tidak aku temukan di Pos Indonesia. Hal
kecil yang sangat serius bagi aku.
Aku membayangkan berdiri di sepatu Pak Faizal, pasti aku sudah
stress berat. Tidak mudah membelokkan kapal tua yang begitu besar dalam waktu
yang cepat. Mentransformasikan perusahaan nasional dengan jumlah karyawan dan
asset yang begitu besar tidaklah mudah. Diperlukan kerja kolosal yang dipimpin
oleh kepemimpinan yang kuat. Pos Indonesia juga membuka ruang kolaborasi dengan
pihak luar. Pos Bloc merupakan hasil karya dari kolaborasi Pos Indonesia dan
Ruang Riang dalam pemanfaatan asset
Aku berharap Pos Indonesia ini bisa menjadi lebih baik lagi ke
depannya. Pos Indonesia terlalu berharga untuk tidak bangkit dalam industri
ekspedisi.
Kamis, 25 November 2021
Akhir-akhir ini
aku sering menonton pertandingan basket pada liga DBL Indonesia Series. Basket,
sebuah olahraga yang rasanya aku tak pernah tertarik memainkan ataupun
menonton. Bahkan dari dulu pertama kali pegang bola basket di SMP sampai dewasa
pun tak sekalipun tertarik. Entah hal apa yang akhirnya aku membuka livestreaming
pertandingan DBL di kanal Youtube DBL Play.
Pertama kali yang aku lakukan adalah mencari info mengenai almamaterku. Apakah SMAku dulu bermain di liga ini. Ternyata yang masih bertahan waktu itu adalah team putri. Berawal dari nonton tim SMAku, aku mulai menonton pertandingan-pertandingan lain. Akhirnya keterusan untuk mengikuti semua series. Aku tak pernah menyangka menonton pertandingan basket bisa seseru itu.
Saat
menyaksikan pertandingan 8 besar putri, SMAN 1 Blitar tertinggal 1 angka dibanding
lawannya. Sedangkan waktu itu pertandingan tersisa 40 detik. Aku yang tak
pernah menonton basket, aku tidak tahu seberapa mungkin sebuah tim bisa
mencetak angka dalam 40 detik. Ternyata…. Wooalaa… SMAN 1 Blitar bisa
membalikkan keadaan dalam 40 detik tersebut dan mereka keluar sebagai pemenang
dan melaju ke semi final.
Aku bepikir,
apa yang aku bisa lakukan dalam 40 detik. Mendengar lagu pun belum sampai reff.
Untuk nyalain laptop bututku aja kayaknya butuh waktu lebih dari itu. Kalapun
menengok olahraga lain, sepak bola misalnya, 40 detik tersisa hanya digunakan
untuk mengulur waktu dengan cara pura-pura tejatuh dan berpura-pura kesakitan.
Ternyata di basket bisa berbuah keajaiban.
Mengejar
Ketidakmungkinan. Mungkin itu bukan istilah yang tepat. Mungkin di pertandingan
basket, 40 detik memang kerap terjadi kejadian seperti itu. Aku sebagai
penonton mula basket akan menyebutnya mengejar ketidakmungkinan. Semakin sering
menonton pertandingan basket, setidaknya ada beberapa hal yang mendorong upaya mengejar
ketidakmungkinan ini bisa berhasil.
Mental Juara
Bagi orang yang
bermental lemah, mungkin akan berpikir, “Ah, tidak mungkin terkejar nih.” Pikiran-pikiran
yang membatasi diri seperti itu kerap melanda ke orang yang memang tidak
mempunyai mental juara. Pada pertandingan tersebut aku tidak melihat adanya
kelesuan, kepanikan atau tanda-tanda menyerah. Mereka tetap mengupayakan yang
terbaik. Saya tahu mental juara ada di tim itu.
Di beberapa
pertandingan lain, aku juga melihat bagaimana performansi sebuah tim yang
mentalnya kena. Permainannya seperti serampangan, sering melakukan kesalahan
sendiri, dan sering melakukan pelanggaran. Aku juga melihat tim yang bisa
bangkit dan membalikkan keadaan walau tertinggal jauh jika mereka sudah bisa menemukan
momentum bermain. Permainannya tertata bagus, tenang, dan eksekusi strategi di
lapangan pun terlaksana dengan baik. Mental memang berperan besar dalam suatu
pertandingan.
Strategi
Bermain
Di sisa 40
detik itu, pelatih dari SMAN 1 Blitar mengajukan time out. Penghentian
sementara pertandingan. Tujuan timeout ini beragam. Menyusun strategi,
mengistirahatkan pemain, atau memutus momentum lawan yang sedang bagus. Di kala
itu, terlihat pelatih SMAN 1 Blitar memberikan instruksi kepada pemainnya.
Setelah time out, pergerakan dari SMAN 1 Blitar sangat tertata. 40 detik itu
benar-benar termaksimalkan dengan baik.
Kemenagan harus
direncanakan, begitu kata orang. Perencanaan yang baik bisa menjadi pendorong
untuk ketidakmungkinan bisa ditaklukkan. Penyusun strategi yang baik akan tetap
berpikir dengan tenang dalam menyusun strategi. Resiko tetap diambil. Mungkin
tidak berhasil, namun dalam strategi sudah harus sempurna.
Kemampuan Tim
Mental dan
strategi sudah bagus, tinggal eksekusi di lapangan. Jika saja tim itu tidak
mempunya pemain dengan akurasi tembakan yang bagus, maka ketidakmungkinan itu
tidak akan terkejar. Dibutuhkan kemampuan individu yang baik untuk menciptakan
peluang-pelunag emas.
Tidak hanya
kemampuan individu, kemampuan tim secara menyuluruh juga berperan besar. Aku
melihat ada sebuah tim yang mempunyai individu Tangguh, tapi tidak ada support
yang kuat. Pada akhirnya pemain ini kelelahan. Aturan di DBL juga mewajibkan
seluruh pemain wajib dimainkan minimal 6 menit. Jadi tidak akan ada pemain yang
gabut. Karena itu kemampuan tim juga sangat penting.
Keberuntungan
Tidak semua
orang setuju dengan keberuntungan. Jika semuanya sudah bagus, namun tetap belum
takluk juga ketidakmungkinan tersebut, maka mungkin mereka kurang beruntung. Di
beberapa pertandingan kedua tim menunjukkan performa yang sangat bagus. Saling menyusul
perolehan angka. Pertandingan berakhir dengan selisih 1 angka. Ya, 1 angka. Bahkan
angka satu bola pun tidak. Aku menyebutnya mereka yang kalah adalah tim yang
kurang beruntung.
Tulisan ini emang agak sok iye, tapi sebagai penonton pemula basket aku benar-benar kagum dengan pertandingan-pertandingan yang aku saksikan di DBL ini. Semangat, mental dan kemampuan pemainnya sangat luar biasa. Semangat itu yang coba kuterapkan untuk mengejar ketidakmungkinan di kehidupan sehari
Photo by TJ Dragotta on Unsplash
Sabtu, 13 November 2021
Apa yang paing tidak menarik menjadi dewasa lalu menjadi tua? Kita bisa menyebut sederet hal-hal yang tidak menyenangkannya menjadi tua. Tagihan, cicilan, tumpukan pekerjaan, tanggung jawab sosial, dan keluh kesah lainnya. Rasanya makin tua, makin banyak keluhan yang bisa terucap. Ada beberapa momen kita merindukan masa kecil kita, atau setidaknya masa sekolah.
Salah satu yang
menjengkelkan dari bertambahnya umur menurutku adalah semakin jauh kita
terhadap suatu momen manis. Ada yang mengibaratkan kita menjatuhkan kertas yang
terbakar ke dalam sebuah sumur. Di bagian atas, kita masih bisa melihat dengan
jelas nyala api. Semakin dalam maka semakin buram. Hingga di satu titik, kita tidak
melihat lagi.
Begitu juga
dengan momen manis. Semakin lama, semakin buram, hingga suatu titik kita tidak
bisa mengingat kembali. Bisa juga semakin lama, perasaan kita terhadap momen
itu semakin berubah. Masih ingat rasanya dulu saat aku baru lulus SMA dan
teman-teman kita terpencar untuk kuliah di kota masing-masing, kita masih sangat
merindukan satu sama lain. Kita merindukan momen indah semasa sekolah. Makin
lama, momen itu mulai menghilang dan rasa itu mulai berubah. Reuni yang dulu
adalah kegiatan yang dinantikan, sekarang tidak terjadi lagi.
Makin lama, orang
yang ada pun makin berkurang. Masih ingat momen lebaran saat kecil? Mungkin ada
orang tua kita, kakek, nenek, paman, bibi dan keluarga besar lainnya. Sekarang,
berapa orang yang masih ada? Satu per satu, mereka meninggalkan kita. Tentu ada
orang baru yang datang, tapi akan merubah suasana. Jagoan kita saat kecil,
makin lama makin menua dan melemah. Ah, ini yang paling menjengkelkan.
Bisakah kita
mengulang sebuah momen? Tidak mungkin. Meski kita mengumpulkan orang yang sama
di tempat yang sama. Kita berkumpul pasti dengan beda konteks, beda isi kepala,
dan beda kepentingan dibanding dengan momen yang kita maksud. Pasti rasanya
beda, karena yang kita kangenin bukan orang dan tempat, tapi momen.
Setiap orang
menyikapi sebuah momen dengan berbeda-beda. Dengan berubahnya isi kepala dan
kepentingan, makin besar perbedaaan sikap orang terhadap sebuah momen tersebut.
Meskipun orang itu adalah orang dekat kita. Ada yang masih terkurung dalam
momen manis itu, ada yang sudah biasa saja, ada yang berubah membencinya.
Apa akibatnya
kalau kita masih terkurung dalam momen manis masa lalu? Pertama, kita tidak
bisa menikmati apa yang ada saat ini. Momen manis di masa lalu memang bisa jadi
barometer apa yang baik untuk kita, namun kuasa kita terbatas dalam menentukan
apa yang terjadi. Memaksa mendapatkan kejadian dan perasaan yang sama. Kita
sampai lupa apa yang perlu kita perbaiki di saat ini. Orang yang terperangkap
pada masa lalu bisa mengakibatkan masalah untuk diri sendir dan orang-orang di
sekitarnya.
Kedua adalah
ada barang yang mungkin kita tumpuk dengan alasan mempunyai kenangan, pada
akhirnya tidak produktif. Saat ini kita tidak mempunyai alasan mempertahankan
barang tersebut, namun kita terus menumpuknya. Akibatnya rumah kita menjadi
lebih penuh. Itu sangat bisa mengakibatkan pikiran kita ikutan penuh dan tidak
jernih.
Akhirnya kita
kembali ke diri kita masing-masing dalam memandang sebuah momen. Kalau bagiku, aku
belajar memaknai momen menjadi sebuah kejadian untuk dikenang. Cukup. Tidak berharap
untuk diulang, tidak dikutuk sambil marah-marah, atau tidak untuk disesali. Hidup
ini garis lurus. Tidak ada kesempatan untuk mengulang, memperbaiki, atau
menghindari. Jadikan momen manis itu sebuah kenangan. Jika ada pelajaran, ambil
untuk menjadi lebih baik ke depannya.
Hal kedua yang
bisa kulakukan adalah belajar hidup di waktu saat ini. Live the moment kalau
orang bilang. Hadir utuh di saat ini. Melihat dengan detail yang ada sekarang,
dan menghadirkan seluruh nyawa, pikiran, dan perasaan untuk hadir bersama tubuh
saat ini.
Upaya tersebut
tentu membutuhkan usaha yang keras dan waktu. Tidak mudah keluar dari perangkap
momen manis di masa lalu. Upaya harus dilakukan terus-menerus agar kita bisa
sepenuhnya memandang momen manis masa lalu hanya sebagai kenanangan.
Mengapa aku
menulis tentang kenangan, karena aku baru selesai membaca sebuah novella berjulu
“Semasa” karya Teddy W Kusuma dan Maesy Ang. Ulasannya akan aku buat di kiriman
selanjutnya.
Sabtu, 25 September 2021
Rasanya aku tidak pernah membenci Jakarta sedalam ini, tidak pernah. Aku bukan membenci Jakarta saat peluh mengucur diatas motor yang terjebak macet. Bukan pula saat pundak letih sepulang kantor. Bukan pula saat kamu kesulitan mendengar debur ombak padahal kamu sadari kamu tinggal di kota pesisir. Aku membenci Jakarta saat aku terkurung pada rumah.
Kamu mungkin
memberiku saran (dan penghakiman), bahwa seharusnya aku bersyukur atas rezekiku
bisa menempati rumah dengan tenang dan tidak mengkhawatirkan besok aku harus
tinggal di mana. Aku tentu bersyukur akan hal itu, namun bukan itu pokok
masalahnya. Diam di rumah, bahkan diam di Jakarta membuatku sulit merasa.
Dari dulu aku menganggap bahwa Jakarta ini memang mematikan rasa penduduknya. Kecepatan laju hidup kota ini akan memaksa kita melewatkan hal-hal kecil di sekitar kita. Kamu tidak akan memperhatikan dengan detail siapa yang kamu temui dan apa yang mereka kerjakan saat kamu berkendara dari rumahmu ke kantor. Kamu akan melewatkan emosi tiap penduduk yang kamu lalui saat itu. Jika pun ada perasaan orang yang tertangkap olehmu, itu mungkin rasa amarah.
Aku melatih
rasa dengan pergi keluar kota. Kota yang memberimu jeda waktu dan ruang untuk
melihat hal-hal kecil di sekitarmu. Rasa yang muncul saat aku diajak bicara
kromo inggil dan diberi senyuman terindah di Jogjakarta. Vibe untuk pelan dan
tenang saat aku menikmati secangkir kopi di Ubud. Setidaknya kamu bisa
menikmati romantismenya Bandung seusai hujan. Perasaan tenag yang paling
paripurna adalah perasaan ada di rumah saat aku ada di Blitar.
Lingkungan yang mengizinkanku berjalan pelan itu yang melatih mata dan hati ini melihat sekitarku. Mengkalibrasi pikiran, perasaan, dan hati. Merasakan kembali apa itu emosi baik, ketulusan hati, dan rendahnya ego. Kamu akan menjadi spon dan bisa menyerap apa-apa yang ada di sekitarmu.
Pandemi ini
memaksaku untuk tinggal di Jakarta. Perasaanku mati bersemayam di hutan beton
ini. Aku merindukan masa di mana aku bisa banyak kata untuk kutuliskan menjadi puisi.
Saat aku bisa menikmati tarian, film, novel, atau teater dengan penuh rasa.
Sambating Ati
ini kembali tertantang ketika saat aku membaca buku Jejak Langkah tulisan Pram.
Bagian tengahnya bercerita tentang gadis Jepara yang terpenjara karena pingitan.
Namun demikian, pikirannya tetap bebas dan maju. Permasalahan yang dihadapi
perempuan disekitarnya tetap ia rasakan. Tulisannya menginspirasi banyak orang,
tak terkecuali pembesar Hindia Belanda saat itu.
Ah, dia kan
tinggal di Jepara, bukan di Batavia. Halah… yowis karepmu.
Aku cuma berdoa
pandemi ini segera berakhir. Biso rumongso iku larang regane.
Ditulis di cafe
kota Jakarta yang dingin.
Selasa, 20 April 2021
Pernah mencoba suatu makanan yang direkomendasikan food vlogger, namun kamu ga suka? Pernah baca buku yang katanya keren banget oleh book influencer, tapi kamu ga nyambung sama sekali? Pernah mengunjugi suatu tempat karena tempat itu masuk daftar must visit oleh travel blogger, tapi menurutmu biasa aja? Saya juga pernah mengalami hal itu semua. Makanan yang ternyata biasa aja, buku yang saya tak mengerti, dan tempat yang ternyata tidak menyenangkan. Ga semua kata influencer itu memang cocok sama kamu.
Saya pernah
mengalami insecure karena ga suka makanan yang dibilang enak banget sama food
vlogger yang cukup terkenal. Bahkan saya mencoba membeli beberapa kali di waktu
yang berbeda hanya untuk sekadar meyakinkan diri saya bahwa itu memang menurut
saya tidak seenak yang dikatakan. Pada akhirnya saya mencoba memakannya dengan
kesadaran penuh dan sejujur mungkin terhadap diri sendiri untuk menilai.
Membeli buku
yang sedang rame diperbincangkan juga sudah mulai saya kuranigi. Membaca buku best
seller atau rekomendasi orang itu mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya,
kamu bisa memperbincangkan dan mendiskusikan dengan orang banyak untuk mendapatkan
pengayaan sudut pandang. Menikmati keragaman pendapat itu bisa memperkokoh
struktur berpikir kita. Kekurangannya, belum tentu kamu bisa menikmati buku
tersebut. Pengalaman membaca setiap orang bisa sangat beragam.
Untuk soal
traveling, saya sudah lama tobat untuk terangsang mengunjungi daftar must visit
jika berkunjung ke suatu tempat. Saya lebih suka jalan-jalan ke tempat yang kemungkinan
besar cocok dengan selera saya. Saya juga berpendapat bahwa menikmati perjalanan
lebih penting daripada mengunjungi suatu tempat.
Pada dasarnya
setiap orang mempunyai pengalaman hidup yang unik. Hal itu pasti berpengaruh
bagaimana dia memandang sesuatu, menikmati rasa, dan merasakan pengalaman. Pengalaman
itu bukan masalah salah dan benar. Tidak ada yang lebih baik dan lebih buruk.
Sangat mungkin kamu tidak menikmati hal yang disukai banyak orang, termasuk influencer.
Pendapat
influencer pun tidak salah. Dia hanya mengungkapkan apa yang dirasakan dan
memberikan penilaian terhadap sesuatu. Pengalaman itu yang dia bagikan ke orang
banyak. Pengalamannya itu valid, untuk dia. Menjadi bermasalah kalau pengalaman
itu kamu jadikan barometer untuk menilai sesuatu. Selama ini tidak berkaitan
dengan hal keilmuan dan kepakaran sesuatu, setiap pengalaman itu valid.
Kalau kamu ga
suka, ga papa. Kalau kamu ga nyaman, ga papa. Kalau kamu ga nyambung, ga papa.
Pengalamanmu itu valid untuk dirimu sendiri. Tidak perlu menakar pengalamanmu
dengan pengalaman influencer. Tidak perlu juga kamu menakar pengalaman orang
lain dengan pengalamanmu.
Foto yang
tertampil adalah foto Ayam Betutu Pak Sanur di Ubud. Enak banget menurut saya. Valid
untuk saya, tapi ga harus valid buat kamu.
Sabtu, 06 Januari 2018
Halo hari ke lima #30HariBercerita, kali ini adalah fase terakhir aku berinteraksi dengan cerita. Ketika kecil, aku menganggap cerita hanyalah hiburan, lalu beranjak cerita sebagai cara mengungkapkan sesuatu. Dan pada akhirnya, cerita lebih powerfull daripada itu. Cerita bisa menggerakkan orang.
Sudut pandangku tentang cerita berubah ketika aku bertemu dengan sekumpulan orang yang percaya dengan kekuatan ide dan story telling, yaitu TEDx Bandung. Ketika aku menjadi relawan, aku memahami betul bahwa speech yang dideliver di TEDx (kami menyebutnya TED Talks) dimotori dengan kekuatan cerita. Cerita yang dekat, inspiratif, dan baru dapat menggerakkan orang dibanding dengan argumen. Argumen membuat orang paham, cerita membuat orang terinspirasi, begitu kata Roby Muhammad di TEDx Bandung.
Ketika kerja, aku bertemu seorang leader di kantorku yang menggunakan cerita dengan sangat powerfull, yaitu Pak Fathoni. Beliau dalam setiap penjelasan, sangat meminimalisir argumen-argumen, dan lebih memberi pengayaan dalam bentuk cerita. Aku merasakan sendiri bahwa cerita lebih masuk di hatiku daripada leader yang membagun tim dengan argumen.
Bagaimana cara membuat cerita yang bisa menggerakkan? Nah, aku sendiri juga belum tahu, dan jauh dari bisa. Karena itu, #30HariBercerita menjadi langkah awal aku belajar membuat cerita.
Apa ceritamu hari ini?
Ditulis di tengah suara-suara kodok sawah yang tak pernah aku temui di Jakarta
5 Januari 2018
#30HariBercerita
Jumat, 05 Januari 2018
Untuk seri ke 4 dari #30HariBercerita agak telat karena kemarin harus siap-siap flight pagi. Mari kita teruskan bercerita tentang story telling. Pernah ga sih kalian ingin menyampaikan atau mengungkapkan sesuatu tapi hanya tertahan? Atau kalian punya pemikiran, tapi bingung mengungkapkan dengan cara apa? Banyak cara untuk mengungkapkan sesuatu, tapi yang paling asik dengan cerita.
Ya, hari ini aku akan bercerita tentang story telling bisa dijadikan untuk menyampaikan sesuatu. Aku pernah menulis sebuah cerpen saat kelas dua SMA. Sebenarnya ini merupakan tugas mata pelajaran bahasa Indonesia. Pak Didik, guruku saat itu, meminta kami agar menulis sebuah cerpen. Tema dan alur cerita terserah. Entah bagaimana, aku menulis sebuah cerpen rekaanku sendiri tentang pergerakan mahasiswa tahun 1998. Aku beri judul cerpen itu “Jakarta Sore Itu”.
Cerpen ini bercerita tentang mahasiswa aktifis yang terlibat aktif dalam upaya penjatuhan Soeharto dan menuntut reformasi. Dia sudah dilarang ibunya untuk ikut dalam aktivitas seperti itu. Singkat cerita, tubuhnya diterjang peluru tajam dari aparat. Cerpen ini aku dedikasikan untuk elang dan 3 mahasiswa Trisakti lainnya yang gugur.
Tema cerpen seperti ini tidak lazim ditulis oleh anak SMA kelas 2. Di saat lainnya menulis tentang romansa, persahabatan, atau tema sejenisnya, aku malah menulis tentang reformasi. Pak Didik sempat memanggil aku karena ini. “Kenapa kamu menulis dengan cerita ini?” tanya beliau di ruang guru. Aku dengan singkat menjawab, “Saya tidak suka Soeharto.” Jawaban singkatku saat itu.
Aku memilih cerita untuk mengungkapkan pemikiran dan perasaanku dengan sebuah cerita. Tidak ada jargon keras di dalamnya, tidak ada tuntutan eksplisit di dalamnya. Hanya sebuah cerita ibu yang kehilangan anak aktifis. Pemikiran yang diungkapkan dengan cerita, apalagi sebuah cerita yang dekat dengan kita, akan lebih mudah sampai pada orang yang membaca atau mendengar. Kita tidak perlu menyusun argumen panjang untuk sebuah pemikiran.
Ditulis di kamar, rumah.
5 Januari 2018
#30HariBercerita
Rabu, 03 Januari 2018
Halo hari ketiga untuk #30HariBercerita. Aku mau cerita tentang…. Cerita. Cerita atau bahasa kerennya sekarang itu story telling adalah hal yang sangat dekat dengan kehidupanku. Aku bisa membaginya ke dalam 3 fase. Fase pertama adalah story telling sebagai hiburan. Fase kedua adalah story telling sebagai cara berkomunikasi. Fase ketiga, story telling sebagai alat propaganda. Biar agak panjang dan aku biar ada bahan untuk tiga hari ke depan, aku akan bahas per fase.
Untuk kali ini aku akan bercerita tentang story telling sebagai hiburan. Aku mulai berkenalan dengan story telling sejak aku masih sangat kecil. Ayahku sering mendongengkan aku berbagai cerita sebelum tidur. Ya, dongeng adalah alat story telling paling sederhana dan paling awal yang aku kenal, sebelum aku berkenalan dengan story telling berupa tulisan. Saat aku mulai besar, aku mulai berkenalan dengan story telling berupa tulisan. Aku sudah lupa kesenanganku membaca dimulai sejak kapan. Tapi kemungkinan besar sejak kelas 4 SD. Sejak aku pindah tinggal bersama nenek di Ponorogo. Sebelumnya aku tinggal bersama orang tuaku di desa yang cukup pelosok di Blitar bagian selatan. Dikarenakan orang tuaku khawatir akan kualitas pendidikanku, aku dipindah untuk tinggal bersama nenekku di Ponorogo. Sebelumnya, akses bacaan sangatlah sulit di desa. Perpustakaan sekolah hanyalah ruang berdebu tempat meletakkan buku satu rak, bersama dengan barang-barang tidak terpakai. Dan pada akhirnya, perpustakaan nyaman hanyalah dongeng pada saat itu. Ketika di Ponorogo, mulailah terbuka bahan bacaan yang sangat luas. Yang aku suka? Komik tentu saja. Tidak berat. Komik sinchan. Dan beberapa seri komik lain yang aku punya sepeti paman gober dan komik disney lainnya. Bahan bacaan lain? Kebanyakan cerita rakyat atau legenda.
Cerita sebagai hiburan. Ya, cerita selalu bisa menghiburku. Sinchan tidak pernah gagal membuat aku tertawa. Paman gober menyusul berikutnya. Dan pada akhirnya aku sangat keranjingan dengan membaca. Dikarenakan tidak tahunya cara membaca dengan sehat, aku mendapatkan kaca mata pertamaku di kelas 4 SD. Kelas 5 mulai berkenalan dengan novel. Novel pertama yang aku baca adalah Harry Potter and the Sorcerer's Stone, pemberian Om Nanang. Makin menjadi saat aku kembali tinggal bersama orang tua di Blitar. Kali ini di kota. Aku masih ingat, di kota Blitar ada persewaan komik. Mungkin aku menjadi salah satu pelanggan tetap di sana. Alhamdulillah, aku mempunyai orang tua yang mensupport kebiasaan membaca cerita ini. Seluruh serial Harry Potter dibelikan oleh ayahku.
Ya, cerita tidak pernah gagal menjadi hiburan. Hiburan bernilai, hiburan yang menyentuh, hiburan yang menginspirasi. Cerita tidak harus disampaikan dalam tulisan, karena ada yang bilang budaya Indonesia itu bukan budaya baca tulis, tapi budaya tutur. Namun apapun bentuknya, story telling menjadi alat hiburan sederhana untukku. Bagaimana dengan kamu?
Ditulis di kegalauan malam hari
3 Januari 2018
#30HariBercerita
Selasa, 02 Januari 2018
Hari sudah akan berganti, tapi aku baru memulai cerita hari ke dua untuk #30HariBercerita. Untuk malam ini aku akan cerita tentang membaca. Akhir-akhir ini aku mulai lagi memupuk semangat untuk menyelesaikan membaca buku. Setelah sekian lama aku tidak pernah menyelesaikan membaca satu buku utuh. Kalau ada yang bertanya, emang baca harus satu buku utuh? Aku pikir tidak. Kamu bisa melewati bagian yang mungkin kamu kurang suka. Mungkin juga kamu bisa menyelingi dengan buku lain. Namun kalau aku pikir, ada bahayanya kalau kamu berhenti membaca di tengah jalan. Kamu hanya mengerti sebagian topik dari keseluruhan ide yang ada di dalam buku. Emang akibatnya apa? Ada kemungkinan kamu salah tafsir atas ide buku itu, atau kamu salah “ilmu” dalam merespon sesuatu. Analogi sederhananya adalah kamu tidak akan rela diperiksa oleh dokter yang hanya belajar satu bagian tubuh saja kan? Yup, semua muara dari membaca sebagian buku adalah kedangkalan. Ya masih mending ini sih daripada kamu membaca artikel online dengan hanya membaca judul saja (btw, banyak netizen yang kayak gini sih)
Kenapa sih aku sempat malas baca buku? Aku berpikir, mungkin penyebab utamanya aku malas. Okay, aku tidak memungkiri itu. Tapi ada penyebab lain kenapa aku jadi malas membaca buku. Karena aku terbebani sesuatu dalam membaca buku. Yup, beberapa kali aku memilih buku yang sebenarnya aku tidak suka. Namun karena ada beban, antara lain agar bacaanku lebih berbobot, atau membaca buku rekomendasi orang terkenal, atau terbebani best seller, atau yang paling sering adalah membaca buku dengan topik terkini, akhirnya aku membaca sesuatu yang tidak aku suka. Yang pada akhirnya, aku hanya terbebani argumen-argumen saja. Tidak menyentuh aspek dalam hidupku. Akibatnya aku dan buku itu menjadi berjarak. Menyelesaikannya pun menjadi beban. Nah pada akhirnya, aku tidak ada keinginan untuk menyelesaikan satu buku utuh.
Karena itu, akhir-akhir ini aku membaca buku yang benar-benar aku suka, atau topiknya memang dekat dengan kehidupan personalku. Aku sekarang sedang berusaha menyelesaikan dua buku yang aku selang-seling bacanya, yaitu buku Hidup Sederhana dari Desi Anwar dan When Strangers Meet dari Kio Stark.
Kalau kamu, apa buku yang sedang kamu baca?
Ditulis di kosan di tengah deadline kerjaan kantor
2 Januari 2018
Senin, 01 Januari 2018
Aku memulai #30HariBercerita dengan tidak mood. Dalam kepalaku aku sudah punya kerangka cerita yang lain, cerita menyenangkan tentang pantai. Tapi malam ini tiba-tiba perasaan menjadi tidak enak. Daripada aku tetap menulis dan nanti pada akhirnya jadi tulisan galau nan cengeng, mohon maaf tulisan hari pertama tidak terlalu menyenangkan.
Tapi, tahukah kalian apa yang bisa membuat hati orang bisa sedikit lebih baik? Kata beberapa orang, termasuk psikolog, dengan membuat daftar apa yang kamu syukuri hari ini. Oke, biar hati ini agak mendingan, kita buat gratitude list aja ya.
1. Hari ini supermoon. Hei, kalau kau lihat bulan di tanggal 1 Januari 2018 ini, bulan begitu terlihat dekat dan besar. Sekilas yang aku baca, hari ini adalah titik terdekat bumi-bulan untuk sekian tahun. Bulannya indah dan terang banget meskipun kamu melihatnya dari Jakarta.
2. Hari ini nyoba nyari barang, dan berhasil. Walau agak mahal dibandingkan perkiraan, setidaknya berhasil dapat. Barangnya apa? Emmm… tidak untuk diceritakan dulu deh.
3. Badan yang kemarin remuk redam, hari ini agak mendingan. Oleh-oleh dari pantai dan nyetir 12 jam adalah badan yang lemas seharian. Nah, hari ini udah jauh lebih mendingan.
Sebenarnya banyak lagi sih hal-hal yang seharusnya disyukuri hari ini, tapi itu dulu aja yang di share kali ini. Semoga kita bisa tetap bersyukur tiap paginya.
Ditulis di warung seafood tebet
1 Januari 2018
Dalam rangka #30HariBercerita