Catatan Kecil: Personal Opinion
Tampilkan postingan dengan label Personal Opinion. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Personal Opinion. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Juni 2025

Nilai dari Purwokerto

Juni 07, 2025 0
Nilai dari Purwokerto

Kalau kamu melakukan perjalanan di kota-kota kecil, ada saja nilai atau kebiasaan yang dilakukan oleh penduduk sekitar yang kamu tidak akan temukan di kota besar seperti Jakarta. Sebagai penduduk Jakarta, kamu akan terheran-heran ketika kamu melihat dan mengalaminya. Apa saja hal baru yang aku temui di Purwokerto?



Selasa, 06 Agustus 2024

Surat Kangen untuk Internet

Agustus 06, 2024 0
Surat Kangen untuk Internet


 

Andai saya punya mesin waktu di laci meja, saya akan kembali di sekitar tahun 2010 sampai di tahun 2018. Tahun-tahun di mana saya benar-benar menikmati apa yang ada pada dunia internet. Saya hampir bisa menikmati semua platform mulai dari facebook, twitter, blog, dan awal kemunculan Instagram. Saat ini saya masih mempunyai akun di semua platform itu, tapi banyak hal yang saya sukai hilang.

Sabtu, 01 Januari 2022

MRT itu Moda Raya Terpadu

Januari 01, 2022 0
MRT itu Moda Raya Terpadu

Selamat Tahun Baru 2022 untuk semuanya. Syukur Alhamdulillah sudah sekian lama Jakarta bertahan di PPKM level 1, yang mempunyai pertanda bahwa wabah ini mulai terkendali. Ya, terkendali, belum usai. Masih ada varian baru yang mengancam. Paa ahli belum mengetahui benar bagaimana varian baru ini bekerja dan seberapa bahaya dibanding dengan varian-varian sebelumnya.

 



Sebagaimana bulan januari tahun lalu, saya mulai kembali #30HariBercerita. Kita mulai saja dulu. Kalau pun berhenti di tengah jalan, ya ga papa. Seperti tahun kemarin juga, karena saya malas untuk mencari topik, saya menggunakan kata kunci yang dipakai komunitas thepodcaster Indonesia saat mereka menyusun tantangan 31HariBersuara yang mereka laksanakan di bulan desember.

 


Untuk 30HariBercerita ini, saya mencoba menghubungkan kata kunci yang ada dengan Jakarta. Provinsi yang kuhuni selama 8 tahun terakhir. Hubunganku dengan Jakarta ini sangat berwarna. Semua rasa pernah ada. Harap, marah, lelah, pesimis, senang, bahkan cinta. 30 tulisan saya persembahkan untuk Jakarta. Lebih sulit tentu saja karena pengetahuanku tentang Jakarta juga masih terbatas walaupun saya sudah sewindu di Jakarta.

 

Saya ingin bercerita tentang penyebutan-penyebutan layanan dan infrastukutur di Jakarta. Semenjak Pak Anies menjabat sebagai gubernur, beliau selalu mengusahakan pemberian nama layanan dan infrastruktur di Jakarta dengan sebutan dan istilah menggunakan bahasa Indonesia. Tidak hanya itu, kepanjangan dari singkatan asing pun diubah menjadi bahasa Indonesia.

 

Ini bukan pertama kali Pak Anies mengutamakan bahasa Indonesia sebagai pilihan utama dalam pemberian istilah. Saya mendengar beberapa istilah dipopulerkan bahasa Indonesia atau bahasa daerah untuk penyebutan sesuatu saat beliau menjabat sebagai menteri. Saya pertama kali mendengar istilah smong sebagai pengganti kata tsunami saat beliau menjadi pembicara di salah satu acara blogger. Smong adalah istilah dari Aceh untuk menyebut gelombang laut yang besar setelah gempa bumi atau yang kita sering menyebutnya sebagai tsunami.

 

Apakah ini hal yang baru? Tidak. Entah di umur berapa saya mengetahui kepanjangan asli dari ATM adalah Automatic Teller Machine. Saya mengenal ATM dari kecil sebagai Anjungan Tunai Mandiri. Berarti pengindonesiaan istilah asing sudah dilakukan sejak dulu.

 

Apa saja layanan dan infrastruktur di DKI yang memakai istilah bahasa Indonesia?

 

MRT

 

Mass Rapid Transportation. Begitu istilah yang jamak dipakai. Pemprov DKI melalui PT MRT Jakarta memilih istilah Moda Raya Terpadu. Kalau disingkat tetap MRT. Bukan sekedar menerjemahkan bahasa Inggris, namun ada upaya memberi makna baru dalam istilah tersebut. Terpadu atau integrasi merupakan jargon utama layanan transportasi umum di era Pak Anies.

 

JakLingko

 

Saat masa kampanye, pasangan Anies-Sandi tidak menyebut integrasi transportasi ini sebagai JakLingko. OkOtrip adalah istilah yang dipakai saat itu. Saat peluncuran program ini, dipilih nama resmi yaitu JakLingko. Lingko adalah system persawahan yang ada di Kabupaten Manggarai, provinsi Nusa Tenggara Timur. Lingko adalah system persawahan yang berbentuk seperti jaring laba-laba. Filosofi ini yang coba dipakai dan ditularkan menjadi prinsip terintegrasinya antar layanan transportasi.

 

Apakah ini penggunaan bahasa Indonesia ini sudah konsisten? Belum. Masih banyak infrastruktur yang lahir di era Pak Anies, tapi menggunakan istilah asing. Pelican Crossing, Sky View Deck, dan Penamaan Jakarta International Stadium merupakan contoh penggunaan istilah asing dalam penamaan layanan dan infrastruktur.

 

Seberapa penting? Penting menurut saya pribadi. Ini bukan masalah kebanggaan penggunaan bahasa dari negeri sendiri. Pertama, dengan penyebutan istilah dengan bahasa Indonesia atau bahasa daerah, kita juga melestarikan kekayaan bahasa yang dimiliki Indonesia. Kedua, mendekatkan konteks lokal ke masyarakat. Penggunaan Anjungan Tunai Mandiri sebagai kepanjangan ATM berfungsi memberi gambaran ke masyarakat tentang cara kerja mesin tersebut.

 

Bagian 1: Panggilan

Jumat, 31 Desember 2021

Cara Baru Menikmati Berita

Desember 31, 2021 0
Cara Baru Menikmati Berita

 Entah dimulai kapan saya mulai menyenangi membaca koran. Satu hal yang saya ingat pasti adalah, mulai kelas dua SMP, saya rebutan dulu-duluan dengan Pak Satpam untuk membaca koran di perpustakaan sekolah. Saat saya datang di pagi hari, saya meletakkan tas di kelas dan langsung meluncur ke perpustakaan. Pustakawan bahkan belum membuka dan menata koran pagi kiriman pengantar koran.

 


Koran apa yang saya baca? Jawa Pos. Setahu saya, koran besutan Pak Dahlan Iskan itu merupakan koran dengan oplah terbesar di Jawa Timur. Selain headline di halaman depan, ada beberapa rubrik yang suka saya baca, yaitu tulisan kolom Pak Dahlan Iskan, Deteksi, dan ekonomi bisnis. Di jawa timur, ada satu koran yang cukup terkenal yaitu Surya. Mungkin karena harganya murah. Saya tidak pernah membaca koran itu.

 

Berlanjut ke SMA, saya tidak ke perpustakaan lagi. Saat itu perpustakaan di SMA saya gelap, pengap, dan tidak nyaman. Akhinya saya membaca koran saat pulang ke rumah. Ayah memang langganan Jawa Pos. Kali ini competitor rebutan saya adalah kakak saya, tapi sering kali dia membaca rubrik olahraga terlebih dahulu. Rubrik yang tidak pernah saya sentuh.

 

Berlanjut ke kuliah, saya tetap membaca koran. Saya rela memangkas budget sarapan saya untuk membeli koran. Kalau sedang awal bulan, saya membaca Kompas. Harganya 3.500 rupiah. Jika akhir bulan, saya membeli Koran Tempo dengan harga 1,000 rupiah. Biasa saya baca saat jeda perkuliahan atau saat menunggu sarapan favorit saya kala itu, nasi kuning, disiapkan oleh penjualnya.

 

Era Dotcom Meledak

 

Saya mungkin orang yang terlambat membaca berita di laman daring. Saat kuliah saya masih sempat dan nyaman membaca koran cetak. Tidak ada kebutuhan untuk membuka portal berita elektronik. Hanya sesekali saja. Saat saya mulai bekerja di Jakarta, saya menilai koran cetak tidak praktis lagi. Alasan klasik, saya harus bekerja pagi hingga petang. Mulai saat itu saya mulai mengkonsumsi portal berita daring.

 

Kelebihan dari portal berita daring adalah kecepatan. Tidak perlu menunggu ke percetakan dan distribusi untuk sampai ke masyarakat. Hanya dalam hitungan detik, semua bisa tersebar. Keunggulan kedua adalah gratis. Bisnis modelnya tidak sama dengan koran cetak. Pemasukan dari oplah koran tidak ada lagi. Masyarakat dapat menikmati berita tersebut secara gratis. Portal berita mendapatkan pemasukan dari iklan yang terpasang pada laman berita tersebut.

 

Di balik keunggulan itu semua, ada dua hal yang paling menjengkelkan saya. Pertama adalah kualitas dan keakuratan berita. Dengan tuntutan kecepatan, wartawan kurang waktu untuk mendalami fakta-fakta yang ada. Saya paham ada namanya validasi berjenjang. Portal berita akan melempar berita ke masyarakat berdasar temuan awal. Seriring berjalannya waktu, wartawan menemukan fakta-fakta yang lebih lengkap dan komplit, sehingga berita yang benar-benar valid adanya di ujung.

 

Kedua adalah iklan. Saya sudah tidak ingat kapan terakhir kali membuka detikdotcom karena jengah dengan banyaknya iklan yang terpampang. Iklan merupakan pemasukan utama dari portal berita, sehingga pasti mereka mengundang produk untuk beriklan di portal mereka sebanyak-banyaknya. Bahkan ada fenomena klik bait yang diduga untuk mendongkrak traffic yang ujung-ujungnya ke perolehan pendapatan iklan.

Portal Berita Daring Berbayar

 

Sekarang perusahaan portal berita daring ramai meluncurkan model bisnis berbaru yaitu langganan berbayar. Dengan adanya langganan berbayar, saya mengharapkan kualitas konten berita akan lebih baik karena portal berita tidak kejar setoran iklan. Tidak muncul lagi berita klik bait ataupun berita yang terburu-buru sehingga validitasnya masih tanda tanya. Dengan adanya layanan berbayar ini, portal berita gratis tidak serta merta menghilang. Mereka masih mempertahankan portal berita gratis dengan bisnis model yang lama

 

Saya pertama kali langganan portal berita adalah Tempo. Saya mengincar Koran Tempo dan Majalah Tempo. Sesuai yang saya uraikan di atas, saya tidak nyaman membaca berita daring yang realtime. Ada ketidakpercayaan tentang validitas beritanya. Membaca Koran Tempo ini seperti kembali saat kuliah, bedanya ini benda elektronik. Berita tentang suatu topik diulas lebih tajam dan lebih lengkap. Kalau kita berbicara Majalah Tempo, lebih dalam lagi keakuratan investigasinya.

 

Langganan kedua adalah Gramedia Digital. Kamu tidak hanya mendapatkan koran dan majalah secara lengkap, tapi kamu bisa membaca seluruh konten digital di Gramedia, termasuk semua eBooknya. Untuk ini memang best deal menurut saya.

 

Langganan ketiga adalah Kumparan+. Ini sebenarnya isinya bukan konten berita, namun lebih banyak kolom dan opini. Kekuatan dari Kumparan+ terletak pada kontributornya. Penulis konten di sini bukanlah orang main-main. Hampir semua expert atau senior di bidangnya. Ada Seno Gumira Aji, Dea Anugrah, Zainal Arifin Mochtar dan expert lainnya. Kamu akan mendapatkan sudut pandang dari orang yang kredibel.

 

Pengalaman saya berlangganan di ketiga portal ini sejauh ini sangat memuaskan. Saya bisa mendapatkan konten yang saya bisa percaya dan saya bisa jadikan referensi. Tata bahasa yang digunakan pun lebih enak dibaca dibanding portal berita gratisan.

 

Untuk harga, saya berpendapat biaya yang saya keluarkan sudah layak. Worth it kalau kata orang. Jika kamu berlangganan satu portal berita saja, itu jauh lebih murah dibanding dengan membeli koran cetak di jaman dulu. Ada beberapa orang yang enngan membayar dengan alasan sudah terbiasa dengan berita gratis. Ada juga yang berkeberatan karena memang langganan berita berbayar tidak untuk semua level pendapatan.

 

Harapan Portal Berita Mendatang

 

Jika kualitas berita berbayar sudah semakin baik, maka konten berita berkualitas semakin melimpah. Kita bisa mendapatkan tentang topik apapun dengan mudah. Lalu, apa selanjutnya? Dengan melimpahnya konten berkualitas ini akan menimbulkan satu ruang perbaikan lagi yaitu kurasi.

 

 Kurasi, atau pemilihan konten, sering dianggap remeh. Dengan melimpahnya informasi, ada orang yang berpendapat kurasi merupakan kegiatan yang mudah dilakukan. Menurut saya, justru melimpahnya informasi itu perlu kemampuan pemilahan informasi agar orang-orang dapat menikmati konten yang sesuai dengan dia.

Jika kita mengandalkan alogoritma, maka ada resiko orang-orang akan terkungkung ke bubble kebenaran yang dia yakini karena portal berita hanya mengumpan berita yang sesuai dengan kesukaan dia. Nah, di sinilah konsep kurasi yang saya bayangkan akan dibutuhkan di masa mendatang. Kebutuhan perimbangan informasi untuk semua orang yang akan mengurangi bubble kebenaran masing-masing orang.

 

Saya semakin senang dengan muculnya langganan porta berita ini. Semoga industri media semakin sehat dan masyarakat makin mudah mendapatkan konten berkualitas.

 

Terima kasih


Selasa, 21 Desember 2021

Hidup Belum Tentu Berjalan Seperti Bajingan

Desember 21, 2021 0
Hidup Belum Tentu Berjalan Seperti Bajingan

Lagu itu mulai mengalun saat es di kopiku mulai mencair setengahnya. Buku yang kubaca kutaruh sebentar. Kupasang dengar lebih tajam dari biasanya. Sang penyanyi mulai melantunkan liriknya. Begini kata Nadin Hamizah dalam Bertaut.

 

Bun, hidup berjalan seperti bajingan

Seperti landak yang tak punya teman

 

Kubiarkan lagu itu berlalu, sambil kukenang dalam liriknya.

 


Di kesempatan lain, aku dan seorang sahabat berada di Bali. Kami hendak pergi ke Tulamben dari posisi kami di Ubud. Kucari rute terbaik di Google Map. Aku diarahkan oleh peta elektronik ini ke arah utara melalui Danau Batur. Awalnya kami sangat menikmati perjalanan ini. Melalui desa asri, persawahan terhampar luas, dan jalanan mulus tapi sepi. Ada saatnya kami menyusuri tepian Danau Batur dengan hawa yang sejuk.

 

Permasalahan dimulai setelah kawasan Danau Batur. Jalanan mulai mendaki dan sulit. Di beberapa titik, sepeda motor kami yang 150cc bahkan tidak kuat mengangkat kami berdua. Sebagai yang punya badan besar dan lebih gampang dipersalahkan mengenai beban, akhirnya aku turun dan jalan kaki sampai di titik motor kembali normal. Di titik lain, kami melewati turunan curam yang sedikit saja terlambat mengerem, kami tidak akan bisa menikmati Nasi Kedawetan Ibu Mangku selepas pulang.

 

Singkat kata kami sampai ke Tulamben. Aku iseng mengganti warna peta menjadi indeks ketinggian. Aku baru sadar kami dilewatkan gunung. Sebuah tempat yang menjadi pilihan tak bijak untuk dilalui motor matic. Saat pulang, aku memilih jalur lain yang lebih manusiawi walau jauh memutar.

 

Peta memang tak menggambarkan kenyataan secara detail. Ada faktor kompleks yang dipangkas untuk mendapatkan kesederhanaan penjelasan. Kita tidak bisa mengandalkan peta sepenuhnya, namun dia bisa menjadi alat bantu. Tidak sepenuhnya akurat, tapi cukup bisa menjelaskan. Peta itu termasuk jenis pemodelan.

 

Pun dengan analogi. Kita sering menggunakan perandaian untuk menyederhanakan penjelasan yang disampaikan ke seseorang agar lebih mudah dipahami. Seperti dalam teknik pemodelan lain, banyak faktor yang dipangkas untuk mendapatkan kesederhanaan. Untuk menjelaskan lebih detail, kamu harus menarik lagi penjelasanmu dari analogi tersebut kembali ke kenyataan.

 

Hal yang aku benci dari analogi adalah menganalogikan persoalan hidup. Banyak analogi hidup yang kita dengar sejak kita mulai ditampar kenyataan. Dengan niatan meringankan penderitaan kita, orang lain mulai berceramah tentang hidup menggunakan analogi. Hidup itu bagaikan….

 

Dalam pengandaian itu, banyak faktor yang dipangkas seperti kondisi perasaan, situasi pendukung, reaksi orang sekitar, atau keberuntungan tidak berpihak. Kita dipaksa untuk tidak menjejakkan kaki di persoalan sebenarnya hanya untuk mengejar kesederhanaan pikirian. Seolah persoalan yang kita hadapi itu jalan lurus dan datar seperti pemodelan peta sederhana.

 

Kesalahan pemilihan analogi menjadi hal yang menyebalkan kedua. Untuk mengacaukan persoalan sebenarnya, ada yang memilih analogi yang sama sekali tidak menggambarkan keadaan yang terjadi. Pendengar digiring untuk masuk ke analogi yang disampaikan dan meninggalkan jauh inti persoalan sebenarnya.

 

Hal yang menyebalkan lagi adalah, kita cenderung menggambarkan diri kita menjadi tokoh protagonist dalam cerita analogi tersebut. Melindungi diri dan keengganan untuk menunjuk hidung siapa yang bermasalah menjadi latar kenapa kita cenderung menggambarkan diri kita sebagai pahlawan atau korban dalam sebuah analogi. Kita tidak pernah menggambarkan diri kita menjadi kurawa atau sengkuni dalam cerita mahabarata, padahal kita sangat mungkin lebih berangasan dari pada kurawa dan lebih licik dari sengkuni.

 

Hadapi saja kenyataan hidup yang ada. Tunjuk saja di mana titik yang busuk. Bukan untuk menyerah, namun untuk memperbaiki. Aku benci saat kita menipiskan kenyataan. Kita tidak bisa menutupi bau bangkai dengan tumpukan bunga melati.


 ***


Es dalam gelas kopi susuku terus mencair. Gelasnya mulai berembun banyak. Lagu itu terus megalun sampai habis hingga berganti lagu lain. Liriknya masih tersisa di ingatan. Apakah hidup sesederhana di lirik lagu itu? Hidup belum tentu berjalan seperti bajingan, karena sangat mungkin lebih jahat dan lebih menyakitkan. 




Photo by Sonnie Hiles on Unsplash

Minggu, 19 Desember 2021

Omelan Tentang Transportasi Jakarta

Desember 19, 2021 0
Omelan Tentang Transportasi Jakarta

Malam itu, seusai hujan rintik-rintik, aku melajukan sepedaku mengitari lapangan merdeka, atau lebih diknenal lapangan Monas, di pusat kota. Setelah mengitari lapangan tersebut empat kali dan merasa aku telah mengucurkan keringat yang cukup untuk disebut olahraga, aku memutuskan untuk pulang. Aku mengarahkan sepedaku ke daerah tugu tani. Setelah lampu merah, aku melaju seperti biasa menuju ke arah Cikini.

 

Di antara mobil-mobil, tiba-tiba banku terperosok ke celah kecil penutup lubang drainase. Karena seolah banku dijepit, sepedaku langsung limbung. Aku terpelanting. Beruntung mobil di belakangku sempat mengerem, sehingga aku selamat dari kecelakaan lebih lanjut. Banku bengkok tak karuan dan harus diganti. Lubang tersebut tak pernah aku sadari karena itu tidak akan terasa bagi sepeda motor atau mobil. Sangat berbahaya untuk sepeda yang mempunyai penampang ban yang kecil.

 


Kisah lain di saat makan siang di kantor, ada seorang kawan mengomel-ngomel. Di daerah tempat tinggalnya, sedang ada pelebaran trotoar untuk pejalan kaki. Dia, sebagai pengguna mobil, merasa itu mengganggu kelancaran berkendara. Laju mobil lebih lambat dari biasanya. Omelan yang sama aku baca juga dari cuitan seorang politisi yang sudah ditendang keluar oleh partainya. Dia ngomel soal pelebaran trotoar di daerah Kemang. Dia menganngap ini tidak pro pengendara mobil.

 

Kisah lain saat aku berjalan kaki, lagi-lagi, di daerah Tugu Tani. Aku merasa sangat kesulitan untuk menyebrang dari KFC ke arah Tugu Tani. Di tempat itu ada zebra cross, namun rasanya sangat berbahaya kalau kita menggunakannya mengingat padatnya lalu lintas di kawasan itu. Rasanya aku sudah melewati Tugu Tani ratusan kali, tapi tak pernah menyadari kesulitan tersebut karena aku selalu lewat menggunakan sepeda motor.

 

Sebagai manusia, rasanya kita memang ingin rasa nyaman dalam segala hal, termasuk berkendara. Permasalahan terjadi ketika kenyamanan kita bersinggungan dengan kenyamanan orang lain. Konflik terjadi di antara irisan zona kenyamanan antar orang. Di situlah peran dari aturan dan hukum. Tidak semua orang bisa mendapatkan kenyamanan yang penuh, namun tidak sampai menderita juga.

 

Lalu, orang mana yang harus didulukan untuk mendapatkan prioritas kenyamanan. Nah, di sini pentingnya narasi pembangunan. Pak Gubernur sudah menyatakan bahwa prioritas transportasi adalah pejalan kaki, lalu kendaraan bebas emisi, lalu transportasi publik, dan terakhir adalah kendaraan motor pibadi.

 

Beberapa tahun terakhir, memang pembangunan Jakarta mengikuti narasi pembangunan ini. Trotoar dibuat lebar, nyaman dan aman. Jalur permanen sepeda dibuat di beberapa ruas. Penambahan dan pengintegrasian layanan transportasi umum juga semakin baik.

 

Kebijakan tidak mungkin menyenangkan semua pihak. Aku tidak akan menyalahkan siapa yang mengeluh tentang kenyamanannya terganggu karena memang manusia itu makhluk sambat, namun rasanya perlu kita mencoba sekali-kali berdiri di sepatu orang lain dalam hal transportasi ini. Sudah terlalu sering rasanya aku membaca perang cuitan di media sosial mengenai urusan bagaimana manusia berpindah.

 

Pesepeda ngomel tentang motor yang mengambil jalur sepeda, mobil yang ngomel karena pesepeda yang bergerombol, motor yang mengomel mobil memenuhi jalanan dari kanan sampai kiri, dan segala omelan tentang transportasi Jakarta. Semua terjadi di atas sepatu masing-masing.

 

Atau sebenarnya kita tidak perlu berdiri di sepatu orang. Hanya dibutuhkan ruang dialog antar pengguna moda untuk mendapatkan tesa, antitesa dan sintesa secara terus menerus, sehingga kebijakan transportasi ini akan dapat diterima oleh semua orang. Tidak mungkin sempurna, setidaknya diterima.

 

Siapapun gubernur dari Jakarta tidak bisa menghentikan omelan-omelan yang akan abadi terjadi di kota ini karena sekali lagi, kita memantg makhluk sambat. Aku teringat satu cuitan yang aku baca di twitter. Ada yang bilang, "Pas gue naik sepeda, gue ngomel-ngomel ke mobil yang menuhin jalanan. Pas selesai sepedahan dan sepedanya gue naikin ke mobil, gue mulai ngomel ke pesepeda yang ngerasa punya jalan."


Iya, tulisan ini juga sebuah omelan dari seseorang yang sangat cinta dengan kota ini. Tak punya kuasa banyak, hanya mengomel yang dia bisa. Akhirnya aku balik lagi ke sepeda yang kukayuh di Jakarta ini.

Senin, 29 November 2021

Pengalaman Menggunakan Layanan Pos Indonesia

November 29, 2021 0
Pengalaman Menggunakan Layanan Pos Indonesia

Halo semua, bagaimana kabar kalian akhir pekan ini? Semakin menurunnya kasus Covid diiringi dengan meningkatnya kepercayaan diri masyarakat untuk beraktifitas di luar ruangan. Berapa acara luring mulai digelar. Paling mencolok bagiku adalah Ubud Writer and Reader Festival (UWRF) diadakan dengan cara campuran (gabungan daring dan luring). Kesuksesan UWRF disusul dengan penadaan beberapa acara campuran. Di akhir pekan ini ada dua acara yang aku tahu yaitu Patjar Merah dan Ideafest. Aku datang ke Patjar Merah, dan mendapatkan beberapa cerita menarik. Aku akan ceritakan di kiriman selanjutnya.

 


Minggu ini aku juga melakukan hal yang sudah lama sekali yang tidak aku lakukan, yaitu menggunakan layanan Pos Indonesia. Waktu itu aku ada kebutuhan untuk mengirimkan barang ke beberapa penerima. Tentu pilihan penyelenggara ekspedisi beragam, namun aku menjatuhkan pilihan ke Pos Indonesia. Mengapa? Karena satu sosok yaitu Faizal Rochmad Djoemadi, CEO Pos Indonesia.

 

Aku melihat wawancara Pak Faizal dalam sebuah acara di Youtube, yaitu Beginu. Dipandu oleh Wisnu Nugroho, pimred Kompas.com, Pak Faizal mengisahkan proses transformasi yang dia lakukan di Pos Indonesia. Ada beberapa langkah strategis maupun taktis yang dia lakukan untuk membawa Pos Indonesia yang hampir mati ini menjadi bertahan atau malah lebih baik lagi. Langkah dari A sampai Z dia paparkan dalam sesi itu. Kalau istilah orang Jakarta, aku kebeli oleh paparan beliau.

 

Itulah kenapa aku memutuskan untuk menggunakan layanan Pos Indonesia. Sangat kebetulan tempat tinggalku berdekatan dengan kantor Pos yang buka 24 jam, sehingga memudahkanku  untuk mengirim barang itu kapan saja. Mungkin 3 kali aku datang ke kantor Pos tersebut. Dalam kantor Pos tersebut aku memang melihat beberapa kemajuan yang disebutkan oleh Pak Faizal, namun masih banyak ruang yang perlu perbaikan.

 

Perbaikan yang aku rasakan sebagai pelanggan adalah dibukanya layanan 24 jam itu sendiri sudah sangat bagus. Pos keluar dari kungkungan kerangka kerja itu ya jam 8 pagi sampai 5 sore. Hal kedua adalah adanya fasilitas untuk umpan balik dari pelanggan mengenai kinerja Pos Indonesia. Mulai dari memuaskan di paling atas, dan level kriminal di level paling bawah. Hal ketika adalah kemampuan pelacakan pengiriman dari barang kita. Hal ketiga yang aku apresiasi adalah ketepatan waktu penyampaian barang tersebut. Sampai sekarang aku tidak mengalami keterlambatan pengiriman barang. Bahkan jika aku mengirim barang ke orang tuaku yang ada di pelosok desa, Pos Indonesia mereupakan jasa layanan ekspedisi yang tercepat.

 

Mungkin kamu berpikir bahwa hal-hal tersebut memang standar minimum di penyedia ekspedisi, bahkan itu tidak perlu diapresiasi karena itu kewajiban. Betul, memang tidak ada yang istimewa dari hal-hal tersebut, namun aku tetap mengapresiasi perbaikan ini di Pos Indonesia.

 

Ruang perbaikan masih banyak yang aku rasakan. Pertama adalah standarisasi harga layanan. Harga layanan memang sudah tertera, namun aku menemui petugas nakal yang memainkan harga layanan. Dia menagihkan angka yang lebih besar dibanding dengan harga yang tertera. Jawaban dari dia tidak jelas. Karena aku malas berdebat dan menggali lebih dalam, ya sudah aku bayar dengan nominal yang dia tagihkan.

 

Packaging juga belum standar baik bentuk maupun harganya. Aku akan mengirimkan buku dari kantor pos di Pos Bloc, maka aku menanyakan apakah ini akan dibungkus lagi? Petugas di situ menjawab tidak. Waktu aku mengirimkan buku dari kantor Pos Cikini, petugasnya membantu membungkus lagi dengan plastik. Aku sebagai pelanggan tidak keberatan jika memang diharuskan membayar lebih untuk mendapatkan layanan pembungkusan yang bagus. Perhatian utamaku adalah keselamatan barang yang aku kirimkan, jadi membayar lebih ya tidak masalah.

 

Jika di ekspedisi lain, pasti akan diberi plastik pembungkus yang aman dan gratis. Jika kamu mengirimkan barang dengan kebutuhan perlindungan yang lebih, baru kamu akan dikenakan biaya tambahan. Biaya tambahannya pun standar di seluruh outlet. Hal ini yang tidak aku temukan di Pos Indonesia. Hal kecil yang sangat serius bagi aku.

 

Aku membayangkan berdiri di sepatu Pak Faizal, pasti aku sudah stress berat. Tidak mudah membelokkan kapal tua yang begitu besar dalam waktu yang cepat. Mentransformasikan perusahaan nasional dengan jumlah karyawan dan asset yang begitu besar tidaklah mudah. Diperlukan kerja kolosal yang dipimpin oleh kepemimpinan yang kuat. Pos Indonesia juga membuka ruang kolaborasi dengan pihak luar. Pos Bloc merupakan hasil karya dari kolaborasi Pos Indonesia dan Ruang Riang dalam pemanfaatan asset

 

Aku berharap Pos Indonesia ini bisa menjadi lebih baik lagi ke depannya. Pos Indonesia terlalu berharga untuk tidak bangkit dalam industri ekspedisi.


Photo by Bundo Kim on Unsplash

Kamis, 25 November 2021

Mengalahkan Ketidakmungkinan

November 25, 2021 0
Mengalahkan Ketidakmungkinan

Akhir-akhir ini aku sering menonton pertandingan basket pada liga DBL Indonesia Series. Basket, sebuah olahraga yang rasanya aku tak pernah tertarik memainkan ataupun menonton. Bahkan dari dulu pertama kali pegang bola basket di SMP sampai dewasa pun tak sekalipun tertarik. Entah hal apa yang akhirnya aku membuka livestreaming pertandingan DBL di kanal Youtube DBL Play.

 

Pertama kali yang aku lakukan adalah mencari info mengenai almamaterku. Apakah SMAku dulu bermain di liga ini. Ternyata yang masih bertahan waktu itu adalah team putri. Berawal dari nonton tim SMAku, aku mulai menonton pertandingan-pertandingan lain. Akhirnya keterusan untuk mengikuti semua series. Aku tak pernah menyangka menonton pertandingan basket bisa seseru itu.



Saat menyaksikan pertandingan 8 besar putri, SMAN 1 Blitar tertinggal 1 angka dibanding lawannya. Sedangkan waktu itu pertandingan tersisa 40 detik. Aku yang tak pernah menonton basket, aku tidak tahu seberapa mungkin sebuah tim bisa mencetak angka dalam 40 detik. Ternyata…. Wooalaa… SMAN 1 Blitar bisa membalikkan keadaan dalam 40 detik tersebut dan mereka keluar sebagai pemenang dan melaju ke semi final.

 

Aku bepikir, apa yang aku bisa lakukan dalam 40 detik. Mendengar lagu pun belum sampai reff. Untuk nyalain laptop bututku aja kayaknya butuh waktu lebih dari itu. Kalapun menengok olahraga lain, sepak bola misalnya, 40 detik tersisa hanya digunakan untuk mengulur waktu dengan cara pura-pura tejatuh dan berpura-pura kesakitan. Ternyata di basket bisa berbuah keajaiban.

 

Mengejar Ketidakmungkinan. Mungkin itu bukan istilah yang tepat. Mungkin di pertandingan basket, 40 detik memang kerap terjadi kejadian seperti itu. Aku sebagai penonton mula basket akan menyebutnya mengejar ketidakmungkinan. Semakin sering menonton pertandingan basket, setidaknya ada beberapa hal yang mendorong upaya mengejar ketidakmungkinan ini bisa berhasil.

 

Mental Juara

 

Bagi orang yang bermental lemah, mungkin akan berpikir, “Ah, tidak mungkin terkejar nih.” Pikiran-pikiran yang membatasi diri seperti itu kerap melanda ke orang yang memang tidak mempunyai mental juara. Pada pertandingan tersebut aku tidak melihat adanya kelesuan, kepanikan atau tanda-tanda menyerah. Mereka tetap mengupayakan yang terbaik. Saya tahu mental juara ada di tim itu.

 

Di beberapa pertandingan lain, aku juga melihat bagaimana performansi sebuah tim yang mentalnya kena. Permainannya seperti serampangan, sering melakukan kesalahan sendiri, dan sering melakukan pelanggaran. Aku juga melihat tim yang bisa bangkit dan membalikkan keadaan walau tertinggal jauh jika mereka sudah bisa menemukan momentum bermain. Permainannya tertata bagus, tenang, dan eksekusi strategi di lapangan pun terlaksana dengan baik. Mental memang berperan besar dalam suatu pertandingan.

 

Strategi Bermain

 

Di sisa 40 detik itu, pelatih dari SMAN 1 Blitar mengajukan time out. Penghentian sementara pertandingan. Tujuan timeout ini beragam. Menyusun strategi, mengistirahatkan pemain, atau memutus momentum lawan yang sedang bagus. Di kala itu, terlihat pelatih SMAN 1 Blitar memberikan instruksi kepada pemainnya. Setelah time out, pergerakan dari SMAN 1 Blitar sangat tertata. 40 detik itu benar-benar termaksimalkan dengan baik.

 

Kemenagan harus direncanakan, begitu kata orang. Perencanaan yang baik bisa menjadi pendorong untuk ketidakmungkinan bisa ditaklukkan. Penyusun strategi yang baik akan tetap berpikir dengan tenang dalam menyusun strategi. Resiko tetap diambil. Mungkin tidak berhasil, namun dalam strategi sudah harus sempurna.

 

Kemampuan Tim

 

Mental dan strategi sudah bagus, tinggal eksekusi di lapangan. Jika saja tim itu tidak mempunya pemain dengan akurasi tembakan yang bagus, maka ketidakmungkinan itu tidak akan terkejar. Dibutuhkan kemampuan individu yang baik untuk menciptakan peluang-pelunag emas.

 

Tidak hanya kemampuan individu, kemampuan tim secara menyuluruh juga berperan besar. Aku melihat ada sebuah tim yang mempunyai individu Tangguh, tapi tidak ada support yang kuat. Pada akhirnya pemain ini kelelahan. Aturan di DBL juga mewajibkan seluruh pemain wajib dimainkan minimal 6 menit. Jadi tidak akan ada pemain yang gabut. Karena itu kemampuan tim juga sangat penting.

 

Keberuntungan

 

Tidak semua orang setuju dengan keberuntungan. Jika semuanya sudah bagus, namun tetap belum takluk juga ketidakmungkinan tersebut, maka mungkin mereka kurang beruntung. Di beberapa pertandingan kedua tim menunjukkan performa yang sangat bagus. Saling menyusul perolehan angka. Pertandingan berakhir dengan selisih 1 angka. Ya, 1 angka. Bahkan angka satu bola pun tidak. Aku menyebutnya mereka yang kalah adalah tim yang kurang beruntung.

 

Tulisan ini emang agak sok iye, tapi sebagai penonton pemula basket aku benar-benar kagum dengan pertandingan-pertandingan yang aku saksikan di DBL ini. Semangat, mental dan kemampuan pemainnya sangat luar biasa. Semangat itu yang coba kuterapkan untuk mengejar ketidakmungkinan di kehidupan sehari 


Photo by TJ Dragotta on Unsplash




Sabtu, 13 November 2021

Menjadi Dewasa Tidak Menarik

November 13, 2021 0
Menjadi Dewasa Tidak Menarik

Apa yang paing tidak menarik menjadi dewasa lalu menjadi tua? Kita bisa menyebut sederet hal-hal yang tidak menyenangkannya menjadi tua. Tagihan, cicilan, tumpukan pekerjaan, tanggung jawab sosial, dan keluh kesah lainnya. Rasanya makin tua, makin banyak keluhan yang bisa terucap. Ada beberapa momen kita merindukan masa kecil kita, atau setidaknya masa sekolah.

 


Salah satu yang menjengkelkan dari bertambahnya umur menurutku adalah semakin jauh kita terhadap suatu momen manis. Ada yang mengibaratkan kita menjatuhkan kertas yang terbakar ke dalam sebuah sumur. Di bagian atas, kita masih bisa melihat dengan jelas nyala api. Semakin dalam maka semakin buram. Hingga di satu titik, kita tidak melihat lagi.

 

Begitu juga dengan momen manis. Semakin lama, semakin buram, hingga suatu titik kita tidak bisa mengingat kembali. Bisa juga semakin lama, perasaan kita terhadap momen itu semakin berubah. Masih ingat rasanya dulu saat aku baru lulus SMA dan teman-teman kita terpencar untuk kuliah di kota masing-masing, kita masih sangat merindukan satu sama lain. Kita merindukan momen indah semasa sekolah. Makin lama, momen itu mulai menghilang dan rasa itu mulai berubah. Reuni yang dulu adalah kegiatan yang dinantikan, sekarang tidak terjadi lagi.

 

Makin lama, orang yang ada pun makin berkurang. Masih ingat momen lebaran saat kecil? Mungkin ada orang tua kita, kakek, nenek, paman, bibi dan keluarga besar lainnya. Sekarang, berapa orang yang masih ada? Satu per satu, mereka meninggalkan kita. Tentu ada orang baru yang datang, tapi akan merubah suasana. Jagoan kita saat kecil, makin lama makin menua dan melemah. Ah, ini yang paling menjengkelkan.

 

Bisakah kita mengulang sebuah momen? Tidak mungkin. Meski kita mengumpulkan orang yang sama di tempat yang sama. Kita berkumpul pasti dengan beda konteks, beda isi kepala, dan beda kepentingan dibanding dengan momen yang kita maksud. Pasti rasanya beda, karena yang kita kangenin bukan orang dan tempat, tapi momen.

 

Setiap orang menyikapi sebuah momen dengan berbeda-beda. Dengan berubahnya isi kepala dan kepentingan, makin besar perbedaaan sikap orang terhadap sebuah momen tersebut. Meskipun orang itu adalah orang dekat kita. Ada yang masih terkurung dalam momen manis itu, ada yang sudah biasa saja, ada yang berubah membencinya.

 

Apa akibatnya kalau kita masih terkurung dalam momen manis masa lalu? Pertama, kita tidak bisa menikmati apa yang ada saat ini. Momen manis di masa lalu memang bisa jadi barometer apa yang baik untuk kita, namun kuasa kita terbatas dalam menentukan apa yang terjadi. Memaksa mendapatkan kejadian dan perasaan yang sama. Kita sampai lupa apa yang perlu kita perbaiki di saat ini. Orang yang terperangkap pada masa lalu bisa mengakibatkan masalah untuk diri sendir dan orang-orang di sekitarnya.

 

Kedua adalah ada barang yang mungkin kita tumpuk dengan alasan mempunyai kenangan, pada akhirnya tidak produktif. Saat ini kita tidak mempunyai alasan mempertahankan barang tersebut, namun kita terus menumpuknya. Akibatnya rumah kita menjadi lebih penuh. Itu sangat bisa mengakibatkan pikiran kita ikutan penuh dan tidak jernih.

 

Akhirnya kita kembali ke diri kita masing-masing dalam memandang sebuah momen. Kalau bagiku, aku belajar memaknai momen menjadi sebuah kejadian untuk dikenang. Cukup. Tidak berharap untuk diulang, tidak dikutuk sambil marah-marah, atau tidak untuk disesali. Hidup ini garis lurus. Tidak ada kesempatan untuk mengulang, memperbaiki, atau menghindari. Jadikan momen manis itu sebuah kenangan. Jika ada pelajaran, ambil untuk menjadi lebih baik ke depannya.

 

Hal kedua yang bisa kulakukan adalah belajar hidup di waktu saat ini. Live the moment kalau orang bilang. Hadir utuh di saat ini. Melihat dengan detail yang ada sekarang, dan menghadirkan seluruh nyawa, pikiran, dan perasaan untuk hadir bersama tubuh saat ini.

 

Upaya tersebut tentu membutuhkan usaha yang keras dan waktu. Tidak mudah keluar dari perangkap momen manis di masa lalu. Upaya harus dilakukan terus-menerus agar kita bisa sepenuhnya memandang momen manis masa lalu hanya sebagai kenanangan.

 

Mengapa aku menulis tentang kenangan, karena aku baru selesai membaca sebuah novella berjulu “Semasa” karya Teddy W Kusuma dan Maesy Ang. Ulasannya akan aku buat di kiriman selanjutnya.

Sabtu, 25 September 2021

Biso Rumongso Iku Larang Regane

September 25, 2021 0
Biso Rumongso Iku Larang Regane

Rasanya aku tidak pernah membenci Jakarta sedalam ini, tidak pernah. Aku bukan membenci Jakarta saat peluh mengucur diatas motor yang terjebak macet. Bukan pula saat pundak letih sepulang kantor. Bukan pula saat kamu kesulitan mendengar debur ombak padahal kamu sadari kamu tinggal di kota pesisir. Aku membenci Jakarta saat aku terkurung pada rumah.

 

Kamu mungkin memberiku saran (dan penghakiman), bahwa seharusnya aku bersyukur atas rezekiku bisa menempati rumah dengan tenang dan tidak mengkhawatirkan besok aku harus tinggal di mana. Aku tentu bersyukur akan hal itu, namun bukan itu pokok masalahnya. Diam di rumah, bahkan diam di Jakarta membuatku sulit merasa.

 


Dari dulu aku menganggap bahwa Jakarta ini memang mematikan rasa penduduknya. Kecepatan laju hidup kota ini akan memaksa kita melewatkan hal-hal kecil di sekitar kita. Kamu tidak akan memperhatikan dengan detail siapa yang kamu temui dan apa yang mereka kerjakan saat kamu berkendara dari rumahmu ke kantor. Kamu akan melewatkan emosi tiap penduduk yang kamu lalui saat itu. Jika pun ada perasaan orang yang tertangkap olehmu, itu mungkin rasa amarah.

 

Aku melatih rasa dengan pergi keluar kota. Kota yang memberimu jeda waktu dan ruang untuk melihat hal-hal kecil di sekitarmu. Rasa yang muncul saat aku diajak bicara kromo inggil dan diberi senyuman terindah di Jogjakarta. Vibe untuk pelan dan tenang saat aku menikmati secangkir kopi di Ubud. Setidaknya kamu bisa menikmati romantismenya Bandung seusai hujan. Perasaan tenag yang paling paripurna adalah perasaan ada di rumah saat aku ada di Blitar.

 

Lingkungan yang mengizinkanku berjalan pelan itu yang melatih mata dan hati ini melihat sekitarku. Mengkalibrasi pikiran, perasaan, dan hati. Merasakan kembali apa itu emosi baik, ketulusan hati, dan rendahnya ego. Kamu akan menjadi spon dan bisa menyerap apa-apa yang ada di sekitarmu.


Pandemi ini memaksaku untuk tinggal di Jakarta. Perasaanku mati bersemayam di hutan beton ini. Aku merindukan masa di mana aku bisa banyak kata untuk kutuliskan menjadi puisi. Saat aku bisa menikmati tarian, film, novel, atau teater dengan penuh rasa.

 

Sambating Ati ini kembali tertantang ketika saat aku membaca buku Jejak Langkah tulisan Pram. Bagian tengahnya bercerita tentang gadis Jepara yang terpenjara karena pingitan. Namun demikian, pikirannya tetap bebas dan maju. Permasalahan yang dihadapi perempuan disekitarnya tetap ia rasakan. Tulisannya menginspirasi banyak orang, tak terkecuali pembesar Hindia Belanda saat itu.

 

Ah, dia kan tinggal di Jepara, bukan di Batavia. Halah… yowis karepmu.

 

Aku cuma berdoa pandemi ini segera berakhir. Biso rumongso iku larang regane.

 

Ditulis di cafe kota Jakarta yang dingin.

Selasa, 20 April 2021

Ga Semua Hal Harus Nurut Influencer

April 20, 2021 0
Ga Semua Hal Harus Nurut Influencer

Pernah mencoba suatu makanan yang direkomendasikan food vlogger, namun kamu ga suka? Pernah baca buku yang katanya keren banget oleh book influencer, tapi kamu ga nyambung sama sekali? Pernah mengunjugi suatu tempat karena tempat itu masuk daftar must visit oleh travel blogger, tapi menurutmu biasa aja? Saya juga pernah mengalami hal itu semua. Makanan yang ternyata biasa aja, buku yang saya tak mengerti, dan tempat yang ternyata tidak menyenangkan. Ga semua kata influencer itu memang cocok sama kamu.

 

Saya pernah mengalami insecure karena ga suka makanan yang dibilang enak banget sama food vlogger yang cukup terkenal. Bahkan saya mencoba membeli beberapa kali di waktu yang berbeda hanya untuk sekadar meyakinkan diri saya bahwa itu memang menurut saya tidak seenak yang dikatakan. Pada akhirnya saya mencoba memakannya dengan kesadaran penuh dan sejujur mungkin terhadap diri sendiri untuk menilai.

 


Membeli buku yang sedang rame diperbincangkan juga sudah mulai saya kuranigi. Membaca buku best seller atau rekomendasi orang itu mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya, kamu bisa memperbincangkan dan mendiskusikan dengan orang banyak untuk mendapatkan pengayaan sudut pandang. Menikmati keragaman pendapat itu bisa memperkokoh struktur berpikir kita. Kekurangannya, belum tentu kamu bisa menikmati buku tersebut. Pengalaman membaca setiap orang bisa sangat beragam.

 

Untuk soal traveling, saya sudah lama tobat untuk terangsang mengunjungi daftar must visit jika berkunjung ke suatu tempat. Saya lebih suka jalan-jalan ke tempat yang kemungkinan besar cocok dengan selera saya. Saya juga berpendapat bahwa menikmati perjalanan lebih penting daripada mengunjungi suatu tempat.

 

Pada dasarnya setiap orang mempunyai pengalaman hidup yang unik. Hal itu pasti berpengaruh bagaimana dia memandang sesuatu, menikmati rasa, dan merasakan pengalaman. Pengalaman itu bukan masalah salah dan benar. Tidak ada yang lebih baik dan lebih buruk. Sangat mungkin kamu tidak menikmati hal yang disukai banyak orang, termasuk influencer.

 

Pendapat influencer pun tidak salah. Dia hanya mengungkapkan apa yang dirasakan dan memberikan penilaian terhadap sesuatu. Pengalaman itu yang dia bagikan ke orang banyak. Pengalamannya itu valid, untuk dia. Menjadi bermasalah kalau pengalaman itu kamu jadikan barometer untuk menilai sesuatu. Selama ini tidak berkaitan dengan hal keilmuan dan kepakaran sesuatu, setiap pengalaman itu valid.

 

Kalau kamu ga suka, ga papa. Kalau kamu ga nyaman, ga papa. Kalau kamu ga nyambung, ga papa. Pengalamanmu itu valid untuk dirimu sendiri. Tidak perlu menakar pengalamanmu dengan pengalaman influencer. Tidak perlu juga kamu menakar pengalaman orang lain dengan pengalamanmu.

 

Foto yang tertampil adalah foto Ayam Betutu Pak Sanur di Ubud. Enak banget menurut saya. Valid untuk saya, tapi ga harus valid buat kamu.

 

Sabtu, 06 Januari 2018

Cerita yang Menggerakkan

Januari 06, 2018 0
Cerita yang Menggerakkan

Halo hari ke lima #30HariBercerita, kali ini adalah fase terakhir aku berinteraksi dengan cerita. Ketika kecil, aku menganggap cerita hanyalah hiburan, lalu beranjak cerita sebagai cara mengungkapkan sesuatu. Dan pada akhirnya, cerita lebih powerfull daripada itu. Cerita bisa menggerakkan orang.

Sudut pandangku tentang cerita berubah ketika aku bertemu dengan sekumpulan orang yang percaya dengan kekuatan ide dan story telling, yaitu TEDx Bandung. Ketika aku menjadi relawan, aku memahami betul bahwa speech yang dideliver di TEDx (kami menyebutnya TED Talks) dimotori dengan kekuatan cerita. Cerita yang dekat, inspiratif, dan baru dapat menggerakkan orang dibanding dengan argumen. Argumen membuat orang paham, cerita membuat orang terinspirasi, begitu kata Roby Muhammad di TEDx Bandung.

Ketika kerja, aku bertemu seorang leader di kantorku yang menggunakan cerita dengan sangat powerfull, yaitu Pak Fathoni. Beliau dalam setiap penjelasan, sangat meminimalisir argumen-argumen, dan lebih memberi pengayaan dalam bentuk cerita. Aku merasakan sendiri bahwa cerita lebih masuk di hatiku daripada leader yang membagun tim dengan argumen.

Bagaimana cara membuat cerita yang bisa menggerakkan? Nah, aku sendiri juga belum tahu, dan jauh dari bisa. Karena itu, #30HariBercerita menjadi langkah awal aku belajar membuat cerita.

Apa ceritamu hari ini?

Ditulis di tengah suara-suara kodok sawah yang tak pernah aku temui di Jakarta

5 Januari 2018

#30HariBercerita

Jumat, 05 Januari 2018

Ungkapan dengan Cerita

Januari 05, 2018 0
Ungkapan dengan Cerita

Untuk seri ke 4 dari #30HariBercerita agak telat karena kemarin harus siap-siap flight pagi. Mari kita teruskan bercerita tentang story telling. Pernah ga sih kalian ingin menyampaikan atau mengungkapkan sesuatu tapi hanya tertahan? Atau kalian punya pemikiran, tapi bingung mengungkapkan dengan cara apa? Banyak cara untuk mengungkapkan sesuatu, tapi yang paling asik dengan cerita.

Ya, hari ini aku akan bercerita tentang story telling bisa dijadikan untuk menyampaikan sesuatu. Aku pernah menulis sebuah cerpen saat kelas dua SMA. Sebenarnya ini merupakan tugas mata pelajaran bahasa Indonesia. Pak Didik, guruku saat itu, meminta kami agar menulis sebuah cerpen. Tema dan alur cerita terserah. Entah bagaimana, aku menulis sebuah cerpen rekaanku sendiri tentang pergerakan mahasiswa tahun 1998. Aku beri judul cerpen itu “Jakarta Sore Itu”.

Cerpen ini bercerita tentang mahasiswa aktifis yang terlibat aktif dalam upaya penjatuhan Soeharto dan menuntut reformasi. Dia sudah dilarang ibunya untuk ikut dalam aktivitas seperti itu. Singkat cerita, tubuhnya diterjang peluru tajam dari aparat. Cerpen ini aku dedikasikan untuk elang dan 3 mahasiswa Trisakti lainnya yang gugur.

Tema cerpen seperti ini tidak lazim ditulis oleh anak SMA kelas 2. Di saat lainnya menulis tentang romansa, persahabatan, atau tema sejenisnya, aku malah menulis tentang reformasi. Pak Didik sempat memanggil aku karena ini. “Kenapa kamu menulis dengan cerita ini?” tanya beliau di ruang guru. Aku dengan singkat menjawab, “Saya tidak suka Soeharto.” Jawaban singkatku saat itu.

Aku memilih cerita untuk mengungkapkan pemikiran dan perasaanku dengan sebuah cerita. Tidak ada jargon keras di dalamnya, tidak ada tuntutan eksplisit di dalamnya. Hanya sebuah cerita ibu yang kehilangan anak aktifis. Pemikiran yang diungkapkan dengan cerita, apalagi sebuah cerita yang dekat dengan kita, akan lebih mudah sampai pada orang yang membaca atau mendengar. Kita tidak perlu menyusun argumen panjang untuk sebuah pemikiran.

Ditulis di kamar, rumah.

5 Januari 2018

#30HariBercerita

Rabu, 03 Januari 2018

Halo Story Telling

Januari 03, 2018 0
Halo Story Telling

Halo hari ketiga untuk #30HariBercerita. Aku mau cerita tentang…. Cerita. Cerita atau bahasa kerennya sekarang itu story telling adalah hal yang sangat dekat dengan kehidupanku. Aku bisa membaginya ke dalam 3 fase. Fase pertama adalah story telling sebagai hiburan. Fase kedua adalah story telling sebagai cara berkomunikasi. Fase ketiga, story telling sebagai alat propaganda. Biar agak panjang dan aku biar ada bahan untuk tiga hari ke depan, aku akan bahas per fase.

Untuk kali ini aku akan bercerita tentang story telling sebagai hiburan. Aku mulai berkenalan dengan story telling sejak aku masih sangat kecil. Ayahku sering mendongengkan  aku berbagai cerita sebelum tidur. Ya, dongeng adalah alat story telling paling sederhana  dan paling awal yang aku kenal, sebelum aku berkenalan dengan story telling berupa tulisan. Saat aku mulai besar, aku mulai berkenalan dengan story telling berupa tulisan. Aku sudah lupa kesenanganku membaca dimulai sejak kapan. Tapi kemungkinan besar sejak kelas 4 SD. Sejak aku pindah tinggal bersama nenek di Ponorogo. Sebelumnya aku tinggal bersama orang tuaku di desa yang cukup pelosok di Blitar bagian selatan. Dikarenakan orang tuaku khawatir akan kualitas pendidikanku, aku dipindah untuk tinggal bersama nenekku di Ponorogo. Sebelumnya, akses bacaan sangatlah sulit di desa. Perpustakaan sekolah hanyalah ruang berdebu tempat meletakkan buku satu rak, bersama dengan barang-barang tidak terpakai. Dan pada akhirnya, perpustakaan nyaman hanyalah dongeng pada saat itu. Ketika di Ponorogo, mulailah terbuka bahan bacaan yang sangat luas. Yang aku suka? Komik tentu saja. Tidak berat. Komik sinchan. Dan beberapa seri komik lain yang aku punya sepeti paman gober dan komik disney lainnya. Bahan bacaan lain? Kebanyakan cerita rakyat atau legenda.

Cerita sebagai hiburan. Ya, cerita selalu bisa menghiburku. Sinchan tidak pernah gagal membuat aku tertawa. Paman gober menyusul berikutnya. Dan pada akhirnya aku sangat keranjingan dengan membaca. Dikarenakan tidak tahunya cara membaca dengan sehat, aku mendapatkan kaca mata pertamaku di kelas 4 SD. Kelas 5 mulai berkenalan dengan novel. Novel pertama yang aku baca adalah Harry Potter and the Sorcerer's Stone, pemberian Om Nanang. Makin menjadi saat aku kembali tinggal bersama orang tua di Blitar. Kali ini di kota. Aku masih ingat, di kota Blitar ada persewaan komik. Mungkin aku menjadi salah satu pelanggan tetap di sana. Alhamdulillah, aku mempunyai orang tua yang mensupport kebiasaan membaca cerita ini. Seluruh serial Harry Potter dibelikan oleh ayahku.

Ya, cerita tidak pernah gagal menjadi hiburan. Hiburan bernilai, hiburan yang menyentuh, hiburan yang menginspirasi. Cerita tidak harus disampaikan dalam tulisan, karena ada yang bilang budaya Indonesia itu bukan budaya baca tulis, tapi budaya tutur. Namun apapun bentuknya, story telling menjadi alat hiburan sederhana untukku. Bagaimana dengan kamu?

Ditulis di kegalauan malam hari

3 Januari 2018

#30HariBercerita

Selasa, 02 Januari 2018

Tuntaskan Bukumu

Januari 02, 2018 0
Tuntaskan Bukumu

Hari sudah akan berganti, tapi aku baru memulai cerita hari ke dua untuk #30HariBercerita. Untuk malam ini aku akan cerita tentang membaca. Akhir-akhir ini aku mulai lagi memupuk semangat untuk menyelesaikan membaca buku. Setelah sekian lama aku tidak pernah menyelesaikan membaca satu buku utuh. Kalau ada yang bertanya, emang baca harus satu buku utuh? Aku pikir tidak. Kamu bisa melewati bagian yang mungkin kamu kurang suka. Mungkin juga kamu bisa menyelingi dengan buku lain. Namun kalau aku pikir, ada bahayanya kalau kamu berhenti membaca di tengah jalan. Kamu hanya mengerti sebagian topik dari keseluruhan ide yang ada di dalam buku. Emang akibatnya apa? Ada kemungkinan kamu salah tafsir atas ide buku itu, atau kamu salah “ilmu” dalam merespon sesuatu. Analogi sederhananya adalah kamu tidak akan rela diperiksa oleh dokter yang hanya belajar satu bagian tubuh saja kan? Yup, semua muara dari membaca sebagian buku adalah kedangkalan. Ya masih mending ini sih daripada kamu membaca artikel online dengan hanya membaca judul saja (btw, banyak netizen yang kayak gini sih)

Kenapa sih aku sempat malas baca buku? Aku berpikir, mungkin penyebab utamanya aku malas. Okay, aku tidak memungkiri itu. Tapi ada penyebab lain kenapa aku jadi malas membaca buku. Karena aku terbebani sesuatu dalam membaca buku. Yup, beberapa kali aku memilih buku yang sebenarnya aku tidak suka. Namun karena ada beban, antara lain agar bacaanku lebih berbobot, atau membaca buku rekomendasi orang terkenal, atau terbebani best seller, atau yang paling sering adalah membaca buku dengan topik terkini, akhirnya aku membaca sesuatu yang tidak aku suka. Yang pada akhirnya, aku hanya terbebani argumen-argumen saja. Tidak menyentuh aspek dalam hidupku. Akibatnya aku dan buku itu menjadi berjarak. Menyelesaikannya pun menjadi beban. Nah pada akhirnya, aku tidak ada keinginan untuk menyelesaikan satu buku utuh.

Karena itu, akhir-akhir ini aku membaca buku yang benar-benar aku suka, atau topiknya memang dekat dengan kehidupan personalku. Aku sekarang sedang berusaha menyelesaikan dua buku yang aku selang-seling bacanya, yaitu buku Hidup Sederhana dari Desi Anwar dan When Strangers Meet dari Kio Stark.

Kalau kamu, apa buku yang sedang kamu baca?

Ditulis di kosan di tengah deadline kerjaan kantor

2 Januari 2018

Senin, 01 Januari 2018

Memulai #30HariBercerita

Januari 01, 2018 0
Memulai #30HariBercerita

Aku memulai #30HariBercerita dengan tidak mood. Dalam kepalaku aku sudah punya kerangka cerita yang lain, cerita menyenangkan tentang pantai. Tapi malam ini tiba-tiba perasaan menjadi tidak enak. Daripada aku tetap menulis dan nanti pada akhirnya jadi tulisan galau nan cengeng, mohon maaf tulisan hari pertama tidak terlalu menyenangkan.

Tapi, tahukah kalian apa yang bisa membuat hati orang bisa sedikit lebih baik? Kata beberapa orang, termasuk psikolog, dengan membuat daftar apa yang kamu syukuri hari ini. Oke, biar hati ini agak mendingan, kita buat gratitude list aja ya.

1. Hari ini supermoon. Hei, kalau kau lihat bulan di tanggal 1 Januari 2018 ini, bulan begitu terlihat dekat dan besar. Sekilas yang aku baca, hari ini adalah titik terdekat bumi-bulan untuk sekian tahun. Bulannya indah dan terang banget meskipun kamu melihatnya dari Jakarta.

2. Hari ini nyoba nyari barang, dan berhasil. Walau agak mahal dibandingkan perkiraan, setidaknya berhasil dapat. Barangnya apa? Emmm… tidak untuk diceritakan dulu deh.

3. Badan yang kemarin remuk redam, hari ini agak mendingan. Oleh-oleh dari pantai dan nyetir 12 jam adalah badan yang lemas seharian. Nah, hari ini udah jauh lebih mendingan.

Sebenarnya banyak lagi sih hal-hal yang seharusnya disyukuri hari ini, tapi itu dulu aja yang di share kali ini. Semoga kita bisa tetap bersyukur tiap paginya.

Ditulis di warung seafood tebet

1 Januari 2018

Dalam rangka #30HariBercerita

Rabu, 15 Februari 2017

Pejuang Bukan? Hadapi

Februari 15, 2017 0
Pejuang Bukan? Hadapi
Masih teringat ketika Mas Anies Baswedan ditawari dan memutuskan ikut dalam konvensi Partai Demokrat pada sekitar bulan Agustus atau September tahun 2013. Rasanya kala itu, Mas Anies cukup popular di kalangan aktifis sosial dan pendidikan, namun namanya sangat asing jika kita bertanya ke masyarakat pada umumnya. Ada sebelas peserta yang ikut konvensi. Ada yang sudah sangat terkenal dan mempunyai logistik tempur yang cukup kuat seperti Pak Dahlan Iskan, Gita Wiryawan, Dino Patti Djalal, dan Pramono Edhi. Saya lupa di posisi berapa popularitas Mas Anies saat awal konvensi, namun melihat hitungan di atas kertas, rasanya sulit sekali memenangkan konvensi. Namun apa yang dikatakan Mas Anies kepada relawan Turun Tangan saat itu? Jika hanya melihat hitungan di atas kertas, pejuang kita tidak akan angkat senjata melawan penjajah. Jika hanya melihat hitungan di atas kertas, pendiri republik ini tidak akan menuliskan janji kemerdekaan di konstitusi kita. Kalau kita pejuang, Hadapi. Dan akhirnya yel-yel dari Turun Tangan saat itu: Pejuang bukan? Hadapi!!!


Pengambilan resiko dalam ketidakmungkinan inilah yang sekarang diambil oleh Agus Harimurti Yudhoyono. AHY ditawari oleh kelompok Cikeas untuk menjadi calon gubernur dipasangkan dengan Sylviana Murni. Di atas kertas, AHY sangat tertinggal jauh dengan petahana. Di beberapa lembaga survey saat itu, AHY tidak diperhitungkan dalam tiga besar. Namanya kalah dengan Ridwan Kamil atau Bu Risma. Jika menerima tawaran itu, resikonya sangat besar. Dia harus keluar dari TNI, tempat di mana dia memulai karir. Karir TNInya pasti tamat. Dengan segala kemungkinan dan resiko itu, dia mengambil juga tawaran dari kelompok Cikeas.

Dan selama empat bulan masa kampanye, AHY dan teamnya terlihat sekali gencar dan ekstra keras dalam usaha mengambil hati rakyat Jakarta. Istilah yang dipakainya, bergerilya. Logistik yang dipersiapkannya pun juga tidak main-main. Tercatat AHY menghabiskan dana kampanye paling besar di antara calon lain yaitu sebesar 68M lebih. Dukungan dari mesin partai pendukungnya pun sangat kuat. Di awal-awal survey, posisinya sekitar 25%. Masih jauh dari petahana. Dan dia terus berusaha untuk mengejar ketertinggalan itu.

Di sisi lain, kemampuannya dalam berkomunikasi dan berorasi semakin membaik. Pada penampilan di debat Cagub-Cawagub resmi dari KPU, kharismanya mulai keluar. Tidak menampilkan performa memuaskan di debat pertama, dia terus memperbaiki di debat selanjutnya. Bahkan di debat final, menurut saya performanya lebih keren dibanding dengan Mas Anies. Program yang ditawarkan mulai tajam dan taktis. Tidak mengawang-awang dan menonjolkan sisi emosi seperti di debat pertama.

Seluruh usaha pada akhirnya ditentukan oleh penduduk Jakarta. Hari ini, pengadilan atas ketiga calon terjadi. Menurut hasil hitung cepat, AHY mendapatkan suara sekitar 18-19%. Dan malam ini, beliau sudah mengakui kekalahannya. AHY ditinggalkan Ahok dan Mas Anies yang memperoleh suara di angka sekitar 40%.

Banyak yang menertawakan, membuat lelucon, mengktitik, menghina, dan merendahkan AHY. Bahkan dia disamakan dengan Noorman Kamaru. Label pengangguran pun dilekatkan pada dia. Komentar “tuh kan, meding tetap di TNI” atau “Rasain lu, kalah tapi ga bisa balik jadi TNI” banyak sekali beredar di sosial media. Namun, pandangan saya terhadap AHY ini agak berbeda. Saya mungkin akan melabeli dia “Pejuang”.

Hidup yang tidak dipertaruhkan, tidak pernah dimenangkan, begitu kata Friedrich Schiller. AHY berani mengambil segala resiko untuk bertarung di pilkada ini. Jika ia memlih jalan nyaman, pasti dia akan menolak tawaran itu. Karir di TNInya cukup bagus. Di TNI pun rasanya jarang dikritik, dihina, dan direndahkan oleh masyarakat. Namun dia memlih jalan yang terjal ini untuk berjuang. Saya tidak membahas bagaimana proses penunjukannya, namun pada akhirnya dia menerima jalan ini. Dia benar-benar berani lompat di sebuah jalan, yang bahkan di atas kertas mengatakan dia akan gagal. Tapi dia memlih menghadapi. Itulah pejuang. Karena itu saya lansung teringat dengan Mas Anies di konvensi partai Demokrat tahun 2013.

Setidaknya, AHY akan berkata bangga di anaknya bahwa ayah berani mengambil resiko besar di hidupnya untuk memperjuangkan sesuatu. Dia tidak takut untuk dicemooh, dicaci, dihina oleh orang-orang yang bahkan mungkin tidak pernah mengambil resiko besar di hidupnya untuk memperjuangkan sesuatu. Bahkan saya malu sendiri karena saya pun belum pernah mengambil resiko yang mengubah hidup saya. Di saat orang-orang asik mencemooh di jalan nyamannya, AHY memilih berjuang.

Sabtu, 24 Desember 2016

Penyakit Kekucingan

Desember 24, 2016 0
Penyakit Kekucingan
Saya berpikir, bahwa bukan hanya penyakit macam hepatitis atau diabetes saja yang bisa diturunkan, saya rasa penyakit obesesif akan kucing juga bisa diturunkan. Ya setidaknya beresiko menurun. Meli, merupakan kucing saya yang pertama. Pada waktu itu kira-kira saya berusia tujuh tahun. Ayah saya memungut Meli di pasar burung di Kota Malang. Dinamai Meli karena pada waktu itu saya mengenal kata baru dalam hidup saya, Milenium. Kata itu memang lagi ngeghitz kala itu karena memang saat itu bukan hanya tahun baru, tapi milenium baru.

Alhasil,saya berurusan dengan kucing dari saat itu sampai saya akan berangkat kuliah. Ya tentu saja bukan hanya Meli saja. Setiap kucing saya ganti, entah karena mati atau tidak pulang karena kena pelet dari kucing wanita yang binal dari kampung sebelah, orang tua saya selalu menamai dengan meli. Malas bikin nama dan ribet menghafal adalah alasan mutlaknya. Alhasil ada meli periode pertama sampai entah berapa. Sudah mengalahkan Pelitanya Pak Soeharto.

Dan pada perjalanannya, saya baru tahu kalau orang tua saya, terutama Ayah saya sepetinya juga mendapat penyakit keturunan dari nenek saya. Nenek saya memelihara kucing saat ayah kecil. Dan dinamai mawar. Dan sampai sekarang, nenek saya memelihara kucing. Mungkin nenek saya sedikit lebih kreatif dari orang tua saya, sehingga namanya tidak statis. Tapi yaah… namanya selalu berawalan huruf M.

Dan kemarin saya makan di sebuah warung, Di situ saya menyadari bahwa, bukan hanya penyakit obsesif terhadap kucing yang bisa menurun, namun penyakit alergi kucing juga bisa diturunkan. Ya namanya warung, bukan resto besar, pasti ada saja kucing yang datang dengan entengnya. Mengeong-ngeong di sekitar orang makan. Mungkin yang suka pelihara kucing tahu, bahwa kucing mengeong itu belum tentu lapar dan minta makan, namun bisa juga mereka mengeong, karena mereka mau. Mau apa? ya ga tahu. Mau saja. Ya kucing memang terkadang absurd.

Ada keluarga yang tengah makan di situ. Pada awalnya, ayah dari keluarga itu tampak terganggu dengan kucing yang kurang pendidikan itu. Diberikanlah daging bebek ke kucing itu. Dicium sebentar, dan kucing itu kembali mengeong tanpa memakannya. Memang kurang pendidikan kucing itu. Karena kesal, ayah itu menendang kucing itu. Menyingkir sebentar, kucing itu mendekati anaknya. Dan apa yang terjadi? Prinsip “Childern See, Childern Do” berlaku. Ditendangnya kucing itu oleh anaknya. Yeaah,.. satu anak di dunia ini tertular penyakit alergi kucing dari orang tuanya.

Yup, perlakuan kita ke binatang akan menurun ke anak-anak kita ketika anak-anak kita melihat. Sebagaimana obsesif terhadap kucing diturunkan oleh nenek saya ke ayah saya, lalu ke saya, perlakuan buruk ke binatang telah menurun dari ayah di warung itu terhadap anaknya. Hati-hatilah dalam memperlakukan binatang di depan anak-anak Anda. Karena, “Childern See, Chidern DO” Be wise to animal,...

Selasa, 30 September 2014

Menggerakkan dengan Teknologi

September 30, 2014 0
Menggerakkan dengan Teknologi
Indonesia saat ini tengah mencari titik keseimbangan demokrasi. Bapak Susilo Bambang Yudhoyono telah berhasil mendaratkan Indonesia ke landasan demokrasi dengan sangat mulus, tanpa ada goncangan yang berarti. Saat ini, kita semua, setiap warga Indonesia, mempunyai kesempatan yang sama untuk ikut serta dalam pemilihan umum. Melalui pemilihan umum, kita diberi hak untuk menentukan arah dari republik ini. Setiap warga negara berhak untuk dipilih maupun memilih. Pemilu ini menjadi ruang kelas pembelajaran yang massif dalam berdemokrasi. Apakah dengan ikut pemilu, tugas kita sebagai warga negara berhenti dan terpenuhi? Tidak. Setiap dari kita wajib ikut turun tangan memperbaiki kedadaan republik ini. Apapun bentuknya, apapun caranya, kita harus ikut ambil bagian dalam proses perbaikan. Jika setiap warga negara ambil peran dalam mengisi kemerdekaan ini, saya yakin pembangunan dan perbaikan di Indonesia akan mengalami akselerasi yang luar biasa. Tapi apakah mungkin itu terjadi, sedangkan dalam pemilu saja, angka golput mencapai XX%?

Kita tidak bisa menggerakkan orang dengan cara-cara yang dipakai oleh pendahulu-pendahulu kita. Zaman sudah berubah, karakter berubah, dan komunikasi pun berubah. Di zaman yang serba cepat, kita tidak bisa lagi mengandalkan cara-cara lama seperti membuat propaganda dengan selebaran, membuat kumpulan massa dengan cara mulut ke mulut. Dengan teknologi, kita bisa menggerakkan masyarakat untuk ambil bagian dalam pembangunan bangsa. Bagaimana bisa? Mari kita diskusikan.

Generasi Digital
Pertumbuhan pelanggan telepon selular di Indonesia terus meningkat. Di tahun 2007, pengguna telepon genggam diperkirakan di angka 88 juta, sedangakan di tahun 2014, pengguna telepon genggam diperkirakan mencapai 275 juta nomor aktif. Penggunaan data juga terus meningkat. Menurut data yang dirilis oleh Ericsson, penggunaan data meningkat lebih dari 60 persen setahun terakhir. Apa artinya hal tersebut? Masyarakat kita sudah semakin terhubung ke dunia digital. Yang paling menarik adalah sebagian dari pengguna layanan data adalah anak muda. Inilah yang kita sebut dengan Generasi Digital. Generasi yang tidak bisa lepas dari dunia digital dalam kehidupan sehari-hari. Konsumsi pulsanya pun sebagian untuk layanan data. Generasi yang mendapat akses informasi yang sangat cepat dan mampu membagi informasi tersebut dengan sangat cepat pula.

Generasi digital ini mempunyai beberapa karakter yang harus kita kenali. Pertama, mereka mempunyai karakter terhubung satu sama lain. Social media seperti facebook, twitter, path, dan sebagainya memnuat mereka bisa berkomunikasi satu sama lain. Kedua adalah berbagi. Kesempatan berbagi dalam berbagai bidang baik pendidikan, politik, lingkungan semakin terbuka luas dengan bantuan teknologi. Ketiga adalah bangga akan identitas. Sifat narsis positif ini harus dikembangakan dengan baik sehingga membuat mereka bisa solid jika kita dapat menemukan identitas yang pas.

Mereka yang memanfaatkan
Teknologi komunikasi dan informasi yang berkembang dapat dimanfaatkan oleh sebagian orang atau kelompok untuk meningkatkan peran aktif masyarakat dalam berkontribusi untuk Indonesia. Kita mulai dari kisah sukses yang pertama. Ridwan Kamil, wali kota bandung ini mampu menggerakkan warganya ikut memperbaiki kota Bandung. Penduduk bandung sekitar 2,4 Juta dan pemilik akun facebook dan twitter sekitar 2 juta. Artinya, sebagian penduduk Bandung terkoneksi. Melalui akun milik pribadinya (@ridwankamil), Kang Emil mampu menyukseskan beberapa program hanya berbekal social media. Gerakan pertama adalah Gerakan Sejuta Biopori. Sesuai dengan karakter generasi digital, gerakan ini dibuat semenarik mungkin. Setiap orang yang telah membuat biopori danapat mengunggahnya melalui social media. Keinginan berbagi dan narsisme positif telah menggerakkan masyarakat Bandung. Kesusksesan Gerakan Sejuta Biopori diteruskan dengan gerakan lain seperti Rebo Nyunda, Gerakan Pungut Sampah, dan gerakan yang lain. Dari sini terlihat teknologi komunikasi dan informasi sangat efektif.

Contoh kedua datang dari gerakan politik yaitu gerakan #turuntangan yang digagas oleh Anies Baswedan. Gerakan ini bertujuan setiap masyarakat di Indonesia mau untuk terjun di dunia politik, kemudian berkembang untuk mendukung Anies Baswedan di konvensi Partai Demokrat. Anak muda ini tidak mempunyai sumber pendanaan yang kuat disbanding kandidat lain sehingga memanfaatkan alat yang hampir gratis namun efektif, yaitu social media. Berawal dari tanda pagar #turuntangan di twitter, berlanjut ke web, video di Youtube, dan social media lainnya, gerakan ini mampu mengumpulkan 27.000 relawan terdata pada akhir periode konvensi. Walau Anies Baswedan gagal memenangkan konvensi, gerakan ini mampu menggerakkan anak muda yang awalnya apatis terhadap politik menjadi peduli dalam dunia politik.

Contoh ketiga datang dari dunia sosial. Berangkat dari semangat gotong royong di desanya, Timmy membuat web portal bernama KitaBisa. Web portal ini bertujuan mendanai proyek-proyek sosial yang ada di msyarakat dengan cara crowd funding. Sederhananya, menguhubungkan pemilik dana dengan pelaksana proyek sosial. Web ini menjadi web crowd funding terbesar di Indonesia. Sudah banyak proyek yang berhasil didanai oleh web ini. Proyek yang sedang berjalan dan sangat menarik adalah Bus Donor Darah. Kita diundang untuk menyumbang pengadaan Bus untuk donor darah. Sebagai rewardnya, foto selfie kita bisa dipajang di bus tersebut. Besarnya foto tergantung besarnya dan yang kia donasikan.

Ketiga contoh tersebut rasanya cukup untuk kita tkidak ragu memanfaatkan teknologi dalam menggerakkan masyarakat untuk ikut serta dalam perbaikan bangsa ini. Semakin berkembang dan mapannya infrastruktur komunikasi, diharapkan, semakin besarnya pengaruh teknologi dalam kehidupan dan bernegara.

Salam Optimis untuk Indonesia.

@Hardian_cahya