Catatan Kecil

Rabu, 13 Agustus 2025

Awal Mula

Agustus 13, 2025 0
Awal Mula


Aku terbangun dengan badanku demam tinggi. Aku meminta izin kantor untuk berisitirahat di rumah. Tak kuat rasanya aku harus pergi berpayah-payah ke kantor dengan suhu badan hampir mencapai 38. Kepala pusing, dan tenggorokan sakit. Entah apa yang terjadi. Padahal, kemarin aku sangat sehat. Aku teringat satu hal, hari ini aku janjian ketemuan dengan Kak Flo. Dia mengajakku untuk meet up. Aku harus segera mengabarinya dan membuat janji baru. Tak enak rasanya, tapi badanku tidak bisa diajak kompromi saat itu.



Setelah menjadwalkan ulang, akhirnya aku ketemu dengan dia. Dia mengajakku ketemuan di PP. Lokasi yang tak terlalu jauh dari kantorku. Dengan menggunakan taksi, aku berangkat di saat jam istirahat. Dia sudah menungguku di sana. Aku, orang yang tak terlalu bisa berbasa basi, segera menanyakan maksud dan tujuan ketemuan itu. Singkatnya, dia menyatakan akan pensiun.


Bagai sambaran geledek di siang terik, aku bingung harus merespon apa. Ada beberapa rencana yang tak bisa tertulis di sini. Pada intinya, 2025 adalah acara terkahir dia. Dia menawariku untuk mengambil peran lebih dari sebelumnya. Aku menyatakan ingin menjadi Project Manager. Iya, aku bertaruh waktu, tenaga dan biaya untuk menjadi PM. Sebuah posisi yang tak terbayangkan sebelumnya untuk aku ambil.


Selang minggu kemudian, kami berkumpul dengan beberapa tim yang menyatakan bersedia berkontribusi di TEDx Jakarta 2025. Karena kami tidak punya ruangan meeting, jadi kami berkumpul di food court Plaza Senayan. Dengan sangat pede dan cueknya, kami menggelar meeting di food court. Sebuah tempat yang tidak cukup ideal, namun pada akhirnya kami ambil. Beruntung pagi itu masih sepi, sehingga tak mengganggu fungsi utama tempat itu.


Sebagai orang yang hanya berkutat di belakang layar, aku tak mengenali semua wajah. Padahal, mereka sudah berperan di event sebelumnya. Masing-masing dari kami menyatakan aspirasi posisi yang kami ingin ambil perannya. Ada yang berubah dari peran tahun sebelumnya, ada yang masih bertahan di divisi yang lama. Kami menyepakati akhir April sebagai target penyelenggaraan event.


Singat cerita, terbentuklah core tim yang terdiri dari beberapa divisi. Ini itu segera dirancang di akhir tahun. Target awal dari penyelenggaraan event ini adalah akhir April. Namun, menimbang satu dan lain hal, event kita putuskan untuk diundur di awal Agustus. Mengapa 2 Agustus? Karena hanya tanggal itu Gedung PPHUI tersedia. Bagaiamana kelanjutan proses sampai event? Akan aku gambarkan di tulisan berikutnya.


Aku ingin merefleksikan awal-awal tawaran peran ini. Project Manager, sebuah posisi yang tak pernah terbayangkan untuk ditawarkan ke aku, atau aku ambil, apalagi di organisasi TEDx Jakarta. Organisasi yang tidak hanya lebih dari 10 tahun aku bergabung, tapi sebuah organisasi yang aku kagum padanya. Aku sudah kagum dengan TEDx Jakarta sejak aku kuliah di Bandung, jauh sebelum aku bergabung. Tak pernah aku punya kesempatan hadir di eventnya. Aku hanya menikmati karyanya melalui Youtube. 


Pernahkah kamu mencintai sesuatu, sampai level kamu menolak diberi benda itu karena takut merusaknya? Memang TEDx Jakarta bukan benda dan bukan milih pribadi. Komunitas ini adalah milik semua volunteer dan semua sahabat yang mendukungnya. Tapi begitu perasaanku saat ditawarkan peran lebih. Tentu aku ingin berkontribusi lebih, namun karena kekagumanku terhadap komunitas ini, ada perasaan untuk mencegahku. Takut aku merusak sesuatu yang aku cintai dan kagumi benar.


Pada akhirnya aku menerimanya, dengan beberapa prasyarat yang aku ajukan ke diriku sendiri. Pertama, aku sadar aku tidak bisa menjalankan peran ini dengan kemampuanku yang ada saat itu, sehingga aku harus segera mengupgrade kemampuanku dengan berbagai cara. Membeli beberapa buku, dan menghubungi senior leader yang ada di kantorku untuk mentoring. Kedua, aku harus mau berproses bersama Kak Flo dan tim lain. Banyak hal yang aku tak tahu sebelumnya, sehingga open mindset harus benar-benar tertanam.


Dengan dua prinsip itu, aku menerima tawaran kala itu. Kak Flo, dengan leadershipnya yang mengagumkan itu, tak pernah terlalu menuntutku ini itu. Dia hanya menemaniku dalam berproses. 


Dan bagaimana prosesnya? Sampai jumpa di tulisan berikutnya.

Sabtu, 07 Juni 2025

Nilai dari Purwokerto

Juni 07, 2025 0
Nilai dari Purwokerto

Kalau kamu melakukan perjalanan di kota-kota kecil, ada saja nilai atau kebiasaan yang dilakukan oleh penduduk sekitar yang kamu tidak akan temukan di kota besar seperti Jakarta. Sebagai penduduk Jakarta, kamu akan terheran-heran ketika kamu melihat dan mengalaminya. Apa saja hal baru yang aku temui di Purwokerto?



Selasa, 06 Agustus 2024

Surat Kangen untuk Internet

Agustus 06, 2024 0
Surat Kangen untuk Internet


 

Andai saya punya mesin waktu di laci meja, saya akan kembali di sekitar tahun 2010 sampai di tahun 2018. Tahun-tahun di mana saya benar-benar menikmati apa yang ada pada dunia internet. Saya hampir bisa menikmati semua platform mulai dari facebook, twitter, blog, dan awal kemunculan Instagram. Saat ini saya masih mempunyai akun di semua platform itu, tapi banyak hal yang saya sukai hilang.

Minggu, 13 Februari 2022

Dahlan Iskan dan Korannya

Februari 13, 2022 0
Dahlan Iskan dan Korannya

Minggu lalu, saya senang ketika teaser Beginu minggu lalu keluar. Saya menyaksikan di akun Instagram milik Wisnu Nugroho. Bintang tamu kali ini adalah tokoh senior di industri media cetak, Dahlan Iskan. Dari teasernya tergambar bahwa Pak Dahlan akan bercerita tentang Jawa Pos. Oh, mungkin karena menyambut Hari Pers, pikir saya. Setelah video penuhnya terbit, benar saja Pak Dahlan bercerita tentang Jawa Pos dan pers.

 


Saya begitu senang karena Pak Dahlan dan Jawa Pos adalah dua hal yang sangat berpengaruh di hidup saya. Khususnya di bagian kehidupan literasi. Kegemaran saya membaca dibentuk salah satunya oleh Jawa Pos. Untuk hal-hal menulis blog dan opini, saya mencontek banyak dari tulisan Pak Dahlan. Dalam tulisan ini, saya akan bercerita lebih dalam tentang Pak Dahlan dan koran yang dibesarkan beliau itu.

 

Untuk diketahui konteksnya, sepengamatan saya saat kecil, ada dua koran yang paling sering dibaca di Jawa Timur, Jawa Pos dan Surya. Jawa Pos menempati koran dengan harga yang mahal, setara dengan Kompas. Untuk Surya, dia mengisi pasar yang lebih murah. Itu sepengamatan saya saat kecil, saya tidak menemukan data pastinya.

 

Ayah saya adalah orang yang juga suka membaca, walau sepenglihatan saya tidak terlalu gemar membaca banget. Hal yang pasti dia baca tiap hari adalah koran. Setiap pagi di sela jam kerja, dia membaca koran. Dia berlangganan koran dan koran itu adalah Jawa Pos. Setiap pagi sejak saya TK, saya melihat wujud Jawa Pos di rumah saya.

 

Saya lupa persisnya kapan saya mulai membaca koran. Jika saya tebak, mungkin kelas 5 SD akhirnya saya ikutan membaca koran. Semenjak saat itu, saya rutin membaca Jawa Pos. Saat SMP saya selalu rebutan membaca Jawa Pos dengan Pak Satpam di perpustakaan sekolah sebelum masuk kelas. Saat SMA, saya membaca Jawa Pos di rumah setelah pulang sekolah. Hal itu berlanjut sampai saya lulus SMA.

 

Saat kuliah di Bandung, saya tidak membaca Jawa Pos. Jawa Pos tidak dijual di pedang koran dekat kampus. Saya tidak tahu apakah Jawa Pos memang tidak dijual di Bandung ataukah memang  mamang penjual koran tidak mengambil Jawa Pos. Akhirnya saya berpindah ke Kompas di awal bulan dan Koran Tempo di akhir bulan.

 

Balik lagi ke Jawa Pos, saat itu Jawa Pos dibagi menjadi tiga bagian. Bagian utama, Radar Kediri, dan Olahraga. Mungkin pada bagian utama, saya membaca sebagian besar artikel, baik dari politik, ekonomi dan internasional. Mungkin yang saya agak sering lewati adalah di bagian ekonomi bisnis karena banyak istilah yang saya belum paham saat itu. Untuk bagian Radar Kediri, saya membaca selintas saja karena saya tidak terlalu terarik dengan berita lokal. Saya tidak pernah menyentuh bagian olahraga, karena memang saya tidak tertarik dengan olahraga.

 

Dari membaca Jawa Pos mulai SD hingga SMA itulah daya tahan saya dalam membaca terlatih. Saya bisa duduk cukup lama untuk membaca Jawa Pos. Hal itu berdampak ke kegemaran saya membaca buku saat dewasa. Itulah mengapa saya menyebut jawa Pos adalah hal yang sangat berpengaruh di hidup saya. Apakah saya masih membaca koran? Saya menuliskannya di kiriman ini.

 

Saya kadang membaca rubrik Catatan Dahlan Iskan, kolom yang diampu oleh sang CEO sendiri. Rubrik ini ada seminggu sekali. Saya mulai rutin membaca Catatan Dahlan Iskan ketika beliau menceritakan pengalamannya dalam menjalani transplantasi hati. Saat itu, beliau menderita sirosis sehingga hati miliknya harus diangkat dan diganti oleh hati milik pendonor. Pengalaman beliau menjalani pengobatan di Tiongkok inilah yang beliau tuliskan di Catatan Dahlan Iskan. Diberi judul khusus, yaitu Ganti Hati. Pada akhirnya, kumpulan catatan ini diterbitkan dalam buku berjudul Ganti Hati.

 

Saya begitu menyukai tulisan beliau. Strukturnya enak, ringkas namun tetap menampilkan hal-hal detail dan kecil. Saya merasa tidak membaca opini yang njlimet padahal kadang topiknya berat. Saya seperti didongengin seseorang dalam penuturannya. Kekuatan tulisan beliau ada pada kemampuan story telling yang sangat kuat dan mengalir.

 

Hal yang paling saya sukai dari tulisan beliau adalah opininya berani dan otentik. Beliau tidak takut mengemukakan pendapat walau pendapatnya tidak jamak di khalayak. Dengan argument yang runtut, beliau dapat menjelaskan alasan di balik pernyataan sikap. Kedua adalah, beliau sering mengambil sudut pandang yang tidak umum. Seringkali sudut pandang yang tidak terpikirkan oleh saya.

 

Dari tulisan-tulisan beliau saya belajar tentang struktur penulisan dan gaya bahasa di awal saya nulis blog. Bahkan saya contek struktur tulisannya. Saya ingin menjadi Dahlan Iskan singkat kata. Tentu saja tidak pernah sebaik beliau, tapi setidaknya saya berlatih menulis dengan struktur yang tidak awut-awutan.

 

Beliau saat ini masih menulis setiap hari di Disway, sebuah media yang beliau dirikan. Gaya tulisannya berubah menyesuaikan karakter pembaca saat ini. Walapun saya lebih menyukai tulisan beliau yang dulu, beliau tidak kehilangan nakalnya dalam beropini.


Photo by Ashni on Unsplash

Minggu, 06 Februari 2022

New Endings Jakarta

Februari 06, 2022 0
New Endings Jakarta

Setelah di tulisan sebelumnya saya melakukan refleksi selama saya tinggal di Jakarta, izinkan kali ini saya membagi awang-awang ke depan. Awang-awang yang berupa harapan dan kekhawatiran sekaligus. Saya membagi menjadi tiga bagian utama: Perpindahan Ibukota, Iklim, dan kesempatan hidup. Tulisan ini juga sebagai penutup seri #30HariBercerita tentang Jakarta.

 


Saya pernah diskusi dengan beberapa orang tentang isu perpindahan ibukota Indonesia. Kami tidak membahas alasan, kajian dan anggaran. Biarlah itu jadi urusan bapak-bapak di atas sana. Kami membahas pertanyaan besar, “Bagaimana wajah Jakarta tanpa gelar DKI?” Kami ngobrol ngalor ngidul tentang ini, namun kesimpulan kami sama. Jakarta akan tetap menjadi Jakarta. Jakarta sudah mempunyai identitas dan kepribadian lebih dari gelar DKI.

 

Dengan pindahnya ibukota, kamu akan tetap menemui tetanggamu yang jualan nasi uduk. Kamu masih bisa menyapa abang penjaga warkop favoritmu. Jakarta juga masih punya Monas. Pasar Minggu tetap tidak libur walau hari minggu. Kami menduga, seluruh kehidupan dan interasi sosial tidak mengalami pergeseran yang berarti. Hanya para abdi negara yang akan terdampak karena harus pindah. Dari itu semua, kami berharap dengan pindahnya para pejabat ke ibukota baru, voorijder yang menyebalkan itu akan lenyap dari jalanan Jakarta.

 

Bagian kedua adalah tentang iklim. Tidak banyak orang Jakarta yang menyadari bahwa kehidupan kota ini terancam dengan perubahan iklim dan kerusakan lingkungan. Untuk melihat orang-orang yang paling terdampak terhadap kerusakan lingkungan, kamu bisa berjalan-jalan ke Jakarta bagian utara. Penurunan ketinggian tanah begitu masif dan dirasakan langsung. Mereka terpaksa bersahabat dengan banjir rob.

 

Belum lagi tentang krisis air bersih. Cakupan layanan PAM Jakarta baru menyentuh 65% dari total penduduk (suara.com, 2020). Masih banyak yang kesulitan mengakses air bersih padahal akses terhadap air bersih merupakan hak setiap warga negara. Akhirnya mereka terpaksa menggunakan air tanah. Penggunaan air tanah ini akan mempercepat penurunan ketinggian tanah di Jakarta.

 

Kualitas udara, pengelolaan sampah, banjir, pendangkalan sungai dan sebagainya masih menjadi catatan panjang pekerjaan rumah di bidang lingkungan. Diharapkan pemegang kebijakan mempunyai roadmap perbaikan dan regulasi akan hal ini. Mengurangi penggunaan sedotan plastik memang baik, namun regulasi plastik industri akan berdampak lebih besar.

 

Hal ketiga adalah kesempatan hidup. Saya bukan ahli ekonomi, namun ini yang saya lihat dan rasakan. Akses ekonomi dan akses ruang hidup masih jadi sorotan utama. Berdasarkan kajian tim Anies-Sandi saat pilkada, kemampuan daya beli kebutuhan pokok menjadi isu utama bagi penduduk Jakarta. Mungkin tidak pernah terdengar di sosial media, namun itu kenyataan yang dihadapi.

 

Untuk kelas menengah, kesulitan untuk ruang hidup (tempat tinggal) jadi perbincangan. Melipir ke luar Jakarta menjadi pilihan yang sering diambil walaupun istilah tua di jalan harus dihadapi.

 

Apakah kamu masih optimis tentang Jakarta? Masih ada lilin harapan walau kadang redup. Hidup di Jakarta memang penuh dengan semoga.

Refleksi Sewindu di Jakarta

Februari 06, 2022 0
Refleksi Sewindu di Jakarta

Saya mengingat lagi kapan saya pertama kali berkenalan dengan Jakarta. Tahun 2010 akhir tepatnya saya menginjakkan kaki pertama kali ke kota yang sebelumnya cuma bisa saya lihat melalui televisi. Tidak pernah terbayangkan seorang anak yang besar di pelosok desa di Jawa Timur bisa menginjakkan kaki di Jakarta. Kala itu saya cuma sebentar di Jakarta. Ada sebuah acara di stasiun televisi di daerah Kebon Jeruk.

 


Kesan pertama adalah panas. Saat itu saya hidup di Bandung. Walaupun hidup di Dayeuh Kolot yang juga panas dan berdebu, saya tidak membayangkan Jakarta sepanas itu. Selama menaiki transportasi umum, beberapa kali saya terjebak macet. Ruwet sepertinya. Di jam pulang kerja, saya melihat pekerja di Jakarta yang menunjukkan wajah lelah. Jakarta menjadi kota yang tidak saya idamkan untuk saya tinggal dan bekerja.

 

Melompat di tahun 2014, akhirnya saya diterima kerja di Jakarta. Pada tanggal 1 Januari 2014, saya resmi menjadi penduduk Jakarta (walau KTP masih Jatim). Saya mulai berkenalan lebih intens dengan Jakarta. Tidak semua menyenangkan, namun tidak semua mengerikan. Jakarta itu seperti sahabat yang menyebalkan. Awal kenal, pasti kamu sebal dan bikin marah. Makin kenal, saya makin tahu sis baiknya. Bahkan beberapa kali dia membantu saya saat kesulitan. Nah itulah Jakarta.

 

Stockholm Syndrome kata orang. Kamu akan simpati bahkan jatuh cinta kepada orang yang menawanmu dalam tahanan. Kamu tidak sadar apa yang terjadi. Tahu-tahu, kamu akan bersahabat dan tidak ada keinginan untuk meninggalkannya. Saya mulai mengenal orang-orang baik, tempat-tempat menyenangkan, sejarah yang mengasyikkan, atau kesempatan yang sebelumnya tidak ada.  Saya teringat dengan jelas ketika Irwan Ahmett mengucapkan kalimat ini di TEDx Jakarta, “Sulit hidup di Jakarta, tapi jauh lebih sulit untuk dapat meninggalkannya.”

 

Wualaa... Saya akhirnya di sini. Apakah Jakarta ini menjadi tempat persinggahan sebelum melanjutkan ke kota lain? Saya belum tahu. Namun selama hidup di Jakarta, saya setidaknya mencoba untuk tetap bermain di dalam segala keterbatasan yang ada. Saya mencoba untuk menjadikan Jakarta tempat yang menyenangkan untuk ditinggali.

Sabtu, 05 Februari 2022

Kebanggaan Umat

Februari 05, 2022 0
Kebanggaan Umat

Namanya harus disamarkan menjadi Ketuhanan saat dia mengajukan rancangannya ke panitia pembangunan. Panitia diketuai langsung oleh Presiden Soekarno sedang memilih rancangan terbaik yang akan menjadi masjid terbesar di Asia Tenggara tersebut. Di akhir perlombaan, pemenang dari sayembara itu diumumkan dari 22 arsitek yang mengumpulkan karya. Arsitek dengan nama asli Friedric Silaban memenangkan sayembara pembangunan Masjid Istiqlal.

 


Masjid Istiqlal ini didasari oleh usulan beberapa tokoh Islam kepada menteri Agama saat itu. Ibukota Indonesia baru saja pindah ke Jakarta. Sebagai ibukota negara, Jakarta belum mempunyai masjid yang besar. Menteri Agama menyambut baik usulan tersebut. Usulan itu disampaikan ke Presiden Soekarno. Soekarno juga sepakat dengan usulan tersebut, bahkan beliau ingin menjadi ketua panitia sayembara desain Masjid Istiqlal.

 

Dipilihlah lokasi di Taman Wijaya Kusuma, sebuah taman dengan bekas benteng Belanda di atasnya. Pembangunan dimulai pada tahun 1961. Dikarenakan gejolak politik di masa transisi kekuasaan, pembangunan masjid tersendat. Pembangunan Masjid Istiqlal memakan waktu hingga 17 tahun. Pada akhirnya, Masjid Istiqlal diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tahun 1978 dengan menelan biaya sebesar Rp. 7.000.000.000,00 (tujuh miliar rupiah) dan US$. 12.000.000.

 

Rancangan Silaban ini sangat khas dengan bentuk geometri sederhana. Dia sangat sadar terhadap iklim dan cuaca. Dibuatlah sirip dan kolom untuk tepian masjid agar panas dari matahari dapat tertahan, namun angin dapat masuk ke dalam. Cahaya matahari juga bisa masuk lewat celah kolom. Selasar dibikin agak miring agar saat hujan, tampias air dapat mengalir dan lantai bisa segera kering. Seperti rancangan zaman Soekarno lainnya, gedung ini mengandung makna seperti tinggi Menara, jumlah tiang, jumlah lantai dan diameter kubah.

 

Silaban merancang Istiqlal dengan jenis bahan yang sangat sedikit. Bahan utamanya hanyalah beton, baja, dan marmer. Dengan penggunaan bahan yang kuat terhadap perubahan cuaca ini, diharapkan masjid ini dapat bertahan hingga waktu yang lama. Penggunaan bahan ini juga mempertimbangkan iklim di Jakarta. Bahan-bahan ini dapat menahan panas sehingga jamaah dapat beribadah dengan nyaman walaupun tanpa adanya pendingin.

 

Ngomong-ngomong soal kubah, Silaban menggunakan pipa-pipa baja kecil yang disusun menggunakan prinsip polyhedron. Saat itu, hanya negara maju yang bisa membuat bangunan seperti itu. Karena itu, Silaban beserta panitia berkonsultasi langsung ke Jerman. Ada tantangan sendiri dalam menggarap kubah ini. Kesuksesan Silaban dan tim ini membuat kubah tersebut dikenal sebagai Silaban Dome.

Jumat, 04 Februari 2022

Tempat Pengharapan

Februari 04, 2022 0
Tempat Pengharapan

Setiap Imlek tiba, saya selalu merencakan hunting foto. Keleteng yang terbayang selalu di Vihara Dharma Bakti di kawasan Petak Sembilan, Glodok. Sebelum pandemic, pasti kelenteng itu padat orang. Ada tiga jenis orang yang memadati kelenteng Kim Tek Ie ini. Pertama tentu saja umat yang ingin beribadah di kelenteng. Kebanyakan mengenakan pakaian berwarna merah. Warna keberuntungan di hari Imlek. Kedua adalah fotografer dan wartawan. Berciri menenteng tas kamera dan berdiri di tepian kelenteng yang sudah disiapkan panitia.  Selalu bersiap membidik momen lewat kamera. Ketiga adalah pedagang burung. Banyak pedagang yang menawarkan burung untuk dibeli dan dilepaskan oleh umat yang merayakan. Ada tradisi pelepasan burung seusai beribadah di kelenteng.

 


Mengapa Kelenteng Kim Tek Ie menjadi tempat yang terbayang pertama? Karena ini adalah kelenteng yang paling terkenal dan ini merupakan kelenteng tertua di Jakarta. Tidak heran perayaan Imlek terpusat di sini. Saya hampir tidak pernah mengunjungi kelenteng lain saat Imlek. Namun, berkat @jktgoodguide, saya mengenal sebuah kelenteng yang tersembunyi di kawasan Pasar Baru. Kelenteng Sin Tek Bio.

 

Kelenteng Sin Tek Bio ini berdiri di tahun 1698, sekitar 120 tahun lebih dulu dibandingkan berdirinya Pasar Baru. Kelenteng ini didirikan oleh kaum cina miskin yang berprofesi sebagai petani. Kaum ini tidak mampu tinggal di dalam benteng kota ataupun sekitarnya. Konseukensi dari terbentuknya komunitas penduduk adalah timbulnya kebutuhan tempat ibadah. Karena itulah Kelenteng Sin Tek Bio ini berdiri.

 

Setiap kelenteng, memiliki dewa tuan rumah, begitupun juga dengan Kelenteng Sin Tek Bio. Kelenteng ini terdiri dari dua bagian bangunan berdasarkan dewa tuan rumah. Bagian utama dihuni oleh Dewa Hok Tek Ceng Sin atau Dewa Bumi dan Rejeki. Sangat lazim bahwa kelenteng sekitar pusat perdagangan mempunyai Dewa Hok Tek Ceng Sin sebagai dewa tuan rumah. Kelenteng dijadikan tempat berdoa agar usaha yang dilakukan lancar dan banyak rejeki.

 

Bagian kedua dihuni oleh Dewi Kwan Im sebagai Dewi Welas Asih dan Penolong. Dewi Kwan Im terkenal membantu orang yang tengah kesulitan. Diharapkan umat yang memohon di sini mendapatkan kemudahan jika mendapat kesulitan.

 

Tempat dari Kelenteng Sin Tek Bio ini memang agak sulit ditemukan. Patokannya, kamu bisa berangkat dari Bakmi Gang Kelinci. Di sebelah Bakmi GK, ada gang kecil. Masuk saja dan ikuti gang yang berkelok-kelok. Kamu akan menemukan kelenteng ini di sisi kiri.

Oase Keberagaman di Batavia

Februari 04, 2022 0
Oase Keberagaman di Batavia

Kehidupan sosial suatu masyarakat, sering kali tidak lepas dengan suasana religi dan spiritual. Begitupun juga dengan kehidupan penduduk Batavia lama. Semakin banyaknya orang-orang Belanda dan Eropa yang menetap di Batavia, makin besar kebutuhan akan gereja sebagai tempat beribadah dan ekspresi religiusitas. Gereja pertama disinyalir berada di lokasi museum wayang kota tua. Bangunan aslinya sudah tidak berbentuk. Di situ juga disinyalir makam dari pendiri Batavia, Jan Pieterzoon Coen.

 


Pejabat VOC yang didominasi pemeluk Kristen Protestan menjadikan Kristen sebagai agama resmi dan mayoritas di Batavia kala itu. Bahkan pekerja Poturgis yang beragama Katolik dipersyaratkan untuk memeluk agama Kristen jika ingin tinggal di Batavia. Hal ini membuat komunitas Katolik tidak bisa berkembang, apalagi mendirikan gereja. Hal ini berlangsung cukup lama hingga angin segar berhembus saat kekuasaan Belanda jatuh ke tangan Perancis.

 

Di saat Herman Williem Daendles menjadi gubernur Hindia Belanda, dia memindahkan pusat pemerintahan dari Batavia lama ke Welte Vreden. Di saat itu juga, komunitas Katolik diberi kelonggaran untuk menyelenggarkan misa. 1808 digelar misa terbuka pertama di Batavia. Dua tahun kemudian, umat Katolik di Batavia memiliki gereja Katolik pertama yang berlokasi di kawasan Senen. Mulai saat itu, umat Katolik mulai berkembang di Batavia.

 

Pada 1826, gereja ini terbarkar sehingga setahun kemudian, umat katolik mendirikan gereja baru di kawasan waterlooplein (lapangan Banteng). Gereja itu diberi nama Gereja Santa Maria Diangkat ke Surga. Setelah mengalami beberapa pemugaran, pada tahun 1890 gereja ini rubuh total. Umat Katolik mendirikan gereja baru di tanah tersebut. Karena kesulitan dana, pembangunan gereja ini memakan waktu yang cukup lama. Pembangunan gereja akhirnya selesai pada tahun 1901.

 

Pembangunan gereja Katedral digawangi oleh Pastor Antonius Dijkmans, seorang Pastor yang juga arsitek. Gereja ini dibangun dengan gaya arsitektur neo-gotik yang saat itu sangat lazim digunakan untuk membangun gedung gereja. Jika kita perhatikan Menara-menaranya, makin ke atas makin sedikit ornament dan makin runcing. Ini melambangkan jika kita menghadap ke Tuhan, kita bersiap untuk “polos”, tidak banyak kosmetik. Gereja Katedral ini berbentuk salib jika dilihat dari atas. Hingga sekarang, bangunan yang ada tidak mengalami banyak perubahan. Bentuk asli masih dipertahankan.

 

Saat ini, gereja Katedral masih aktif menggelar peribadatan untuk umat Katolik di Jakarta.

Kamis, 03 Februari 2022

Kemegahan Gedung Kesenian

Februari 03, 2022 0
Kemegahan Gedung Kesenian

Awalnya saya mengenal bangunan ini sebagai tempat pementasan yang sering dipakai oleh Teater Koma. Letaknya ada di pojokan dekat Pasar Baru. Hanya itu. Saya tidak terlalu tertarik mengenal lebih jauh. Untuk urusan gedung teater, saya lebih kenal dan lebih “dekat” dengan Graha Bakti Budaya (GBB) di Taman Ismail Marzuki, bukan gedung ini. Mungkin karena penampilan tater di sana memiliki kecenderungan tiketnya lebih mahal dari yang digelar di GBB. Begitu kesan pertamaku tentang Gedung Kesenian Jakarta (GKJ).

 


Akhirnya kesempatan saya berkenalan lebih dekat dengan GKJ terjadi pada bulan Juni 2017. Saat itu TEDx Jakarta akan menggelar acara di GKJ. Sebagai salah satu relawan, saya datang ke GKJ untuk survey lokasi. Begitu masuk, saya kagum betul dengan tempat ini. Desain yang menganut romawi ini begitu megah. Langsung terbayang saat era kolonial, tempat ini menjadi tempat penampilan kesenian untuk orang Eropa. Tuan dan Nyonya Belanda menonton pertunjukan kesenian di gedung ini.

 

Gedung ini diinisiasi oleh Gubernur Jendral Herman Williem Daendles. Setelah dia menginisiasi pemindahan pusat kota dari Batavia Lama (Kota Tua) ke Kawasan Welte Vreden (Lapangan Banteng), dia mulai memikirkan sarana pendukung untuk kehidupan di Welte Vreden, salah satunya gedung kesenian. Sayang, sebelum terwujud, Perancis kalah perang dengan Inggris, maka posisi Daendels digantikan oleh Sir Thomas Stamford Bingley Raffles. Di masa Raffles lah gedung ini berdiri dengan nama Schouwburg Weltevreden.

 

Awalnya gedung ini berdiri menggunakan bahan yang sangat sederhana. Berdinding bambu dan kayu beratap rumbia. Pada tahun Pada tahun 1817 mulai dibangun gedung yang ideal menggunakan bahan sisa reruntuhan benteng Batavia lama. Mulai dari saat itu, gedung itu mulai aktif menampilkan berbagai pertunjukan kesenian untuk orang Eropa di Batavia.

 

Gedung ini beralih fungsi dari masa ke masa. Pada masa pendudukan Jepang, gedung ini difungsikan untuk markas tantara dan pusat penyebaran propaganda. Sejak jaman kemerdekaan pun gedung ini sering beralih fungsi mulai dari gedung kuliah fakultas ekonomi dan fakultas hukum Universitas Indonesia hingga menjadi gedung bioskop. Pada 1984, Gubernur Soeprapto mengembalikan fungsi gedung ini sebagai gedung pertunjukan kesenian.

 

Hingga saat ini, GKJ masih sering dimanfaatkan untuk menampilkan berbagai pertunjukan kesenian mulai dari teater, tari, balet, dan kesenian lainnya.

Senin, 31 Januari 2022

Tempat Aman Berkesenian

Januari 31, 2022 0
Tempat Aman Berkesenian

Kalau saya disuruh menyebutkan tempat di mana saya merasa nyaman di Jakarta, mungkin saya akan menjawab Taman Ismail Marzuki atau biasa disebut TIM. Kawasan yang berada di Jalan Cikini ini merupakan pusat fasilitas berkesenian di Jakarta. Mulai dari seni teater, musik, rupa, hingga tari diakomodir di tempat ini.

 


Kegiatan favorit saya di TIM adalah menonton film pendek di Kineforum. Sebuah tempat pemutaran independent yang terletak di belakang Graha Baktu Budaya TIM. Di setiap akhir pekan, Kineformum memutarkan film pendek yang telah dikurasi oleh pengurusnya. Kadang berbayar, kadang berbayar suka rela. Tidak jarang pula gratis. Setiap saya bingung menghabiskan waktu di akhir pekan, saya selalu meluncur ke TIM.

 

Di TIM juga tempat bioskop Cinema XXI paling murah di Jakarta. Di saat yang lain tiket bioskop dihargai di 40 ribu, di TIM tiket dijual dengan harga 25 ribu. Selain murah, XXI TIM ini juga tidak terlalu umum dikunjungi oleh orang-orang yang saya kenal. Sebagai anak ansos berat, XXI ini sangat nyaman buat saya. Ketika saya ingin menyendiri, larilah saya ke TIM.

 

Selain itu nonton teater, ikutan festival sastra, atau nonton pertunjukan tari. Singkatnya, TIM ini menjadi tempat paling favorit melarikan diri dari bisingnya Jakarta. Apalagi kamu suka dengan berbagai kesenian. Kamu tidak akan dianggap aneh ketika mengekspresikan seni di sini. Saya boleh bilang, TIM ini tempat aman untuk seniman berkarya dan menampilkan karya tanpa dihakimi ini itu.

 

Pemprov DKI Jakarta memutuskan merevitalisasi Taman Ismail Marzuki ini pada tahun 2019. Pemprov ingin lebih memasimalkan fungsi TIM dengan membangun beberapa fasilitas yang lebih memadai di sana. Akan dibangun gedung pertunjukan yang lebih lengkap, tempat Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin yang lebih nyaman dan sebagainya. Termasuk pembangunan hotel yang bisa digunakan menginap para seniman dari luar Jakarta jika ada acara di TIM.

 

Graha Bakti Budaya yang klasik itu akhirnya dirobohkan, bersamaan dengan perobohan beberapa fasilitas lainnya. Untuk sementara, fasilitas lainnya pun tidak bisa digunakan. Galeri Buku Bengkel Deklamasi yang terletak di pojok GBB juga direlokasi. Alhasil, seluruh kegiatan kesenian di TIM berhenti total untuk sementara waktu.

 

Siang itu, setelah saya sholat Jumat di Masjid Amir Hamzah yang terletak di bagian belakang kawasan TIM, saya memutuskan untuk jalan-jalan melihat perkembangan revitalisasi. Beberapa gedung utama sudah terlihat bentuknya. Ada gedung utama yang berbentuk seperti kapal memanjang. Fasad pada gedung tersebut berbentuk not balok dari lagu Rayuan Pulau Kelapa ciptaan Ismail Marzuki. Gedung tempat parkir juga mulai terlihat. Belum sempurna, namun cukup membahagiakan.

 

Diharapkan revitalisasi tahap 1 selesai pada tahun 2022. Saya sangat merindukan kegiatan seni di sini. Saya berharap, semua seniman bisa berkarya dan menampilkan karya dengan lebih nyaman di TIM setelah revitalisasi rampung.

Senin, 24 Januari 2022

Ruang Aman Bernama Perpusnas

Januari 24, 2022 0
Ruang Aman Bernama Perpusnas

Saat itu saya masih SMA ketika saya menyaksikan film National Treasure 2. Di salah satu adegan, Benjamin Gate sedang mencari buku presiden di The Library of Congress. Tergambar sebuah perpustakaan yang sangat besar, rapi dan syahdu. Entah kenapa saya memilih kata syahdu untuk perpustakaan. Ada dua hal yang terlintas di benak saya. Pertama, suatu saat saya ingin mengunjunginya. Kedua, saya membayangkan Indonesia punya perpustakaan yang mirip dengan itu.

 


Perkenalan pertama saya dengan perpustakaan milik pemerintah tentu saja Perpustakaan Kota Blitar, tempat saya dulu tinggal. Kemudian di Kota Blitar terbangun perpustakaan yang jauh lebih bagus yaitu Perpustakaan Bung Karno yang terletak di kompleks makam Bung Karno yang menjadi satu bangunan dengan Museum Bung Karno. Saya sering mengunjungi perpustakaan ini setelah jam sekolah. Setelah saya kuliah, saya tidak pernah lagi berinteraksi dengan perpustakaan milik pemerintah. Saya lebih memilih membaca buku di perpustakaan kampus.

 

Pada tahun 2017, Pak Jokowi meresmikan gedung baru perpustakaan milik pemerintah dengan nama resmi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Gedung ini terletak di Jalan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat. Terletak antara Lemhanas dengan Balai Kota Jakarta. Gedung dengan tinggi 27 lantai ini disebut dengan gedung perpustakaan tertinggi di dunia. Itu pertama kali saya tahu bahwa Indonesia punya perpustakaan nasional.

 

Walau sudah lama diresmikan, saya baru mengunjungi perpustakaan ini minggu ini. Selama ini saya hanya tahu bagaimana bentuk dalamnya dari unggahan teman-teman di media sosial. Menarik sepertinya untuk dikunjungi.

 

Untuk mengunjungi, kamu perlu mendaftar dulu keanggotaan di laman website milik perpusnas agar kamu tidak perlu mengantri saat di sana. Kedua, kamu harus meminjam kunci loker untuk meletakkan tas dan barang-barang yang kamu bawa di lantai dasar. Pengunjung dilarang membawa tas milik pribadi ke atas. Kamu diberi tas pengganti kalau kamu ingin membawa buku atau laptop ke atas.

 

Ketiga, jika masih ada kuota, kamu bisa mencetak kartu anggota di lantai dua. Ada kuota cetak kartu 300 kartu per hari. Jika kamu tidak kebagian, tenang, kamu masih bisa naik ke atas untuk membaca buku atau beraktifitas di perpusnas. Keempat, jika kamu ingin pulang, jangan lupa untuk mengembalikan kunci loker ke petugas lantai dasar.

 

Setelah kunjungan ke perpusnas, ada beberapa kesan yang ingin saya bagi. Untuk hal positif pertama dari perpusnas ini adalah bersih, mewah dan terang. Jauh dari kesan perpustakaan milik daerah yang kebanyakan tua, berdebu, dan sering kali gelap. Ini seperti layaknya gedung perkantoran modern.

 

Kedua adalah nyaman. Nyaman untuk membaca, mengerjakan tugas, bahkan nyaman untuk bengong. Dengan ademnya AC di sini dan tenangnya suasana di dalam, sangat cocok untuk kamu yang ingin mendapatkan ketenangan untuk membaca hingga bengong. Di beberapa lantai ada yang ramai, namun tidak ribut karena semua orang mengetahui adab selama berada di perpustakaan.

 

Ketiga adalah akses yang mudah. Lokasinya yang berada di jantung kota Jakarta sangat mudah untuk diakses dengan kendaraan pribadi maupun transportasi umum. Jika menggunakan Transjakarta, kamu bisa menggunakan jalur 1A dan turun di halte Balai Kota.

 

Di samping kelebihan di atas, tentu saja ada yang perlu perbaikan. Pertama, kalau sedang ramai, lift yang ada tidak mampu menampung kebutuhan lalu lintas orang yang ada di dalam. Saya terpaksa menggunakan tangga darurat jika sedang ramai. Kedua tentang masih ditutupnya beberapa fasilitas, sehingga tidak bisa digunakan untuk pengunjung. Ketiga adalah koleksi. Saya belum tahu apakah koleksi di perpusnas ini lebih lengkap dibanding perpustakaan nasional negara lain. Saya berharap perpusnas tidak lagi membanggakan “perpustakaan tertinggi”, namun suatu saat bisa membanggakan “perpustakaan terlengkap”.

 

Secara keseluruhan, perpustakaan ini sangat nyaman. Ini adalah ruang aman untuk kamu yang suka membaca buku dan mengerjakan tugas dengan gratis. Ini adalah ruang ketiga untuk penduduk Jakarta dan penduduk Indonesia secara keseluruhan. Kamu bisa menggunakan fasilitas dan berinteraksi satu sama lain tanpa membedakan kelas sosial. Bahkan, perpustakaan ini adalah ruang aman untuk kamu yang tidak suka membaca buku. Kamu bisa menikmati pemandangan sekitar monas dengan adem dari ketinggian.

 

Apakah harapan saya Indonesia mempunyai perpustakaan seperti The Library of Congress sudah terpenuhi. Mungkin belum, namun saya sangat bersyukur kita sudah punya perpusnas ini.

Minggu, 23 Januari 2022

Anak Betawi di Parlemen

Januari 23, 2022 0
Anak Betawi di Parlemen

MH Thamrin, kebanyakan orang Jakarta mendengar nama ini sebagai salah satu jalan utama di Jakarta. Atau paling mentok mengetahui perawakan beliau dari patung yang berdiri tegap di perempatan monas, tepatnya di depan gedung X. Namun di samping itu semua, perannya untuk Jakarta jauh lebih besar. Saya akan bercerita tentang anak Betawi satu ini.

 


Lahir dari keluarga kaya, ayah Thamrin adalah Wedana keturunan Belanda bernama Tabri Thamri. Ibunya seorang Betawi asli bernama Nurhana. Sebagai anak seorang Wedana, tentu dia mempunyai akses pendidikan dan pengetahuan lebih dari anak seumurannya. Walaupun kalau kata anak sekarang dia sangat berprivileged, dia sangat dekat dengan rakyat kecil.

 

Untuk karir politik, dia berjuang melalui parlemen kala itu. Gemeenteraad atau Dewan Kota adalah majelis pertimbangan untuk kota Batavia. Kalau sekarang mungkin disebut DPRD. Melalui Gemeenteraad inilah Thamrin menyuarakan beberapa kepentingan rakyat pribumi di Batavia. Hal yang baling dicatat dalam karirnya di Dewan Kota adalah dia mendorong perbaikan fasilitas umum di kampung pribumi seperti saluran irigasi dan kanal penggendali banjir.

 

Kemudian karir Thamrin berlanjut ke Volksraad, kalau sekarang DPR. Posisi ini mulanya kosong, kemudian ditawarkan ke HOS Cokroaminoto dan Dr Sutomo, namun keduanya menolak. Akhirnya jabatan itu ditawarkan ke Thamrin. Melalui Volksraad, Thamrin mengkritik keras kebijakan perburuhan di Sumatra Timur. Berkat diplomasi yang dilakukan, sistem perburuhan itu dihapus.

 

Thamrin sangat peduli kepada dunia sepak bola. Kala itu, anak-anak pribumi kesulitan dalam mengakses lapangan sepak bola. Padahal menurutnya, sepak bola bisa dijadikan menggalang kekuatan dan persatuan di antara kaum pribumi. Thamrin menggunakan jaringan dan kemampuan diplomasinya untuk pembentukan Voetbalbond Indonesische Jacatra (VIJ), yang kini dikenal dengan Persija. Tidak hanya di level kebijakan, dia juga berperan dalam penyediaan infrastruktur sepak bola. Tidak tanggung-tanggung, dia menyumbangkan 2000 gulden untuk pembelian lapangan sepak bola. Sekarang lapangan itu masih ada yang bernama Lapangan VIJ di Petojo.

Jumat, 21 Januari 2022

Terbaik dari Daerah

Januari 21, 2022 0
Terbaik dari Daerah
Banyak orang yang mengatakan bahwa Jakarta adalah melting pot. Jakarta merupakan kota dengan identitas yang dihasilkan oleh leburan dari berbagai budaya, latar belakang, suku dan agama. Sintesa dari semua itu menjadikan Jakarta saat ini menjadi seperti ini. Tidak heran, orang Jakarta mempunyai beragam bahasa tutur, perayaan agama, ekspresi budaya, dan tentu saja makanan.
Kamu bisa mencari segala jenis makanan di Jakarta. Rentangnya bergam. Mulai dari makanan Aceh, sampai makanan Papua. Mulai dari makanan murah, sampai makanan berkelas atas. Mulai dari ngemper sampai hotel berbintang. Semua itu membuat Jakarta menyenangkan untuk dijelajahi kulinernya.

Sebagai perantau, tentu saya mempunyai standar untuk makanan daerah, terutama daerah tempatku berasal, Jawa Timur. Pedagang yang menjual nasi pecel mungkin banyak, tapi yang sama atau setidaknya mirip dengan pecel di Jatim sana jumlahnya sedikit. Kemiripan ini bisa dalam bentuk rasa, tekstur, sajian, sampai pelayanan. Jika simpangannya terlalu jauh, saya merasakan ada yang kurang walaupun namanya sama-sama nasi pecel.

Menyenangkan sekali ketika kita menemukan masakan yang mirip dengan yang ada di kampung halaman. Apalagi kalau pelayanannya membuat kita merasa di kota asal. Bukan bermaksud rasis, namun kalau ada pedagang masakan Jawa Timur berbicara dengan bahasa Jawa dan dialek Jawa Timur, akan menjadi nilai tambah dalam menikmati makanan.

Pasti perasaan ini dirasakan juga oleh perantau dari suku mana saja yang ada di Jakarta. Karena itu, saya akan menceritakan beberapa daftar makanan daerah yang bisa saya beri sebagai masakan daerah terbaik. Kebanyakan ini adalah street food karena saya juga jarang makan di resto mahal.

Untuk Nasi Pecel, saya memberikan penghargaan ke Nasi Pecel Pincuk Borma. Ini berada di Jalan Fatmawati. Letaknya di halaman Bank BTN Fatmawati 2. Buka pada pukul 19.00 sampai sekitar 23.00. Hidangan utama berupa Nasil Pecel Madiun, namun kamu bisa memilih hidangan pendamping seperti usus, kikil, paru atau berbagai jenis gorengan. Di sini juga terkenal untuk Iga Bakarnya.

Kalau untuk Coto Makassar, saya menanyakan ke teman dari Makassar. Hanya satu nama yang sering tersebut: Coto Makassar Daeng Ngawing yang berada di Senen. Dengan harga 30 ribu, kamu bisa menikmati satu mangkok Coto Makassar. Untuk isiannya, kamu bisa memilih sesuka kamu, seperti daging, berbagai jeroan, dan lemak.

Nah, untuk Sate Padang, pasti tidak lain dan tidak bukan jatuh kepada Sate Padang Ajo Ramon. Sate Padang Ajo Ramon ini sudah ada beberapa cabang, walaupun sebagian besar berada di Jakarta Selatan. Kuahnya yang kaya akan rempah dan sate dengan aroma khas membuat sepiring Sate Padang ini sulit untuk ditolak.

Itu beberapa makanan daerah yang menurut saya (dan beberapa teman) terbaik untuk mewakili makanan daerah di Jakarta. Kalau kamu, pedagang mana yang menjadi makanan daerah favoritmu?

Kamis, 20 Januari 2022

Gereja Milik Rakyat

Januari 20, 2022 0
Gereja Milik Rakyat

Gereja Willemskerk atau yang sekarang lebih dikenal dengan Gereja Immanuel yang berada di kawasan Gambir memiliki keterkaitan erat dengan gereja yang berada di Pasar Baru. Gereja tersebut adalah Gereja Pniel atau yang lebih dikenal dengan gereja ayam karena terdapat bentuk ayam yang berada di pucuk atap gereja ini. Letak dari gereja ini tepatnya ada di Samanhudi nomer 12, Jakarta Pusat. Uniknya, bangunan gereja ini menyerong dengan orientasi barat daya – tenggara.



Lalu, apa hubungannya dengan Gereja Willemskerk? Perlu diketahui bahwa letak Gereja Willemskerk ini berlokasi di Weltevreden, sebuah lokasi elit yang juga menjadi pusat pemerintahan pada masa Hindia Belanda. Tidak hanya itu, kawasan pendukung Weltevreden, yaitu Menteng juga dihuni oleh pejabat-pejabat pemerintahan dan orang-orang kaya. Hal ini mempengaruhi profil jemaat yang datang. Jemaat Gereja Willemskerk kebanyakan kalangan pejabat atau orang-orang kaya

 

Rakyat kalangan bawah yang terdiri dari Bumiputra, Cina dan Tamil merasa tidak nyaman beribadat di Gereja Willemskerk. Karena itu, mereka berinisiatif untuk mendirikan gereja sendiri, terpisah dengan Gereja Willemskerk. Awalnya hanya didirikan kapel kecil bernama Kapel Haantjeskerk. Lama-kelamaan, kapel ini tidak bisa menampung jemaat yang semakin banyak.

 

Pada tahun 1913, didirikan sebuah gereja pada tapak Kapel Haantjeskerk. Gereja bergaya Neo-Romanik, merupakan karya biro arsitek Cuypers en Hulswit. Mempunyai Menara kembar di kedua sisinya. Pada puncak atapnya, dihiasi Ayam Jago. Karena itu gereja ini disebut juga Gereja Ayam.

 

Menurut Pendeta Adriano yang dikutip dari NetGeo, gereja ini simbol inklusifitas. Gereja sewajarnya melayani semua jemaat tanpa memandang golongan dan kelas masyarakat. Gereja juga harus berperan membantu masyarakat sekitar baik dalam peyanan untuk orang tidak mampu, maupun program lingkungan hidup.

Renovasi sang Tuan Putih

Januari 20, 2022 0
Renovasi sang Tuan Putih

Kalau kamu datang ke Jakarta menggunaka kereta dan turun di stasiun Gambir kamu akan melihat dua bangunan yang gampang terlihat. Di kanan kamu akan melihat Monumen Nasional atau Monas. Di sebelah kiri, kamu akan melihat gedung putih yang cukup besar dengan beratap kubah setengah lingkaran. Gedung itu adalah Gereja Imanuel atau namanya GPIB Immanuel Jakarta.

 


Kali ini saya tidak membicarakan sejarah, namun tentang sebuah kabar gembira mengenai Gereja Immanuel ini. Gereja ini sudah berumur lebih dari 180 tahun dan sudah ditetapkan masuk cagar budaya. Untuk mempertahankan fungsinya, diperlukan pemeliharan dan pemugaran secara berkala. Pemprov DKI Jakarta mengadakan revitalisasi terhadap Gereja Immanuel.

 

Revitalisasi dimulai dengan terbitnya surat rekomendasi dari gubernur pada bulan April 2021. Dikarenakan Gereja Immanuel merupakan bangunan cagar budaya, maka revitalisasinya pun mengikuti protocol khusus. Arsitek pendamping revitalisasi diharuskan bersertifikasi IPTB A.

 

Revitalisasi telah berhadil dirampungkan pada bulan Desember 2021. Gubernur DKI Jakarta meresmikan selesainya revitalisasi ini sekaligus pertanda Gereja Immanuel bisa kembali digunakan umat kristiani untuk beribadah. Pada perayaan Natal tahun 2021, gereja ini bisa dimanfaatkan untuk peribadatan.

 

Selain pemeliharaan bagunan utama gereja, ada beberapa penataan yang dilakukan terhadap gereja Immanuel. Pertama adalah penataan halaman dan lingkungan gereja. Halaman dan taman gereja ditata lebih rapi. Kedua, penambahan lift pada samping gereja. Hal ini untuk memudahkan jemaat difabel atau yang tengah menggunakan kursi roda. Perlu diketahui, lantai gereja ini cukup tinggi terhadap tanah sekitarnya.

 

Diharapkan dengan revitalisasi ini, jemaat dapat beribadah dengan lebih tenang. Selain untuk memberikan rasa nyaman, revitalisasi ini menjadi bukti kesetaraan dan kebersamaan antar penduduk DKI Jakarta.

Selasa, 18 Januari 2022

Istana Para Presiden

Januari 18, 2022 0
Istana Para Presiden

Seperti yang kita ketahui, bahwa kepresidenan RI mempunyai 6 buah istana. Istana Negara, Istana Merdeka, Istana Bogor, Istana Cipanas, Gedung Agung Yogyakarta, dan Istana Tampak Siring. Banyak yang tidak mengetahui bahwa dalam kompleks Istana Presiden yang ada di kawasan Gambir tersebut terdiri dari dua istana. Istana Negara dan Istana Merdeka. Apa saja bedanya dan bagaimana kisahnya?

 


Saat memutuskan memindahkan pemerintahan dari Batavia (Kota Tua) ke Weltervreden (Kawasan Jakarta Pusat), Daendles mendirikan istana impiannya untuk pusat pemerintahan dan kediaman Gubernur Hindia Belanda, yaitu istana putih (sekarang gedung kementrian keuangan). Sebelum istana itu jadi, Daendles ditarik ke Belanda oleh Napoleon. Saat Perancis mengalami kekalahan dari Inggris di waterloo, pemerintah Belanda harus mundur dan digantikan orang Inggris yaitu Thomas Standford Rafless pada 1811.

 

Raffles jatuh cinta kepada bangunan yang berada di Rijswijk. Bangunan putih berlantai dua dan megah di tepi kanal ini sering disebut Rijswijk Palais. Raffles lebih senang tinggal di situ daripada kediaman resminya. Semenjak dari jaman Raffles dan seterusnya, penginapan itu sering dijadikan tempat para gubernur jendral rapat. Pada tahun XXXX dialihkan fungsi menjadi gedung pemerintahan dan kediaman gubernur jendral.

 

Pada tahun 1873, Rijswijk Palais dinilai terlalu sempit. Dibutuhkan ruangan atau gedung tambahan. Maka dibangunlah gedung yang menghadap ke Koningsplein (Lapangan Merdeka/Monas) sebagai tambahan kantor pemerintahan.

 

Fungsi dan penggunaan dua istana ini berganti-ganti, bergantung siapa pemimpinnya. Contohnya Bung Karno memungfikan Istana Merdeka sebagai kediaman. Di jaman Pak Harto, beliau lebih memilih tinggal di rumah pribadinya di Jalan Cendana, sehingga Istana Merdeka hanya difungsikan sebagai menerima tamu negara.

 

Di saat Pak Jokowi, setahu saya beliau lebih memilih tinggal di Istana Bogor. Istana Merdeka hanya difungsikan sebagai tempat penerimaan tamu negara.

Senin, 17 Januari 2022

Dewa Penunggu Harmoni

Januari 17, 2022 0
Dewa Penunggu Harmoni

Jika kamu melewati persimpangan Harmoni dari arah jalan Hayam Wuruk menuju ke Monas, kamu akan menemukan patung kecil anak kecil berdiri yang bertumpu satu kaki dengan tangan kanan menunjuk ke langit. Ukuran patungnya kecil, jadi sangat wajar kalau ini tidak terlihat oleh orang yang lewat di sekitar Harmoni. Itu adalah patung Hermes.

 


Sebelum saya menceritakan sejarah dari patung ini, kita akan berkenalan dulu dengan Hermes. Dalam mitologi Yunani, Hermes adalah dewa pembawa pesan dari Zeus, raja seluruh dewa, untuk manusia di Bumi. Sebagai dewa pembawa pesan, Hermes mengenakan sepatu bersayap yang bisa melesak cepat, topi bersayap dan membawa tongkat yang dililit dua ular. Dia juga dikenal sebagai dewa ahli diplomasi untuk meyampaikan kepentingan Zeus.

 

Lalu mengapa ada patung Hermes nongkrong di Harmoni? Perlu dikertahui bahwa sekitar jalan Juanda (Rijswijk), Jalan Veteran (Rijswijk) adalah deretan pertokoan elit yang dimiliki oleh orang-orang eropa. Salah satunya adalah Karl Wilhelm Stolz, seorang pedagang kelahiran Jerman yang akhirnya menjadi warga negara Belanda membuka toko bernama Jenny & Co. Toko ini menjual barang-barang logam dan gelas yang dia import dari Jerman.

 

Pada tahun 1920, Stolz membeli patung Hermes dari Hamburg. Awalnya patung yang didesain oleh Giambologna ini adalah barang dagangan, namun karena Stolz sangat suka dengan patung ini, maka dia memindahkan patungnya ke rumahnya yang berada di kawasan Meezter Cornelis (Jatinegara). Istrinya, Matilda Jenny, tidak menyukai patung ini karena vulgar. Istrinya menyuruh Stolz membuang patung ini. Karena Stolz sangat menyukai patung ini, dia tidak lantas membuang.

 

Pada tahun 1930, Matilda meninggal dunia. Stolz memutuskan untuk menjual seluruh bisnisnya yang ada di Rijswijk. Dia memberikan patung Hermes ini kepada pemerintah kota Batavia sebagai rasa syukur bahwa sudah diberi kesempatan berbisnis di kota Batavia. Oleh pemerintah kota Batavia, patung itu dipasang di jembatan Harmoni, dengan tujuan agar memberikan keberuntungan kepada pemilik bisnis di kawasan Harmoni.

 

Pada tahun 1999, patung asli dari Hermes ini dipindahkan dari Harmoni ke Museum Fatahillah. Untuk menggantikannya, pemprov DKI membuat replikanya dan ditempatkan di mana patung itu dipasang mulanya.

 

Patung Hermes ini telah menjadi saksi bisu bagaimana kemajuan dan kejayaan Harmoni di masa Batavia yang dikenal sebagai kawasan nongkrong elit, hingga menjadi pusat pemerintahan Republik Indonesia.

Minggu, 16 Januari 2022

Sederhana meski Legenda

Januari 16, 2022 0
Sederhana meski Legenda

Pasar Baru, adalah kawasan yang salah satu jadi favorit saya untuk saya kunjungi di akhir pekan. Sebelum pandemi, saya sering hunting foto di sini karena padatnya manusia dan beragamnya penjual. Pasar yang berdiri sejak tahun 1820 ini juga menyimpan banyak cerita dan gedung bersejarah. Tidak cuma itu, hal yang menjadi favorit saya di Pasar Baru adalah jajanan. Ada roti, kopi, dan mie. Bakmi Gang Kelinci mungkin menjadi yang paling tersohor, namun ada satu jajanan yang cukup jadi legenda. Cakwe Koh Atek.

 


Cakwe Koh Atek mulai berdiri sejak tahun 1971. Lokasinya berada di Jalan Belakang Kongsi Nomor 31, Pasar Baru. Kalau kamu kesulitan menemukannya, coba cari dulu Bakmi Gang Kelinci. Di sebelah kanan BGK, ada gang kecil masuk ke dalam. Kamu akan menemukan kios Cakwe Koh Atek di sebelah kiri. Kiosnya kecil dengan nuansa biru. Cakwe Koh Atek ini mulai buka sekitar pukul 10 pagi.

 

Koh Atek menjual dua jenis gorengan, cakwe dan kue bantal. Tekstur cakwe dan kue bantalnya renyah dan lebih enak kamu nikmati saat masih hangat. Saya suka karena cakwenya tidak terlalu berminyak. Hal ini disebabkan karena Koh Atek memakai minyak kelapa untuk menggoreng, bukan memakai minyak sawit.

 

Untuk menjaga cita rasa dari cakwe dan kue bantal, sejak berdiri Koh Atek selalu membuat adonan sendiri. Dia belum mempercayakan pembuatan adonan ke orang lain. Untuk penggorengan, sudah ada karyawan yang membantu.

 

Untuk mendapatkan cakwe dan kue bantal ini, sebaiknya kamu datang pagi-pagi. Jika ramai, kamu harus menunggu 30 sampai 60 menit untuk dari pemesanan, karena Koh Atek selalu menyiapkan dan menggoreng dadakan jika ada pesanan agar pelanggan dapat menerima cakwe dan kue bantal dalam keadaan hangat.

 

Satu cakwe dan kue bantal dijual dengan harga 6.000 rupiah. Jangan datang lebih dari jam 3 karena kemungkinan kamu akan kehabisan cakwe dan kue bantal ini.

Sabtu, 15 Januari 2022

Saling Berbagi di Kota Jakarta

Januari 15, 2022 0
Saling Berbagi di Kota Jakarta

Beberapa orang berkata bahwa Jakarta mengubah orang menjadi sangat individualis. Tidak ada kehangatan dan kemanusiaan di kota keras ini. Mungkin anggapan itu tidak sepenuhnya salah. Berdasarkan pengamatan dan kesotoyan saya, tingkat kesulitan hidup di suatu kota berbanding terbalik dengan kehangatan dan keramahan penduduknya. Ditambah lagi indeks kebahagiaan penduduk DKI Jakarta berada di bawah indeks kebahagiaan nasional. Antar penduduk juga saling curiga dan waspada sehingga kerelaan untuk menolong orang lain juga rendah. Sekali lagi ini berdasarkan sotoynya saya.

 


Saya memasuki kota Jakarta juga sangat pesimis. Saya ragu menemukan kehangatan kota Bandung tempat saya kuliah. Apakah di sini komunitasnya se oke Bandung? Bagaimana kalau penduduknya galak-galak? Ada orang yang bantuin ga ya kalau ada kesulitan? Pertanyaan semacam itu sering datang saat saya mengenal kota ini.

 

Setelah beberapa lama tinggal di Jakarta, saya mulai mengenal beberapa komunitas kerelawanan yang bergerak membantu orang sekitar dalam berbagai bidang dan bentuk. Ada yang bergerak di bidang pendidikan, penggerak ekonomi, Kesehatan dan lingkungan, atau komunitas berbagi ide. Jumlahnya tidak ada data pasti, namun saya menduga sampai puluhan. Setidaknya itu yang saya amati.

 

Sisi postif dari komunitas kerelawanan di Jakarta adalah kerapihan dalam eksekusi dan pergerakan organiasi. Kalau dibandingkan kota lain yang penggerak komunitas didominasi oleh mahasiswa, di Jakarta kebanyakan komunitasnya digerakkan oleh professional muda yang sudah bekerja. Tidak mengherankan beberapa komunitas memiliki tata kelola standar orang kantoran yang rapi dan terstruktur seperti tata kelola keuangan, cara menjalankan rapat dan pengambilan keputusan. Dalam hal eksekusi pun koordinasi antar fungsi maupun dengan pihak luar terlihat lebih lancar.

 

Bentuk sumbangannya apa aja sih? Bermacam-macam, tergantung keahlian dan kegemaran masing-masing individu. Komunitas kerelawanan sangat menghargai semua bentuk bakat dan minat anggotanya. Ada yang berkontribusi di desain, dokumentasi berupa foto dan video, atau yang ahli di administrasi. Ada juga yang memang gemar mengajar anak kecil, atau mencari ide-ide baru, mencari sponsor atau langganan jadi MC buat yang suka nampil. Apapun bentuk kontribusinya, semuanya didasari satu niat: memberi.

 

Terlalu banyak individu yang saya kenal total dalam memberi di komunitas, tanpa mengesampingkan pekerjaan utamanya. Kebanyakan sih kalau ditanya kenapa mau jadi relawan, jawabannya sih “seneng aja berbagi sesuatu”. Sebuah alasan yang klasik tapi itulah adanya.

 

Jakarta ini memang bukan kota yang sempurna, namun dengan adanya komunitas kerelawanan, setidaknya ada kemajuan untuk menjadikan Jakarta tempat yang lebih baik.