Minggu, 06 Agustus 2017

Sastra, Aku Pulang

Niat baik itu benih. Dia membutuhkan tanah yang subur berupa lingkungan baik untuk bertumbuh menjadi dahan, ranting dan buah berupa karya besar. Ia terus tumbuh hingga bisa menjadi lingkungan baik bagi niat-niat baik berikutnya. Begitu pikirku.

Aku dua hari ini datang ke Asean Literary Festifal, sebuah festifal bagi penikmat sastra dan kata. Sejumlah satrawan besar hadir pada diskusi ini. Diskusi begitu produktif, provokatif dan inspiratif. Puisi dan sastra biasanya dianggap nerd dan aneh, di tempat ini begitu dirayakan. Semua apresiatif terhadap karya yang yang ada. Aku seperti menemukan tanah di mana aku bisa tumbuh.

Puisi, rasanya sudah lama aku tidak menysun kata-kata lagi. Mungkin sibuk kantor, TEDx, Kelas Inspirasi menjadi pledoi paling mudah ketika aku ditanya mengapa. Namun jika argumentasiku itu di jegal, aku masih punya satu. Aku tak menemukan tanah yang subur untuk niat baik. Sudah lama aku tidak mendengar bahasa indah nan berima, kata-kata dengan selipan makna, prosa cantik dengan karakter tajam. Itu membuat rasanya otak jadi tumpul dan hati jadi dingin. Butuh kesegaran baru. Mungkin aku penikmat kata yang masih abal-abal. Diterpa angin sibuk sedikit saja, aku menghilang. Butuh tanah yang kuat sebelum aku tumbuh kuat dan menjadi lingkungan untuk ide baru.

Di ALF 2017 ini aku serasa pulang. Kembali ke pangkuan kata-kata nan penuh makna. Kembali bercumbu dengan rima dan sajak-sajak. Kembali ke pangkuan cerita. Apakah ini pulang sesaat, ataukah aku tetap bisa tumbuh? Entahlah. Mungkin terlalu cengeng jika aku berharap tanah yang bagus untuk tumbuh. Semoga aku bisa menciptakan tanah yang subur untuk bibit-bibit niat baikku.

Sabtu, 05 Agustus 2017

Relawan yang Tidak Rela Awalnya

“Bapak dari mana?”, “Aceh” “Jauh ya Pak” “Enggak kok, masih Indonesia juga.” Kalimat yang khas seorang TNI jika ditanya tentang Indonesia. Menarik sekali berbincang dengan relawan Kelas Inspirasi Brebes 2 ini.



Pagi itu matahari masih malu-malu menampakkan dirinya di Kota Brebes. Kami, relawan Kelas Inspirasi Brebes, sudah bersiap-siap membagi inspirasi di MI Islamiyah Sawojajar. Dengan menggunakan pick up terbuka pengangkut bawang, kami meluncur ke sekolah.


Tiba di sekolah, kami mempersiapkan upacara dan pembukaan acara. Setelah semua persiapan selesai, kami memulai upacaranya. Saya, sebagai dokumentator, tidak ikut dalam upacara karena harus mengabadikan momen. Di tengah upacara itulah seorang prajurit TNI datang.


Berpakaian seragam dinas TNI lengkap dengan segala atribut pangkatnya, dia berjalan mendekati saya. Bersalaman dengan penuh kharismatik. Senyumnya mengembang saat saya menjabat tangannya.  Di bagian dadanya tertulis nama “Adnan”. Tentu saya bingung, siapa beliau, dan ada acara apa beliau kemari? Apakah acara ini dianggap berbahaya sehingga harus diawasi TNI? Berbagai pertanyaan muncul di benak saya, karena setahu saya, tidak ada relawan yang berprofesi sebagai Prajurit TNI yang ada di kelompok kami.


Sebagai informasi, bahwa setiap relawan, baik fasilitator, pengajar, maupun dokumentator harus mendaftar dan diseleksi oleh panitia. Kami mendaftar dengan suka rela untuk berpartisipasi dalam acara ini.


Setelah upacara dan pembukaan sudah selesai, seluruh relawan berkumpul di ruang guru untuk briefing bersama guru dan kepala sekolah. Pada saat itulah saya baru tahu, bahwa ada relawan inspirator tambahan. Komandan Kodim Brebes telah memerintahkan beberapa prajurit untuk berpartisipasi dalam acara ini. Rasa syukur datang dalam hati kami karena memang kami kekurangan relawan inspirator untuk mengajar karena beberapa mengundurkan diri.


Relawan? Hmmm… mungkin awalnya tidak terlalu tepat, Pak Adnan, kami memanggilnya, datang karena surat perintah dari atasan. Beliau bahkan tidak tahu apa itu Kelas Inspirasi dan detail aktifitasnya. Yang beliau tahu adalah, dia harus mengajar dengan materi yang sudah ditetapkan oleh atasannya. Kurang lebih isinya adalah materi wawasan kebangsaan dan bela negara, tentang profesi TNI, dan keberanian bercita-cita.

Setelah mengajar beberapa kelas, kami semua istirahat di ruang guru. Saat inilah saya mengobrol lebih jauh dengan Pak Adnan. Beliau mulai bercerita perjalanan dinasnya. Mulai dari Aceh, Timor-timur, hingga sekarang di Brebes. Menurut beliau acara ini sungguh sangat bagus untuk memperkenalkan profesi, juga mendekatkan contoh-contoh hasil pendidikan kepada adik-adik yang sedang bersekolah. Pak Adnan merasa senang bisa berpartisipasi di acara ini. Selain bisa membagi inspirasi dengan adik-adik, beliau juga merasa nostalgia, karena dia juga berasalah dari Madrasah, sehingga ketika beliau mengajar madrasah, dia merasa pulang. Seorang isnpirator yang tidak rela awalnya, merasa senang menjadi bagian dari kegiatan baik ini.