Jumat, 15 Desember 2017

Tahun Belajar Kembali



Halo Desember, sudah di penghujung tahun rupanya. Masih ingat aku memulai tahun ini dengan perjalanan konyol bersama rizkon ke ujung provinsi Banten. Bermodal satu sepeda motor, google map dan kenekatan, kami berangkat pagi hari dari kost kami hanya untuk melihat pantai, dan kembali pada malam harinya. Entah apa yang ada dipikiran dua bujang yang kurang kerjaan ini.

Tahun lalu, aku melewati dengan baik. Sangat baik malah. Traveling ke berbagai negara yang dulu aku impikan, mengikuti sederat kegiatan volunteering, dan karir kantor juga cukup bagus. Karena itu aku menamai tahun 2016 dengan tahun happiness, travelling and volunteering. Dengan sederet kesan positif tahun lalu, setahun ini mungkin aku diingatkan untuk kembali rendah hati dan belajar. Dan tahun 2017 aku menamainya dengan tahun “Belajar Kembali”. Dan maafkan tulisan ini hanya berisi curhatan ga penting, tetapi untuk aku sendiri, inilah catatan pelajaran.

Quartal satu, aku mengambil sebuah keputusan pribadi yang cukup penting. Dengan sedikit sombong dan tidak waspada, aku berpikir sudah cukup ilmu untuk mengambil keputussn tersebut. Ternyata Tuhan mentraining aku dan orang-orang yang terlibat di dalamnya untuk belajar lagi. Kenyataan menunjukkan ilmu yang ada jauh dari cukup. Belajar sabar, belajar komunikasi, dan belajar untuk rendah hati. Tetapi ada yang disyukuri adalah kegiatan volunteeringku tidak berhenti. Beberapa kegiatan Kelas Inspirasi aku ikuti. Tidak sebagai inspirator, tetapi lebih banyak ke fotografer. Mulai belajar lagi mengenai teknik-teknik fotografi. Mulai lagi ngulik human interest. Yang dulu udah pede dengan modal DSLR entry level, dipertemukan dengan orang-orang yang tekniknya jauh lebih keren.

Quartal dua giliran urusan kantor yang diuji. Sebenarnya ini sebuah penghormatan karena diberi tantangan yang baru. Dipindahkan ke bagian yang dulu aku pikir bagian yang paling tidak produktif. Ditantang dengan ekspektasi tinggi. Tapi sayangnya tantangan tersebut berbarengan dengan permasalahan pribadi dan terlebih rotasi pimpinan baru. Demotivasi parah di quartal ke dua ini. Rasanya kehilangan alasan untuk pergi ke kantor. Ternyata aku diberi “kesempatan” untuk belajar lagi hal-hal baru di luar zona nyaman. Enak? Enggak. Semangat? Tidak terlalu. Tapi kalau aku pikir sekarang, aku dituntut tidak cengeng ketika keadaan tidak ideal lagi, aku harus tetap produktif. Tapi di quartal ini aku dipertemukan dan diberi kesempatan untuk menjadi panitia Kelas Inspirasi Jakarta untuk dokumentator. Makin banyak kenal dengan fotografer keren.

Quartal tiga, aku terus mencari alasan untuk datang ke kantor. Aku sebenarnya malas dengan pekerjaan yang biasa-biasa saja. Mau membuat menjadi luar biasa juga tidak ada tenaga. Hidupku totally monoton pada quartal ini. Tidak ada hasil yang dideliver dengan baik di quartal ini. Hanya operational sehari-hari. Tahukah rasanya bekerja di bagian support? Kalau boleh menganalogikan adalah aku ini hanya seperti listrik di rumah-rumah. Keberadaannya akan diingat hanya jika bermasalah. Jika kau mempunyai performa dengan baik, juga tidak ada yang diingat. Pernahkan kamu bersyukur dan berterima kasih ketika listrik di rumahmu bekerja dengan baik? Aku rasa tidak.

Nah, di quartal empat ini lah aku menemukan video kuliah online yang menarik. IndonesiaX, sebuah portal kursus gratis. Saat itu aku mendengar kuliah dari Prof Rhenald Kasali bertema Be Driver. Intinya adalah kalau dirimu kuat, kamu adalah pengendali terhadap dirimu sendiri. Tidak terpengaruh oleh lingkungan atau respon buruk. Dan mulailah aku bercermin diri. Yap, mungkin aku masih menjadi orang-orang yang mengizinkan diri disetir oleh keadaan. Reality bites nya adalah aku masih cengeng untuk kehidupan ini.

Dan itulah curhatan panjang kenapa aku menamai tahun ini dengan tahun “Belajar Kembali”. Alhamdulillah, puji syukur masih diingatkan untuk tidak sombong dan tidak berhenti belajar untuk menghadapi tahun depan. Alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk ikut di beberpa kegiatan volunteering. Bagaimana dengan tahun depan? Ada kejutan apalagi? Yuk, kita jalanin aja dengan sebaik-baiknya.

Minggu, 06 Agustus 2017

Sastra, Aku Pulang

Niat baik itu benih. Dia membutuhkan tanah yang subur berupa lingkungan baik untuk bertumbuh menjadi dahan, ranting dan buah berupa karya besar. Ia terus tumbuh hingga bisa menjadi lingkungan baik bagi niat-niat baik berikutnya. Begitu pikirku.

Aku dua hari ini datang ke Asean Literary Festifal, sebuah festifal bagi penikmat sastra dan kata. Sejumlah satrawan besar hadir pada diskusi ini. Diskusi begitu produktif, provokatif dan inspiratif. Puisi dan sastra biasanya dianggap nerd dan aneh, di tempat ini begitu dirayakan. Semua apresiatif terhadap karya yang yang ada. Aku seperti menemukan tanah di mana aku bisa tumbuh.

Puisi, rasanya sudah lama aku tidak menysun kata-kata lagi. Mungkin sibuk kantor, TEDx, Kelas Inspirasi menjadi pledoi paling mudah ketika aku ditanya mengapa. Namun jika argumentasiku itu di jegal, aku masih punya satu. Aku tak menemukan tanah yang subur untuk niat baik. Sudah lama aku tidak mendengar bahasa indah nan berima, kata-kata dengan selipan makna, prosa cantik dengan karakter tajam. Itu membuat rasanya otak jadi tumpul dan hati jadi dingin. Butuh kesegaran baru. Mungkin aku penikmat kata yang masih abal-abal. Diterpa angin sibuk sedikit saja, aku menghilang. Butuh tanah yang kuat sebelum aku tumbuh kuat dan menjadi lingkungan untuk ide baru.

Di ALF 2017 ini aku serasa pulang. Kembali ke pangkuan kata-kata nan penuh makna. Kembali bercumbu dengan rima dan sajak-sajak. Kembali ke pangkuan cerita. Apakah ini pulang sesaat, ataukah aku tetap bisa tumbuh? Entahlah. Mungkin terlalu cengeng jika aku berharap tanah yang bagus untuk tumbuh. Semoga aku bisa menciptakan tanah yang subur untuk bibit-bibit niat baikku.

Sabtu, 05 Agustus 2017

Relawan yang Tidak Rela Awalnya

“Bapak dari mana?”, “Aceh” “Jauh ya Pak” “Enggak kok, masih Indonesia juga.” Kalimat yang khas seorang TNI jika ditanya tentang Indonesia. Menarik sekali berbincang dengan relawan Kelas Inspirasi Brebes 2 ini.



Pagi itu matahari masih malu-malu menampakkan dirinya di Kota Brebes. Kami, relawan Kelas Inspirasi Brebes, sudah bersiap-siap membagi inspirasi di MI Islamiyah Sawojajar. Dengan menggunakan pick up terbuka pengangkut bawang, kami meluncur ke sekolah.


Tiba di sekolah, kami mempersiapkan upacara dan pembukaan acara. Setelah semua persiapan selesai, kami memulai upacaranya. Saya, sebagai dokumentator, tidak ikut dalam upacara karena harus mengabadikan momen. Di tengah upacara itulah seorang prajurit TNI datang.


Berpakaian seragam dinas TNI lengkap dengan segala atribut pangkatnya, dia berjalan mendekati saya. Bersalaman dengan penuh kharismatik. Senyumnya mengembang saat saya menjabat tangannya.  Di bagian dadanya tertulis nama “Adnan”. Tentu saya bingung, siapa beliau, dan ada acara apa beliau kemari? Apakah acara ini dianggap berbahaya sehingga harus diawasi TNI? Berbagai pertanyaan muncul di benak saya, karena setahu saya, tidak ada relawan yang berprofesi sebagai Prajurit TNI yang ada di kelompok kami.


Sebagai informasi, bahwa setiap relawan, baik fasilitator, pengajar, maupun dokumentator harus mendaftar dan diseleksi oleh panitia. Kami mendaftar dengan suka rela untuk berpartisipasi dalam acara ini.


Setelah upacara dan pembukaan sudah selesai, seluruh relawan berkumpul di ruang guru untuk briefing bersama guru dan kepala sekolah. Pada saat itulah saya baru tahu, bahwa ada relawan inspirator tambahan. Komandan Kodim Brebes telah memerintahkan beberapa prajurit untuk berpartisipasi dalam acara ini. Rasa syukur datang dalam hati kami karena memang kami kekurangan relawan inspirator untuk mengajar karena beberapa mengundurkan diri.


Relawan? Hmmm… mungkin awalnya tidak terlalu tepat, Pak Adnan, kami memanggilnya, datang karena surat perintah dari atasan. Beliau bahkan tidak tahu apa itu Kelas Inspirasi dan detail aktifitasnya. Yang beliau tahu adalah, dia harus mengajar dengan materi yang sudah ditetapkan oleh atasannya. Kurang lebih isinya adalah materi wawasan kebangsaan dan bela negara, tentang profesi TNI, dan keberanian bercita-cita.

Setelah mengajar beberapa kelas, kami semua istirahat di ruang guru. Saat inilah saya mengobrol lebih jauh dengan Pak Adnan. Beliau mulai bercerita perjalanan dinasnya. Mulai dari Aceh, Timor-timur, hingga sekarang di Brebes. Menurut beliau acara ini sungguh sangat bagus untuk memperkenalkan profesi, juga mendekatkan contoh-contoh hasil pendidikan kepada adik-adik yang sedang bersekolah. Pak Adnan merasa senang bisa berpartisipasi di acara ini. Selain bisa membagi inspirasi dengan adik-adik, beliau juga merasa nostalgia, karena dia juga berasalah dari Madrasah, sehingga ketika beliau mengajar madrasah, dia merasa pulang. Seorang isnpirator yang tidak rela awalnya, merasa senang menjadi bagian dari kegiatan baik ini.

Rabu, 15 Februari 2017

Pejuang Bukan? Hadapi

Masih teringat ketika Mas Anies Baswedan ditawari dan memutuskan ikut dalam konvensi Partai Demokrat pada sekitar bulan Agustus atau September tahun 2013. Rasanya kala itu, Mas Anies cukup popular di kalangan aktifis sosial dan pendidikan, namun namanya sangat asing jika kita bertanya ke masyarakat pada umumnya. Ada sebelas peserta yang ikut konvensi. Ada yang sudah sangat terkenal dan mempunyai logistik tempur yang cukup kuat seperti Pak Dahlan Iskan, Gita Wiryawan, Dino Patti Djalal, dan Pramono Edhi. Saya lupa di posisi berapa popularitas Mas Anies saat awal konvensi, namun melihat hitungan di atas kertas, rasanya sulit sekali memenangkan konvensi. Namun apa yang dikatakan Mas Anies kepada relawan Turun Tangan saat itu? Jika hanya melihat hitungan di atas kertas, pejuang kita tidak akan angkat senjata melawan penjajah. Jika hanya melihat hitungan di atas kertas, pendiri republik ini tidak akan menuliskan janji kemerdekaan di konstitusi kita. Kalau kita pejuang, Hadapi. Dan akhirnya yel-yel dari Turun Tangan saat itu: Pejuang bukan? Hadapi!!!


Pengambilan resiko dalam ketidakmungkinan inilah yang sekarang diambil oleh Agus Harimurti Yudhoyono. AHY ditawari oleh kelompok Cikeas untuk menjadi calon gubernur dipasangkan dengan Sylviana Murni. Di atas kertas, AHY sangat tertinggal jauh dengan petahana. Di beberapa lembaga survey saat itu, AHY tidak diperhitungkan dalam tiga besar. Namanya kalah dengan Ridwan Kamil atau Bu Risma. Jika menerima tawaran itu, resikonya sangat besar. Dia harus keluar dari TNI, tempat di mana dia memulai karir. Karir TNInya pasti tamat. Dengan segala kemungkinan dan resiko itu, dia mengambil juga tawaran dari kelompok Cikeas.

Dan selama empat bulan masa kampanye, AHY dan teamnya terlihat sekali gencar dan ekstra keras dalam usaha mengambil hati rakyat Jakarta. Istilah yang dipakainya, bergerilya. Logistik yang dipersiapkannya pun juga tidak main-main. Tercatat AHY menghabiskan dana kampanye paling besar di antara calon lain yaitu sebesar 68M lebih. Dukungan dari mesin partai pendukungnya pun sangat kuat. Di awal-awal survey, posisinya sekitar 25%. Masih jauh dari petahana. Dan dia terus berusaha untuk mengejar ketertinggalan itu.

Di sisi lain, kemampuannya dalam berkomunikasi dan berorasi semakin membaik. Pada penampilan di debat Cagub-Cawagub resmi dari KPU, kharismanya mulai keluar. Tidak menampilkan performa memuaskan di debat pertama, dia terus memperbaiki di debat selanjutnya. Bahkan di debat final, menurut saya performanya lebih keren dibanding dengan Mas Anies. Program yang ditawarkan mulai tajam dan taktis. Tidak mengawang-awang dan menonjolkan sisi emosi seperti di debat pertama.

Seluruh usaha pada akhirnya ditentukan oleh penduduk Jakarta. Hari ini, pengadilan atas ketiga calon terjadi. Menurut hasil hitung cepat, AHY mendapatkan suara sekitar 18-19%. Dan malam ini, beliau sudah mengakui kekalahannya. AHY ditinggalkan Ahok dan Mas Anies yang memperoleh suara di angka sekitar 40%.

Banyak yang menertawakan, membuat lelucon, mengktitik, menghina, dan merendahkan AHY. Bahkan dia disamakan dengan Noorman Kamaru. Label pengangguran pun dilekatkan pada dia. Komentar “tuh kan, meding tetap di TNI” atau “Rasain lu, kalah tapi ga bisa balik jadi TNI” banyak sekali beredar di sosial media. Namun, pandangan saya terhadap AHY ini agak berbeda. Saya mungkin akan melabeli dia “Pejuang”.

Hidup yang tidak dipertaruhkan, tidak pernah dimenangkan, begitu kata Friedrich Schiller. AHY berani mengambil segala resiko untuk bertarung di pilkada ini. Jika ia memlih jalan nyaman, pasti dia akan menolak tawaran itu. Karir di TNInya cukup bagus. Di TNI pun rasanya jarang dikritik, dihina, dan direndahkan oleh masyarakat. Namun dia memlih jalan yang terjal ini untuk berjuang. Saya tidak membahas bagaimana proses penunjukannya, namun pada akhirnya dia menerima jalan ini. Dia benar-benar berani lompat di sebuah jalan, yang bahkan di atas kertas mengatakan dia akan gagal. Tapi dia memlih menghadapi. Itulah pejuang. Karena itu saya lansung teringat dengan Mas Anies di konvensi partai Demokrat tahun 2013.

Setidaknya, AHY akan berkata bangga di anaknya bahwa ayah berani mengambil resiko besar di hidupnya untuk memperjuangkan sesuatu. Dia tidak takut untuk dicemooh, dicaci, dihina oleh orang-orang yang bahkan mungkin tidak pernah mengambil resiko besar di hidupnya untuk memperjuangkan sesuatu. Bahkan saya malu sendiri karena saya pun belum pernah mengambil resiko yang mengubah hidup saya. Di saat orang-orang asik mencemooh di jalan nyamannya, AHY memilih berjuang.