Sabtu, 24 Desember 2016

Penyakit Kekucingan

Saya berpikir, bahwa bukan hanya penyakit macam hepatitis atau diabetes saja yang bisa diturunkan, saya rasa penyakit obesesif akan kucing juga bisa diturunkan. Ya setidaknya beresiko menurun. Meli, merupakan kucing saya yang pertama. Pada waktu itu kira-kira saya berusia tujuh tahun. Ayah saya memungut Meli di pasar burung di Kota Malang. Dinamai Meli karena pada waktu itu saya mengenal kata baru dalam hidup saya, Milenium. Kata itu memang lagi ngeghitz kala itu karena memang saat itu bukan hanya tahun baru, tapi milenium baru.

Alhasil,saya berurusan dengan kucing dari saat itu sampai saya akan berangkat kuliah. Ya tentu saja bukan hanya Meli saja. Setiap kucing saya ganti, entah karena mati atau tidak pulang karena kena pelet dari kucing wanita yang binal dari kampung sebelah, orang tua saya selalu menamai dengan meli. Malas bikin nama dan ribet menghafal adalah alasan mutlaknya. Alhasil ada meli periode pertama sampai entah berapa. Sudah mengalahkan Pelitanya Pak Soeharto.

Dan pada perjalanannya, saya baru tahu kalau orang tua saya, terutama Ayah saya sepetinya juga mendapat penyakit keturunan dari nenek saya. Nenek saya memelihara kucing saat ayah kecil. Dan dinamai mawar. Dan sampai sekarang, nenek saya memelihara kucing. Mungkin nenek saya sedikit lebih kreatif dari orang tua saya, sehingga namanya tidak statis. Tapi yaah… namanya selalu berawalan huruf M.

Dan kemarin saya makan di sebuah warung, Di situ saya menyadari bahwa, bukan hanya penyakit obsesif terhadap kucing yang bisa menurun, namun penyakit alergi kucing juga bisa diturunkan. Ya namanya warung, bukan resto besar, pasti ada saja kucing yang datang dengan entengnya. Mengeong-ngeong di sekitar orang makan. Mungkin yang suka pelihara kucing tahu, bahwa kucing mengeong itu belum tentu lapar dan minta makan, namun bisa juga mereka mengeong, karena mereka mau. Mau apa? ya ga tahu. Mau saja. Ya kucing memang terkadang absurd.

Ada keluarga yang tengah makan di situ. Pada awalnya, ayah dari keluarga itu tampak terganggu dengan kucing yang kurang pendidikan itu. Diberikanlah daging bebek ke kucing itu. Dicium sebentar, dan kucing itu kembali mengeong tanpa memakannya. Memang kurang pendidikan kucing itu. Karena kesal, ayah itu menendang kucing itu. Menyingkir sebentar, kucing itu mendekati anaknya. Dan apa yang terjadi? Prinsip “Childern See, Childern Do” berlaku. Ditendangnya kucing itu oleh anaknya. Yeaah,.. satu anak di dunia ini tertular penyakit alergi kucing dari orang tuanya.

Yup, perlakuan kita ke binatang akan menurun ke anak-anak kita ketika anak-anak kita melihat. Sebagaimana obsesif terhadap kucing diturunkan oleh nenek saya ke ayah saya, lalu ke saya, perlakuan buruk ke binatang telah menurun dari ayah di warung itu terhadap anaknya. Hati-hatilah dalam memperlakukan binatang di depan anak-anak Anda. Karena, “Childern See, Chidern DO” Be wise to animal,...