Selasa, 30 Agustus 2016

Ketinggalan Kereta dan Nikahan Bimo

Jakarta dan segala keabsurdan lalu lintasnya sepertinya tidak bisa Anda remehkan. Kalau Anda lolos dari absurdnya Jakarta, mungkin Anda sedang beruntung. Tidak untuk diulangi karena Anda tidak beruntung setiap saat.

Ceritanya kami berdelapan orang berencana akan ke Jogja dalam rangka menghadiri pernikahan Bimo. Tiket sudah dibeli, dan semua sudah dipersiapkan. Kami terjadwal berangkat pada hari Jumat, jam 21.45. Pagi hari kami sudah saling mengingatkan agar tidak terlambat, dan hadiah sudah dibeli.

Dan malam tiba, dan Allah memberi berkah ke Jakarta berupa hujan deras mulai dari sore sampai malam. Bingung segera melanda karena jam 20.30 saya masih terjebak di kosan dalam keadaan ga punya payung. Okee,... ambil resiko. Ambil jaket, lari ke luar gang dan naik taksi. Sepatu nyelup, baju dan tas basah. Sampai stasiun senen Jam 21.20 Di tengah jalan, saya baru tahu bahwa Meta masih di Ciplaz. Langsung saya pesankan Uber untuk mengantarkannya ke Stasiun Senen.

Hakim yang sudah berada di senen mencetak tiket kami berdelapan. Saya berpikir bahwa Meta adalah penumpang yang paling kritis. Ternyata, Meta adalah penumpang ke 3 dari kami ber 8. Yang lain? Suma dan Moan masih di kantornya, Dicky dalam perjalanan, Fery entah di mana, dan Rudy sudah menyatakan menyerah. Pada titik-titik kritis, Dicky datang. Dia memilih untuk menunggu Fery. Saya, Hakim, dan Meta sudah masuk ke kereta. Dan sampai kereta bergerak, fix kami cuma ber 3 yang selamat.


Selasa, 23 Agustus 2016

Cerita Rindu

Aku bercerita tentang rindu pada ombak
Yang menyapa pantai sebentar saja lalu pergi
Dan kembali ke pelukan samudra yang menenangkannya
Aku bersaksi atas cinta pada karang
Dihancurkannya dia oleh ombak yang berdebar
Dan tetap menunggu meski ia terkikis
Camar mengolokku, pantai dan karang tentang kebodohan abadi atas cinta
Lalu ia tenggelam dalam senja


Ditulis di Pantai Sepanjang, Jogjakarta
21 Agustus 2016

Kamis, 04 Agustus 2016

Cinta Seorang Malam 2

Malam pernah berkomplot dengan senja
Untuk mengintip hangatnya matahari
Sesaat saja lalu pergi, karena ia tahu diri

Apakah malam pernah bermimpi memeluk matahari?
Aku rasa malam punya logika dan rasa
Ia hanya menikmati lilin, api unggun, dan lampu-lampu kota
Bukan dengan matahari yang selalu bercumbu dengan pagi

Cinta Seorang Malam

Aku pernah tertakdir menjadi malam
Yang terkutuk mencintaimu matahari
Kau usir aku saat pagi dan kau berlari saat senja
Sungguh, jika kau tanya aku tentang cinta
Kan ku jawab ini lebih dari rasa
Toh malam tak pernah berhenti mengejar matahari yang terus berlari