Jumat, 20 Mei 2016

Kerja di Telkomsel itu #bikinkerenIndonesia



Bisakah seorang Engineer menjadi menantu idaman layaknya seorang dokter? Tulisan ini bukan tentang cara menjadi menantu yang baik. Tulisan ini adalah tentang bagaimana cara mendapatkan menantu dokter. Eh, bukan juga. Tulisan ini bercerita apakah Engineer bisa bermanfaat sekeren dokter.

Ayahku seorang dokter yang bekerja di desa yang cukup jauh dari pusat kota. Waktu aku kecil aku sering ikut Ayah mengunjungi pasiennya di pedalaman. Tidak jarang hanya dibayar hasil pertanian atau hasil kebun. Dengan pengalaman itu, aku berpikir bahwa dokter adalah profesi yang sangat keren karena memberi manfaat ke semua orang.

Sedangkan aku? Lulusan Telco Engineering yang bekerja di perusahaan telekomunikasi. Dua tahun lalu, di saat pertama aku menjejakkan kaki di Telkomsel, aku berpikir, manfaat yang bisa aku diberikan ya hanya ke pemegang saham dan perusahaan.

Namun di bulan ke dua aku bekerja, sebuah nodin datang dari HCM. Nodin untuk mengikuti Induction, sebuah program yang ditujukan untuk Telkomsel Trainee Program dalam mempersiapkan tantangan ke depan. Apa yang paling menarik dari acara satu minggu itu? Kesempatan bertemu dengan kawan-kawan Trainee seluruh Indonesia. Bertemu dengan Insan Telkomsel yang sudah berkarya banyak. Bertemu dengan inspirator dengan segudang ilmunya. Pertemuan dengan trainee seluruh Indonesia inilah yang menjadi titik balik pandanganku tentang manfaat yang ditebar oleh Telkomsel. Salah satunya adalah perjumpaan dengan Aditya Zulkifli, yang saat itu menyandang title Trainee Sales and Outlet Operation Kupang.

Namanya paling atas di daftar trainee yang mengikuti Induction. Tertulis dia bertugas di Kupang. Pemuda asal jember lulusan ITS ini sebenarnya tidak penuh bertugas di Kupang. Dia bertugas di Kefamenanu. Sebuah daerah yang namanya saja baru aku dengar. Kefamenanu, sebuah daerah yang berbatasan dengan timor leste, perjalanan 6 jam dari Kupang. Jangan bayangkan itu kota besar, menurut ceritanya, kefamenanu adalah “kota satu jalan” dan lainnya adalah hutan. Jangan bayangkan dia bertugas di kantor dengan fasilitas lengkap. Mobil adalah kantornya. Dia difasilitasi sebuah mobil dan seorang driver. Tidak ada kantor, tidak ada meja kerja.

Seseorang yang mengikhlaskan dirinya jauh dari gemerlap lampu kota besar untuk memberikan yang terbaik untuk Telkomsel. Hanya untuk Telkomsel? Tidak. Berapa banyak penduduk kefamenanu yang terpencil itu dapat terhubung dengan adanya Telkomsel, berapa banyak UKM di sana yang dapat terbantu karena komunikasi yang lancar dengan pelanggan, berapa banyak silaturahim yang dapat disambung dengan adanya kita di sana. Kita bisa membantu penduduk kefamenanu, dan jutaan penduduk terpencil lainnya di seluruh Indonesia untuk dapat melihat dunia. Kita mempersembahkan dunia di genggaman mereka.

Berbahagialan kita semua insan Telkomsel karena kita ada untuk Indonesia. Bekerja di Telkomsel itu tidak cuma bikin kita keren tapi juga bisa  #bikinkerenindonesia #nuliskreatiftsel

Sabtu, 14 Mei 2016

Ini Tentang Mimpi Mereka: sebuah refleksi tentang Kelas Inspirasi Jakarta 5



Bagaimana jika kamu mempunyai mimpi, dan mimpimu terwujud setelah menunggu sekian tahun? Saat aku mahasiswa, aku pernah membuat daftar seratus mimpi. Salah satu mimpi yang tertulis di daftar itu adalah “Menjadi Pengajar Muda”. Sebuah mimpi yang cukup menantang. Tidak hanya seleksinya yang cukup ketat, memutuskan untuk ikut seleksi saja sudah membutuhkan keberanian yang cukup besar. Bagaimana mungkin seseorang “mengorbankan” setahun hidupnya untuk orang lain? Tapi itulah mimpiku.

Waktu berlalu, dan baju toga terpakai dan selembar ijazah di tangan. Mimpi itu tetap ada, namun keberaniannya yang lenyap. Berdamai dengan realita adalah alasan klise lenyapnya keberanian itu. Ada satu hal yang aku iri pada kakakku, keberanian mengambil kesempatan. Kakakku menjadi pengajar muda pada angkatan ke IV (dan menemukan jodohnya di sana). Dan Aku? Menjadi pengecut yang berkompromi pada mimpinya sendiri.

Dan sebuah inisiatif muncul turunan dari program Indonesia Mengajar, yaitu Kelas Inspirasi. Cuti satu hari untuk mengajar di sekolah terdekat, dan membagi profesinya agar anak-anak mampu utnuk bermimpi lebih tinggi.  Hmmm… Ok, aku mau ikut itu. Syaratnya? dua tahun menjalani profesi yang akan dibagikan ke anak-anak. Setelah menyandang sebagai staff Procurement, aku sudah bercita-cita, dua tahun lagi aku mau menjadi inspirator di Kelas Inspirasi. Ya, aku harus menunggu dua tahun untuk itu.

Mengapa Kelas Inspirasi? Kita, yang mempunyai seluruh syarat untuk bermimpi saja masih menggenggam rasa takut untuk bermimpi, apalagi dengan anak-anak yang mempunyai keterbatasan untuk bermimpi. Mereka tidak mempunyai bahan bakar yang cukup untuk sekadar menerbangkan mimpinya. Mereka yang melihat dunia hanya dari internet gratis di sekloahnya. Mereka yang mempuyai pergaulan yang rasanya sulit untuk dijadikan referensi untuk bermimpi. Mimpi mereka yang harusnya terbang tinggi, terbatas pada atap-atap rumah mereka. Padahal, di tangan merekalah negeri ini digenggam saat usia kita terus menua.

Pagi itu, pada tanggal 2 Mei 2016 bertepatan dengan hari pendidikan nasional mimpi itu terwujud. Bersama dengan 800 lebih inspirator yang terbagi ke 60 sekolah seluruh Jakarta. 800 warga yang ikut iuran untuk dunia pendidikan. Teringat kata Mas Anies, “Iuran paling berharga adalah iuran kehadiran”. Kami hadir sebagai rasa syukur kami dan terima kasih kami untuk Indonesia. Mimpiku dan rasa syukurku terwujud dari kelas kecil dari sebuah sekolah terpencil di Jakarta Utara, SDN Semper Barat 05. Dan berikut adalah beberapa refleksi yang akan aku bagi

Kejadian apa yang paling seru selama KI?
Bagaimana rasanya jika kamu masuk satu kelas dan keadaan kelas sudah chaos? Aku mengalaminya di KI. Aku masuk kelas 3 dalam keadaan kelas sudah rusuh. Detik pertama masuk kelas sudah ada pulpen yang terbang dengan indah dari belakang menghantam papan tulis. Ada anak yang bertenggak rupanya. Lima menit kemudian ada anak perempuan yang menangis. Rusuh bertambah parah. Dalam satu waktu ada tiga pertengkaran yang terjadi parallel. Lesson plan yang dibuat tinggallah kenangan. Menguasai kelas saja sudah susah minta ampun, apalagi menjalankan lesson plan. Lupakan lesson plan, dan mulailah improvisasi dalam mengajar di kelas yang chaos.

Apa yang tidak terduga selama KI?
Aku tidak pernah menyangka dokumentator kelompokku datang jauh-jauh dari Solo hanya untuk ikut Kelas Inspirasi Jakarta. Dan aku baru tahu kemudian, di kelompok lain bahkan ada yang datang dari Papua dan Ambon hanya untuk datang ke KI Jakarta. Pengorbanan mereka jauh diluar nalarku. Rasanya agak gila datang dari tempat sejauh itu hanya untu KI. Salut untuk mereka.

Apa yang paling membahagiakan selama KI?
Pertanyaan refleksi terakhir ini yang membuat perasaan bercampur aduk. Ikut KI saja sudah membahagiakan. Menunggu selama dua tahun untuk ikut KI. Dan selama prosesnya, kepingan kebahagiaan muncul. Berinteraksi dengan anak-anak, mencoba mengungkit keberanian mimpi, dan memberi gambaran bahwa mimpi mereka itu possible untuk dicapai menjadi runtutan kebahagian berikutnya. Kebahagiaan terbesar ketika mereka ada yang berkata, “Aku mau belajar agar bisa meraih cita-citaku”. Mimpi mereka hidup.

Pada akhirnya, Kelas Inspirasi bukanlah tentang mimpiku yang harus aku tunggu selama dua tahun. Ada yang lebih penting. Ini tentang mimpi anak-anak SD yang harus dihidupkan. KI adalah pendobrak belenggu mimpi mereka. KI adalah tentang bahan bakar mimpi mereka, sehingga roket mimpi mereka bisa menembus atap-atap rumah mereka. KI adalah tentang pengisi pembangunan masa depan Indonesia. KI adalah tentang masa depan Indonesia.

Kelas Inspirasi juga bercerita tentang penggerak-penggerak pendidikan. Tidak perlu lagi seminar pendidikan untuk menyadarkan masyarakat tentang pentingnya pendidikan. Yang dibutuhkan adalah menularkan rasa bahagia saat terjun langsung dan turun tangan ambil iuran dalam aktifitas pendidikan.
Dan melalui KI, rasa syukur dan terima kasih kepada guru-guru SD seluruh Indonesia. Sebuah kesabaran untuk mendidik anak-anak Indonesia. Mengajar satu hari saja sudah kelimpungan, namun guru-guru SD menghadapinya setiap hari. Kurikulum bisa berganti, teknologi bergerak, ilmu pengetahuan bergerak. Di tangan guru-guru SD inilah anak-anak Indonesia diajak berlari mengejar laju teknologi dan ilmu pengetahuan.

Terima kasih anak-anak SD Semper Barat 05, Bapak Ibu guru, dan seluruh panitia Kelas Inspirasi. Dan terima kasihku untuk guru-guru SDku. SDN Binangun 01, SDN Mangkujayan I, dan SDN Kepanjen Lor 2.

Foto by Miftah Said

Minggu, 01 Mei 2016

Adilkah Jakarta?

Menepis debu di pelipis
Pedas mata menyapa asap
Mengencangkan ikat pinggang untuk sekadar berkompromi dengan lapar
Suara pekak di telinga, meneriakkan segala kesedihan

Lima ratus meter dari situ, tuan dan nyonya berdansa-dansa
Mendentingkan gelas wine merah
Berteman daging setengah matang
Tertawa dan terbahak, menertawakan dunia yang dimainkannya

Jakarta begitu adil, dengan definisi yang dimilikinya
Adil yang penuh pemakluman dan kompromi
Adil yang dimainkan dan ditertawakan

Ditulis pada dini hari
Jakarta, 1 Mei 2016