Sabtu, 12 September 2015

Sesederhana itu

Ketika kesederhanaan menjadi sebuah kemewahan
Ketika bahagia dan kesedihan jadi rancu dalam definisinya
Aku mau membeli kesederhanaan itu
Aku mau mencari definisi itu

Merindukan akal sehat sebagai hakim
Merindukan logika sebagai pengadil
Merindukan hati nurani sebagai penyeimbang
Merindukan iman sebagai pengambil keputusan

Membuat keputusan besar untuk mengembalikan kesederhanaan
Kesederhanaan berpikir
Kesederhanaan merasa
Kesederhanaan bahagia

Langkah besar itu berat
Langkah besar itu kadang perih
Tapi pada akhirnya dia akan mengembalikan kesederhanaan itu

Bahagia itu sederhana, tapi pikiran kita yang menutupinya


Kemang, 13 September 2015
Dalam kegalauan mencari akal sehat

Sabtu, 05 September 2015

Separuh Hadir

Engkau yang bersamaku saat ini

Menatap matamu yang kosong itu

Tubuhmu hadir tapi ruhmu tidak

Tawamu terdengar tapi bahagiamu lenyap

Engkau yang terjebak pada masa lalumu

Tidakkah kau bisa bersamaku dengan utuh?

Berjalan dan bergandengan tangan denganku dengan seutuhnya dirimu

Engkau yang terus meronta dariku

Ku coba menggenggammu sekuat tenaga

Kuat dan rapat

Tapi tanganku mulai lemah, dan menyerah

Bukan aku tak berusaha, tapi aku tak kuasa

Melepasmu bukan keinginan, menahanmu bukan jawaban

Menunggumu menari sampai dirimu lelah, dan kembali padaku

Itu pun cuma jika engkau mau kembali


Kemang, 5 September 2015

Insipired from Korean Drama, Hello Monster
Seriusan, bukan puisi galau. Cuma keisengan waktu baca sajaknya Rendra sambil nonton K-Drama