Minggu, 26 Juli 2015

Kutukan Pak Suko

Saya menyebut ini dengan kutukan Pak Suko. Bukan karena Pak Suko mengutuk saya sehingga punya kebiasaan ini, tapi karena kebiasaan ini menurun dari Pak Suko.

Pak Suko Wiyono adalah guru seni saya waktu SMP. Guru yang mempunyai desikasi penuh terhadap seni. Belajar arti totalitas, passion, kerja keras, dan kreativitas langsung dari beliau adalah kehormatan bagi saya. Ya mungkin beliau adalah orang yang berhasil menyentuhkan saya kepada seni.

Saat itu SMPN 1 Blitar mempunyai acara pentas seni di akhir tahun. Setiap kelas wajib mempertunjukkan penampilan tari dan musik di hadapan wali murid. Dan mulailah setiap kelas membuat musik dan tari dengan bimbingan Pak Suko. Saat itu saya tergabung ke dalam pemain musik kelas 2D. Nah, disinilah kutukan itu dimulai.

Pak Suko terbiasa membuat musik pada malam hari. Yap, di atas jam 12 malam. Kami sering menginap di sekolah untuk mempersiapkan pertunjukan itu. Membuat musik selalu di malam hari, siangnya mematangkan apa yang telah dikonsep. Alasanya, "Demit e metune wayah wengi" (Setannya keluar waktu malam). Setan di sini bukanlah setan sebenarnya, tetapi inspirasi dan kemampuan mencipta. Pada malam hari adalah waktu terbaik untuk menggali inspirasi dan menciptakan sesuatu.

Dan sialnya, kebiasaan ini berlanjut sampai kuliah. Waktu riset atau baca jurnal terbaik adalah di atas jam 10 malam. Merenung di lab pada malam hari adalah jurus jitu jika TA mentok di suatu titik. Alasannya? Demit e metune wayah wengi.

Kutukan ini berlanjut sampai sekarang. Entah berapa draft tulisan untuk blog yang menganggur di laptop. Bukan karena malas menyelesaikan, tapi kadang takut. Inspirasi selalu datang larut malam. Jika diteruskan, bisa begadang dan ga tidur. Alhasil jadi zombie di kantor pada pagi harinya.

Tetapi, kutukan ini saya nikmati dan entah kenapa, memang saya selalu menemui Demit di malam hari.

Salam kangen saya untuk Pak Suko Wiyono ...

Diselesaikan di SeVel Mampang pukul 00.24

@Hardian_cahya