Selasa, 30 September 2014

Menggerakkan dengan Teknologi

Indonesia saat ini tengah mencari titik keseimbangan demokrasi. Bapak Susilo Bambang Yudhoyono telah berhasil mendaratkan Indonesia ke landasan demokrasi dengan sangat mulus, tanpa ada goncangan yang berarti. Saat ini, kita semua, setiap warga Indonesia, mempunyai kesempatan yang sama untuk ikut serta dalam pemilihan umum. Melalui pemilihan umum, kita diberi hak untuk menentukan arah dari republik ini. Setiap warga negara berhak untuk dipilih maupun memilih. Pemilu ini menjadi ruang kelas pembelajaran yang massif dalam berdemokrasi. Apakah dengan ikut pemilu, tugas kita sebagai warga negara berhenti dan terpenuhi? Tidak. Setiap dari kita wajib ikut turun tangan memperbaiki kedadaan republik ini. Apapun bentuknya, apapun caranya, kita harus ikut ambil bagian dalam proses perbaikan. Jika setiap warga negara ambil peran dalam mengisi kemerdekaan ini, saya yakin pembangunan dan perbaikan di Indonesia akan mengalami akselerasi yang luar biasa. Tapi apakah mungkin itu terjadi, sedangkan dalam pemilu saja, angka golput mencapai XX%?

Kita tidak bisa menggerakkan orang dengan cara-cara yang dipakai oleh pendahulu-pendahulu kita. Zaman sudah berubah, karakter berubah, dan komunikasi pun berubah. Di zaman yang serba cepat, kita tidak bisa lagi mengandalkan cara-cara lama seperti membuat propaganda dengan selebaran, membuat kumpulan massa dengan cara mulut ke mulut. Dengan teknologi, kita bisa menggerakkan masyarakat untuk ambil bagian dalam pembangunan bangsa. Bagaimana bisa? Mari kita diskusikan.

Generasi Digital
Pertumbuhan pelanggan telepon selular di Indonesia terus meningkat. Di tahun 2007, pengguna telepon genggam diperkirakan di angka 88 juta, sedangakan di tahun 2014, pengguna telepon genggam diperkirakan mencapai 275 juta nomor aktif. Penggunaan data juga terus meningkat. Menurut data yang dirilis oleh Ericsson, penggunaan data meningkat lebih dari 60 persen setahun terakhir. Apa artinya hal tersebut? Masyarakat kita sudah semakin terhubung ke dunia digital. Yang paling menarik adalah sebagian dari pengguna layanan data adalah anak muda. Inilah yang kita sebut dengan Generasi Digital. Generasi yang tidak bisa lepas dari dunia digital dalam kehidupan sehari-hari. Konsumsi pulsanya pun sebagian untuk layanan data. Generasi yang mendapat akses informasi yang sangat cepat dan mampu membagi informasi tersebut dengan sangat cepat pula.

Generasi digital ini mempunyai beberapa karakter yang harus kita kenali. Pertama, mereka mempunyai karakter terhubung satu sama lain. Social media seperti facebook, twitter, path, dan sebagainya memnuat mereka bisa berkomunikasi satu sama lain. Kedua adalah berbagi. Kesempatan berbagi dalam berbagai bidang baik pendidikan, politik, lingkungan semakin terbuka luas dengan bantuan teknologi. Ketiga adalah bangga akan identitas. Sifat narsis positif ini harus dikembangakan dengan baik sehingga membuat mereka bisa solid jika kita dapat menemukan identitas yang pas.

Mereka yang memanfaatkan
Teknologi komunikasi dan informasi yang berkembang dapat dimanfaatkan oleh sebagian orang atau kelompok untuk meningkatkan peran aktif masyarakat dalam berkontribusi untuk Indonesia. Kita mulai dari kisah sukses yang pertama. Ridwan Kamil, wali kota bandung ini mampu menggerakkan warganya ikut memperbaiki kota Bandung. Penduduk bandung sekitar 2,4 Juta dan pemilik akun facebook dan twitter sekitar 2 juta. Artinya, sebagian penduduk Bandung terkoneksi. Melalui akun milik pribadinya (@ridwankamil), Kang Emil mampu menyukseskan beberapa program hanya berbekal social media. Gerakan pertama adalah Gerakan Sejuta Biopori. Sesuai dengan karakter generasi digital, gerakan ini dibuat semenarik mungkin. Setiap orang yang telah membuat biopori danapat mengunggahnya melalui social media. Keinginan berbagi dan narsisme positif telah menggerakkan masyarakat Bandung. Kesusksesan Gerakan Sejuta Biopori diteruskan dengan gerakan lain seperti Rebo Nyunda, Gerakan Pungut Sampah, dan gerakan yang lain. Dari sini terlihat teknologi komunikasi dan informasi sangat efektif.

Contoh kedua datang dari gerakan politik yaitu gerakan #turuntangan yang digagas oleh Anies Baswedan. Gerakan ini bertujuan setiap masyarakat di Indonesia mau untuk terjun di dunia politik, kemudian berkembang untuk mendukung Anies Baswedan di konvensi Partai Demokrat. Anak muda ini tidak mempunyai sumber pendanaan yang kuat disbanding kandidat lain sehingga memanfaatkan alat yang hampir gratis namun efektif, yaitu social media. Berawal dari tanda pagar #turuntangan di twitter, berlanjut ke web, video di Youtube, dan social media lainnya, gerakan ini mampu mengumpulkan 27.000 relawan terdata pada akhir periode konvensi. Walau Anies Baswedan gagal memenangkan konvensi, gerakan ini mampu menggerakkan anak muda yang awalnya apatis terhadap politik menjadi peduli dalam dunia politik.

Contoh ketiga datang dari dunia sosial. Berangkat dari semangat gotong royong di desanya, Timmy membuat web portal bernama KitaBisa. Web portal ini bertujuan mendanai proyek-proyek sosial yang ada di msyarakat dengan cara crowd funding. Sederhananya, menguhubungkan pemilik dana dengan pelaksana proyek sosial. Web ini menjadi web crowd funding terbesar di Indonesia. Sudah banyak proyek yang berhasil didanai oleh web ini. Proyek yang sedang berjalan dan sangat menarik adalah Bus Donor Darah. Kita diundang untuk menyumbang pengadaan Bus untuk donor darah. Sebagai rewardnya, foto selfie kita bisa dipajang di bus tersebut. Besarnya foto tergantung besarnya dan yang kia donasikan.

Ketiga contoh tersebut rasanya cukup untuk kita tkidak ragu memanfaatkan teknologi dalam menggerakkan masyarakat untuk ikut serta dalam perbaikan bangsa ini. Semakin berkembang dan mapannya infrastruktur komunikasi, diharapkan, semakin besarnya pengaruh teknologi dalam kehidupan dan bernegara.

Salam Optimis untuk Indonesia.

@Hardian_cahya