Senin, 03 Desember 2012

Bangga Menjadi Indonesia

Indonesia, sebuah negeri penuh paradoks. Hitam dan putih begitu terasa di setiap aspek kehidupan di negeri ini. Jika ditanya alasan bangga menjadi warga Indonesia, kita semua akan menemukan ratusan alasan, namun jika kita ditanya alasan malu, atau setidaknya pesimis, alasan itu pun berserakan di negeri ini. Bagi pemimpin dan penduduk yang kuat,  alasan untuk pesimis kita akan jadikan sebagai sebuah tantangan untuk mewujudkan Indonesia sejahtera. Pendiri bangsa ini pun pasti menemui lebih banyak alasan untuk pesimis, tetapi mereka telah membuktikan bahwa bangsa ini adalah bangsa yang kuat.


Di era globalisasi sekarang ini, sekat antar negara pun semakin semu. Perdagangan semakin bebas dan arus informasi begitu cepat. Dan setiap kita pun menyadari bahwa kita akan menjadi penduduk di kampung global. Perlu kekuatan yang cukup besar untuk bertahan di zaman ini. Sumber energi yang cukup besar untuk bertahan adalah sebuah kebanggaan. Kebanggan menjadi penduduk daerah, kebanggan menjadi Indonesia, yang pada akhirnya mewujudkan karya untuk menjadi pemain di tataran global. Untuk menjadi bangga, tentu perlu alasan, dan seperti saya katakan tadi, alasan itu berserak. Yang menjadi penting adalah, menemukan alasan yang tepat dan kuat, sehingga bisa diolah menjadi energi dan opportunity untuk bertahan dan berkarya. Dan berikut alasan mengapa harus bangga menjadi Indonesia.

1. Penduduk yang pekerja keras
            Jika membahas tentang semangat kerja keras, kita pasti akan merujuk ke Cina atau ke Jepang. Menjadi sebuah kisah yang sudah sangat terkenal tentang budaya kerja orang Cina dan Jepang sehingga menyebabkan sebagian masyarakat minder akan budaya kerjanya sendiri. Mengapa anggapan itu muncul? Kerena kita membandingkan budaya sebagian dari masyarakat Indonesia dengan budaya mereka. Padahal perbandingannya belum tentu benar. Jika kita membandingkan budaya kerja birokratnya, ya memang diakui ada sesuatu yang perlu diperbaiki di budaya kerja birokrat kita. Birokrat Indonesia bisa menemukan sekian alasan untuk pulang cepat, padahal di Jepang, pulang cepat merupakan aib karena itu berarti dia tidak dibutuhkan. Namun lihatlah petani yang ada di desa, pedagang yang ada di pasar tradisional, tentara yang ada di garis depan nusantara, dan nelayan yang ada di pantai. Mereka bangun sebelum pagi, sejak petang sudah penuhi jalan, dan pulang larut malam. Rakyat Indonesia memiliki etos kerja yang sangat luar biasa. Mereka tetap bertahan di segala kondisi, mereka coba terangi masa depan mereka dengan rasa penuh optimis. Dengan segala keterbatasan, dengan temaramnya jaminan kesejahteraan, mereka tetap bekerja dengan keras. Sangat keras. Mereka bekerja melebihi kewajiban mereka karena di situlah masa depan mereka bergantung. Mereka bekerja keras agar harapan akan masa depan tetap berpendar. Kalau mereka sudah bekerja keras, mengapa kesejahteraan tidak teraih? Karena mereka bekerja keras, tetapi tidak diiringi bekerja cerdas. Pendidikanlah menjadi faktor penghambat utama mereka. Manajemen tidak tertata, marketing tanpa strategi dan akses informasi yang minim menjadi penghambat yang lain. Inilah yang perlu segera ditata.

2. Sumber daya alam dan pariwisata.
            Sumber daya alam apa yang tidak dipunyai Indonesia. Minyak bumi kita melimpah, gas alam terhampar, dan bahan tambang berserak. Mendiami lokasi sabuk gunung merapi menjadikan tanah Indonesia subur tiada terkira. Pertanian yang dikelola secara profesional pun dapat menghidupi kebutuhan bangsa ini. Hasil hutan yang melimpah merupakan poin tersendiri. Pernah kita mendapat julukan zamrud katulistiwa. Mungkin tidak berlebihan ketika Koes Plus menyanyikan lagu yang berlirik “tongkat kayu dan batu jadi tanaman”. Semua itu perlu pengelolaan yang profesional. Alam yang melimpah pun bisa jadi bencana ketika kita mengelola dengan sembarangan.
            Pariwisata yang megah merupakan aset tersendiri yang dimiliki oleh bangsa kita. Tidak ada yang meragukan keelokan tanah air ini. Bahkan Markeeters pun sering membahas ini dan menuangkannya ke dalam catatan khusus, The Real Wonder of The World. 50 keajaiban yang dimiliki tanah air ini. Hanya 50? Tentu saja tidak. Masih banyak potensi pariwisata mulai dari pariwisata alam, budaya, sejarah, dan industri kreatif yang dapat dieksplore lagi. Jangan sampai bangsa lain mencuri kebudayaan kita. Bangga menjadi Indonesia berarti bangga menggunakan produk budaya kita.

3. Anak muda yang kreatif dan terhubung.
Sekarang ini Indonesia mengalami masa keemasan dan suatu keberlimpahan apa yang disebut dengan “Bonus Demography” di mana anak muda yang produktif mendominasi populasi penduduk Indonesia. Merupakan sebuah kesempatan bagi Indonesia untuk melakukan akselerasi pembangunan. Anak muda yang melimpah ini, harus dikelola sehingga anak muda bisa menjadi penggerak ekonomi di daerah masing-masing. Berkembangnya industri kreaif di berbagai tempat menunjukkan bonus demogafi ini tidak main-main. Industri kreatif yang digerakkan anak muda sudah mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Ditambah lagi dukungan dari kalangan perbankan dan pemerintah untuk semakin mengembangkan industri ini. Dampak yang ditimbulkan cukup besar. Industri kreatif anak muda ini mampu menyerap tenaga kerja yang cukup signifikan. Hal ini juga makin memperkuat industr hulu.
            Seiring berkembangnya industri reatif, berkembang pula komunitas kreatif yang digerakkan oleh anak muda. Melalui komunitasnya masing-masing, anak muda ini menjadi penggerak perubahan ekonomi, sosial, dan budaya. Bentuknya beragam, tergantung jenis komunitasnya. Seperti Indonesia Berkebun yang bergerak dalam bidang lingkungan, Komunitas Sahabat Kota yang bergerak di bidang pendidikan, dan masih banyak lagi. Mempunyai anggota dan jaringan yang cukup luas menyebabkan dampak positif yang ditimbulkan cukup terasa. Kreatifitas merupakan kunci berdayanya anak muda ini. Tidak cukup kreatif, ada satu faktor yang membuat komunitas kreaif ini makin berkembang. Terhubungnya anak muda satu sama lain menyebabkan perluasan komunitas mengalami akseerasi yang cukup hebat. Berkembangnya pemakaian social media, merupakan pendorong semakin terhubungnya anak muda ini. Bahkan fenomena ini ditangkap oleh marketeers sebagai fenomena yang cukup hebat. Youth, Woman, Netizen, merupakan penggerak ekonomi kreatif di Indonesia. Jangan meremehkan ketiganya karena mereka dapat membuat perubahan yang besar di negeri ini.

Tiga alasan di atas adalah alasan saya ketika saya ditanya” Mengapa Anda bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia?” Tiga alasan yang lebih dari cukup untuk saya, dan kita semua, bertahan dan terus berjuang memajukan Indonesia di berbagai sektor. Di saat peta global kacau akibat krisis, bangsa kita akan tetap bertahan. Memajukan Indonesia merupakan tugas negara secara konstitusional, tetapi secara moral, seluruh elemen bangsa wajib turun tangan dalam memperbaiki bangsa kita. Kita kuat dalam kebersamaan, kita maju bersama dunia. Salam optimis untuk Indonesia.

Artikel ini dalam rangka Lomba Blogging Marketeers