Selasa, 07 Agustus 2012

Jago Keyboard, Selalu Burukkah?


“Eh lu jangan cuma jago keyboard donk!”
“Kalo cuma ngetik komentar doang sih semua bisa!”
“Dateng kajian dong, kasih solusi kek! Ikut kerja Kek!”
Itu beberapa komentar ketika ada permasalahan atau isu di lingkungan kampus, lalu merebak di social media. Tentu kalau sebuah isu menjalar ke socmed, maka setiap orang yang terhubung akan mudah berkomentar, menimpali, bertanya, menjawab, atau paling ekstrimnya mencaci. Era socmed memang memicu orang untuk berkomentar lebih cepat. Pada akhirnya timbul istilah “Jago Keyboard” yaitu julukan yang ditujukan kepada orang yang cuma berkomentar ramai di socmed, tapi tidak pernah kerja turun tangan. Pertanyaannya adalah, salahkah menjadi Jago Keyboard?
Jika Jago Keyboad itu hal yang buruk, yang paling pantas dicaci adalah wartawan, kolumnis, blogger, dan orang yang bekerja di sektor media. Loh, kok wartawan dan kolumnis diikutin? Ya iyalah, mereka kan kerja dengan tulisan, apalagi blogger, mereka berkontribusi lewat tulisan. Wartawan, kolumnis, dan blogger adalah aktivitas yang keren dan kontributif. Mereka tidak bisa disamakan dengan orang yang sekadar nyinyir di socmed. Ada beberapa hal yang membedakannya. Karena itu saya berkesimpulan, tidak semua Jago Keyboard itu jelek, yang membedakan adalah, hasil karyanya.
Harus disadari, cara orang untuk berkontribusi dalam suatu hal itu berbeda-beda sesuai dengan bakat dan kemampuan. Istilah yang ngetrend sekarang adalah, berkontribusi sesuai passion. Tidak semua orang mampu berbicara di depan umum dengan baik, tidak semua orang bisa menulis dengan runtut, dan tidak semua orang bisa turun tangan mengahadapi persoalan lapangan. Terasa aneh jika seseorang yang nyaman menyampaikan pendapat secara tertulis, dipaksa ikut sumbang saran di kajian secara langsung. Pasti akan “bisu” dan “gagap” selama kajian. Tidak sepenuhnya salah kan orang yang tidak sumbang saran kalau ikut kajian. Kalau saya membayangkan, jika semua orang harus turun tangan di lapangan, akan terjadi kekacauan. Kalau semua orang yang menyumbangkan pendapat lewat socmed dicap buruk, lalu siapa yang mengedukasi orang yang aktif di socmed?

Utuh dan Santun
Dewasa ini, gaya orang yang sumbang pendapat di socmed sangat beragam. Mereka menyatakan setuju dan tidak setuju dengan berbagai cara. Ada yang menyatakan kesetujuannya hanya dengan cara like, atau menulis singkat “gw setuju ama pendapat lu” dan ada yang menuliskannya secara lengkap alasanya. Dan untuk menyatakan ketidaksetujuannya pun beraneka ragam, dari tidak setuju tanpa alasan, memakai alasan yang santun sampai caci maki. Pelaku socmed seharusnya menyadari bahwa respon yang akan diterima akan sangat beragam. Jangan marah ketika respon yang diterima tidak sesuai dengan harapan. Pelaku socmed memang harus legowo, tetapi yang kadang bikin sebel adalah, responnya tidak utuh, tidak solutif, dan penuh caci maki.
Utuh, solutif, dan santun adalah hal yang dapat membedakan antara Jago Keyboard yang positif, dengan jago keyboard nyinyir. Pendapat seseorang bisa dipahami orang lain jika pendapat itu utuh. Utuh yang saya di sini adalah pemberi pendapat melihat masalah secara utuh, dapat menganalisa dengan baik, dan memberi solusi secara tepat. Banyak jago keyboard mengomentari masalah tanpa tahu masalah sebenarnya secara utuh. Ini yang agak bikin sebal. Jika tidak melihat masalah secara utuh, bisa dipastikan analisanya kacau, dan solusinya serampangan. Ada juga kasus, pemberi komentar tidak menyertakan solusinya. Orang seperti menggunakan prinsip ilmu “pokoknya”. Pokoknya ga setuju, pokoknya cari cara lain, pokoknya bukan dia, dan rasanya ini yang mendominasi di jagad dunia maya.
            Pendapat yang baik akan dipahami secara salah jika penyampaiannya salah. Menyampaikan pendapat itu harus tepat, baik cara, waktu dan tata bahasa. Cara yang tepat adalah menggunakan bahasa yang santun, dan menggunakan bahasa yang sesuai dengan pembacanya. Memperhatikan waktu juga menjadi hal yang penting. Menginadari caci maki adalah hal yang paling tepat menurut saya. Sayangnya, menurut saya, sekarang ini terjadi pengaburan makna caci maki. Berbahasa yang tajam dan keras itu berbeda dengan caci maki. Jadi baik penulis dan pembaca harus membedakannya. Banyak kolumnis menggunakan bahasa yang tajam, tetapi aneh kalau bahasa seperti itu dikatakan caci maki.

Melalui Keyboard Menebar Manfaat
Seluruh aktivitas seorang aktivis kampus saya rasa selalu bermuara kepada mencari ridho Allah dan memberi manfaat seluas-luasnya. Menebar manfaat itu bisa melalui apa saja. Sumbang saran, baik lisan maupun tulis, sumbang dana, sumbang tenaga dan sebagainya. Termasuk seorang Jago Keyboard yang menambakan melalui tulisan, dia bisa memberi manfaat kepada lingkungan. Itulah yang membedakan Jago Keyboard nyinyir dengan Jago Keyboard keren. Memberi manfaat adalah tujuannya, bukan sekadar komen nyinyir. Seorang jago Keyboard juga harus belajar agar manfaatnya tepat sasaran. Jika seseorang yakin komentar dan sarannya memberi manfaat, maka menulislah, tapi jika tidak maka diamlah. Semoga seluruh Jago Keyboard tetap belajar dan menebar manfaat. Jadi, Jago Keyboard tidak selalu negatif kan?

Salam Optimis untuk Indonesia
@Hardian_cahya

Senin, 06 Agustus 2012

Pencuri Kebersamaan


Bulan Ramadhan telah tiba. Ada agenda yang menjamur tiap bulan ini. Buka bersama, menjadi kebiasaan orang Indonesia untuk berkumpul. Macam-macam motifnya, ada yang untuk reuni, bisnis, atau sekadar nongkrong dan ngobrol. Obrolan ringan sampai berat. Pada umumnya, buka bersama menjadi sarana untuk mempererat persaudaraan dan kekeluargaan. Pun dengan keluarga yang melaksanakan buka bersama, entah itu di rumah, atau makan di luar. Kebersamaan menjadi suatu hal yang menyenangkan.
            Mengapa buka bersama menjadi begitu istimewa? Saya berpendapat, buka bersama menjadi istimewa karena kebersamaan dan keakraban menjadi satu hal yang mahal dewasa ini. Keadaan perekonomian dan persaingan yang sulit, menuntut orang bekerja begitu keras sehingga kebersamaan bersama keluarga, teman, dan rekan kerja menjadi mahal. Lho, rekan kerja kan setiap hari ketemu? Ya, setiap hari ketemu, tetapi setiap ketemu kan ngomongin pekerjaan, ga ada waktu untuk ngoobrolin hal-hal di luar pekerjaan. Kalau kasus keluarga, seorang ayah harus bekerja setiap hari, belum lagi terjebak macet, lembur, pulang malam berangkat subuh. Hal-hal ini yang menjadikan kebersamaan menjadi mahal. Karena pada bulan ramadhan, biasanya instansi mengurangi jam kerja, dan hal ini dimanfaatkan untuk buka bersama. Karena itu buka bersaman menjadi momen yang istimewa.
            Karena begitu mahalnya kebersamaan, seharusnya kita memanfaatkan momen itu dengan bagus. Jarang-jarang kan ada acara begini. Tetapi ada hal yang perlu diwaspadai, yaitu pencuri kebersamaan. Pencuri ini tidak mencuri jumlah kebersamaannya, tetapi mencuri kualitasnya, dan pencuri itu sangat dekat dengan kita. Perangkat teknologi, yang menjadi sangat berbahaya. Dia bisa saja mencuri kualitas kebersamaan yang mahal itu. Saya pernah melihat seorang keluarga yang buka bersama disebuah rumah makan. Mereka duduk melingkari satu meja. Mejanya tidak terlalu besar, sehingga mereka sangat dekat. Mereka boleh jadi sangat dekat secara fisik, tetapi jauh pikirannya. Ayahnya pegang tablet, sang ibu pegang blackberry, dan dua anaknya asyik dengan smartphone androidnya. Mereka asyik dengan perangkatnya sendiri. Teknologi berhasil mencuri kebersamaan mereka. Saya juga pernah melihat sekelompok mahasiswa yang buka bersama di sebuah resto, teknologi pun berhasil mencuri kebersamaan mereka. Tidak semua memang, diantara mereka, cuma saru dua yang asyik sendiri dengan perangkatnya. Terus buat apa buka bersama, kalau pada akhirnya mereka “sendiri”?
            Teknologi, bisa saja mendekatkan yang jauh, tetapi kalau tidak bijak menggunakan, akan menjauhkan yang dekat. Teknologi dibuat untuk memudahkan pekerjaan, bukan memudarkan kebersamaan. Jika memang ada pekerjaan, segera selesaikan sebelum buka bersama. Mengirim email, membalas sms pekerjaan, atau kebutuhan teknologi yang lain. Tahan untuk tidak ngetweet dan update status selama buka bersama. Bukan menjadi hal wajib Anda update status tentang buka puasa Anda seperti “lagi buber sama kawan nih.” atau “makanannya kurang enak disini.” Dan tidak perlu juga memfoto makanan Anda dan mengupload di socmed. Berdo’a sebelum makan lebih keren dibanding update status dan upload foto di socmed. Waktu kebersamaan Anda bersama keluarga dan kawan-kawan terlalu berharga untuk Anda sia-siakan untuk aktifitas socmed yang tidak terlalu penting. Eksistensi Anda di socmed tidak lebih penting dari pelukan hangat sahabat di sebelah Anda.