Minggu, 27 Mei 2012

Bukan Sekadar Pekerjaan, Tetapi Soal Peran


Sudah lama saya ingin menulis opini tentang hal ini. Akhirnya kali ini saya memberanikan diri untuk menulis tentang ibu rumah tangga. Ada beberapa hal yang membuat saya tidak berani pada awalnya untuk menulis tentang ibu rumah tangga. Pertama, saya bukan seorang perempuan, dan tidak mungkin menjadi ibu rumah tangga. Kedua adalah ibu rumah tangga adalah peran yang sangat mulia dan saya khawatir akan mendangkalkan karena opini yang tidak sesuai. Ketiga saya belum menikah. Tiga alasan itu cukup untuk saya menunda tulisan ini.
Pernahkah Anda mendengar seseorang berkata, “Pekerjaan saya hanya ibu rumah tangga” atau “Kebetulan saya adalah ibu rumah tangga.” Kalimat ini sangat menganggu saya. Pertama, saya tidak setuju jika ibu rumah tangga adalah pekerjaan. Saya lebih nyaman menyebut ibu rumah tangga adalah peran, karena saya menangkap kesan, pekerjaan lebih condong sesuatu yang bergaji, dan sangat memungkinkan pendapat saya ini salah. Kedua adalah kata “hanya” dan “kebetulan” rasanya tidak terlalu pantas untuk disandangkan ke peran yang sangat mulia. Kata hanya dan kebetulan merepresentasikan sebuah peran yang sekadarnya. Ada tanggung jawab yang sangat besar yang harus dipikul oleh seseorang perempuan yang memberanikan diri mengambil peran sebagai ibu rumah tangga.

Antara Wanita Karier dan Ibu Rumah Tangga
“Saya bingung memilih menjadi wanita karier atau ibu rumah tangga”. Pertama yang harus diluruskan adalah konsep kita tentang karier. Seperti yang di ungkapkan oleh @ReneCC bahwa karier bukanlah mengenai jabatan. Karier bukanlah mengenai gaji, fasilitas dinas, company, ataupun promosi-demosi. Karena itu karier mengenai kita dan perjalanan hidup kita. Kedua adalah, rasanya tidak bijak ketika kita memisahkan antara karier dan ibu rumah tangga. Ibu rumah tangga adalah karier pertama dan utama dari seorang perempuan yang menikah. Lho berarti perempuan ga boleh kerja? Saya tidak mengatakan demikian. Seorang perempuan silahkan memilih untuk bekerja atau tidak. Itu keputusan masing-masing yang tentu saja harus didiskusikan dengan suami. Tetapi, ketika seorang perempuan memutuskan untuk bekerja, maka peran menjadi ibu rumah tangga harus tetap menjadi prioritas. Jadi keputusan bekerja atau tidak, itu kembali ke pilihan masing-masing.
Seorang perempuan yang memutuskan mengambil pilihan untuk tidak bekerja dan mengambil peran sebagai ibu rumah tangga secara penuh, adalah perempuan yang berani dan mempunyai keikhlasan tinggi. Mereka rela dan sangat ikhlas memberikan kesempatan suami mereka untuk mempunyai pekerjaan cemerlang, padahal sangat memungkinkan mereka mempunyai potensi yang lebih besar untuk cemerlang dibanding suami mereka. Butuh keberanian dan keikhlasan tinggi untuk mengambil keputusan ini. Jadi para suami, berterimakasihlah kepada istri Anda semua.

Peran Luar Biasa
            Apakah Anda tahu bahwa kebanyakan keputusan pembelian properti itu diputuskan oleh perempuan, bukan suaminya. Karena itu perusahan properti memilih majalah wanita sebagai media promosi. Ada satu hal yang patut dicermati yaitu, Pak Hermawan Kartajaya mengatakan bahwa, dari survey yang dilakukan Mark Plus, 84% Chief Finance Officer (CFO) dari rumah tangga Indonesia adalah perempuan, yaitu ibu rumah tangga. Bukan hanya dari manajemen keuangan, Ibu adalah sekolah pertama dan utama bagi anak-anaknya. Bukan peran yang gampang dan remeh menjadi ibu rumah tangga. Lalu apakah seorang ibu rumah tangga harus berpendidikan tinggi untuk melaksanakan tugasnya dengan baik?
            Dulu saya berpikir, untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik harus berpendidikan formal yang tinggi, ternyata ada ibu rumah tangga yang tidak berpendidikan formal tinggi pun bisa menjadi ibu rumah tangga yang dahsyat. Pernah mendengar kisah Mas Iwan Setyawan (@iwan9S10A) yang dikisahkan di dalam novel 9 Summer 10 Autumns. Ibu beliau yang “memaksa” mas Iwan untuk kuliah dan mengatur kondisi keluarga agar bisa mengirim mas Iwan kuliah. Ibunya mas Iwan, yang memilih menjadi ibu rumah tangga selama hidupnya, memiliki visi yang jauh, besar, dan jelas tentang pendidikan. Sedikit kurang bisa dipercaya bahwa seorang perempuan, yang tidak lulus SD sekalipun, bisa mempunyai visi yang besar tentang pendidikan. Tidak hanya mempunyai visi, beliau bisa memanage kondisi keluarga sedemikian rupa agar  bisa mengirim mas Iwan Kuliah. Dan pada akhirnya Mas Iwan bisa memperbaiki kondisi ekonomi keluarganya. Ibunya Mas Iwan memang tidak mendapat pengajaran yang tinggi, tetapi beliau tercerahkan. Dilihat dari kisah ini betapa besar peran seorang ibu rumah tangga dan pentingnya ibu rumah tangga menjadi “The Super Manager” bagi keluarganya.
***
            Menjadi ibu rumah tangga bukan berarti harus meninggalkan pekerjaan, tetapi sebuah kesadaran akan peran tanggung jawab yang besar dalam sebuah keluarga. Peran kepada Tuhan, peran kepada keluarga, dan peran kepada lingkungan. Mengutamakan peran yang luar biasa besar ini di atas pekerjaan formal. Kewajiban bagi seorang perempuan untuk meningkatkan kapasitas diri untuk menjadi “The Super Manager” bagi setiap keluarga Indonesia. Kualitas masa depan Indonesia dipengaruhi oleh kualitas ibu rumah tangga Indonesia, karena pada merekalah kualitas penerus bangsa ini dibentuk. Ibu yang mengurus keluarga dengan kasih sayang akan melahirkan generasi penyayang. Setelah ini, saya harap tidak ada yang menyandingka kata “hanya” dan “kebetulan” dengan “Ibu Rumah Tangga”, karena ibu rumah tangga itu mulia.
            Berterima kasihlah wahai para suami dan laki-laki Indonesia. Berterima kasihlah kepada istri dan ibu kita. Berterima kasihlah untuk peran yang berani dipikul oleh perempuan super Indonesia. Ada peran yang dititipkan Tuhan kepada mereka di dalam setiap keberhasilan kita. Thanks Mom!!!

Tulisan ini dipersembahkan untuk seluruh perempuan super Indonesia...

Salam Optimis untuk Indonesia
@Hardian_cahya

Selasa, 08 Mei 2012

Seberapa Sukses Eventmu?


“Gimana event kamu kemarin?”
“Sukses Bro, yang datang banyak, dan apresiasinya bagus”
“Wuiih...Selamat ya..”
“Makasih”

Event yang sukses, adalah dambaan setiap orang yang pernah berkecimpung di dunia event organizer, entah itu yang profit ataupun yang nonprofit. Pengunjung banyak, apresiasi bagus, profit besar akan menyenangkan hati sang EO. Tapi, pertanyaannya adalah, event yang sukses itu seperti apa? Apakah dapat diukur dari angka pengunjung atau profit? Apakah dapat diukur dari pujian yang masuk? Ataukah ada parameter lain?

Setiap EO yang baik pasti membuat parameter keberhasilan ketika akan menyelenggarakan sebuah event. Biasanya mereka akan mengevaluasi kesuksesan acara dari pencapaian parameter tersebut. Parameter setiap event tentu berbeda tergantung dari bentuk event dan penyelenggaranya. Setiap EO berhak menentukan parameter kesuksesan setiap event mereka sendiri, tapi menurut saya pribadi, parameter yang dibuat tidak cukup untuk menentukan kesuksesan sebuah event. Disamping ada parameter kesuksesan, harus ada pembanding sehingga event yang diselenggarakan dikatakan berhasil.

Parameter Kesuksesan Event
Seperti yang saya katakan di atas, setiap EO berhak menentukan parameter keberhasilan setiap event tergantung muatan dan bentuk event itu sendiri, tapi ada beberapa prinsip yang menurut saya pribadi harus ada di setiap event kalau mau dikatakan event itu sukses.

Pertama adalah, setiap event harus membuat panitia dan pesertanya lebih dekat dengan Tuhannya. Bukan berarti harus event agama, tetapi event apapun sebaiknya harus membuat setiap yang terlibat lebih dekat dengan Tuhannya. Contohnya di seminar, seminar apapun kalau ada ilmu pengetahuan  baru, ilmu pengetahuan itu harus lebih membuat dekat dengan Tuhan. Pun di event musik atau seni. Apapun konten acaranya, akan jauh lebih baik jika membuat peserta dan panitianya lebih dekat dengan Tuhan. Celakanya, beberapa EO lebih sibuk menyiapkan acara sehingga melupakan waktu ibadah. Dan paling celaka adalah, ketika event itu berdurasi panjang, peserta atau semua orang yang terlibat melewatkan kewajiban ibadah. Mungkin semua senang event itu berjalan lancar dan apresiasi bagus, tetapi buat apa kalau mereka melewatkan waktu ibadah. Pecuma kalau semua senang tapi keberkahan melayang. Keberkahan merupakan hal yang sangat penting, bahkan lebih penting daripada apresiasi manusia.

Kedua, adalah event akan dikatakan sukses jika bermanfaat kepada semua orang yang terlibat, baik peserta, EO, masyarakat sekitar, tim pendukung, sponsor, dan lain-lain. Kebermanfaatan harus ada disetiap event. Bukan dinilai dari angka pengunjung dan nilai profit yang masuk, tetapi manfaat yang diberikan haruslah besar. Memang idealnya adalah eventnya bermanfaat, pengunjungnya banyak, sehingga manfaat itu bisa dirasakan oleh orang banyak. Kebermanfaatan ini juga harus dirasakan oleh alam dan lingkungan hidup. Event hendaknya tidak menimbulkan efek negatif kepada alam dan lingkungan. Saya sangat mengapresiasi di beberapa event mulai ada kebiasaan meminimalkan sampah plastik dengan cara meminta peserta atau pengunjung membawa botol sendiri. Langkah kecil ini akan sangat bermanfaat bagi alam.

Coba Bandingkan
Ketika selesai acara, para EO akan mengevaluasi berdasarkan parameter yang telah dibuat. Jika parameternya positif, maka semua akan bergembira. Sebenarnya ada yang harus dilakukan dalam evaluasi, yaitu membandingkan dengan event lain yang sejenis. Butuh keberanian dan kebesaran jiwa untuk membandingkan event kita dengan event orang lain. Membandingkan dengan siapa? Apa yang dibandingkan?

Pertama, kita harus membandingkan dengan event kita sebelumnya. Jika event sebelumnya lebih bagus, maka harus ada koreksi yang cukup serius dalam pelaksanaan event kita. Bukankah jika hari ini lebih buruk dari kemarin maa kita disebut celaka. Ada kemungkinan kita tidak belajar dari kesalahan masa lalu.

Kedua adalah membandingkan dengan event lain yang sejenis. Kita harus evaluasi dan belajar beberapa aspek dengan membandingkannya. Contohnya tentang efektifitas dana. Jika ada event lain yang menggunakan dana yang sama atau bahkan lebih kecil dari event kita, tetapi mempunyai impact yang lebih besar, maka ada yang harus dibenahi dengan penyelenggaraan event. Atau ada event lain yang jauh lebih kreatif dan unik konsepnya, maka EO itu harus dengan senang hati mengoreksi dan belajar dari EO lain. Kalaupun event kita lebih bagus, maka harus ada yang dipelajari agar kesalahan yang dilakukan EO lain tidak kita lakukan di kemudian hari.

Membandingkan bukan berarti kita tidak bersyukur atas apa yang kita capai. Membandingkan merupakan metode agar kita tidak cepat berpuas diri dan menganggap kita telah mencapai yang terbaik. Membandingkan juga sarana koreksi dan belajar untu penyelenggaraan event kita yang lebih baik.

Semoga setiap event kita  lebih mendekatkan kepada Tuhan, bermanfaat bagi sesama dan alam, dan semakin baik kedepannya.

Salam Optimis untuk Indonesia!
@Hardian_cahya