Sabtu, 24 Maret 2012

Catatan Kecil tentang Kritik dan Karya

Sore itu seorang kawan mengomentari sebuah selebaran propaganda yang dibuat oleh salah satu organisasi pergerakan mahasiswa. Propaganda itu berisi tentang kenaikan harga BBM dan menawarkan solusi dengan menggunakan suatu sistem. Kawanku itu berkata, “Kalo bikin tulisan, lebih berkelas sedikit lah!” Saya sendiri sebenarnya kurang sependapat dengan isi dan solusi yang ditawarkan propaganda itu, tetapi saya tidak berani menghujat, karena saya tahu membuat tulisan propaganda politik itu tidaklah mudah. Diperlukan pemikiran, data, dan analisa yang cukup untuk membuat sebuah tulisan propaganda politik. Diperlukan sebuah niat yang besar untuk merampungkan sebuah tulisan, dan diperlukan keberanian yang hebat untuk mencetak dan menyebarkannya.

Saya pernah merasakan kekecewaan karena kalah lomba menulis, dan saya tahu bagaimana susahnya bikin tulisan propaganda yang bagus. Sangat sombong rasanya ketika saya ikut-ikutan mencerca tulisan orang lain sekalipun saya tidak setuju isi dari tulisan tersebut. Sering dulu saya meremehkan novel atau karya tulisan orang lain. Setelah saya renungkan, saya bisa mencerca dan meremehkan tulisan orang lain sebelum saya belajar menulis. Setelah belajar menulis, berpikir ulang untuk mencerca karya orang lain.

Teringat sebuah kalimat yang diutarakan oleh seorang sahabat, @aldamonn. Dia berkata “Jangan mengatakan lagu seseoarang itu jelek, tapi katakanlah lagu itu terdengar sedikit aneh di telingaku, karena setiap orang berbeda selera musiknya” dan dia juga berkata “jangan menilai lagu dari penyanyinya.” Saya berpikir, kalimat ini hanya bisa diucapkan oleh seorang penyanyi dan pencipta lagu, karena memang @aldamonn merupakan penyanyi dan pencipta lagu. Hanya orang yang tahu dan mengalami susahnya bikin lagu yang bisa berkata seperti itu. Rasanya mustahil kalimat itu muncul dan terucap dari seseorang yang jauh dari dunia tarik suara dan lagu.

Apakah tidak boleh kita mengkritik suatu karya seseorang? Tentu saja boleh, bahkan seseorang yang menghasilkan karya sangat perlu dan butuh kiritikan dari penikmat karyanya, tetapi sebagain seseorang yang terdidik, kita harus bisa membedakan kritik dan cerca. Kritik itu didasari oleh sebuah pemahaman, sedangkan cerca lebih didasari ketidaksukaan dan emosi. Megungkapkan kritikan seharusnya lebih elegan dan lebih cerdas dibanding melontarkan cercaan. “Serang-menyerang” merupakan sesuatu yang lumrah dalam alam demokrasi, tetapi yang membedakan kelas seseorang adalah cara pengungkapan. Saya rasa cara seseorang mengapresiasi sebuah karya dapat menggambarkan pemahaman seseorang terhadap karya tersebut. Ketika seseorang paham akan sebuah karya, maka semakin elegan dalam mengungkapkan apresiasi dan kritiknya.

Kalau boleh mencontek perkataan @aldamonn, katakan saja.”Jangan katakan tulisan orang lain jelek, katakan saja saya tidak sepaham dan berbeda selera sastra dengan Anda”

Mari belajar bersama mengapresiasi setiap karya anak bangsa...

Salam Optimis untuk Indonesia.

@Hardian_cahya

Selasa, 20 Maret 2012

Memasarkan ILMI dengan Lebih Baik

Assalamualaikum Wr Wb

Salah satu program KDR yang diadakan setiap tahun adalah ILMI. Program ini bertujuan memberi bekal kepeminpinan kepada peserta dalam menapaki tahun pertama mereka berorganisasi. Berbagai persiapan dilakukan oleh segenap panitia ILMI dan KDR untuk mensukseskan acara ini. Tetapi masalah setiap tahun yang dihadapi hampir sama, yaitu sulitnya mencari peserta dan terkendala dana. Apakah panitia kurang kerja keras dalam mensukseskan acara ini? I’m sure they are hard worker, but I’m not sure they use smart marketing strategy.

Harley Davidson, sebuah perusahaan motor besar, menerapkan smart strategy yang mungkin bisa kita tiru. Divisi pemasaran dari harley davidson hampir-hampir menganggur. Jika Robert T Kiyosaki berkata jangan bekerja untuk uang, tapi buat uang bekerja untuk Anda, HD menggunakan prinsip yang sama. Jangan bekerja untuk mendapatkan pelanggan, tapi buat pelanggan bekerja untuk company. HD menghubungkan para pecinta HD menjadi sebuah komunitas. Dari komunitas itulah HD meningkatkan penjualannya dengan mendrive para pecinta HD untuk mendapatkan kawan yang otomatis akan menjadi penggan baru HD. Prinsip marketing yang disebut oleh orang jawa sebagai strategi “gethok tular” ini menjadi sangat powerfull. Tentu saja hal ini dipakai oleh banyak perusahaan lain.

Siapa marketer paling powerfull bagi SM Entertainment dalam memasarkan Super Junior dan SNSD. Bukan orang marketing dari SM Entertainment, tetapi pelanggan yang membentuk ELF dan SONE. Mengapa hal ini menjadi sangat powerfull, karena pelanggan baru akan lebih percaya dengan omongan temannya dibanding poster dan iklan televisi. Saya tidak ingat kapan terakhir makan di sebuah tempat karena promosi di koran, tapi saya sangat sering mencoba di tempat makan karena rekomendasi teman atau tokoh kuliner. Berdasar Nielsen Online Global Consumer Study pada april 2007 menyatakan bahwa iklan di majalah dan radio menempati urutan enam dan tujuh dalam mempengaruhi orang dalam memakian produk. Urutan pertamanya apa? Rekomendasi dari customer sebelumnya.

Apa kekurangtepatan strategy marketing dari ILMI? Kita kurang merawat konsumen lama dan tidak menghubungkan mereka satu sama lain. Wacana pembentuka komunitas alumni ILMI tidak ditindaklanjuti dan dirawat. Dengan kata lain, service purna jual dari ILMI perlu banyak diperbaiki. Menghubungkan para konsumen dan memberikan service purna jual yang baik merupakan keharusan bagi sebuah company untuk bertahan di New Wave Marketing. Apakah hal ini akan membuat berat para punggawa KDR? Pada awalnya iya, karena harus ada energi yang tercurah dalam program ini, tetapi saya perkirakan, kita akan lebih ringan untuk mendapatkan calon konsumen yang baru pada penyelenggaraan ILMI tahun selanjutnya. Service purna jual yang dimaksud tidak harus menggunakan energi yang terlalu besar. Memanfaatkan social media merupakan salah satu jalan yang membantu, tetapi tidak cukup karena karakter orang Indonesia adalah orang yang suka nongkrong. Harus ada pertemuan secara fisik dan berkala. Membuat program kumpulan alumni sebulan sekali atau dua bulan sekali harus dilakukan KDR dan panitia penyelenggara untuk memberi service purna jual yang baik. Bentuk acaranya terserah dari kawan-kawan KDR, tetapi yang cukup menarik dan bermanfaat. Langkah selanjutnya adalah mendrive para konsumen lama ini menjadi marketer ILMI untuk penyelnggaraan ILMI selanjutnya.

Semoga sumbangan ide kecil ini menjadi salah satu pertimabangan kawan-kawan KDR baru dalam melangkah. Semoga Allah meridhoi setiap langkah dan karya kita.

Salam Optimis untuk Indonesia,

Wassalamualaikum Wr Wb.

@Hardian_cahya

Senin, 19 Maret 2012

Diversifikasi Keahlian Kader

Start from Bismillah...

Ini adalah catatan kecil untuk kawan-kawan pejuang KDR SKI yang tengah berjuang menghasilkan kader tangguh. Sumbangsih pikiran-pikiran kecil yang semoga bermanfaat.

Pada sekitar tahun 2004, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) memberikan beasiswa besar-besaran kepada para dosen untuk melanjutkan study ke jenjang doktoral (S3). Menariknya adalah, FEUI mewajibkan para penerima beasiswa ini mengambil spesialiasi yang berbeda-beda. Tidak boleh ada penerima beasiswa yang mengambil spesialisasi yang sama ke berbagai penjuru dunia. Ada yang mengambil Industrial Economic, Green Economic, Economic Policy, dan lain-lain. Mengapa FEUI mewajibkan penerima beasiswa mengambil spesialisasi yang berbeda? Karena FEUI sudah memperkirakan, atau setidaknya mempunyai firasat bahwa, keadaan ekonomi ke depan akan berubah platformnya. Akan timbul masalah-masalah yang tidak ada sebelumnya, karena mereka yakin, konstelasi dunia akan berubah. Pusat ekonomi pun akan bergeser ke Asia dan isu lingkungan menjadi isu yang strategis. Mereka berpikir bahwa, kedepannya FEUI harus mempunyai para doktor yang berbeda keahliannya, sehingga antisipasi perubahan kehidupan ekonomi dapat tertanggulangi. Apa yang diperkirakan FEUI benar. Siapa yang menyangka perusahaan sebesar Lehman and Brothers dapat kolaps dalam waktu singkat, dan isu lingkungan menjadi isu yang harus diperhitungkan. Mereka mengantisipasinya dengan men-diversifikasi-kan keahlian para pengajarnya.

Dunia memang berubah. Muncul yang namanya generasi social media. Model perdagangan berubah sedemikian hebat. Arus informasi tidak hanya didominasi oleh media besar. Seseorang yang hanya bermodal akun di socmed pun bisa mempengaruhi opini publik. Tidak hanya model perdagangan, model komunkasipun terus berubah. Hal inilah apa yang disebut oleh Hermawan Kartajaya sebagai New Wave Era. Sebuah perusahaan akan survive ditengah perdagangan saat ini dengan mendiversifikasikan model usahanya. Kita lihat PT. Telekomunikasi Indonesia, merubah model bisnisnya yang dulu hanya sebagai penyelenggara jasa telekomunikasi menjadi strategi Telecomunication, Information, Multimedia, and Edutaiment (TIME).

Lalu bagaimana dengan SKI. Saya baru menyadari sekarang bahwa SKI terlambat mengantisipasi perubahan ini. SKI, terutama KDR, masih menggunakan cara-cara yang lama dan standart yang lama dalam mengelola kader. KDR terlalu fokus untuk menstandarkan kader bentukan tanpa men-divesifikasi-kan kemampuan kader. KDR terlalu terjebak dengan apa yang disebut sebagai 10 Muwashofat Tarbiyah. Apakah menggunakan muwashofat tarbiyah adalah hal yang buruk? Tentu saja tidak. KDR memang harus punya koridor, tetapi yang menjadi masalah adalah, ketika KDR jarang mencoba mendivesifikasikan keahlian para kader. Saya ambil contoh sederhana. Tentang Mantuba, semua kader distandartkan, atau setidaknya ada upaya menstandartkan, untuk membaca buku tentang pergerakan Islam yang hampir sejenis. Kebanyakan adalah buku terbitan Pro-U atau penerbit sejenisnya. Padahal tidak semua kader mempunyai passion dalam buku bacaan tersebut, dan yang lebih esensial lagi adalah, tidak semua masalah yang ada sekarang, solusinya ada dalam buku itu. Akibatnya adalah, ketika ada permasalahan yang dihadapi oleh SKI, dan itu adalah masalah baru, yaitu masalah yang tidak pernah dihadapi sebelumnya, SKI keteteran dalam menghadapi itu. Contohnya adalah, jarang dari kader SKI yang mempunyai pemahaman tentang marketing di social media, sedangkan di luar sana, “kompetitor” dari SKI sudah menguasai itu. Dampaknya sangat besar, bahwa “kompetitor” SKI mempunyai kemampuan dalam memainkan opini publik kampus atau promosi yang lebih keren. Setelah saya renungkan, karena jarang dari kader SKI yang paham betul tentang Social Media Marketing.

Tantangan dan Kesempatan

Tantangan dakwah kedepan akan semakin berat. Tidak ada konstelasi yang benar-benar solid dalam target pasar SKI. Generasi social media akan terus tumbuh. Opini publik kampus bisa dipengaruhi oleh 140 karekter yang ada di twitter. Pasar benar-benar menjadi flat. Apa yang disebut oleh Hermawan sebagai New Wave Era benar-benar terjadi. Orang akan sangat mudah untuk mengungkapkan suka atau tidak sukanya pada sesuatu dan dapat menyebarkannya dengan sangat mudah dan cepat. Masalah yang akan dan sedang dihadapi SKI akan semakin beragam. Akan muncul masalah-masalah baru, bahkan yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Akan menjadi sangat berbahaya jika SKI, dalam hal ini KDR, tidak berupaya men-diversifikasi-kan keahlian kadernya dan masih berupaya menstandartkan semua kemampuan kader dengan standart lama. Memakai 10 muwashofat itu penting, tapi men-diversifikasikan keahlian kader adalah urgent. Kesempatan perbaikan masih terbuka lebar mengingat kepengurusan baru saja terbentuk. Banyak suntikan kader baru yang masih bisa dibentuk secara berbeda.

Apa yang harus dilakukan?

Mendiversifikasikan keahlian kader memang pekerjaan yang susah-susah gampang. Menjadi susah ketika KDR tidak bisa menangkap perbedaan passion yang dimiliki para kader. Ketika KDR ingin mengubah atau membentuk seorang kader dengan standart yang tidak sesuai dengan passion kader tersebut, akan terjadi resistensi seseorang terhadap program pembinaan kader. KDR harus menangkap perbedaan passion para kader, dan memetakannya. Sebaiknya KDR mengumpulkan kader berdasarkan passionnya, lalu membuat program kecil, tidak perlu sering, sebagai sarana kader untuk menumpahkan dan mengembangkan passionnya. Kenapa program ini sebaiknya kecil? Agar energi KDR tidak terlalu terbuang untuk program ini. Dan mengapa jangan terlalu sering? Karena kalau dijalankan secara sering, bisa mendistorsi program utama pembentukan kader. Kader yang suka menulis atau aktif di SocMed sebaiknya dikembangkan untuk memenangkan pembentukan opini publik kampus. Kader yang menyukai marketing harus ada program pengembangannya agar rencana marketing SKI bisa berjalan efektif dan efisien. Begitu pula dengan bakat lain seprti public speaking, negosiator, desain/gambar, coding, dan sebagainya.

Masalah Baru? Ga Masalah....

Jika KDR berhasil membentuk keahlian kader yang berbeda-beda, saya rasa SKI akan lebih mulus dalam menjalankan program kedepan. Kita akan punya beberapa kader yang jago negosiasi, beberapa jago marketing, beberapa jago public speaking dan sebagainya. Jika ada masalah tentang sponsor, kita pakai kader yang jago nego. Kalau ada isu yang berkembang di SocMed, kita pakai kader yang mengerti tentang pembentukan opini di SoMed. Bisa dibayangkan kalo kita punya kader yang semua jago public speaking, tapi ga ada yang ngerti marketing, Marketing Plan yang dimiliki SKI akan terbantai dengan “kompetitor” SKI yang paham marketing. Itulah sebabnya saya mengatakan bahwa menstandarkan dengan 10 Muwashoffat Tarbiyah itu penting, tapi diservifikasi keahlian kader itu urgent.

Salam Optimis untuk Indonesia...

@Hardian_cahya