Senin, 03 Desember 2012

Bangga Menjadi Indonesia

Indonesia, sebuah negeri penuh paradoks. Hitam dan putih begitu terasa di setiap aspek kehidupan di negeri ini. Jika ditanya alasan bangga menjadi warga Indonesia, kita semua akan menemukan ratusan alasan, namun jika kita ditanya alasan malu, atau setidaknya pesimis, alasan itu pun berserakan di negeri ini. Bagi pemimpin dan penduduk yang kuat,  alasan untuk pesimis kita akan jadikan sebagai sebuah tantangan untuk mewujudkan Indonesia sejahtera. Pendiri bangsa ini pun pasti menemui lebih banyak alasan untuk pesimis, tetapi mereka telah membuktikan bahwa bangsa ini adalah bangsa yang kuat.


Di era globalisasi sekarang ini, sekat antar negara pun semakin semu. Perdagangan semakin bebas dan arus informasi begitu cepat. Dan setiap kita pun menyadari bahwa kita akan menjadi penduduk di kampung global. Perlu kekuatan yang cukup besar untuk bertahan di zaman ini. Sumber energi yang cukup besar untuk bertahan adalah sebuah kebanggaan. Kebanggan menjadi penduduk daerah, kebanggan menjadi Indonesia, yang pada akhirnya mewujudkan karya untuk menjadi pemain di tataran global. Untuk menjadi bangga, tentu perlu alasan, dan seperti saya katakan tadi, alasan itu berserak. Yang menjadi penting adalah, menemukan alasan yang tepat dan kuat, sehingga bisa diolah menjadi energi dan opportunity untuk bertahan dan berkarya. Dan berikut alasan mengapa harus bangga menjadi Indonesia.

1. Penduduk yang pekerja keras
            Jika membahas tentang semangat kerja keras, kita pasti akan merujuk ke Cina atau ke Jepang. Menjadi sebuah kisah yang sudah sangat terkenal tentang budaya kerja orang Cina dan Jepang sehingga menyebabkan sebagian masyarakat minder akan budaya kerjanya sendiri. Mengapa anggapan itu muncul? Kerena kita membandingkan budaya sebagian dari masyarakat Indonesia dengan budaya mereka. Padahal perbandingannya belum tentu benar. Jika kita membandingkan budaya kerja birokratnya, ya memang diakui ada sesuatu yang perlu diperbaiki di budaya kerja birokrat kita. Birokrat Indonesia bisa menemukan sekian alasan untuk pulang cepat, padahal di Jepang, pulang cepat merupakan aib karena itu berarti dia tidak dibutuhkan. Namun lihatlah petani yang ada di desa, pedagang yang ada di pasar tradisional, tentara yang ada di garis depan nusantara, dan nelayan yang ada di pantai. Mereka bangun sebelum pagi, sejak petang sudah penuhi jalan, dan pulang larut malam. Rakyat Indonesia memiliki etos kerja yang sangat luar biasa. Mereka tetap bertahan di segala kondisi, mereka coba terangi masa depan mereka dengan rasa penuh optimis. Dengan segala keterbatasan, dengan temaramnya jaminan kesejahteraan, mereka tetap bekerja dengan keras. Sangat keras. Mereka bekerja melebihi kewajiban mereka karena di situlah masa depan mereka bergantung. Mereka bekerja keras agar harapan akan masa depan tetap berpendar. Kalau mereka sudah bekerja keras, mengapa kesejahteraan tidak teraih? Karena mereka bekerja keras, tetapi tidak diiringi bekerja cerdas. Pendidikanlah menjadi faktor penghambat utama mereka. Manajemen tidak tertata, marketing tanpa strategi dan akses informasi yang minim menjadi penghambat yang lain. Inilah yang perlu segera ditata.

2. Sumber daya alam dan pariwisata.
            Sumber daya alam apa yang tidak dipunyai Indonesia. Minyak bumi kita melimpah, gas alam terhampar, dan bahan tambang berserak. Mendiami lokasi sabuk gunung merapi menjadikan tanah Indonesia subur tiada terkira. Pertanian yang dikelola secara profesional pun dapat menghidupi kebutuhan bangsa ini. Hasil hutan yang melimpah merupakan poin tersendiri. Pernah kita mendapat julukan zamrud katulistiwa. Mungkin tidak berlebihan ketika Koes Plus menyanyikan lagu yang berlirik “tongkat kayu dan batu jadi tanaman”. Semua itu perlu pengelolaan yang profesional. Alam yang melimpah pun bisa jadi bencana ketika kita mengelola dengan sembarangan.
            Pariwisata yang megah merupakan aset tersendiri yang dimiliki oleh bangsa kita. Tidak ada yang meragukan keelokan tanah air ini. Bahkan Markeeters pun sering membahas ini dan menuangkannya ke dalam catatan khusus, The Real Wonder of The World. 50 keajaiban yang dimiliki tanah air ini. Hanya 50? Tentu saja tidak. Masih banyak potensi pariwisata mulai dari pariwisata alam, budaya, sejarah, dan industri kreatif yang dapat dieksplore lagi. Jangan sampai bangsa lain mencuri kebudayaan kita. Bangga menjadi Indonesia berarti bangga menggunakan produk budaya kita.

3. Anak muda yang kreatif dan terhubung.
Sekarang ini Indonesia mengalami masa keemasan dan suatu keberlimpahan apa yang disebut dengan “Bonus Demography” di mana anak muda yang produktif mendominasi populasi penduduk Indonesia. Merupakan sebuah kesempatan bagi Indonesia untuk melakukan akselerasi pembangunan. Anak muda yang melimpah ini, harus dikelola sehingga anak muda bisa menjadi penggerak ekonomi di daerah masing-masing. Berkembangnya industri kreaif di berbagai tempat menunjukkan bonus demogafi ini tidak main-main. Industri kreatif yang digerakkan anak muda sudah mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Ditambah lagi dukungan dari kalangan perbankan dan pemerintah untuk semakin mengembangkan industri ini. Dampak yang ditimbulkan cukup besar. Industri kreatif anak muda ini mampu menyerap tenaga kerja yang cukup signifikan. Hal ini juga makin memperkuat industr hulu.
            Seiring berkembangnya industri reatif, berkembang pula komunitas kreatif yang digerakkan oleh anak muda. Melalui komunitasnya masing-masing, anak muda ini menjadi penggerak perubahan ekonomi, sosial, dan budaya. Bentuknya beragam, tergantung jenis komunitasnya. Seperti Indonesia Berkebun yang bergerak dalam bidang lingkungan, Komunitas Sahabat Kota yang bergerak di bidang pendidikan, dan masih banyak lagi. Mempunyai anggota dan jaringan yang cukup luas menyebabkan dampak positif yang ditimbulkan cukup terasa. Kreatifitas merupakan kunci berdayanya anak muda ini. Tidak cukup kreatif, ada satu faktor yang membuat komunitas kreaif ini makin berkembang. Terhubungnya anak muda satu sama lain menyebabkan perluasan komunitas mengalami akseerasi yang cukup hebat. Berkembangnya pemakaian social media, merupakan pendorong semakin terhubungnya anak muda ini. Bahkan fenomena ini ditangkap oleh marketeers sebagai fenomena yang cukup hebat. Youth, Woman, Netizen, merupakan penggerak ekonomi kreatif di Indonesia. Jangan meremehkan ketiganya karena mereka dapat membuat perubahan yang besar di negeri ini.

Tiga alasan di atas adalah alasan saya ketika saya ditanya” Mengapa Anda bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia?” Tiga alasan yang lebih dari cukup untuk saya, dan kita semua, bertahan dan terus berjuang memajukan Indonesia di berbagai sektor. Di saat peta global kacau akibat krisis, bangsa kita akan tetap bertahan. Memajukan Indonesia merupakan tugas negara secara konstitusional, tetapi secara moral, seluruh elemen bangsa wajib turun tangan dalam memperbaiki bangsa kita. Kita kuat dalam kebersamaan, kita maju bersama dunia. Salam optimis untuk Indonesia.

Artikel ini dalam rangka Lomba Blogging Marketeers

Selasa, 07 Agustus 2012

Jago Keyboard, Selalu Burukkah?


“Eh lu jangan cuma jago keyboard donk!”
“Kalo cuma ngetik komentar doang sih semua bisa!”
“Dateng kajian dong, kasih solusi kek! Ikut kerja Kek!”
Itu beberapa komentar ketika ada permasalahan atau isu di lingkungan kampus, lalu merebak di social media. Tentu kalau sebuah isu menjalar ke socmed, maka setiap orang yang terhubung akan mudah berkomentar, menimpali, bertanya, menjawab, atau paling ekstrimnya mencaci. Era socmed memang memicu orang untuk berkomentar lebih cepat. Pada akhirnya timbul istilah “Jago Keyboard” yaitu julukan yang ditujukan kepada orang yang cuma berkomentar ramai di socmed, tapi tidak pernah kerja turun tangan. Pertanyaannya adalah, salahkah menjadi Jago Keyboard?
Jika Jago Keyboad itu hal yang buruk, yang paling pantas dicaci adalah wartawan, kolumnis, blogger, dan orang yang bekerja di sektor media. Loh, kok wartawan dan kolumnis diikutin? Ya iyalah, mereka kan kerja dengan tulisan, apalagi blogger, mereka berkontribusi lewat tulisan. Wartawan, kolumnis, dan blogger adalah aktivitas yang keren dan kontributif. Mereka tidak bisa disamakan dengan orang yang sekadar nyinyir di socmed. Ada beberapa hal yang membedakannya. Karena itu saya berkesimpulan, tidak semua Jago Keyboard itu jelek, yang membedakan adalah, hasil karyanya.
Harus disadari, cara orang untuk berkontribusi dalam suatu hal itu berbeda-beda sesuai dengan bakat dan kemampuan. Istilah yang ngetrend sekarang adalah, berkontribusi sesuai passion. Tidak semua orang mampu berbicara di depan umum dengan baik, tidak semua orang bisa menulis dengan runtut, dan tidak semua orang bisa turun tangan mengahadapi persoalan lapangan. Terasa aneh jika seseorang yang nyaman menyampaikan pendapat secara tertulis, dipaksa ikut sumbang saran di kajian secara langsung. Pasti akan “bisu” dan “gagap” selama kajian. Tidak sepenuhnya salah kan orang yang tidak sumbang saran kalau ikut kajian. Kalau saya membayangkan, jika semua orang harus turun tangan di lapangan, akan terjadi kekacauan. Kalau semua orang yang menyumbangkan pendapat lewat socmed dicap buruk, lalu siapa yang mengedukasi orang yang aktif di socmed?

Utuh dan Santun
Dewasa ini, gaya orang yang sumbang pendapat di socmed sangat beragam. Mereka menyatakan setuju dan tidak setuju dengan berbagai cara. Ada yang menyatakan kesetujuannya hanya dengan cara like, atau menulis singkat “gw setuju ama pendapat lu” dan ada yang menuliskannya secara lengkap alasanya. Dan untuk menyatakan ketidaksetujuannya pun beraneka ragam, dari tidak setuju tanpa alasan, memakai alasan yang santun sampai caci maki. Pelaku socmed seharusnya menyadari bahwa respon yang akan diterima akan sangat beragam. Jangan marah ketika respon yang diterima tidak sesuai dengan harapan. Pelaku socmed memang harus legowo, tetapi yang kadang bikin sebel adalah, responnya tidak utuh, tidak solutif, dan penuh caci maki.
Utuh, solutif, dan santun adalah hal yang dapat membedakan antara Jago Keyboard yang positif, dengan jago keyboard nyinyir. Pendapat seseorang bisa dipahami orang lain jika pendapat itu utuh. Utuh yang saya di sini adalah pemberi pendapat melihat masalah secara utuh, dapat menganalisa dengan baik, dan memberi solusi secara tepat. Banyak jago keyboard mengomentari masalah tanpa tahu masalah sebenarnya secara utuh. Ini yang agak bikin sebal. Jika tidak melihat masalah secara utuh, bisa dipastikan analisanya kacau, dan solusinya serampangan. Ada juga kasus, pemberi komentar tidak menyertakan solusinya. Orang seperti menggunakan prinsip ilmu “pokoknya”. Pokoknya ga setuju, pokoknya cari cara lain, pokoknya bukan dia, dan rasanya ini yang mendominasi di jagad dunia maya.
            Pendapat yang baik akan dipahami secara salah jika penyampaiannya salah. Menyampaikan pendapat itu harus tepat, baik cara, waktu dan tata bahasa. Cara yang tepat adalah menggunakan bahasa yang santun, dan menggunakan bahasa yang sesuai dengan pembacanya. Memperhatikan waktu juga menjadi hal yang penting. Menginadari caci maki adalah hal yang paling tepat menurut saya. Sayangnya, menurut saya, sekarang ini terjadi pengaburan makna caci maki. Berbahasa yang tajam dan keras itu berbeda dengan caci maki. Jadi baik penulis dan pembaca harus membedakannya. Banyak kolumnis menggunakan bahasa yang tajam, tetapi aneh kalau bahasa seperti itu dikatakan caci maki.

Melalui Keyboard Menebar Manfaat
Seluruh aktivitas seorang aktivis kampus saya rasa selalu bermuara kepada mencari ridho Allah dan memberi manfaat seluas-luasnya. Menebar manfaat itu bisa melalui apa saja. Sumbang saran, baik lisan maupun tulis, sumbang dana, sumbang tenaga dan sebagainya. Termasuk seorang Jago Keyboard yang menambakan melalui tulisan, dia bisa memberi manfaat kepada lingkungan. Itulah yang membedakan Jago Keyboard nyinyir dengan Jago Keyboard keren. Memberi manfaat adalah tujuannya, bukan sekadar komen nyinyir. Seorang jago Keyboard juga harus belajar agar manfaatnya tepat sasaran. Jika seseorang yakin komentar dan sarannya memberi manfaat, maka menulislah, tapi jika tidak maka diamlah. Semoga seluruh Jago Keyboard tetap belajar dan menebar manfaat. Jadi, Jago Keyboard tidak selalu negatif kan?

Salam Optimis untuk Indonesia
@Hardian_cahya

Senin, 06 Agustus 2012

Pencuri Kebersamaan


Bulan Ramadhan telah tiba. Ada agenda yang menjamur tiap bulan ini. Buka bersama, menjadi kebiasaan orang Indonesia untuk berkumpul. Macam-macam motifnya, ada yang untuk reuni, bisnis, atau sekadar nongkrong dan ngobrol. Obrolan ringan sampai berat. Pada umumnya, buka bersama menjadi sarana untuk mempererat persaudaraan dan kekeluargaan. Pun dengan keluarga yang melaksanakan buka bersama, entah itu di rumah, atau makan di luar. Kebersamaan menjadi suatu hal yang menyenangkan.
            Mengapa buka bersama menjadi begitu istimewa? Saya berpendapat, buka bersama menjadi istimewa karena kebersamaan dan keakraban menjadi satu hal yang mahal dewasa ini. Keadaan perekonomian dan persaingan yang sulit, menuntut orang bekerja begitu keras sehingga kebersamaan bersama keluarga, teman, dan rekan kerja menjadi mahal. Lho, rekan kerja kan setiap hari ketemu? Ya, setiap hari ketemu, tetapi setiap ketemu kan ngomongin pekerjaan, ga ada waktu untuk ngoobrolin hal-hal di luar pekerjaan. Kalau kasus keluarga, seorang ayah harus bekerja setiap hari, belum lagi terjebak macet, lembur, pulang malam berangkat subuh. Hal-hal ini yang menjadikan kebersamaan menjadi mahal. Karena pada bulan ramadhan, biasanya instansi mengurangi jam kerja, dan hal ini dimanfaatkan untuk buka bersama. Karena itu buka bersaman menjadi momen yang istimewa.
            Karena begitu mahalnya kebersamaan, seharusnya kita memanfaatkan momen itu dengan bagus. Jarang-jarang kan ada acara begini. Tetapi ada hal yang perlu diwaspadai, yaitu pencuri kebersamaan. Pencuri ini tidak mencuri jumlah kebersamaannya, tetapi mencuri kualitasnya, dan pencuri itu sangat dekat dengan kita. Perangkat teknologi, yang menjadi sangat berbahaya. Dia bisa saja mencuri kualitas kebersamaan yang mahal itu. Saya pernah melihat seorang keluarga yang buka bersama disebuah rumah makan. Mereka duduk melingkari satu meja. Mejanya tidak terlalu besar, sehingga mereka sangat dekat. Mereka boleh jadi sangat dekat secara fisik, tetapi jauh pikirannya. Ayahnya pegang tablet, sang ibu pegang blackberry, dan dua anaknya asyik dengan smartphone androidnya. Mereka asyik dengan perangkatnya sendiri. Teknologi berhasil mencuri kebersamaan mereka. Saya juga pernah melihat sekelompok mahasiswa yang buka bersama di sebuah resto, teknologi pun berhasil mencuri kebersamaan mereka. Tidak semua memang, diantara mereka, cuma saru dua yang asyik sendiri dengan perangkatnya. Terus buat apa buka bersama, kalau pada akhirnya mereka “sendiri”?
            Teknologi, bisa saja mendekatkan yang jauh, tetapi kalau tidak bijak menggunakan, akan menjauhkan yang dekat. Teknologi dibuat untuk memudahkan pekerjaan, bukan memudarkan kebersamaan. Jika memang ada pekerjaan, segera selesaikan sebelum buka bersama. Mengirim email, membalas sms pekerjaan, atau kebutuhan teknologi yang lain. Tahan untuk tidak ngetweet dan update status selama buka bersama. Bukan menjadi hal wajib Anda update status tentang buka puasa Anda seperti “lagi buber sama kawan nih.” atau “makanannya kurang enak disini.” Dan tidak perlu juga memfoto makanan Anda dan mengupload di socmed. Berdo’a sebelum makan lebih keren dibanding update status dan upload foto di socmed. Waktu kebersamaan Anda bersama keluarga dan kawan-kawan terlalu berharga untuk Anda sia-siakan untuk aktifitas socmed yang tidak terlalu penting. Eksistensi Anda di socmed tidak lebih penting dari pelukan hangat sahabat di sebelah Anda.

Senin, 09 Juli 2012

Catatan Kecil Tentang Museum


Jakarta terik siang itu. Saya menyusuri kota tua yang ada di jakarta. Saya memang jarang ke Jakarta, tapi saya langsung jatuh cinta dengan kota tuanya. Siang itu saya berkunjung ke museum yang ada di kompleks kota tua. Bertemu anak kecil, yang kira-kira kelas 6 SD, di Museum Bank Indonesia, saya iseng bertanya ke anak kecil itu, “Dik, Museum itu artinya apa sih?” dengan sangat lugas dia menjawab,”tempat menyimpan benda bersejarah.” Jawaban yang benar menurut saya, karena pada KBBI pun museum didefinisikan:

 mu·se·um /muséum/ n gedung yg digunakan sbg tempat untuk pameran tetap benda-benda yg patut mendapat perhatian umum, spt peninggalan sejarah, seni, dan ilmu; tempat menyimpan barang kuno.

Tidak salah kan jawaban adik itu, tetapi menurut saya, definisi ini mengaburkan maksud dan tujuan pendirian filosofi museum itu sendiri. Jika seseorang memahami sesuatu itu A, maka dia akan cenderung memperlakukan sesuatu itu A. Maksudnya jika seseorang memahami museum itu adalah tempat penyimpanan, maka dia akan memperlakukan museum sebatas tempat penyimpanan. Hampir sama dengan penengertian gudang. Tentu ini jauh dari tujuan didirikannya museum. Saya pribadi mempunyai pendapat, museum itu adalah tempat belajar mengenai sejarah selain cara tekstual. Ya, museum itu adalah tempat orang belajar mengenal dirinya, masyarakatnya, dan bangsanya ditinjau dari masa lalu, dan mempergunakan pengetahuan itu untuk membangun masa depan. Sayangnya, sedikit masyarakat yang peduli atau setidaknya ingin mengenal museum, dan tidak semua museum dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan masyarakat. Apa kriteria museum yang baik? Menurut saya, ada tiga kriteria dasar museum itu bisa disebut museum yang baik.

1. Jujur
Meseum yang jujur adalah museum yang menampilkan sisi gelap maupun sisi buruk sejarah. Museum hendaknya tidak hanya menampilkan sisi positif dari sejarah, sehingga masyarakat pengunjung museum bisa lebih objektif dalam menilai dan belajar sejarah. Masyarakat sangat perlu mengenal dan mengerti sisi gelap sejarah suatu bangsa, sehingga kemungkinan untuk mengulang semakin kecil.

2. Interaktif
Karena tujuan didirikannya museum adalah tempat belajar, maka museum harus bisa berinteraksi dengan pengunjung, bukan tempat penyimpanan yang bisu, sehingga pengunjung  hanya dapat melihat benda mati saja. Dengan adanya interpreter baik manusia ataupun diwakili multimedia yang mumpunu, diharapkan pengunjung dapat belajar dengan baik. Interaksi bukan hanya penyampaian informasi satu arah saja, tapi dapat dimungkinkan dua arah.

3. Bernyawa
Ini kriteria yang peling penting menurut saya. Bangunan penyimpanan akan tetap mati jika tidak ada mengisi nyawa. Nyawa dari sebuah bangunan adalah aktivitas manusia didalamnya. Jika tidak ada aktivitas, maka matilah bangunan itu. Pun dengan museum, harus ada aktivitas untuk mengisi museum tersebut. Menggelorakan cinta museum tidak bisa dicapai dengan menunggu dan berharap pengunjung datang dengan sendirinya. Event seru harus ada di setiap museum.

Tidak bisa dipungkiri bahwa museum di Indonesia tengah bergelut dengan ketiadakan dana, baik dari pemerintah maupun masyarakat. Silahkan cek, berapa persen dana APBD yang dialokasikan untuk museum, sangat kecil. Pengelola harus memutar otak bagaimana menghidupkan museum ditengah keterbatasan yang ada. Pengelola dituntut kreatif dalam usaha pembangunan museum.
            Lalu apa yang bisa dilakukan masyarakat biasa? Cintai museum, itu lebih dari cukup. Mencintai mengandung konsekuensi yaitu, mengunjungi, merawat, mempromosikan. Omong kosong mencintai museum tanpa mengunjunginya. Berapa museum yang sudah Anda kunjungi di kota Anda? Beberapa kawan ditanya seperti itu menjawab, “boro-boro mengunjungi museum, museum apa aja yang ada di kota ini aku ga tahu.” Nah lo.. kedua adalah merawat. Banyak benda museum yang rusak akibat tangan jahil pengunjung. Keterlaluan banget kali ya, di museum aja masih bisa usil. Nikmati tanpa merusak agar semua orang bisa ikut menikmatinya. Ketiga ikut promosikan. Pakai banner? Atau pakai baligho? Ga perlu bos. Jika ada kawan atau saudara yang berkunjung ke kota Anda, lalu biasanya minta ditemani jalan-jalan, ajak aja ke museum. Seru tuh. Mengenalkan sejarah plus promosi museum. Asik dan efektif.

Minggu, 27 Mei 2012

Bukan Sekadar Pekerjaan, Tetapi Soal Peran


Sudah lama saya ingin menulis opini tentang hal ini. Akhirnya kali ini saya memberanikan diri untuk menulis tentang ibu rumah tangga. Ada beberapa hal yang membuat saya tidak berani pada awalnya untuk menulis tentang ibu rumah tangga. Pertama, saya bukan seorang perempuan, dan tidak mungkin menjadi ibu rumah tangga. Kedua adalah ibu rumah tangga adalah peran yang sangat mulia dan saya khawatir akan mendangkalkan karena opini yang tidak sesuai. Ketiga saya belum menikah. Tiga alasan itu cukup untuk saya menunda tulisan ini.
Pernahkah Anda mendengar seseorang berkata, “Pekerjaan saya hanya ibu rumah tangga” atau “Kebetulan saya adalah ibu rumah tangga.” Kalimat ini sangat menganggu saya. Pertama, saya tidak setuju jika ibu rumah tangga adalah pekerjaan. Saya lebih nyaman menyebut ibu rumah tangga adalah peran, karena saya menangkap kesan, pekerjaan lebih condong sesuatu yang bergaji, dan sangat memungkinkan pendapat saya ini salah. Kedua adalah kata “hanya” dan “kebetulan” rasanya tidak terlalu pantas untuk disandangkan ke peran yang sangat mulia. Kata hanya dan kebetulan merepresentasikan sebuah peran yang sekadarnya. Ada tanggung jawab yang sangat besar yang harus dipikul oleh seseorang perempuan yang memberanikan diri mengambil peran sebagai ibu rumah tangga.

Antara Wanita Karier dan Ibu Rumah Tangga
“Saya bingung memilih menjadi wanita karier atau ibu rumah tangga”. Pertama yang harus diluruskan adalah konsep kita tentang karier. Seperti yang di ungkapkan oleh @ReneCC bahwa karier bukanlah mengenai jabatan. Karier bukanlah mengenai gaji, fasilitas dinas, company, ataupun promosi-demosi. Karena itu karier mengenai kita dan perjalanan hidup kita. Kedua adalah, rasanya tidak bijak ketika kita memisahkan antara karier dan ibu rumah tangga. Ibu rumah tangga adalah karier pertama dan utama dari seorang perempuan yang menikah. Lho berarti perempuan ga boleh kerja? Saya tidak mengatakan demikian. Seorang perempuan silahkan memilih untuk bekerja atau tidak. Itu keputusan masing-masing yang tentu saja harus didiskusikan dengan suami. Tetapi, ketika seorang perempuan memutuskan untuk bekerja, maka peran menjadi ibu rumah tangga harus tetap menjadi prioritas. Jadi keputusan bekerja atau tidak, itu kembali ke pilihan masing-masing.
Seorang perempuan yang memutuskan mengambil pilihan untuk tidak bekerja dan mengambil peran sebagai ibu rumah tangga secara penuh, adalah perempuan yang berani dan mempunyai keikhlasan tinggi. Mereka rela dan sangat ikhlas memberikan kesempatan suami mereka untuk mempunyai pekerjaan cemerlang, padahal sangat memungkinkan mereka mempunyai potensi yang lebih besar untuk cemerlang dibanding suami mereka. Butuh keberanian dan keikhlasan tinggi untuk mengambil keputusan ini. Jadi para suami, berterimakasihlah kepada istri Anda semua.

Peran Luar Biasa
            Apakah Anda tahu bahwa kebanyakan keputusan pembelian properti itu diputuskan oleh perempuan, bukan suaminya. Karena itu perusahan properti memilih majalah wanita sebagai media promosi. Ada satu hal yang patut dicermati yaitu, Pak Hermawan Kartajaya mengatakan bahwa, dari survey yang dilakukan Mark Plus, 84% Chief Finance Officer (CFO) dari rumah tangga Indonesia adalah perempuan, yaitu ibu rumah tangga. Bukan hanya dari manajemen keuangan, Ibu adalah sekolah pertama dan utama bagi anak-anaknya. Bukan peran yang gampang dan remeh menjadi ibu rumah tangga. Lalu apakah seorang ibu rumah tangga harus berpendidikan tinggi untuk melaksanakan tugasnya dengan baik?
            Dulu saya berpikir, untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik harus berpendidikan formal yang tinggi, ternyata ada ibu rumah tangga yang tidak berpendidikan formal tinggi pun bisa menjadi ibu rumah tangga yang dahsyat. Pernah mendengar kisah Mas Iwan Setyawan (@iwan9S10A) yang dikisahkan di dalam novel 9 Summer 10 Autumns. Ibu beliau yang “memaksa” mas Iwan untuk kuliah dan mengatur kondisi keluarga agar bisa mengirim mas Iwan kuliah. Ibunya mas Iwan, yang memilih menjadi ibu rumah tangga selama hidupnya, memiliki visi yang jauh, besar, dan jelas tentang pendidikan. Sedikit kurang bisa dipercaya bahwa seorang perempuan, yang tidak lulus SD sekalipun, bisa mempunyai visi yang besar tentang pendidikan. Tidak hanya mempunyai visi, beliau bisa memanage kondisi keluarga sedemikian rupa agar  bisa mengirim mas Iwan Kuliah. Dan pada akhirnya Mas Iwan bisa memperbaiki kondisi ekonomi keluarganya. Ibunya Mas Iwan memang tidak mendapat pengajaran yang tinggi, tetapi beliau tercerahkan. Dilihat dari kisah ini betapa besar peran seorang ibu rumah tangga dan pentingnya ibu rumah tangga menjadi “The Super Manager” bagi keluarganya.
***
            Menjadi ibu rumah tangga bukan berarti harus meninggalkan pekerjaan, tetapi sebuah kesadaran akan peran tanggung jawab yang besar dalam sebuah keluarga. Peran kepada Tuhan, peran kepada keluarga, dan peran kepada lingkungan. Mengutamakan peran yang luar biasa besar ini di atas pekerjaan formal. Kewajiban bagi seorang perempuan untuk meningkatkan kapasitas diri untuk menjadi “The Super Manager” bagi setiap keluarga Indonesia. Kualitas masa depan Indonesia dipengaruhi oleh kualitas ibu rumah tangga Indonesia, karena pada merekalah kualitas penerus bangsa ini dibentuk. Ibu yang mengurus keluarga dengan kasih sayang akan melahirkan generasi penyayang. Setelah ini, saya harap tidak ada yang menyandingka kata “hanya” dan “kebetulan” dengan “Ibu Rumah Tangga”, karena ibu rumah tangga itu mulia.
            Berterima kasihlah wahai para suami dan laki-laki Indonesia. Berterima kasihlah kepada istri dan ibu kita. Berterima kasihlah untuk peran yang berani dipikul oleh perempuan super Indonesia. Ada peran yang dititipkan Tuhan kepada mereka di dalam setiap keberhasilan kita. Thanks Mom!!!

Tulisan ini dipersembahkan untuk seluruh perempuan super Indonesia...

Salam Optimis untuk Indonesia
@Hardian_cahya

Selasa, 08 Mei 2012

Seberapa Sukses Eventmu?


“Gimana event kamu kemarin?”
“Sukses Bro, yang datang banyak, dan apresiasinya bagus”
“Wuiih...Selamat ya..”
“Makasih”

Event yang sukses, adalah dambaan setiap orang yang pernah berkecimpung di dunia event organizer, entah itu yang profit ataupun yang nonprofit. Pengunjung banyak, apresiasi bagus, profit besar akan menyenangkan hati sang EO. Tapi, pertanyaannya adalah, event yang sukses itu seperti apa? Apakah dapat diukur dari angka pengunjung atau profit? Apakah dapat diukur dari pujian yang masuk? Ataukah ada parameter lain?

Setiap EO yang baik pasti membuat parameter keberhasilan ketika akan menyelenggarakan sebuah event. Biasanya mereka akan mengevaluasi kesuksesan acara dari pencapaian parameter tersebut. Parameter setiap event tentu berbeda tergantung dari bentuk event dan penyelenggaranya. Setiap EO berhak menentukan parameter kesuksesan setiap event mereka sendiri, tapi menurut saya pribadi, parameter yang dibuat tidak cukup untuk menentukan kesuksesan sebuah event. Disamping ada parameter kesuksesan, harus ada pembanding sehingga event yang diselenggarakan dikatakan berhasil.

Parameter Kesuksesan Event
Seperti yang saya katakan di atas, setiap EO berhak menentukan parameter keberhasilan setiap event tergantung muatan dan bentuk event itu sendiri, tapi ada beberapa prinsip yang menurut saya pribadi harus ada di setiap event kalau mau dikatakan event itu sukses.

Pertama adalah, setiap event harus membuat panitia dan pesertanya lebih dekat dengan Tuhannya. Bukan berarti harus event agama, tetapi event apapun sebaiknya harus membuat setiap yang terlibat lebih dekat dengan Tuhannya. Contohnya di seminar, seminar apapun kalau ada ilmu pengetahuan  baru, ilmu pengetahuan itu harus lebih membuat dekat dengan Tuhan. Pun di event musik atau seni. Apapun konten acaranya, akan jauh lebih baik jika membuat peserta dan panitianya lebih dekat dengan Tuhan. Celakanya, beberapa EO lebih sibuk menyiapkan acara sehingga melupakan waktu ibadah. Dan paling celaka adalah, ketika event itu berdurasi panjang, peserta atau semua orang yang terlibat melewatkan kewajiban ibadah. Mungkin semua senang event itu berjalan lancar dan apresiasi bagus, tetapi buat apa kalau mereka melewatkan waktu ibadah. Pecuma kalau semua senang tapi keberkahan melayang. Keberkahan merupakan hal yang sangat penting, bahkan lebih penting daripada apresiasi manusia.

Kedua, adalah event akan dikatakan sukses jika bermanfaat kepada semua orang yang terlibat, baik peserta, EO, masyarakat sekitar, tim pendukung, sponsor, dan lain-lain. Kebermanfaatan harus ada disetiap event. Bukan dinilai dari angka pengunjung dan nilai profit yang masuk, tetapi manfaat yang diberikan haruslah besar. Memang idealnya adalah eventnya bermanfaat, pengunjungnya banyak, sehingga manfaat itu bisa dirasakan oleh orang banyak. Kebermanfaatan ini juga harus dirasakan oleh alam dan lingkungan hidup. Event hendaknya tidak menimbulkan efek negatif kepada alam dan lingkungan. Saya sangat mengapresiasi di beberapa event mulai ada kebiasaan meminimalkan sampah plastik dengan cara meminta peserta atau pengunjung membawa botol sendiri. Langkah kecil ini akan sangat bermanfaat bagi alam.

Coba Bandingkan
Ketika selesai acara, para EO akan mengevaluasi berdasarkan parameter yang telah dibuat. Jika parameternya positif, maka semua akan bergembira. Sebenarnya ada yang harus dilakukan dalam evaluasi, yaitu membandingkan dengan event lain yang sejenis. Butuh keberanian dan kebesaran jiwa untuk membandingkan event kita dengan event orang lain. Membandingkan dengan siapa? Apa yang dibandingkan?

Pertama, kita harus membandingkan dengan event kita sebelumnya. Jika event sebelumnya lebih bagus, maka harus ada koreksi yang cukup serius dalam pelaksanaan event kita. Bukankah jika hari ini lebih buruk dari kemarin maa kita disebut celaka. Ada kemungkinan kita tidak belajar dari kesalahan masa lalu.

Kedua adalah membandingkan dengan event lain yang sejenis. Kita harus evaluasi dan belajar beberapa aspek dengan membandingkannya. Contohnya tentang efektifitas dana. Jika ada event lain yang menggunakan dana yang sama atau bahkan lebih kecil dari event kita, tetapi mempunyai impact yang lebih besar, maka ada yang harus dibenahi dengan penyelenggaraan event. Atau ada event lain yang jauh lebih kreatif dan unik konsepnya, maka EO itu harus dengan senang hati mengoreksi dan belajar dari EO lain. Kalaupun event kita lebih bagus, maka harus ada yang dipelajari agar kesalahan yang dilakukan EO lain tidak kita lakukan di kemudian hari.

Membandingkan bukan berarti kita tidak bersyukur atas apa yang kita capai. Membandingkan merupakan metode agar kita tidak cepat berpuas diri dan menganggap kita telah mencapai yang terbaik. Membandingkan juga sarana koreksi dan belajar untu penyelenggaraan event kita yang lebih baik.

Semoga setiap event kita  lebih mendekatkan kepada Tuhan, bermanfaat bagi sesama dan alam, dan semakin baik kedepannya.

Salam Optimis untuk Indonesia!
@Hardian_cahya