Minggu, 25 Desember 2011

Dari Komunitas Untuk Bangsa

Kalau kita bertanya “Apakah Indonesia negara yang kaya raya?”, hampir semua orang yang menjawab dengan yakin “Ya, Indonesia negara yang kaya raya”. Ketika dilanjutkan dengan pertanyaan “Apakah bentuk kekayaan yang dimiliki Indonesia?”, hampir pasti kebanyakan orang akan menjawab “Gas, minyak bumi, kelapa sawit, dan kekayaan alam lainnya.” Jarang sekali orang yang menjawab bahwa kekayaan Indonesia terletak pada manusianya. Padahal ada kekayaan Indonesia yang jarang disadari oleh kebanyakan masyarakat Indonesia. Apa itu? Kekayaan itu adalah komposisi penduduk Indonesia. Indonesia memiliki sesuatu yang sering disebut para ekonom dengan istilah bonus demografi (demographic deviden). Istilah ini diperkenalkan oleh prof. Sri Moertiningsih Adioetomo pada tahun 2005. Bonus Demografi adalah rasio ketergantungan jumlah penduduk usia produktif dengan usia non produktif. Dalam artikel di harian Kompas (per tanggal 25 November 2011) menyebutkan bahwa penduduk Indonesia didominasi oleh usia produktif. Dan diantara usia produktif ini, didominasi oleh anak muda. Dapat disimpulkan bahwa Indonesia mempunyai jumlah anak muda yang begitu besar dibanding orang tua. Bisa dibayangkan bagaimana pesatnya kemajuan Indonesia, jika para pemuda ini mengambil peran yang strategis dalam membangun bangsa. Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah pemuda mana yang bisa mengambil peran?

Menurut Anies Baswedan, rektor Universitas Paramadina, kemajuan Indonesia banyak ditopang dari kelas menengah Indonesia yang banyak disuplay oleh pendidikan tinggi. Jadi akan menjadi sangat dahsyat pengaruhnya jika yang mengambil peran ini adalah para pemuda yang sudah atau masih mengenyam pendidikan tinggi yang biasa kita sebut dengan mahasiswa.

Lapisan Baru yang Bergerak

Saya mengamati, ada lapisan baru pada mahasiswa yang ikut mengambil peran dalam pembangunan bangsa. Selama ini, lapisan mahasiswa yang mengambil peran pembangunan bangsa biasanya adalah mahasiswa aktifis, yang biasanya aktif di BEM, DPM atau himpunan. Tapi akhir-akhir ini, ada kelompok baru yang menyusul. Kelompok mahasiswa ini bukanlah lahir dari kalangan aktifis senat atau himpunan. Kelompok ini lahir dari mahasiswa yang tidak terlalu tersentuh oleh organisasi semacam itu. Mungkin kalau saya boleh mengistilahkan, kelompok ini lahir dari kalangan mahasiswa “nongkrong”, yaitu mahasiswa yang terbiasa berkumpul untuk ngobrol bareng di kafe.

Mahasiswa dari lapisan ini akan membentuk suatu kelompok berdasarkan passion dan hobi mereka. Ada yang bergerak di bidang lingkungan, sebagian bergerak di bidang pendidikan, dan ada pula yang bergerak di bidang industri kreatif. Komunitas seperti ini mulai banyak terbentuk. Pada mulanya, komunitas ini hanya bergkegiatan untuk kepentingan mereka saja. Akhir-akhir ini, pola kegiatan komunitas ini mengalami pergeseran, yang pada awalnya kegiatan hanya untuk kalangan sendiri, sudah bergeser menjadi kegiatan yang bermanfaat untuk masyarakat sekitar.

Kita coba ambil contoh di Bandung. Ada sebuah komunitas yang digagas oleh Ridwan Kamil, arsitek sekaligus dosen ITB, yang bergerak di bidang lingkungan. Komunitas ini bernama Indonesia Berkebun. Anggotanya memang sangat majemuk, tapi didominasi oleh mahasiswa yang jarang bersentuhan dengan senat maupun himpunan. Arah gerak komunitas ini adalah memanfaatkan lahan kosong sebagai tempat berkebun, sehingga kota Bandung menjadi lebih hijau. Gerakan ini sudah menyebar di beberapa kota di Indonesia. Tercatat di website Indonesia Berkebun, www.IndonesiaBerkebun.org, per 25 November 2011 sudah memiliki cabang komunitas di dua puluh kota di seluruh Indonesia. Indonesia berkebun terus bergerak dalam upaya menghijaukan kota. Tidak hanya itu, Indonesia Berkebun juga melakukan pembinaan ke warga untuk memanfaatkan lahan kosong yang bisa digunakan untuk berkebun. Tidak hanya menghijaukan kota, peningkatan ekonomi pun bisa dicapai.

Tidak hanya Indonesia Berkebun, masih banyak komunitas anak muda yang melakukan gerakan serupa di bidang masing-masing. Sebut saja TEDx, Bandung Creative City Forum (BCCF) dan Bandung Unite dan masih banyak lagi. Dan menurut perkiraan saya, komunitas ini akan terus berkembang, baik jumlah komunitas maupun jumlah anggota, seiring meluasnya informasi keberadaan komunitas ini.

Peran Jejaring Sosial

Masih ingat dengan kasus dugaan kriminalisasi Bibit-Candra? Atau kasus perseteruan Ibu Prita dengan phak rumah sakit? Kasus ini langsung mendapat respon yang cukup luar biasa dari masyarakat, termasuk kaum muda. Lalu kaum muda membuat gerakan dengan caranya sendiri, dengan cara anak muda. Beberapa anak muda langsung memanfaatkan jejaring sosial seperti facebook dan twitter. Akun Gerakan 1.000.000 Facebookers Dukung Bibit Candra di facebook langsung mendapat dukungan yang luas. Atau gerakan Koin untuk Prita yang dimulai dari para blogger yang berkomunikasi via blog. Dukungan gerakan ini dengan waktu yang relative singkat meluas. Walaupun kita tidak bisa menafikkan peran televisi dalam gerakan semacam ini, tetapi saya berani mengambil kesimpulan bahwa jejaring sosial mempunyai peran yang besar dalam pembentukan gerakan. Bahkan di Mesir dan beberapa negara pun, gerakan revolusi diawali dari jejaring sosial. Saya melihat betapa powerfullnya peran jejaring sosial.

Kembali ke soal komunitas. Bagaimana komuitas ini terbentuk? Apa peran jejaring sosial dalam pembentukan komunitas ini? Kalau saya menganalisa, gerakan berbasis komunitas ini diawali dari beberapa tokoh muda yang menyebarkan idenya melalui jejaring sosial. Sebut saja Pandji Pragiwaksono (@pandji) yang menyebarkan semangat nasionalisme dan perubahan. Semangat ini langsung direspon dari banyak lapisan anak muda. Akhirnya muncullah beberapa gerakan berbasis komunitas untuk masyarakat. Atau Kang Emil, sapaan Ridwan Kamil, yang meluncurkan ide tentang kepedulian lingkungan dan kota melalui akun twitternya (@ridwankamil). Respon yang luar biasa muncul dari kalangan anak muda. Saya mengambil contoh peristiwa yang baru-baru ini ada di kota Bandung. Kang Emil mengungkapkan kegundahan hatin dan ide gerakannya tentang penyelamatan Babakan Siliwangi. Ide ini langsung mendapat dukungan dari anak muda Bandung. Gerakan “Save Babakan Siliwangi” menjadi topik yang banyak dibicarakan oleh anak muda. Bahkan ketika proses pembongkaran aspal di Babakan Siliwangi, banyak yang datang karena ajakan Kang Emil melalui twitter.

Jadi ada dua faktor yang menjadi awal bergulirnya gerakan berbasis komunitas ini. Pertama adanya tokoh muda yang cukup kharismatik di mata anak muda. Memang saya rasa agak sulit memulai gerakan di lapisan baru anak muda tanpa adanya ketokohan yang kuat. Faktor kedua adalah adanya peran penyebaran ide melalui jejaring sosial. Penyebaran melalui jejaring sosial memang cukup efektif karena mayoritas anak muda kelas menengah Indonesia merupakan pengguna dari jejaring sosial, walaupun pada akhirnya tidak menutup kemungkinan adanya peran televisi yang terlibat di situ.

Perkembangan dan Tantangan

Menurut hipotesis saya, gerakan berbasis komunitas ini akan semakin berkembang, baik jumlah komunitas, jumlah anggota, maupun jumlah jenis komunitas yang muncul. Ada beberapa faktor yang mendorong gerakan berbasis komunitas ini akan terus bergulir.

Pertama, jumlah anak muda di Indonesia masih banyak yang ingin berbuat sesuatu untuk bangsanya. Saya salah satu orang yang tidak setuju kalau ada yang mengatakan kepedulian anak muda terhadap bangsanya semakin menurun. Menurut saya, pernyataan ini sungguh tidak adil. Saya yakin masih banyak anak muda yang mempunyai kepedulian terhadap bangsanya. Hanya saja, kebanyakan dari mereka tidak tahu tempat untuk menyalurkannya. Dengan adanya gerakan berbasis komunitas ini, anak muda lebih mudah untuk menyalurkan keinginannya berkontribusi untuk bangsanya. Kedua adalah pengguna internet di Indonesia akan semakin meluas, dan pengguna jejaring sosial semakin bertambah. Memang tidak ada jaminan bahwa jumlah pemakai internet berbanding lurus dengan kemajuan dan perkembangan gerakan komunitas ini, tetapi dengan meluasnya pengguna internet, khususnya di kalangan anak muda, akan menambah peluang tersebarnya semangat nasionalisme dan perubahan ini. Dari sini akan sangat memungkinkan gerakan ini akan semakin berkembang. Ketiga adalah mulai tumbuhnya simpati dari berbagai kalangan untuk mensupport gerakan komunitas, walaupun lingkupnya masih terbatas. Saya mengamati, pihak swasta masih berperan lebih besar ketimbang pihak pemerintah. Sokongan berupa dana dan media merupakan dukungan yang cukup berarti bagi gerakan komunitas.

Gerakan berbasis komunitas tidak mulus berjalan begitu saja. Banyak tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah kurangnya dukungan pemerintah dalam gerakan ini. Tantangan ini sangat dirasakan oleh komunitas yang arah geraknya bertentangan oleh program pemerintah yang berorientasi ke ekonomi dan politik. Gerakan komunitas jarang yang mempunyai jaringan di kalangan pemerintahan, akibatnya negosiasi sering mengalami kebuntuan. Namun demikian, ada beberapa pemerintah daerah yang sudah mensupport gerakan komunitas. Contohnya wali kota solo dan wali kota Surabaya yang mendukung gerakan Indonesia Berkebun. Bahkan wali kota Surabaya berencana menjadikan gerakan Indonesia Berkebun menjadi gerakan resmi pemerintah. Tantangan kedua adalah dukungan dana yang masih sulit. Walaupun sudah mulai banyak pihak yang berpartisipasi dalam gerakan ini, tetapi permasalahan dana menjadi masalah yang cukup diperhitungkan. Tapi permasalahan ini dapat diatasi dengan sistem patungan dari anggota komunitas dan simpatisan.

Dari Komunitas untuk Bangsa : Sebuah upaya anak muda membangun bangsanya

Walaupun bangsa kita kaya raya, tapi memang sulit rasanya untuk membanggakan sumber daya manusianya. Padahal masa depan suatu bangsa hanya bisa diselamatkan oleh manusianya. Jadi perlu manusia yang memang tangguh untuk membangun bangsa ini. Jika tidak ditangani dengan benar bonus demografi, yang saya jelaskan di awal, akan malah menjadi beban besar bagi bangsa ini untuk melejit setara dengan yang lain. Siapa yang paling bertanggung jawab untuk membawa Indonesia keluar dari persoalan yang membelenggu? Kalau tanggung jawab secara konstitusional memang pemerintah yang bertanggung jawab, tetapi secara moral kita semua bertanggung jawab untuk mewujudkan Indonesia sejahtera.

Kita, sebagai anak muda, adalah generasi yang paling bertanggung jawab untuk membawa bangsa ini sejajar dengan bangsa maju lain. Sudah saatnya anak muda yang bergerak. Berhenti mengecam kegelapan, dan lebih berarti menyalakan lilin untuk menerangi bangsa kita. Oleh sebab itulah, anak muda yang tergabung di berbagai gerakan berbasis komunitas ini terus bergerak. Mereka membangun bangsa ini melalui jalan mereka masing-masing sesuai dengan passion mereka masing-masing karena bergerak sesai dengan passion, akan memperbesar peluang untuk mencetak prestasi terhebat.

Jika memang tidak ada komunitas di sekitarmu atau tidak ada komunitas yang sesuai dengan passionmu, bentuk komunitasmu sendiri. Di saat seperti ini, hampir mustahil untuk bergerak sendiri karena tenaga satu orang akan sangat kurang. Bentuk komunitas sesuai dengan passionmu, ajak temanmu yang mempunyai passion yang sama untuk bergabung. Setelah terbentuk, bekerjalah untuk masyarakat. Bangun dan kembangkan masyarakat di sekitarmu dengan caramu sendiri. Berkolaborasilah dengan komunitas lain untuk kegiatan yang lebih besar. Mari bergerak bersama walau warna baju kita berbeda. Karena tujuan kita sama. Mewujudkan Indonesia sejahtera.

Indonesia memang banyak masalah. Tetap mengeluh atau bergerak bersama, itu pilihanmu.

Salam Optimis untuk Indonesia….