Senin, 12 September 2011

Bersih Saja Tidak Cukup


Kalau kita berbicara tentang pelanggaran hukum di Indonesia, kebanyakan kita langsung menjadi pesimis. Bagaimana tidak, hampir setiap hari kita digempur oleh media pemberitaan tentang pelanggaran hukum. Mulai dari tingkat pusat sampai ke daerah. Mulai dari hal yang berat, seperti korupsi, sampai hal yang dianggap kecil seperti pelanggaran lalu lintas. Bahkan di kalangan orang yang dianggap paling idealis , yaitu mahasiswa, juga terjadi kecurangan atau pelanggaran hukum. Muai dari mencontek waktu ujian, titip tandan tangan, sampai yang berat seperti penjiplakan skripsi atau tesis. Dalam kefrustasian itu kita sering bertanya “apa sih penyebabnya?” atau pertanyaan “kapan kita bisa bersih dari korupsi?” Dan menurut saya pertanyaan yang paling menggambarkan kefrustasian kita adalah “Masih ada ga ya orang jujur di negeri ini?”

Walaupun tidak didasari oleh data, saya masih berkeyakinan, orang yang bersih itu masih berlimpah di negeri ini. Pejabat yang tidak korupsi masih bertebaran di ibu pertiwi. Pemuda dan mahasiswa yang idelais masih mendominasi dunia akademik di republik ini. Kemudian pertanyaannya adalah “Kok kasus korupsi masih sering terjadi?” atau “Kecurangan di dunia akademik juga masih ada?” jawabannya adalah karena bersih saja tidak cukup.

Kita sering mendengar ketika pemilu umum atau pilkada, sering para peserta menjual jargon bersih dari korupsi, atau berjanji tidak korupsi. Apakah itu cukup? Tentu saja tidak. Mari menilik sebentar tentang ilmu fiqih di agama Islam. Kalau kita berbicara ilmu fiqih tentang air, maka kita akan mengenal tiga jenis air. Air pertama disebut air mutlak, yaitu air yang suci dan mensucikan. Ada beberapa kriteria, antara lain tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa, dan terhindar dari najis. Contohnya air hujan. Air yang kedua adalah air mustakmal, yaitu air suci, tapi tidak mensucikan. Contohnya air kelapa. Yang ketiga adalah air najis, tidak suci yang otomatis tidak bisa mensucikan.

Menurut hipotesa saya, kemungkinan sebagian besar pejabat pemerintahan kita seperti air mustakmal, yaitu suci tapi tidak mensucikan. Mereka sebenarnya terhindar dari perbuatan melanggar hukum, tetapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa atau diam saja ketika mereka melihat pelanggaran hukum. Itulah sebabnya orang bersih jumlahnya mayoritas, tetapi kekuatan yang mendominasi adalah kekuatan kotor. Itulah mengapa saya katakan bersih saja tidak cukup. Pun juga di dunia akademik. Mahasiswa yang bersih pun masih mayoritas di setiap kelas, tetapi kebanyakan diam saja ketika teman mereka melakukan kecurangan.

Apa penyebabnya?

Ada penyebab mengapa yang bersih mayoritas, tapi tidak mendominasi. Pertama adalah adanya budaya ewuh pekewuh. Kita melihat kejahatan, tetapi besar kemungkinan itu teman kita, sahabat kita, atau bahkan masih punya kekerabatan dengan kita. Untuk melaporkan atau meinidak, perlu keberanian tersendiri. Resiko dikucilkan dari pergaulan keluarga, lingkungan pekerjaan atau pertemanan sangatlah besar. Banyak kasus di negeri ini yang tidak selesai karena budaya ini.

Kedua, adalah tidak berwenangnya orang-orang baik. Mungkin di pemerintahan, orang baiknya banyak, tetapi mereka menempati pos-pos atau jabatan yang tidak terlalu berwenang atau berpengaruh. Tentu saja kebaikan hanya ada di dalam orang-orang “kecil”. Ibaratnya mau melawan perampok, tapi tak punya senjata. Keputusan selalu diambil oleh orang berwenang. Anda tentu bisa bayangkan bagaimana jadinya jika keputusan diambil oleh orang buruk, sedangkan orang baik hanya sebagai pelaksana teknis.

Ketiga, adalah,, kurangnya ilmu pengetahuan yang dimiliki orang baik dan bersih. Orang yang baik tetapi tidak berpengetahuan ibarat oraang yang akan menjelajah hutan, tetapi tidak punya peta. Mereka hanya menjadi penonton, penggerutu, pengumpat, tetapi tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dan ketika mereka mencoba melawan pun, akan selalu kalah karena orang jahatnya pintar.

Yang harus diperbuat??

Lalu apa yang harus dilakukan untuk mengatasi masalah yang terjadi? Bagaimana kita bisa berperan menjadi inspirasi kebaikan, setidaknya di lingkungan kita?

Pertama, pastikan kita adalah termasuk orang yang bersih. Niatkan dalam hati, kita tidak akan ikut dalam arus keburukan di lingkungan kita. Kebersihan hanya dibawa oleh orang yang bersih dan membersihkan. Kedua adalah teguhkan keberanian dan pemahaman, bahwa kebenaran harus ditegakkan kepada siapa saja, termasuk keluarga atau teman. Tentu saja menegakkan kebenaran ke teman dan keluarga ada “seni” tersendiri, tetapi tetap di jalur yang benar.

Ketiga adalah berusaha menjadi orang yang berwenang. Bukan bermaksud rakus jabatan, tetapi jika kita akan membawa kebaikan, lebih mudah jika kita adalah orang yang berwenang. Kalaupun kita tidak bisa menjadi orang yang berwenang, jadilah orang yang berpengaruh. Keempat adalah menjadi norang yang berpengetahuan, agar kita semua bisa melawan dan tidak dibodohi atau diakali oleh orang jahat.

Semoga kita menjadi orang bersih dan dapat membersihkan. Tetaplah menjadi inspirator kebaikan di sekitar kita!!

Salam Optimis Untuk Indonesia!!!

Bandung, 12 September 2011

Selesai di Learning Center IT Telkom lantai 3.