Rabu, 18 Mei 2011

Semua Bisa Berperan


Menurut Anda, pekerjaan apakah yang bisa membuat orang lain bahagia? Kalau saya ditanya seperti itu, saya akan menjawab, pekerjaan yang bisa membuat orang lain bahagia adalah dokter. Ayah saya adalah seorang dokter, jadi waktu saya kecil, saya sering melihat pasien ayah saya sangat bahagia dan berterima kasih ketika ada seorang dokter yang menolong membantu menyembuhkan penyakitnya. Sehingga saya mengambil kesimpulan bahwa, dokter dijadikan alat oleh Tuhan untuk berbagi kebahagiaan bagi manusia. Saya juga membaca artikel yang ditulis oleh kakak kelas yang kuliah di pendidikan dokter. Di artikel itu tertulis bagaimana dia bisa membantu orang lain. Dan sungguh ada kepuasan tersendiri ketika pasien dengan tulus ikhlas mengucap terima kasih. Bukan seorang dokter bisa puas kalau pasiennya berterima kasih, tetapi ada kepuasan ketika pekerjaan dan ilmu kita bisa membuat orang lain bahagia. Lalu timbul rasa pesimis di dalam diri saya. Saya kuliah di teknik telekomunikasi. Lalu apa yang bisa diperbuat oleh seorang teknisi? Bukankah kalau dia bekerja, dia akan bekerja kepada industri yang berorientasi di angka penjualan dan keuntungan? Hanya ada kesenangan di sana, bukan kebahagiaan karena sejatinya bahagia dan sengan adalah sesuatu yang berbeda.

Kesimpulan dan pesimisme saya bertahan sampai saya melihat suatu dorama jepang. Dorama itu berjudul “Code Blue” Dorama ini berkisah tentang suka duka sekelompok dokter gawat darurat. Ada satu dialog antara sang dokter dengan pasiennya yang berprofesi sebagai pemain sepak bola. Dia berkata,”Saya harus segera sehat dan kembali mencetak angka. Di dalam sepak bola, ketika kamu mencetak angka, semua orang akan bahagia, dan itu hanya satu-satunya jalan saya bisa membuat orang bahagia.” Di situ saya tersadar, bahwa sesungguhnya pekerjaan apapun bisa membuat orang lain bahagia.Setiap profesi memiliki jalan yang khas untuk membuat orang bahagia

Ketika Anda berprofesi sebagai olahragawan, Anda bisa membuat orang lain berbahagia ketika Anda membuat para pendukung Anda bangga, atau bahkan bisa lebih luas lagi, yaitu membuat seluruh negeri bersorak ketika Anda mengharumkan nama bangsa di kancah internasional. Atau yang sedang menepuh pendidikan telekomunikasi seperti saya. Saya baru menyadari berapa banyak orang bahagia bisa berkomunikasi dengan keluarga yang terpisah jarak yang begitu jauh. Berapa banyak seorang anak yang berbahagia ketika dia bisa menelepon ibunya, dan berapa banyak kawan yang berbahagia ketika dia bisa berhubungan kembali setelah lama tidak ketemu, atau berapa banyak anak-anak pelosok negeri yang terbantu pendidikannya ketika internet masuk di desanya.

Lalu mengapa banyak orang, termasuk saya dulu, pesimis akan manfaat pekerjaannya? Seorang sahabat saya juga sempat berpikir seperti saya bahwa pendidikan yang dia tempuh tidak mempunyai kesempatan bermanfaat untuk orang lain. Kita harus melihat lebih luas dan lebih dalam dari makna setiap pekerjaan yang kita kerjakan. Kalau kita melihat lebih luas dan lebih dalam pekerjaan kita, maka kita akan menemukan banyak orang yang bisa terbantu dengan adanya kita. Kita tidak akan secara sempit dalam menilai manfaat dari pekerjaan tertentu. Biasanya kalau kita secara sempit menilai suatu pekerjaan, maka kita hanya menilai manfaat suatu pekerjaan dalam kurun waktu yang sesaat dan ruang lingkup yang sempit.

Seberapa bergunanya kita tidak tergantung pada pekerjaan atau pendidikan yang kita tempuh sekarang. Seberapa bergunanya kita sangat tergantung seberapa besar peran yang kita mainkan, seberapa besar kontribusi kita untuk orang lain dan seberapa tulus niat kita dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan kita. Selama pekerjaan itu diniatkan oleh niat yang mulia dan caranya dilakukan dengan cara yang direstui Tuhan, maka Anda bisa berkontribusi untuk sekeliling Anda, untuk bangsa, bahkan untuk dunia. Mari kita niatkan seluruh langkah dan karya kita untuk mendapatkan ridho Tuhan dan bermanfaat bagi sesama.