Minggu, 25 Desember 2011

Dari Komunitas Untuk Bangsa

Kalau kita bertanya “Apakah Indonesia negara yang kaya raya?”, hampir semua orang yang menjawab dengan yakin “Ya, Indonesia negara yang kaya raya”. Ketika dilanjutkan dengan pertanyaan “Apakah bentuk kekayaan yang dimiliki Indonesia?”, hampir pasti kebanyakan orang akan menjawab “Gas, minyak bumi, kelapa sawit, dan kekayaan alam lainnya.” Jarang sekali orang yang menjawab bahwa kekayaan Indonesia terletak pada manusianya. Padahal ada kekayaan Indonesia yang jarang disadari oleh kebanyakan masyarakat Indonesia. Apa itu? Kekayaan itu adalah komposisi penduduk Indonesia. Indonesia memiliki sesuatu yang sering disebut para ekonom dengan istilah bonus demografi (demographic deviden). Istilah ini diperkenalkan oleh prof. Sri Moertiningsih Adioetomo pada tahun 2005. Bonus Demografi adalah rasio ketergantungan jumlah penduduk usia produktif dengan usia non produktif. Dalam artikel di harian Kompas (per tanggal 25 November 2011) menyebutkan bahwa penduduk Indonesia didominasi oleh usia produktif. Dan diantara usia produktif ini, didominasi oleh anak muda. Dapat disimpulkan bahwa Indonesia mempunyai jumlah anak muda yang begitu besar dibanding orang tua. Bisa dibayangkan bagaimana pesatnya kemajuan Indonesia, jika para pemuda ini mengambil peran yang strategis dalam membangun bangsa. Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah pemuda mana yang bisa mengambil peran?

Menurut Anies Baswedan, rektor Universitas Paramadina, kemajuan Indonesia banyak ditopang dari kelas menengah Indonesia yang banyak disuplay oleh pendidikan tinggi. Jadi akan menjadi sangat dahsyat pengaruhnya jika yang mengambil peran ini adalah para pemuda yang sudah atau masih mengenyam pendidikan tinggi yang biasa kita sebut dengan mahasiswa.

Lapisan Baru yang Bergerak

Saya mengamati, ada lapisan baru pada mahasiswa yang ikut mengambil peran dalam pembangunan bangsa. Selama ini, lapisan mahasiswa yang mengambil peran pembangunan bangsa biasanya adalah mahasiswa aktifis, yang biasanya aktif di BEM, DPM atau himpunan. Tapi akhir-akhir ini, ada kelompok baru yang menyusul. Kelompok mahasiswa ini bukanlah lahir dari kalangan aktifis senat atau himpunan. Kelompok ini lahir dari mahasiswa yang tidak terlalu tersentuh oleh organisasi semacam itu. Mungkin kalau saya boleh mengistilahkan, kelompok ini lahir dari kalangan mahasiswa “nongkrong”, yaitu mahasiswa yang terbiasa berkumpul untuk ngobrol bareng di kafe.

Mahasiswa dari lapisan ini akan membentuk suatu kelompok berdasarkan passion dan hobi mereka. Ada yang bergerak di bidang lingkungan, sebagian bergerak di bidang pendidikan, dan ada pula yang bergerak di bidang industri kreatif. Komunitas seperti ini mulai banyak terbentuk. Pada mulanya, komunitas ini hanya bergkegiatan untuk kepentingan mereka saja. Akhir-akhir ini, pola kegiatan komunitas ini mengalami pergeseran, yang pada awalnya kegiatan hanya untuk kalangan sendiri, sudah bergeser menjadi kegiatan yang bermanfaat untuk masyarakat sekitar.

Kita coba ambil contoh di Bandung. Ada sebuah komunitas yang digagas oleh Ridwan Kamil, arsitek sekaligus dosen ITB, yang bergerak di bidang lingkungan. Komunitas ini bernama Indonesia Berkebun. Anggotanya memang sangat majemuk, tapi didominasi oleh mahasiswa yang jarang bersentuhan dengan senat maupun himpunan. Arah gerak komunitas ini adalah memanfaatkan lahan kosong sebagai tempat berkebun, sehingga kota Bandung menjadi lebih hijau. Gerakan ini sudah menyebar di beberapa kota di Indonesia. Tercatat di website Indonesia Berkebun, www.IndonesiaBerkebun.org, per 25 November 2011 sudah memiliki cabang komunitas di dua puluh kota di seluruh Indonesia. Indonesia berkebun terus bergerak dalam upaya menghijaukan kota. Tidak hanya itu, Indonesia Berkebun juga melakukan pembinaan ke warga untuk memanfaatkan lahan kosong yang bisa digunakan untuk berkebun. Tidak hanya menghijaukan kota, peningkatan ekonomi pun bisa dicapai.

Tidak hanya Indonesia Berkebun, masih banyak komunitas anak muda yang melakukan gerakan serupa di bidang masing-masing. Sebut saja TEDx, Bandung Creative City Forum (BCCF) dan Bandung Unite dan masih banyak lagi. Dan menurut perkiraan saya, komunitas ini akan terus berkembang, baik jumlah komunitas maupun jumlah anggota, seiring meluasnya informasi keberadaan komunitas ini.

Peran Jejaring Sosial

Masih ingat dengan kasus dugaan kriminalisasi Bibit-Candra? Atau kasus perseteruan Ibu Prita dengan phak rumah sakit? Kasus ini langsung mendapat respon yang cukup luar biasa dari masyarakat, termasuk kaum muda. Lalu kaum muda membuat gerakan dengan caranya sendiri, dengan cara anak muda. Beberapa anak muda langsung memanfaatkan jejaring sosial seperti facebook dan twitter. Akun Gerakan 1.000.000 Facebookers Dukung Bibit Candra di facebook langsung mendapat dukungan yang luas. Atau gerakan Koin untuk Prita yang dimulai dari para blogger yang berkomunikasi via blog. Dukungan gerakan ini dengan waktu yang relative singkat meluas. Walaupun kita tidak bisa menafikkan peran televisi dalam gerakan semacam ini, tetapi saya berani mengambil kesimpulan bahwa jejaring sosial mempunyai peran yang besar dalam pembentukan gerakan. Bahkan di Mesir dan beberapa negara pun, gerakan revolusi diawali dari jejaring sosial. Saya melihat betapa powerfullnya peran jejaring sosial.

Kembali ke soal komunitas. Bagaimana komuitas ini terbentuk? Apa peran jejaring sosial dalam pembentukan komunitas ini? Kalau saya menganalisa, gerakan berbasis komunitas ini diawali dari beberapa tokoh muda yang menyebarkan idenya melalui jejaring sosial. Sebut saja Pandji Pragiwaksono (@pandji) yang menyebarkan semangat nasionalisme dan perubahan. Semangat ini langsung direspon dari banyak lapisan anak muda. Akhirnya muncullah beberapa gerakan berbasis komunitas untuk masyarakat. Atau Kang Emil, sapaan Ridwan Kamil, yang meluncurkan ide tentang kepedulian lingkungan dan kota melalui akun twitternya (@ridwankamil). Respon yang luar biasa muncul dari kalangan anak muda. Saya mengambil contoh peristiwa yang baru-baru ini ada di kota Bandung. Kang Emil mengungkapkan kegundahan hatin dan ide gerakannya tentang penyelamatan Babakan Siliwangi. Ide ini langsung mendapat dukungan dari anak muda Bandung. Gerakan “Save Babakan Siliwangi” menjadi topik yang banyak dibicarakan oleh anak muda. Bahkan ketika proses pembongkaran aspal di Babakan Siliwangi, banyak yang datang karena ajakan Kang Emil melalui twitter.

Jadi ada dua faktor yang menjadi awal bergulirnya gerakan berbasis komunitas ini. Pertama adanya tokoh muda yang cukup kharismatik di mata anak muda. Memang saya rasa agak sulit memulai gerakan di lapisan baru anak muda tanpa adanya ketokohan yang kuat. Faktor kedua adalah adanya peran penyebaran ide melalui jejaring sosial. Penyebaran melalui jejaring sosial memang cukup efektif karena mayoritas anak muda kelas menengah Indonesia merupakan pengguna dari jejaring sosial, walaupun pada akhirnya tidak menutup kemungkinan adanya peran televisi yang terlibat di situ.

Perkembangan dan Tantangan

Menurut hipotesis saya, gerakan berbasis komunitas ini akan semakin berkembang, baik jumlah komunitas, jumlah anggota, maupun jumlah jenis komunitas yang muncul. Ada beberapa faktor yang mendorong gerakan berbasis komunitas ini akan terus bergulir.

Pertama, jumlah anak muda di Indonesia masih banyak yang ingin berbuat sesuatu untuk bangsanya. Saya salah satu orang yang tidak setuju kalau ada yang mengatakan kepedulian anak muda terhadap bangsanya semakin menurun. Menurut saya, pernyataan ini sungguh tidak adil. Saya yakin masih banyak anak muda yang mempunyai kepedulian terhadap bangsanya. Hanya saja, kebanyakan dari mereka tidak tahu tempat untuk menyalurkannya. Dengan adanya gerakan berbasis komunitas ini, anak muda lebih mudah untuk menyalurkan keinginannya berkontribusi untuk bangsanya. Kedua adalah pengguna internet di Indonesia akan semakin meluas, dan pengguna jejaring sosial semakin bertambah. Memang tidak ada jaminan bahwa jumlah pemakai internet berbanding lurus dengan kemajuan dan perkembangan gerakan komunitas ini, tetapi dengan meluasnya pengguna internet, khususnya di kalangan anak muda, akan menambah peluang tersebarnya semangat nasionalisme dan perubahan ini. Dari sini akan sangat memungkinkan gerakan ini akan semakin berkembang. Ketiga adalah mulai tumbuhnya simpati dari berbagai kalangan untuk mensupport gerakan komunitas, walaupun lingkupnya masih terbatas. Saya mengamati, pihak swasta masih berperan lebih besar ketimbang pihak pemerintah. Sokongan berupa dana dan media merupakan dukungan yang cukup berarti bagi gerakan komunitas.

Gerakan berbasis komunitas tidak mulus berjalan begitu saja. Banyak tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah kurangnya dukungan pemerintah dalam gerakan ini. Tantangan ini sangat dirasakan oleh komunitas yang arah geraknya bertentangan oleh program pemerintah yang berorientasi ke ekonomi dan politik. Gerakan komunitas jarang yang mempunyai jaringan di kalangan pemerintahan, akibatnya negosiasi sering mengalami kebuntuan. Namun demikian, ada beberapa pemerintah daerah yang sudah mensupport gerakan komunitas. Contohnya wali kota solo dan wali kota Surabaya yang mendukung gerakan Indonesia Berkebun. Bahkan wali kota Surabaya berencana menjadikan gerakan Indonesia Berkebun menjadi gerakan resmi pemerintah. Tantangan kedua adalah dukungan dana yang masih sulit. Walaupun sudah mulai banyak pihak yang berpartisipasi dalam gerakan ini, tetapi permasalahan dana menjadi masalah yang cukup diperhitungkan. Tapi permasalahan ini dapat diatasi dengan sistem patungan dari anggota komunitas dan simpatisan.

Dari Komunitas untuk Bangsa : Sebuah upaya anak muda membangun bangsanya

Walaupun bangsa kita kaya raya, tapi memang sulit rasanya untuk membanggakan sumber daya manusianya. Padahal masa depan suatu bangsa hanya bisa diselamatkan oleh manusianya. Jadi perlu manusia yang memang tangguh untuk membangun bangsa ini. Jika tidak ditangani dengan benar bonus demografi, yang saya jelaskan di awal, akan malah menjadi beban besar bagi bangsa ini untuk melejit setara dengan yang lain. Siapa yang paling bertanggung jawab untuk membawa Indonesia keluar dari persoalan yang membelenggu? Kalau tanggung jawab secara konstitusional memang pemerintah yang bertanggung jawab, tetapi secara moral kita semua bertanggung jawab untuk mewujudkan Indonesia sejahtera.

Kita, sebagai anak muda, adalah generasi yang paling bertanggung jawab untuk membawa bangsa ini sejajar dengan bangsa maju lain. Sudah saatnya anak muda yang bergerak. Berhenti mengecam kegelapan, dan lebih berarti menyalakan lilin untuk menerangi bangsa kita. Oleh sebab itulah, anak muda yang tergabung di berbagai gerakan berbasis komunitas ini terus bergerak. Mereka membangun bangsa ini melalui jalan mereka masing-masing sesuai dengan passion mereka masing-masing karena bergerak sesai dengan passion, akan memperbesar peluang untuk mencetak prestasi terhebat.

Jika memang tidak ada komunitas di sekitarmu atau tidak ada komunitas yang sesuai dengan passionmu, bentuk komunitasmu sendiri. Di saat seperti ini, hampir mustahil untuk bergerak sendiri karena tenaga satu orang akan sangat kurang. Bentuk komunitas sesuai dengan passionmu, ajak temanmu yang mempunyai passion yang sama untuk bergabung. Setelah terbentuk, bekerjalah untuk masyarakat. Bangun dan kembangkan masyarakat di sekitarmu dengan caramu sendiri. Berkolaborasilah dengan komunitas lain untuk kegiatan yang lebih besar. Mari bergerak bersama walau warna baju kita berbeda. Karena tujuan kita sama. Mewujudkan Indonesia sejahtera.

Indonesia memang banyak masalah. Tetap mengeluh atau bergerak bersama, itu pilihanmu.

Salam Optimis untuk Indonesia….

Senin, 12 September 2011

Bersih Saja Tidak Cukup


Kalau kita berbicara tentang pelanggaran hukum di Indonesia, kebanyakan kita langsung menjadi pesimis. Bagaimana tidak, hampir setiap hari kita digempur oleh media pemberitaan tentang pelanggaran hukum. Mulai dari tingkat pusat sampai ke daerah. Mulai dari hal yang berat, seperti korupsi, sampai hal yang dianggap kecil seperti pelanggaran lalu lintas. Bahkan di kalangan orang yang dianggap paling idealis , yaitu mahasiswa, juga terjadi kecurangan atau pelanggaran hukum. Muai dari mencontek waktu ujian, titip tandan tangan, sampai yang berat seperti penjiplakan skripsi atau tesis. Dalam kefrustasian itu kita sering bertanya “apa sih penyebabnya?” atau pertanyaan “kapan kita bisa bersih dari korupsi?” Dan menurut saya pertanyaan yang paling menggambarkan kefrustasian kita adalah “Masih ada ga ya orang jujur di negeri ini?”

Walaupun tidak didasari oleh data, saya masih berkeyakinan, orang yang bersih itu masih berlimpah di negeri ini. Pejabat yang tidak korupsi masih bertebaran di ibu pertiwi. Pemuda dan mahasiswa yang idelais masih mendominasi dunia akademik di republik ini. Kemudian pertanyaannya adalah “Kok kasus korupsi masih sering terjadi?” atau “Kecurangan di dunia akademik juga masih ada?” jawabannya adalah karena bersih saja tidak cukup.

Kita sering mendengar ketika pemilu umum atau pilkada, sering para peserta menjual jargon bersih dari korupsi, atau berjanji tidak korupsi. Apakah itu cukup? Tentu saja tidak. Mari menilik sebentar tentang ilmu fiqih di agama Islam. Kalau kita berbicara ilmu fiqih tentang air, maka kita akan mengenal tiga jenis air. Air pertama disebut air mutlak, yaitu air yang suci dan mensucikan. Ada beberapa kriteria, antara lain tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa, dan terhindar dari najis. Contohnya air hujan. Air yang kedua adalah air mustakmal, yaitu air suci, tapi tidak mensucikan. Contohnya air kelapa. Yang ketiga adalah air najis, tidak suci yang otomatis tidak bisa mensucikan.

Menurut hipotesa saya, kemungkinan sebagian besar pejabat pemerintahan kita seperti air mustakmal, yaitu suci tapi tidak mensucikan. Mereka sebenarnya terhindar dari perbuatan melanggar hukum, tetapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa atau diam saja ketika mereka melihat pelanggaran hukum. Itulah sebabnya orang bersih jumlahnya mayoritas, tetapi kekuatan yang mendominasi adalah kekuatan kotor. Itulah mengapa saya katakan bersih saja tidak cukup. Pun juga di dunia akademik. Mahasiswa yang bersih pun masih mayoritas di setiap kelas, tetapi kebanyakan diam saja ketika teman mereka melakukan kecurangan.

Apa penyebabnya?

Ada penyebab mengapa yang bersih mayoritas, tapi tidak mendominasi. Pertama adalah adanya budaya ewuh pekewuh. Kita melihat kejahatan, tetapi besar kemungkinan itu teman kita, sahabat kita, atau bahkan masih punya kekerabatan dengan kita. Untuk melaporkan atau meinidak, perlu keberanian tersendiri. Resiko dikucilkan dari pergaulan keluarga, lingkungan pekerjaan atau pertemanan sangatlah besar. Banyak kasus di negeri ini yang tidak selesai karena budaya ini.

Kedua, adalah tidak berwenangnya orang-orang baik. Mungkin di pemerintahan, orang baiknya banyak, tetapi mereka menempati pos-pos atau jabatan yang tidak terlalu berwenang atau berpengaruh. Tentu saja kebaikan hanya ada di dalam orang-orang “kecil”. Ibaratnya mau melawan perampok, tapi tak punya senjata. Keputusan selalu diambil oleh orang berwenang. Anda tentu bisa bayangkan bagaimana jadinya jika keputusan diambil oleh orang buruk, sedangkan orang baik hanya sebagai pelaksana teknis.

Ketiga, adalah,, kurangnya ilmu pengetahuan yang dimiliki orang baik dan bersih. Orang yang baik tetapi tidak berpengetahuan ibarat oraang yang akan menjelajah hutan, tetapi tidak punya peta. Mereka hanya menjadi penonton, penggerutu, pengumpat, tetapi tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dan ketika mereka mencoba melawan pun, akan selalu kalah karena orang jahatnya pintar.

Yang harus diperbuat??

Lalu apa yang harus dilakukan untuk mengatasi masalah yang terjadi? Bagaimana kita bisa berperan menjadi inspirasi kebaikan, setidaknya di lingkungan kita?

Pertama, pastikan kita adalah termasuk orang yang bersih. Niatkan dalam hati, kita tidak akan ikut dalam arus keburukan di lingkungan kita. Kebersihan hanya dibawa oleh orang yang bersih dan membersihkan. Kedua adalah teguhkan keberanian dan pemahaman, bahwa kebenaran harus ditegakkan kepada siapa saja, termasuk keluarga atau teman. Tentu saja menegakkan kebenaran ke teman dan keluarga ada “seni” tersendiri, tetapi tetap di jalur yang benar.

Ketiga adalah berusaha menjadi orang yang berwenang. Bukan bermaksud rakus jabatan, tetapi jika kita akan membawa kebaikan, lebih mudah jika kita adalah orang yang berwenang. Kalaupun kita tidak bisa menjadi orang yang berwenang, jadilah orang yang berpengaruh. Keempat adalah menjadi norang yang berpengetahuan, agar kita semua bisa melawan dan tidak dibodohi atau diakali oleh orang jahat.

Semoga kita menjadi orang bersih dan dapat membersihkan. Tetaplah menjadi inspirator kebaikan di sekitar kita!!

Salam Optimis Untuk Indonesia!!!

Bandung, 12 September 2011

Selesai di Learning Center IT Telkom lantai 3.

Minggu, 05 Juni 2011

Sekat-sekat yang Membelenggu


Sore itu, di kampus saya, saya berdiskusi dengan beberapa teman. Kami membicarakan tentang program Indonesia Mengajar. Indonesia Mengajar merupakan program yang digagas oleh Bung Anies Baswedan, yaitu program yang mengirimkan putra-putri terbaik kita yang memperoleh gelar sarjana untuk dikirim ke pelosok Indonesia untuk mengajar selama satu tahun. Lalu salah satu teman saya menceletuk,”Ah, kalau aku ga mau ikutan. Otakku terlalu pintar untuk ditipu program liberal berkedok kemanusiaan.” Saya bingung akan maksudnya, lalu bertanya”Maksudmu program liberal berkedok kemanusiaan?” Lalu dia menjelaskan bahwa Pak Anies itu orang didikan amerika, penyebar paham liberal, pemimpin universitas yang menyuplai orang-orang liberal dan sebagainya. Dan saya meyakini alasan yang diungkapkan itu hanya dugaan, karena dia sendiri tidak bisa memberikan bukti bahwa Indonesia Mengajar itu program penyebar paham liberal

Dalam tulisan ini saya tidak akan mebahas apakah program Indonesia Mengajar merupakan program liberal atau bukan. Biarlah masyarakat yang menilai secara cerdas. Tapi yang saya soroti adalah, sikap kawan saya itu. Sebagian dari kita yang masih mempertimbangkan sekat-sekat semu dalam melakukan proyek perbaikan bangsa. Ketika kita berbicara proyek kemanusiaan, sebagian dari kita masih suka memperdebatkan perbedaan ideologi. Ketika kita akan membuat narasi besar tentang pembangunan bangsa ini, sebagian dari kita masih meliarkan rasa curiga dan prasangka di antara kita sendiri. Ketika keadaan bangsa semakin kritis, sebagian dari kita masih menyalahkan ideologi yang dianut bangsa ini. Lalu, ketika kita akan membangun bangsa ini, bisakah kita akan berhasil, kalau budaya buruk sangka masih menggelayuti setiap langkah dan karya kita. Mau sampai kapan Kawan??

“Kalau dulu, dengan semangat anti kolonialisme, Soekarno pernah menggabung bangsa-bangsa terjajah menjadi satu gerakan internasional, maka sekaranglah giliran kita. Seharusnya kita mewarisi semangat itu agar di antara kita tidak dibuat terpecah oleh masalah-masalah kecil. Supaya kita tidak bertengakar oleh perkara yang tidak membuat bangsa kita besar.” kata Anis Matta.

“Peradaban-peradaban besar adalah karya akumulatif antar generasi. Bangsa kita ini tidak akan pernah berdiri hanya dengan darah satu orang, hanya dengan air mata satu orang, hanya dengan ide satu orang” lanjutnya.

Sudah lama bangsa ini terpuruk dalam keadaan yang menyedihkan. Ketika bangsa lain sudah berbicara tentang pembangunan, masyarakat masih sibuk membicarakan sekat-sekat yang sebetulnya tidak ada. Lalu mereka mengada-adakan sendiri. Ketika bangsa lain sudah menebar optimisme kepada seluruh warga dunia, media tanah air kita masih menayangkan kekerasan-kekerasan yang terjadi di masyarakat.

Dampaknya Luar Biasa

Apa yang terjadi jika masalah disintegrasi kita biarkan berlarut terus-menerus? Dampaknya akan luar biasa. Hal yang pertama muncul adalah lambatnya pembangunan bangsa ini. Bisa kita bayangkan jika para pemikir hebat bangsa ini tidak bisa bersatu. Mereka bagaikan lidi kualitas terbaik yang tercecer tanpa ada yang mengikat. Lidi kualiatas seperti apapun kalau tidak diikat menjadi satu, dia tidak akan pernah membersihkan dengan cepat. Dampak yang kedua adalah kekerasan muncul di mana perbedaan itu tidak ditangani dengan baik. Masyarakat kita pada dasarnya merupakan masyarakat yang santun, tetapi akan menjadi anarkis luar biasa jika tersulut oleh konflik yang melibatkan prinsip hidup mereka. Kekerasan ini tidak hanya melibatkan orang dewasa saja, tetapi sangat memungkinkan kekerasan melibatkan anak-anak sebagai pelaku atau korban. Tentu akan berdampak kepada ketentraman dan kesejahteraan masyarakat. Dampak yang ketiga adalah dampak yang paling berbahaya, yaitu bangsa ini akan melahirkan generasi yang cinta kekerasan pula. Bagaimana tidak, jika media memborbardir generasi muda kita berita tentang kekerasan atas nama perbedaan. Tambah parah jika pelaku kekerasan itu merupakan orang terdekat mereka. Dengan sendirinya akan terbentuk generasi yang cinta kekerasan. Dari generasi ini akan timbul lagi generasi cinta kekerasan yang kedua. Dan ini akan berlangsung terus menerus dan akan membentuk lingkaran setan jika tidak ditangani dengan baik.

Bukan Menyeragamkan tetapi Mengeloloa Keberagaman

Memang kita tidak bisa hindari bahwa masyarakat mempunyai cara pandang masing-masing. Apalagi dengan arus informasi yang semakin terbuka mendorong pemahaman tentang sudut pandang kebangsaan semakin beragam. Banyak ideologi baru masuk ke Indonesia, walau sejarah telah mengatakan, bangsa ini lebih memilih Pancasila sebagai dasar bernegaranya. Kita memang tidak bisa menyatukan keberagaman itu menjadi satu karena itu memang hal yang mustahil. Tetapi setidaknya kita bisa mengelola keberagaman itu menjadi kekuatan bangsa ini. Apa yang bisa kita lakukan? Sebenarnya kita bisa mulai dengan hal-hal yang sederhana karena disintegrasi itu muncul dari mindset yang salah. Yang harus kita rubah adalah cara memandang keberagaman itu sendiri.

Ada cara sederhana yang diungkapkan oleh Irfan Amalee. Pertama kita harus mengubah cara pandang terhadap diri sendiri kita. Kedua kita harus membereskan cara pandang perbedaan kita terhadap orang lain. Dan yang ketiga adalah membereskan konflik terhadap orang lain.

Saatnya Kita Berubah

Marilah kita flashback sejenak ke masa lalu kita dimana kita masih kecil. Mungkin sekitar TK atau SD. Pada saat itu, pernahkah kita mempeributkan agama ketika kita akan bermain? Pernahkah kita mempertanyakan ideologi teman kita waktu kita akan pergi bersama-sama? Apakah Anda pernah mengalami kekerasan atas nama agama? Saya masih ingat ketika saya masih kecil, saya sering bermain beberapa permainan tradisional seperti dakon, bentengan, kelereng, petak umpet dan sebagainya. Tapi sekalipun saya dan kawan-kawan saya tidak pernah memilih-milih rekan satu tim (jika permainan berkelompok) atau lawan bermain dengan mempertimbangkan suku, agama, ras, ideologi dan sebagainya. Semua mengalir begitu saja. Lalu dalam dewasa ini, mengapa sebagian dari kita malah mempeributkan hal-hal tersebut?

Mungkin sebagian dari Anda setuju dengan saya bahwa, masa anak-anak adalah masa yang paling netral ketika kita bergaul dengan sesama. Seharusnya kita yang sudah dewasa ini mencontoh beberapa prinsip-prinsip yang dipakai anak-anak. Dalam membangun bangsa ini, rasanya kita tidak lagi pantas mempertimbangkan hal-hal yang membelenggu. Rasanya kita perlu megembangkan semangat menghargai orang lain. Menyadari bahwa disamping kita bekerja ada orang lain yang bekerja. Kita perlu keluar dari belenggu identitas kita, lalu bertemu dalam satu lapangan pembangunan bangsa. Di lapangan itu, biarlah kita memakai baju kita masing-masing dengan warna yang berbeda-beda. Tidak perlu diseragamkan, karena keberagaman suku, agama, ras, dan ideologi merupakan harta yang berharga bagi negeri ini. Walaupun warna baju kita berbeda-beda kita tetap mempunyai semagat yang sama, karena hanya ada satu kata, INDONESIA!!!