Senin, 04 Oktober 2010

Kilas September: Silaturahim, Semangat Kuliah dan Keluarga Baru


Ketika memasuki bulan September, ada beberapa perasaan yang menggelayut di dalam hati. Perasaan sedih karena bulan Ramadhan akan segera berakhir. Bulan yang penuh rahmat ini akan meninggalkan kita semua tanpa kita tak pernah tahu apakah kita akan bertemu dengannya lagi. Perasaan senang karena saya akan pulang ke Blitar. Sudah lama saya memendam perasaan rindu dengan keluarga, dan sahabat di sana. Perasaan bahagia karena kita akan bertemu dengan Idul Fitri. Perasaan beban tanggung jawab karena pekerjaan yang ada di kampus belum selesai sehingga akan menjadi pekerjaan rumah.

The Power of Silaturrahim

Idul Fitri akan segera tiba. Mudik menjadi agenda unik dan khas bagi orang Indonesia baik yang Muslim maupun yang non Muslim. Idul Fitri akan dijadikan momentum untuk menjalin kembali silaturrahim dengan keluarga yang ada di kampung halaman. Idul Fitri juga merupakan kesempatan untuk “lari” sejenak dari tekanan kerja yang sudah satu tahun kita jalani.

Entah mengapa bertemu dengan keluarga dan kawan-kawan lama menjadi agenda yang sangat menarik. Mungkin kita setiap hari sudah “terhubung” melalui telepon atau situs jejaring sosial,seperti facebook, twitter, friendster. Tapi situs jejaring sosial tidak cukup untuk mengobati kerinduan yang kita rasakan. Tidak heran pada waktu sekitar Idul Fitri, mereka mengadakan kegiatan kumpul-kumpul yang biasa disebut dengan reuni.

Begitu pun saya. Mulai dari saya datang di Blitar, saya sudah dihajar dengan undangan buka bersama. Entah itu dari rekan ekstrakurikuler,teman sekelas, atau teman organisasi semasa SMA. Kegiatan ini menadi kegiatan yang mengasyikkan karena beban kuliah di kampus masing-masing menjadi sirna yang digantikan terobatinya rasa kangen dan canda tawa. Silaturrahim yang terjain secara maya,melalui internet,digantikan silaturrahim yang nyata. Cerita menarik dari kota dan kampus masing-masing akan mengalir begitu saja. Atau menguak kejadian lama yang biasa saja terangkat kembali menjadi sangat menarik ketika diceritakan ulang di masa kini.

Silaturahim juga akan terjalin kembali dengan keluarga. Tidak hanya keluarga kecil (ayah,ibu, dan anak) tetapi juga silaturrahim dengan keluarga besar. Ada beberapa keluarga yang mempunyai tradisi reuni. Contohnya reuni keluarga dari keturunan mbah buyut ini. Selain mengenalkan mbah buyut kita yang mungkin saja kita tidak mengenalnya, tetapi juga kita bisa mengenal keluarga yang sebelumnya kita tidak tahu.

Pulang ke Bandung dan Memulai Kuliah Kembali

Ketika liburan diambang batas perpisahan, saya harus segera kembali ke Bandung. Tentu saja ini episode yang cukup menyedihkan. Berpisah dengan keluarga, sahabat, dan kampung tercinta bukanlah hal yang menyenangkan. Blitar, kota kecil ini, sera menahanku untuk tidak pergi. Di bandung tidak bisa kutemui Nasi Pecel Mbok Bari, Nasi Tahu, Wajik Klethik
(kok makanan semua), dan segala yang khas di Blitar. Cintaku tumbuh di Blitar.

Tapi ada sisi lain yang ada dalam hati. Rasa semangat yang menggelora untuk melanjutkan pekerjaan yang menunggu di Bandung. Kepanitiaan, SKI, Pimnas, dan segala macam tugas khas kampus. Belum lagi kuliah yang semakin padat, tugas pendahuluan praktikum, tugas dari dosen, quiz, dan seabrek ateri kuliah yang harus dibaca serasa melambai kepadaku. Saya sadar, bahwa pekerjaan ini merupakan rintisan jalan menuju terwujudnya mimpi-mimpi.

Benar saja, sesampainya di Bandung undangan rapat, undangan syuro SKI, tugas kuliah mengantri tidak sabar untuk diselesaikan. Tapi saya mencoba menemukan inspirasi baru setiap pagi untuk menyemangati diri saya sendiri.

Keluarga Baru

Yang cukup membahagiakan saya adalah,saya mendapat keluarga baru. Himabtel (Himpunan Mahasiswa Blitar di Telkom) mempunyai anggota keluarga baru. Angkatan 2010 kurang lebih berjumlah 10 orang. Yang membuat saya bahagia adalah semangatnya luar biasa. Semoga Himabtel menjadi kelaurga yang kompak selalu.