Sabtu, 19 Juni 2010

Sholat di Masjid itu Ga Gratis Lho!


Anda mungkin sering sholat di masjid. Entah di masjid sekitar rumah anda, masjid di kampus anda, ataupun masjid tempat anda mengkuti pengajian. Atau mungkin ketika anda dalam perjalanan, anda sholat di masjid yang anda temui di tengah perjalanan. Setelah selesai sholat , anda mungkin meninggalkan masjid begitu saja. Tidak ada yang aneh memang, tapi anda baru saja melewatkan sesuatu yang harus anda lakukan. Yaitu anda baru saja tidak membayar biaya anda sholat di masjid itu. Lho kok bisa? Apakah harus bayar ketika sholat di masjid?

Ada ilmu menarik yang saya dapat ketika saya mengikuti kajian rutin ma’rifatullah di Masjid Daruut Tauhiid yang diisi oleh KH.Abdullah Gymnastiar. Beliau mengatakan bahwa sholat di masjid itu sebenarnya tidak gratis. Coba kita selidiki mengapa sholat di masjid itu tidak gratis. Ketika anda datang dalam keadaan anda tidak berwudhlu, anda pasti akan wudhlu di masjid itu. Ketika anda membuka keran, air akan mengucur, lalu anda berwudhlu. Pernahkah anda berpikir,berapa harga air yang sudah saya gunakan untuk berwudhlu? Berapa investasi untuk membeli kran, pipa, keramik tempat anda berwudhlu? Itu belum termasuk ketika anda ke kamar mandi untuk (maaf) BAB atau kencing. Ketka anda ke kamar mandi untuk buang hajat, anda memakai air lebih banyak. Tentu saja biayanya lebih besar.

Setelah selesai berwudhlu, anda memulai sholat.mungkin anda akan menggunakan keramik kurang lebih 60 cm x 1 m. pertanyaan akan timbul kembali. Emangngya keramik yang lu pake itu gratis? Itu dibeli pake uang,bukan pake daun. Ya kurang lebih seperti itu. Anda harus menghitung biaya “sewa” keramik atau lantai yang anda pakai untuk sholat. Belum lagi anda sholat di sore atau malam hari. Anda harus menghitung biaya listrik lampu yang menerangi anda. Atau anda sholat di siang hari yang udaranya sangat panas. Anda menyalakan kipas angin. Wah, lebih mahal lagi itu. Belum lagi biaya biaya perawatan seperti pel, sapu, listrik sound system dan lain-lain. Bila anda adalah pegawai DKM suatu masjid, pasti anda tidak akan merasa asing dengan biaya-biaya di atas.

“Mau sholat di masjid aja ribet banget harus ngitungin biayanya?” Bukan itu maksud saya. Yang saya soroti adalah ketika kita enggan untuk infaq untuk masjid, sebenarnya kita telah melawatkan suatu “kewajiban” kepada masjid itu. Dan ketika kita tidak membayar biaya itu, berarti kita telah menerima sesuatu secara gratis. Kan enak dapat gratisan? Ha..ha…memang orang Indonesia suka yang gratisan. Tapi ingat, kata Aa Gym ketika kita satu kali menerima gratisan, maka harga diri kita berkurang satu. Dan semaikn sering kita menerima sesuatu gratisan dari manusia, maka harga diri kita akan hilang. Mau harga diri kita hilang karena sering mendapat gratisan? Maih berpikir sholat di masjid itu gratis?

Yuk kita bersama (saya pun masih belajar) tidak melewatkan kotak infaq begitu saja…….
Anda mungkin sering sholat di masjid. Entah di masjid sekitar rumah anda, masjid di kampus anda, ataupun masjid tempat anda mengkuti pengajian. Atau mungkin ketika anda dalam perjalanan, anda sholat di masjid yang anda temui di tengah perjalanan. Setelah selesai sholat , anda mungkin meninggalkan masjid begitu saja. Tidak ada yang aneh memang, tapi anda baru saja melewatkan sesuatu yang harus anda lakukan. Yaitu anda baru saja tidak membayar biaya anda sholat di masjid itu. Lho kok bisa? Apakah harus bayar ketika sholat di masjid?

Ada ilmu menarik yang saya dapat ketika saya mengikuti kajian rutin ma’rifatullah di Masjid Daruut Tauhiid yang diisi oleh KH.Abdullah Gymnastiar. Beliau mengatakan bahwa sholat di masjid itu sebenarnya tidak gratis. Coba kita selidiki mengapa sholat di masjid itu tidak gratis. Ketika anda datang dalam keadaan anda tidak berwudhlu, anda pasti akan wudhlu di masjid itu. Ketika anda membuka keran, air akan mengucur, lalu anda berwudhlu. Pernahkah anda berpikir,berapa harga air yang sudah saya gunakan untuk berwudhlu? Berapa investasi untuk membeli kran, pipa, keramik tempat anda berwudhlu? Itu belum termasuk ketika anda ke kamar mandi untuk (maaf) BAB atau kencing. Ketka anda ke kamar mandi untuk buang hajat, anda memakai air lebih banyak. Tentu saja biayanya lebih besar.

Setelah selesai berwudhlu, anda memulai sholat.mungkin anda akan menggunakan keramik kurang lebih 60 cm x 1 m. pertanyaan akan timbul kembali. Emangngya keramik yang lu pake itu gratis? Itu dibeli pake uang,bukan pake daun. Ya kurang lebih seperti itu. Anda harus menghitung biaya “sewa” keramik atau lantai yang anda pakai untuk sholat. Belum lagi anda sholat di sore atau malam hari. Anda harus menghitung biaya listrik lampu yang menerangi anda. Atau anda sholat di siang hari yang udaranya sangat panas. Anda menyalakan kipas angin. Wah, lebih mahal lagi itu. Belum lagi biaya biaya perawatan seperti pel, sapu, listrik sound system dan lain-lain. Bila anda adalah pegawai DKM suatu masjid, pasti anda tidak akan merasa asing dengan biaya-biaya di atas.

“Mau sholat di masjid aja ribet banget harus ngitungin biayanya?” Bukan itu maksud saya. Yang saya soroti adalah ketika kita enggan untuk infaq untuk masjid, sebenarnya kita telah melawatkan suatu “kewajiban” kepada masjid itu. Dan ketika kita tidak membayar biaya itu, berarti kita telah menerima sesuatu secara gratis. Kan enak dapat gratisan? Ha..ha…memang orang Indonesia suka yang gratisan. Tapi ingat, kata Aa Gym ketika kita satu kali menerima gratisan, maka harga diri kita berkurang satu. Dan semaikn sering kita menerima sesuatu gratisan dari manusia, maka harga diri kita akan hilang. Mau harga diri kita hilang karena sering mendapat gratisan? Maih berpikir sholat di masjid itu gratis?

Yuk kita bersama (saya pun masih belajar) tidak melewatkan kotak infaq begitu saja…….

Jumat, 04 Juni 2010

Apakah hidup itu (harus) seperti roda yang beputar?


“Kenapa wajahmu kusut begitu?”

“Lagi sedih nih Bro”

“Ada apa?”

“Gue gagal ujian Bro”

“Ooo….begitu,gagal itu biasa Bro. Hidup itu seperti roda yang berputar,kadang di atas,kadang di bawah”

Sekilas memang nasihat seorang kawan di ats memang baik. Tapi…..tunggu dulu. Kita akan bicarakan “Apakah hidup itu (harus) seperti roda yang beputar?” Jika kita telaah filosofi roda lebih dalam,kita akan menemukan kekeliruan pemahaman kalau hidup itu seperti roda yang berputar.

Mari kita tinjau dari bentuk roda. Roda adalah benda berbentuk lingkaran dengan jari-jari tertentu. Tapi kita harus ingat bahwa jari-jari suatu roda itu selalu bernilai konstan. Karena jari-jari roda konstan,maka posisi suatu titik akan mengulangi posisi semula jika diputar. Jika kita gambarkan grafik posisi suatu titik pada roda terhadap waktu maka kita akan peroleh grafik sinusoida normal. Karena roda yang berputar termasuk gerak osilasi (kok omongannya teknik banget ya…)

Sekarang kita analogikan ke kehidupan kita. Jika benar kehidupan kita seperti roda,berarti puncak kesuksesan seseorang saat ini tidak akan meningkat atau lebih baik dari puncak kesuksesan sebelumnya (dalam grafik sinusoida normal,nilai puncaknya selalu sama). Puncak kesuksesan sesorang tidak akan berkembang seiring jalannya waktu. Kalaupun dia gagal,maka dia akan mengalami kegagaln sama buruknya dengan kegagalan yang dia alami (nilai terendah dari grafik sinusoida normal selalu bernilai sama).

Hal ini bertentangan dengan nasihat Rasulullah SAW bahwa jika seseorang keadaannya lebih baik dari hari kemarin,maka dia termasuk orang yang beruntung. Jika keadaannya sama dengan hari kemarin, dia termasuk orang yang merugi. Jika keadaannya lebih buruk dengan hari kemarin,maka dia termasuk orang yang celaka. Dari nasihat Rasulullah SAW kita bisa ambil pelajaran bahwa kehidupan atau kesuksesan seseorang itu harus meningkat seiring berjalannya waktu. Tapi bukan berarti kesuksesan seseorang bisa diraih dengan begitu mulus. Karena itu kesuksesan seseorang juga tidak bisa digambarkan dengan grafik persamaan y=x. Kadang ada keadaan kita jatuh, tetapi kejatuhan itu tidak boleh sama atau bahkan lebih buruk dibanding kejatuhan kita yang terdahulu.

Karena itu kawan,jangan menganggap kehidupan kita seperti roda yang berputar, kadang di atas, kadang di bawah. Karena kehidupan kita harus tetap meningkat seiring berjalannya waktu. Walaupun kegagalan kadang datang menghampiri kita, maka kegagalan itu harus lebih baik dari kegagalan sebelumnya. Solikhin Abu Izzudin mengatakan bahwa ”Jadikan kegagalan itu menjadi energy yang besar untuk mencapai kesuksesan yang lebih sukses dari sebelumnya”. Kita harus bisa lebihbaik dari sebelumnya…...

Bandung, 4 Juni 2010

Rabu, 02 Juni 2010

Maknai Cinta Secara Utuh


Perangkat Cinta
Cinta,sebuah kata yang akan dibicarakan terus-menerus sepanjang hidup manusia. Sebuah kata yang ditakdirkan tidak berbenda. Tidak terlihat. Hanya terasa. Tetapi dahsyat.

Menurut Ust.Anis Matta,cinta mewakili seperangkat kepribadian manusia yang utuh:gagasan,emosi,dan aksi. Gagasannya adalah tentang bagaimana membuat orang yang diacintai menjadi lebih baik.ia juga emosi yang penuh gelora dan luapan perasaan. Gagasan dan emosi saja tidak cukup. Gagasan yang baik itu harus dituangkan dalam suatu tindakan yang nyata.

Sayangnya kebanyakan orang hanya mengambil bagian tengah dari perangkat itu,yaitu emosi. Dalam kehidupan mereka,cinta hanya gumpalan perasaan yang penuh dengan romantika dan perasaan indah belaka. Mereka sering melalaikan gagasan dan aksi untuk mencapai keadaan yang lebih baik. Bahkan mereka berani mempertahankan penderitaan atas nama cinta. Mereka lebih rela ‘tinggal di gubuk derita karena cinta’ dibanding mengembangkan diri dan membantu orang yang mereka cintai mendapat keadaan yang lebih baik. Karena itu kehidupan mereka tidak berkembang.

Cinta adalah sebuah perasaan totalitas. Gabungan yang utuh antara emosi yang menggelora dan tindakan nyata untuk berbuat demi kebaikan orang yang kita cintai. Emosi dan aksi harus berpadu menghasilkan kebaikan untuk orang yang kita cintai dan diri kita sendiri

Jadi terjebak pada pusaran emosi cinta tidak akan membawa kebaikan yang utuh bagi orang yang kita cintai dan bagi diri kita sendiri. Kata cinta harus dimaknai secara menyeluruh dan utuh. Gagasan,emosi,dan aksi untuk kebaikan bersama.

Pekerjaan orang besar

Mencintai bukanlah pekerjaan yang mudah. Mencintai adalah pekerjaan orang besar - begitu anis matta menyebut. Karena itu pecinta sejati merupakan orang yang terus mengembangkan kepribadiannya. Pecinta sejati tidak akan terus-menerus berkubang dalam emosi yang terus membuainya. Dia bisa keluar dan mampu mengendalikan perasaannya. Karena itu dibutuhkan kepribadian yang terus berkembang. Cinta dan kepribadian adalah dua kata tumbuh bersama dan sejajar.

Karena itu, untuk memberikan cinta yang berkualitas, ada dua hal yang harus dilakukan. Yang pertama adalah memahami dan memaknai cinta secara utuh dan menyeluruh. Yang kedua adalah pengembangan kepribadian terus menerus.
Selamat memberikan cinta yang berkualitas. Salam cinta……

Terinspirasi dari buku Serial Cinta (Anis Matta).