Jumat, 05 November 2010

Jangan Sampai Kita Seperti Kambing


Pernahkah Anda mengamati tingkah para kambing yang akan dijadikan hewan kurban? Ketika disatu lokasi ada beberapa kambing yang akan disembelih, ada kelakuan menarik yang bisa kita amati. Seumpama di satu lokasi ada empat buah kambing yang akan disembelih secara bergiliran. Ketika kambing pertama yang disembelih, tiga kambing kambing lainnya akan bersikap tetap santai. Dengan enaknya ketiga kambing lainnya masih sempat makan rumput. Tidak ada rasa panik sedikitpun. Tidak ada usaha untuk menyelamatkan diri. Tidak ada usaha untuk menyelamatkan kawannya. Mungkin,kalau kambing bisa tertawa,ketiga kambing lainnya mungkin masih tertawa dan bercanda. Dan kalau kambing bisa menangis, pasti kambing pertama akan menangis dengan tersedu-sedu melihat kawannya tidak berusaha menyelamatkan dirinya. Ketika kambing kedua mendapat giliran disembelih,kambing kedua ini baru berusaha menyelamatkan dirinya. Dirinya akan berteriak minta tolong. Tetapi kambing ketiga dan keempat tetap santai dan tetap makan rumput dengan nyaman. Kambing akan berteriak dan berusaha lepas dari ikatannya ketika dirinya mendapat giliran akan disembelih, tetapi dia sangat acuh ketika kawannya sesama kambing mendapat giliran disembelih duluan.

Dari kejadian diatas bisa kita ambil makna yang berharga. Jika kejadian tersebut dianalogikan ke dalam kehidupan manusia,apakah kita sama seperti kambing? Kita mirip kambing atau tidak dapat terjawab dan dibuktikan ketika saudara kita mendapat musibah dan ujian dari Allah SWT. Ujian yang dikirimkan kepada saudara kita,sebenarnya kita juga turut diuji. Yang dilihat adalah respon kita ketika saudara kita mendapat musibah. Apakah kita akan dengan tanggap berusaha memberikan bantuan kepada saudara kita itu atau kita diam saja dan tetap santai makan saperti kambing tadi. Tidak elok rasanya kawan. Memberikan bantuan merupakan salah satu kewajiban kita sebagai makhluk sosial, karena manusia sejatinya tidak dapat hidup sendirian.

Saat ini saudara kita yang ada di kawasan merapi sedang mengalami ujian dari Allah. Dari berbagai media, kita dapat menyaksikan betapa ganasnya amukan gunung merapi. Lalu apa yang bisa kita lakukan? Banyak saudaraku. Ada tiga langkah sederhana yang bisa kita akukan agar kita bisa berkontribusi kepada saudara kita.

1. Bagi yang mempunyai kemampuan,keahlian,kesempatan untuk berangkat menolong ke lokasi,sekiranya dapat berangkat langsung ke lokasi. (jangan lupa berkoordinasi dengan pihak terkait).

2. Bagi yang tidak mempunyai kemampuan,keahlian,dan kesempatan datang ke lokasi, kita dapat berkontribusi dengan cara lain. Kita dapat mengadakan penggalangan dana dan bantuan. Saya yakin di kampus masing-masing ada gerakan sosial penggalangan dana bantuan bencana. Sekiranya kita dapat menyisihkan sebagian uang kita untuk saudara kita yang ditimpa bencana.

3. Untuk kita semua,sekiranya kita dapat mendahsyatkan dan menyelipkan doa untuk mereka di setiap doa-doa kita. Doakan mereka agar dikuatan untuk menghadapi ujian ini.



Alhamdulillah ya Allah, pagi ini saya masih bisa menghirup udara segar dan menikmati pagi yang indah,

Tetapi bagaimana saudara kami yang ada di kawasan merapi? Apakah mereka dapat menghirup udara segar di tengah hujan abu dan pasir?

Alhamdulillah ya Allah, malam ini saya masih bisa tidur dengan nyenyak di kamar saya dan dapat bangun di pagi hari dengan segar,

Tapi bagaimana saudara saya yang ada di kawasan merapi yang harus tidur berdesak-desakan di barak pengungsian?

Alhamdulillah ya Allah, saya masih bisa makan dengan enak dan mendapat gizi cukup,

Tapi bagaimana dengan saudara saya yang ada di kawasan merapi yang harus mengantre begitu panjang untuk mendapatkan sebungkus nasi dengan lauk ala kadarnya?

Alhamdulillah ya Allah, saya masih bisa kuliah dan menuntut ilmu dengan tenang,

Tapi bagaimana dengan saudara saya yang ada di kawasan merapi yang harus menunda sekolah mereka karena sekolah mereka tidak bisa dipakai.

Ya Allah,Ampunilah hambamu ini karena tidak bisa membantu secara maksimal untuk membantu saudara kami. Semoga Engkau menguatkan mereka dalam menghadapi ujianMu ini,karena tidak aa yang mengenggam Gunung Merapi kecuali Engaku. Semoga esok bisa lebih baik. Amin...

Bandung,5 Oktober 2010

Ditulis di tengah mendung yang menyelimuti kampus.

Kamis, 04 November 2010

Kilas Oktober: Minggu-Minggu Deadline dan Kehidupan UTS


Ayeee…UTS selesai. Kegembiraan sedikit meletup di hati di awal bulan November. UTS selama sepuluh hari selesai sudah. Dan akhirnya saya bisa berkencan dengan Fia (nama laptop saya) untuk kembali belajar menulis. Menarik bagi saya untuk kilas balik selama bulan Oktober.

Awal Oktober

Di awal Oktober, sudah banyak agenda yang menunggu. Kepanitiaan SKI Academy memulai untuk bekerja untuk memulai program SKI Academy. Opening yang direncanakan diadakan pada tanggal 10 Oktober pun mulai dikebut persiapannya. Sayangnya, tidak seluruh panitia bekerja maksimal. Akibatnya kinerja kepanitiaan sedikit terhambat beberapa divisi masih belum merampugkan pekerjaannya. Masih sangat mentah. Padahal kami dikejar waktu untuk segera menyelesaikan karena tanggal 10 Oktober sudah semakin mendekat. Pada tanggal 8 Oktober, melalui hasil syuro panitia, kami memutuskan untuk menunda acara Opening SKI Academy. Terlau memaksakan diri kiranya jika Opening tetap diadakan pada tanggal 10 Oktober. Kami menundanya hingga tanggal 17 Oktober. Dengan harapan selama seminggu, seluruh divisi bisa merampungkan pekerjaannya masing-masing

Masih di awal Oktober, ada kabar gembira yang datang. Tanggal akhir pengumpulan proposal PKM diundur hingga tanggal 30 Oktober yang pada awalnya tanggal akhir pengumpulan proposal 3 Oktober. Tentu saja ini kabar gembira. Proposal yang kelompok saya belum rampung hingga akhir September. Masih ada waktu untuk memaksimalkan proposal PKM 2011.

Minggu Deadline

Memasuki minggu ke 2 bulan Oktober. Ahhh… ini merupakan minggu yang padat bagi saya. Di hari senin, jam 06.00, saya mendapat telepon dari SC panitia SKI Academy. Saya diminta untuk membuat proposal ke raktorat. Proposal harus diselesaikan lambat-lambatnya hari selasa (berarti saya harus menyelesaikannya dalam satu hari). Saya meminta keringanan. Akhirnya hari rabu menjadi deadline proposal SKI Academy. Padahal proposal PKM juga belum menunjukkan kemajuan yang berarti. Artinya dua proposal menumpuk dalam satu minggu untuk segera diselesaikan. Persiapan Opening SKI Academy juga harus mendapat perhatian. Pematanagan konsep acara dan segala perangkat pendukungnya juga perlu dipersiapkan. Dalam satu minggu itu juga banyak dosen yang mengadakan quiz.

Di minggu yang sama pula, amanah di kepanitiaan Infection juga harus mendapat perhatian. Persiapan acara puncak Infection harus dipersiapkan matang-matang. Deeerrr….bencana inilah yang datang ketika kita terlalu banyak menerima amanah. Berbagai pekerjaan memanggil untuk segera diselesaikan dalam range waktu yang sama. Kemampuan berpikir multi tasking sangat diperlukan dalam situasi seperti ini. Dan sialnya kemapuan seperti itu tidak saya miliki. Akibatnya kebingungan segera menyerang otak. Skala prioritas sangat sulit dibuat karena semua pekerjaan bersifat urgent.

‘Bencana’ begitu terasa di akhir minggu. Pada hari jumat,persiapan proposal PKM harus benar-benar dikebut karena dari rektorat, hari senin proposal sudah harus dikumpulkan. Pada hari Sabtu malam kembali pada syuro pemantapan Opening SKI Academy esok harinya. Tetapi proposal PKM pun belum jadi sepenuhnya. Setelah dihajar persiapan SKI Academy, malam harinya harus nglembur proposal. Itupun belum jadi ada hari itu, karena masih ada revisi untuk penyempurnaan. Hari Minggu pagi, kembali pada persiapan Opening SKI Acadey yang akan digelar pada sore harinya. Dekorasi Gedung Serba Guna harus segera dilakukan setelah acara MPAI berakhir. Ditengah-tengah persiapan, saya menerima telepon dari ketua Infection. Ketua Infection meminta panitia berkumpul untuk mempersiapkan acara puncak yang akan diadakan pada hari senin sampai rabu. Akhirnya saya meminta izin untuk tidak mengikuti persiapan Infection karena persiapan Opening SKI Academy lebih membutuhkan tenaga. Pada pukul 15.30 acara dimulai. Alhamdulillah persiapan kelar. Acara berjalan dengan sukses. Setelah beres-beres selesai pada waktu Isya’, saya harus meluncur untuk persiapan Infection. Persiapan Infection selesai pukul 22.00. Kegiatan berikutnya menyusul,penyelesaian proposal PKM dimulai.

Hari Senin pagi, acara penjurian Infection akan segera dimulai. Bolos kuliah menjadi sebuah pilihan sulit karena tidak memungkinkan untuk kuliah sedangkan persiapan Infection belum sempurna. Alhamdulillah tahap penjurian final berjalan dengan sukses. Pada Senin malam, persiapan seminar Infection yang sedianya digelar selasa pagi pun dilaksanakan. Tetapi sialnya, proposal PKM harus mendapat perhatian lebih karena deadline pengumpulan sudah tiba. Akhirnya persiapan Infection pun saya tinggalkan. Tidak enak hati memang,tetapi tidak ada pilihan yang lebih baik. Selasa pagi harus datang ke Learning Center untyuk persiapan seminar Infection. Sibuk sangat. Bolos kuliah pun kembali menjadi pilihan. Kuliah Rangkaian Listrik pun harus ditinggalkan karena seminar tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Hari ketiga rangkaian acara Infection, hari Rabu, tergelar pada pagi hari. Pameran pemenang lomba Infection digelar di tengah gedung B. Saya pun tidak dapat berkontribusi dengan maksimal karena pada pagi harinya saya harus mengikuti quiz variabel komplek. Rasa kurang nyaman kepada ketua terasa di dalam hati. Akhirnya serangkaian acara Infection kurang lebih enam bulan selesai sudah.

Perang UTS di Akhir Oktober

Memasuki minggu terakhir di bulan Oktober, mahasiswa IT Telkom pun mulai mempersiapka diri menghadapi peperangan berhadapan dengan soal-soal UTS. Pada hari pertama UTS langsung dihajar dengan mata kuliah empat SKS, Rangkaian Listrik. Belajar di tempat teman pun jadi pilihan. Belajar di tempat teman hingga larut malam menjadi sebuah aktivitas yang wajar selama seminggu UTS. Dan akhirnya serangkaian UTS ditutup dengan ujian pengetahuan lingkungan. Untuk hasilnya,kita nantikan saja…..



Bandung, 4 November 2010

Selesai di Learning Center IT Telkom Lantai 3

Senin, 04 Oktober 2010

Kilas September: Silaturahim, Semangat Kuliah dan Keluarga Baru


Ketika memasuki bulan September, ada beberapa perasaan yang menggelayut di dalam hati. Perasaan sedih karena bulan Ramadhan akan segera berakhir. Bulan yang penuh rahmat ini akan meninggalkan kita semua tanpa kita tak pernah tahu apakah kita akan bertemu dengannya lagi. Perasaan senang karena saya akan pulang ke Blitar. Sudah lama saya memendam perasaan rindu dengan keluarga, dan sahabat di sana. Perasaan bahagia karena kita akan bertemu dengan Idul Fitri. Perasaan beban tanggung jawab karena pekerjaan yang ada di kampus belum selesai sehingga akan menjadi pekerjaan rumah.

The Power of Silaturrahim

Idul Fitri akan segera tiba. Mudik menjadi agenda unik dan khas bagi orang Indonesia baik yang Muslim maupun yang non Muslim. Idul Fitri akan dijadikan momentum untuk menjalin kembali silaturrahim dengan keluarga yang ada di kampung halaman. Idul Fitri juga merupakan kesempatan untuk “lari” sejenak dari tekanan kerja yang sudah satu tahun kita jalani.

Entah mengapa bertemu dengan keluarga dan kawan-kawan lama menjadi agenda yang sangat menarik. Mungkin kita setiap hari sudah “terhubung” melalui telepon atau situs jejaring sosial,seperti facebook, twitter, friendster. Tapi situs jejaring sosial tidak cukup untuk mengobati kerinduan yang kita rasakan. Tidak heran pada waktu sekitar Idul Fitri, mereka mengadakan kegiatan kumpul-kumpul yang biasa disebut dengan reuni.

Begitu pun saya. Mulai dari saya datang di Blitar, saya sudah dihajar dengan undangan buka bersama. Entah itu dari rekan ekstrakurikuler,teman sekelas, atau teman organisasi semasa SMA. Kegiatan ini menadi kegiatan yang mengasyikkan karena beban kuliah di kampus masing-masing menjadi sirna yang digantikan terobatinya rasa kangen dan canda tawa. Silaturrahim yang terjain secara maya,melalui internet,digantikan silaturrahim yang nyata. Cerita menarik dari kota dan kampus masing-masing akan mengalir begitu saja. Atau menguak kejadian lama yang biasa saja terangkat kembali menjadi sangat menarik ketika diceritakan ulang di masa kini.

Silaturahim juga akan terjalin kembali dengan keluarga. Tidak hanya keluarga kecil (ayah,ibu, dan anak) tetapi juga silaturrahim dengan keluarga besar. Ada beberapa keluarga yang mempunyai tradisi reuni. Contohnya reuni keluarga dari keturunan mbah buyut ini. Selain mengenalkan mbah buyut kita yang mungkin saja kita tidak mengenalnya, tetapi juga kita bisa mengenal keluarga yang sebelumnya kita tidak tahu.

Pulang ke Bandung dan Memulai Kuliah Kembali

Ketika liburan diambang batas perpisahan, saya harus segera kembali ke Bandung. Tentu saja ini episode yang cukup menyedihkan. Berpisah dengan keluarga, sahabat, dan kampung tercinta bukanlah hal yang menyenangkan. Blitar, kota kecil ini, sera menahanku untuk tidak pergi. Di bandung tidak bisa kutemui Nasi Pecel Mbok Bari, Nasi Tahu, Wajik Klethik
(kok makanan semua), dan segala yang khas di Blitar. Cintaku tumbuh di Blitar.

Tapi ada sisi lain yang ada dalam hati. Rasa semangat yang menggelora untuk melanjutkan pekerjaan yang menunggu di Bandung. Kepanitiaan, SKI, Pimnas, dan segala macam tugas khas kampus. Belum lagi kuliah yang semakin padat, tugas pendahuluan praktikum, tugas dari dosen, quiz, dan seabrek ateri kuliah yang harus dibaca serasa melambai kepadaku. Saya sadar, bahwa pekerjaan ini merupakan rintisan jalan menuju terwujudnya mimpi-mimpi.

Benar saja, sesampainya di Bandung undangan rapat, undangan syuro SKI, tugas kuliah mengantri tidak sabar untuk diselesaikan. Tapi saya mencoba menemukan inspirasi baru setiap pagi untuk menyemangati diri saya sendiri.

Keluarga Baru

Yang cukup membahagiakan saya adalah,saya mendapat keluarga baru. Himabtel (Himpunan Mahasiswa Blitar di Telkom) mempunyai anggota keluarga baru. Angkatan 2010 kurang lebih berjumlah 10 orang. Yang membuat saya bahagia adalah semangatnya luar biasa. Semoga Himabtel menjadi kelaurga yang kompak selalu.

Rabu, 29 September 2010

Buku-Buku Menarik



Ada beberapa buku yang saya baca selama liburan kuliah. Saya akan mengulas beberapa buku menarik di antaranya.

1. Young On Top :30 Rahasia Sukses di Usia Muda

Buku ini ditulis oleh Billy Boen. Saya mengetahui buku ini pertama kali waktu Billy Boen tampil di acara talk show Kick Andy di Metro TV. Buku ini berisi tentang rahasia sukses di usia muda.

“Dari sekian banyak orang yang memasuki dunia kerja,biasabya hanya sekitar 2% yang mampu mencapai karier puncak dan benar benar sukses.” “Kamu tidak usah menunggu berumur 50 tahun untuk menjadi seseorang yang sukses”

Buku ini disampaikan dengan bahasa yang ringan, praktis dan mudah dicerna. Tidak ada kesan mengajari dalam buku ini. Billy memberikan semua tool yang dia pakai untuk mencapai puncak kariernya. Billy juga memaparkan kasus-kasus riil yang dialaminya. Buku terbitan Gagas Media ini juga terdapat banyak quotes-quotes inspiratif dari tokoh-tokoh sukses lainnya. Sangat memotivasi dan memberikan arahan bagaimana cara mencapai puncak karier di usia muda.

Rahasia sukses yang pertama menurut bung Billy adalah Do what you love & Love What you do. Dan Apa rahasia selanjutnya? Silahkan membeli buku ini.

“Dengan bahasa yang mudah dimengerti, Billy memaparkan kiat meraih sukses secara sistematis. Sangat berguna bagi professional, terutama yang sedang meniti karier.”

Andy F Noya ,Host “Kick Andy”

Contact person Billy Boen:

Email: billyboen@gmail.com

Facebook: www.facebook.com/billyboen

www.facebook.com/youngontop

website: www.billyboen.com

Twitter: www.twitter.com/BillyBoen

2. Wirausaha Muda Mandiri.




Prof. Rhenald Kasali mengulas rahasia sukses wirausahawan yang telah berkompetisi dalam program Wirausaha Muda Mandiri yang diselenggarakan oleh PT. Bank Mandiri Tbk dimana Pak Rhenald menjadi salah satu jurinya. Ada 24 kisah sukses wirausahawan muda disertai juga dengan tips-tipsnya. Mantan Dirut Bank Mandiri, Agus Martowardojo, dalam kata pengantarnya berharap buku ini dapat memberikan edukasi kepada masyarakat luas, dan pada kaum muda pada khususnya. Kasus-kasus yang dipaparkan pun sangat riil, aplikatif, dan mudah dimengerti.

Sangat direkomendasikan bagi kaum muda yang akan atau sedang menjalankan bisnis. Buku terbitan PT. Gramedia Pustaka Utama ini memberikan ulasan secara lengkap permasalahan yang sering dihadapi oleh kaum muda yang sedang menjalankan usaha.

“Sebuah buku yang inspiratif,enak dibaca dan menggugah semangat berwirausaha”

Irwan Hidayat,Wirausaha Sido Muncul

3. Al-Qur’an dan Realitas Umat



Berisi tulisan-tulisan Prof. Ahmad Syafii Maarif tentang kejadian-kejadian yang menimpa umat Islam. Buya Syafii,begitu beliau biasa disapa, mengungkapkan kegalauan tentang perpecahan yang terjadi di kalangan umat islam. Beliau berpendapat, umat islam jarang menggunakan Al-Quran sebagai pedoman untuk menyelesaikan konflik yang terjadi. Umat Islam yang tidak menempatkan Al-Quran dengan semestinya. Buku terbitan Penerbit Republika ini mencari sudut pandang lain dalam menyelesaikan konflik.

4. Coffe break: Inspiration & Motivation Words for LOVE



Saya mengetahui buku ini dari seorang sahabat. Buku ini berisi tentang kisah-kisah cinta yang menginspirasi. Buku ini tergolong tipis, bahasanya ringan dan tidak terkesan menggurui. Cocok untuk menemani anda minum kopi di pagi hari dan memberikan motivasi di setiap pagi.

Kamis, 23 September 2010

Menanti Kerendahan Hati Pemerintah (Presiden)


Anda tentu masih ingat kejadian Pak Beye Marah waktu beliau meninjau persiapan arus balik tahun ini. Beliau marah ketika jaringan teleconference yang beliau gunakan “ngambek”. Tampilan di layar mati seketika. Akhirnya Pak Beye marah dan menegur direktur utama PT.Telkom dan Telkomsel. Beliau mengingatkan (tapi dengan nada yang tinggi dan sedikit geram) agar kedua dirut turun ke lapangan dan jangan hanya kerja di belakang meja. Beliau memrintahkan kepada seskab untuk menelepon segera kedua dirut. Menteri BUMN segera bereaksi karena kedua institusi yang kena damprat tersebut di bawah naungannya. Dengan sigap memanggil kedua dirut menghadap ke Pak Menteri. Banyak yang menilai Pak Menteri sedang CarMuk (Cari Muka).

Tapi apa yang sesungguhnya terjadi? Ternyata jaringan yang digunakan adalah milik kepolisian. Dengan kata lain Pak Beye salah sasaran mendamprat. Pak Menteri pun cari-cari alasan. Beliau mengatakan seharusnya Telkomsel mem-back up jaringan milik Polri.

Apakah ada tanda-tanda Pak Beye minta maaf karena salah damprat? Sampai sekarang saya tidak melihat hal itu. Mungkin sebagian orang mengaggap hal itu terlalu “kecil” untuk dilakukan oleh seorang presiden. “Masak seorang presiden harus minta maaf soal gituan?” kata seorang kawan. Tapi menurut saya,apa salahnya presiden minta maaf?

Sepengetahuan saya,presiden kita jarang sekali untuk pidato meminta maaf. Kalau ada kesalahan pasti yang menjawab para pembantunya,itu pun juga bukan minta maaf. Kasus LPG mbleduk, kenaikan harga, kemiskinan masyarakat,dan lain-lain hanya dijawab dengan alasan ini itu. Paling banter minta maafnya juga berbunyi “Minta maaf lahir batin atas kesalahan yang disengaja maupun tidak.” Itupun hanya di waktu Idul Fitri. Mungkin seru juga ya kalau kita tanya “Pak, kesalahan yang sengaja Bapak buat itu apa saja ya?” Kalau dipikir secara akal sehat, kan kalau kesalahan yang disengaja itu pasti beliau sadar,tahu,dan masih ingat. Tapi jarang pejabat yang pernah merinci kesalahan yang disengaja itu. Saya kadang berpikir kasus kompor mbleduk,kemiskinan,korupsi itu dianggap kesalahan yang tidak disengaja. Ha..ha…ha. Saya merindukan presiden yang berani mengatakan “Saya minta maaf karena belum bisa mensejahteraakan rakyat.” atau “Saya minta maaf karena belum bisa mengatasi kompor mbleduk.”

Penting ga sih presiden minta maaf? Saya bukan ahli komunikasi politik,saya uga bukan mahasiswa komunikasi. Tapi pribadi saya berpendapat,apa salahnya presiden minta maaf atas kesalahan yang pernah dibuat?. Bukankah itu akan meningkatkan nilai dan harga dirina jika presiden berani meminta maaf atas kesalahannya? Banyak orang yang mengatakan, ada tiga kata yang sulit diucapkan manusia,tetapi jika manusia mengatakannya, maka manusia tersebut akan lebih dihargai oleh orang lain, yaitu maaf,terima kasih,dan tolong. Mungkin presiden akan lebih dihargai, dicintai, dan dihormati masyarakat jika mengatakan hal itu. Masyarakat akan lebih memanusiakan presiden. Masyarakat sejatinya tahu presiden mereka bukanlah manusia setengah dewa. Hanya manusia biasa yang punya salah dan lupa. Masyarakat tentu akan memaklumi jika presidennya minta maaf atau berterima kasih kepada rakyatnya. Karena masyarakat lebih menyayangi presiden yang humanis.

Jadi bukanlah saatnya lagi presiden harus gengsi untuk menjadi “manusia biasa”. Presiden bukanlah malaikat atau manusia setengah dewa. Presiden adalah bapak biasa bagi anak-anaknya. Presiden bukanlah orang yang tidak terjangkau bagi rakyatnya. Karena sejatinya presiden adalah pelayan rakyatnya.

Tapi sebelum Pak Beye minta maaf,saya minta maaf duluan aja deh. Maaf ya Pak Beye…

Minggu, 22 Agustus 2010

Antara Penegakan Hukum dan Hati Nurani


Pendapat di bawah ini dilontarkan oleh seorang anak kecil yang nggak ngerti hukum, nggak hafal pasal di KUHP barang satu pun, bukan pula mahasiswa hukum. Hanya seorang anak kecil yang mencoba beropini melihat hukum dari sudut pandang orang yang awam hukum.

Akhir-akhir ini masyarakat rami membicarakan tentang pemberian grasi oelh presiden kepada mantan bupati Kutai Kartanegara yang juga terpidana kasus korupsi selama 6 tahun, Syaukani. Presiden memberikan “diskon” atas hukuman syaukani menjadi tiga tahun melalui hak pemberian grasi yang dimiliki oleh kepala Negara. Akhirnya syaukani kini bebas karena telah menjalani hukumannya kurang lebih 3 tahun. Alasan pemberian grasi itu adalah syaukani dinilai tidak layak menjalani hukuman karena menderita sakit yang berkepanjangan. Bahkan menteri hukum dan HAM,Patrialis Akbar mengistilahkan,syaukani seperti mayat hidup karena lumpuh dan buta. Bahkan kurang lancar jika diajak berkomunikasi.

Banyak yang menilai keputusan presiden tersebut merupakan kemunduran dari langkah pemberantasan korupsi. Bahkan ada yang menuding “ada udang di balik batu”. Kecaman pun mengalir deras di media. Bagaimana bisa orang yang telah mengkhianati rakyat diberi keringanan hukumannya.

Penegakan Hukum
Terus terang, saya sangat membenci koruptor. Bahkan saya menilai koruptor itu orang yang sangat sadis. Otak saya pun gagal memahami alasan orang mampu dan berani mengkhianati rakyat,orang yang telah menngaji mereka,memilih mereka, dan memberikan kepercayaan kepada mereka. Bagi anda yang pernah menonton film “Alangkah Lucunya Negeri Ini” garapan actor dan sutradara kawakan Dedi Mizwar, pasti akan tergambar dengan jelas bagaimana efek yang ditimbulkan jika seseorang pejabat korupsi. Mengenaskan. Karena itu saya tidak bisa memilih kata yang lebih baik dari kata “sadis” untuk perbuatan korupsi.
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sekarang menjadi ujung tombak upaya pemberantasan korupsi setelah kepercayaan masyarakat terhadap polisi dan kejaksaan berada di titik nadir setelah terungkapnya upaya kriminalisasi pimpinan KPK dan terbongkarnya kasus makelar kasus Gayus Tambunan. Upaya pemberantasan korupsi harus tetap digalakkan untuk kemajuan Indonesia.

Posisi Hati Nurani
Lalu di manakah posisi hati nurani kita. Apakah penegakan hukum harus menghilangkan sisi kemanusiaan. Ada adegan menarik dalam film Alangkah Lucunya Negeri Ini. Bagian di mana para pengasong bimbingan Bang Muluk dikejar-kejar Satpol PP

“Mereka hanya mencari rezeki yang halal dan hanya itu yang mereka bisa”
“Ini aturan,tidak boleh mengemis dan mengasong,ganggu lalu lintas tahu?”
“Kalian terganggu dengan pengemis dan pengasong,tapi nggak terganggu dengan ulah para koruptor yang memiskinkan kalian”
“Kan koruptor nggak ganggu lalu lintas?”

Di sini sangat terasa bahwa penegakan hukum harus mengorbankan hati. Padahal anak miskin dan terlantar dipelihara oleh negara Pasal 34 (I) UUD 1945. Di sini saya berpikir, apakah penegakkan hukum selalu menyampingkan sisi kemanusiaan. Bukankah hukum itu untuk memuliakan manusia. Contoh dalam film itu adalah bagaimana peraturan tentangpengasong dan anak jalanan harus ditegakkan di atas usaha halal mereka. Padahal ini juga tanggung jawab Negara.
Jika ditilik dari kasus Syaukani, apakah hukum harus tetap dijalankan kepada orang yang telah lumpuh,buta,tidak dapat sembuh, sulit diajak komunikasi pula. Saya sangat memahami bagaimana perasaan penggiat anti korupsi di negeri ini. Mantan anggota Wantimpres yang juga aktivis hukum senior, Adnan Buyung Nasution mengatakan bahwa penggiat anti korupsi jengan berjuang dengan dilandasi dengan rasa dendam karena tujuan penegakkan hukum adalah kebenaran dan keadilan, bukan ajang balas dendam. Menurut saya, kadang penegakkan hukum menyampingkan sisi kemanusiaan. Mari mengembalikan posisi hati nurani pada tempatnya.

Sabtu, 19 Juni 2010

Sholat di Masjid itu Ga Gratis Lho!


Anda mungkin sering sholat di masjid. Entah di masjid sekitar rumah anda, masjid di kampus anda, ataupun masjid tempat anda mengkuti pengajian. Atau mungkin ketika anda dalam perjalanan, anda sholat di masjid yang anda temui di tengah perjalanan. Setelah selesai sholat , anda mungkin meninggalkan masjid begitu saja. Tidak ada yang aneh memang, tapi anda baru saja melewatkan sesuatu yang harus anda lakukan. Yaitu anda baru saja tidak membayar biaya anda sholat di masjid itu. Lho kok bisa? Apakah harus bayar ketika sholat di masjid?

Ada ilmu menarik yang saya dapat ketika saya mengikuti kajian rutin ma’rifatullah di Masjid Daruut Tauhiid yang diisi oleh KH.Abdullah Gymnastiar. Beliau mengatakan bahwa sholat di masjid itu sebenarnya tidak gratis. Coba kita selidiki mengapa sholat di masjid itu tidak gratis. Ketika anda datang dalam keadaan anda tidak berwudhlu, anda pasti akan wudhlu di masjid itu. Ketika anda membuka keran, air akan mengucur, lalu anda berwudhlu. Pernahkah anda berpikir,berapa harga air yang sudah saya gunakan untuk berwudhlu? Berapa investasi untuk membeli kran, pipa, keramik tempat anda berwudhlu? Itu belum termasuk ketika anda ke kamar mandi untuk (maaf) BAB atau kencing. Ketka anda ke kamar mandi untuk buang hajat, anda memakai air lebih banyak. Tentu saja biayanya lebih besar.

Setelah selesai berwudhlu, anda memulai sholat.mungkin anda akan menggunakan keramik kurang lebih 60 cm x 1 m. pertanyaan akan timbul kembali. Emangngya keramik yang lu pake itu gratis? Itu dibeli pake uang,bukan pake daun. Ya kurang lebih seperti itu. Anda harus menghitung biaya “sewa” keramik atau lantai yang anda pakai untuk sholat. Belum lagi anda sholat di sore atau malam hari. Anda harus menghitung biaya listrik lampu yang menerangi anda. Atau anda sholat di siang hari yang udaranya sangat panas. Anda menyalakan kipas angin. Wah, lebih mahal lagi itu. Belum lagi biaya biaya perawatan seperti pel, sapu, listrik sound system dan lain-lain. Bila anda adalah pegawai DKM suatu masjid, pasti anda tidak akan merasa asing dengan biaya-biaya di atas.

“Mau sholat di masjid aja ribet banget harus ngitungin biayanya?” Bukan itu maksud saya. Yang saya soroti adalah ketika kita enggan untuk infaq untuk masjid, sebenarnya kita telah melawatkan suatu “kewajiban” kepada masjid itu. Dan ketika kita tidak membayar biaya itu, berarti kita telah menerima sesuatu secara gratis. Kan enak dapat gratisan? Ha..ha…memang orang Indonesia suka yang gratisan. Tapi ingat, kata Aa Gym ketika kita satu kali menerima gratisan, maka harga diri kita berkurang satu. Dan semaikn sering kita menerima sesuatu gratisan dari manusia, maka harga diri kita akan hilang. Mau harga diri kita hilang karena sering mendapat gratisan? Maih berpikir sholat di masjid itu gratis?

Yuk kita bersama (saya pun masih belajar) tidak melewatkan kotak infaq begitu saja…….
Anda mungkin sering sholat di masjid. Entah di masjid sekitar rumah anda, masjid di kampus anda, ataupun masjid tempat anda mengkuti pengajian. Atau mungkin ketika anda dalam perjalanan, anda sholat di masjid yang anda temui di tengah perjalanan. Setelah selesai sholat , anda mungkin meninggalkan masjid begitu saja. Tidak ada yang aneh memang, tapi anda baru saja melewatkan sesuatu yang harus anda lakukan. Yaitu anda baru saja tidak membayar biaya anda sholat di masjid itu. Lho kok bisa? Apakah harus bayar ketika sholat di masjid?

Ada ilmu menarik yang saya dapat ketika saya mengikuti kajian rutin ma’rifatullah di Masjid Daruut Tauhiid yang diisi oleh KH.Abdullah Gymnastiar. Beliau mengatakan bahwa sholat di masjid itu sebenarnya tidak gratis. Coba kita selidiki mengapa sholat di masjid itu tidak gratis. Ketika anda datang dalam keadaan anda tidak berwudhlu, anda pasti akan wudhlu di masjid itu. Ketika anda membuka keran, air akan mengucur, lalu anda berwudhlu. Pernahkah anda berpikir,berapa harga air yang sudah saya gunakan untuk berwudhlu? Berapa investasi untuk membeli kran, pipa, keramik tempat anda berwudhlu? Itu belum termasuk ketika anda ke kamar mandi untuk (maaf) BAB atau kencing. Ketka anda ke kamar mandi untuk buang hajat, anda memakai air lebih banyak. Tentu saja biayanya lebih besar.

Setelah selesai berwudhlu, anda memulai sholat.mungkin anda akan menggunakan keramik kurang lebih 60 cm x 1 m. pertanyaan akan timbul kembali. Emangngya keramik yang lu pake itu gratis? Itu dibeli pake uang,bukan pake daun. Ya kurang lebih seperti itu. Anda harus menghitung biaya “sewa” keramik atau lantai yang anda pakai untuk sholat. Belum lagi anda sholat di sore atau malam hari. Anda harus menghitung biaya listrik lampu yang menerangi anda. Atau anda sholat di siang hari yang udaranya sangat panas. Anda menyalakan kipas angin. Wah, lebih mahal lagi itu. Belum lagi biaya biaya perawatan seperti pel, sapu, listrik sound system dan lain-lain. Bila anda adalah pegawai DKM suatu masjid, pasti anda tidak akan merasa asing dengan biaya-biaya di atas.

“Mau sholat di masjid aja ribet banget harus ngitungin biayanya?” Bukan itu maksud saya. Yang saya soroti adalah ketika kita enggan untuk infaq untuk masjid, sebenarnya kita telah melawatkan suatu “kewajiban” kepada masjid itu. Dan ketika kita tidak membayar biaya itu, berarti kita telah menerima sesuatu secara gratis. Kan enak dapat gratisan? Ha..ha…memang orang Indonesia suka yang gratisan. Tapi ingat, kata Aa Gym ketika kita satu kali menerima gratisan, maka harga diri kita berkurang satu. Dan semaikn sering kita menerima sesuatu gratisan dari manusia, maka harga diri kita akan hilang. Mau harga diri kita hilang karena sering mendapat gratisan? Maih berpikir sholat di masjid itu gratis?

Yuk kita bersama (saya pun masih belajar) tidak melewatkan kotak infaq begitu saja…….