Sabtu, 06 Januari 2018

Cerita yang Menggerakkan

Halo hari ke lima #30HariBercerita, kali ini adalah fase terakhir aku berinteraksi dengan cerita. Ketika kecil, aku menganggap cerita hanyalah hiburan, lalu beranjak cerita sebagai cara mengungkapkan sesuatu. Dan pada akhirnya, cerita lebih powerfull daripada itu. Cerita bisa menggerakkan orang.

Sudut pandangku tentang cerita berubah ketika aku bertemu dengan sekumpulan orang yang percaya dengan kekuatan ide dan story telling, yaitu TEDx Bandung. Ketika aku menjadi relawan, aku memahami betul bahwa speech yang dideliver di TEDx (kami menyebutnya TED Talks) dimotori dengan kekuatan cerita. Cerita yang dekat, inspiratif, dan baru dapat menggerakkan orang dibanding dengan argumen. Argumen membuat orang paham, cerita membuat orang terinspirasi, begitu kata Roby Muhammad di TEDx Bandung.

Ketika kerja, aku bertemu seorang leader di kantorku yang menggunakan cerita dengan sangat powerfull, yaitu Pak Fathoni. Beliau dalam setiap penjelasan, sangat meminimalisir argumen-argumen, dan lebih memberi pengayaan dalam bentuk cerita. Aku merasakan sendiri bahwa cerita lebih masuk di hatiku daripada leader yang membagun tim dengan argumen.

Bagaimana cara membuat cerita yang bisa menggerakkan? Nah, aku sendiri juga belum tahu, dan jauh dari bisa. Karena itu, #30HariBercerita menjadi langkah awal aku belajar membuat cerita.

Apa ceritamu hari ini?

Ditulis di tengah suara-suara kodok sawah yang tak pernah aku temui di Jakarta

5 Januari 2018

#30HariBercerita

Jumat, 05 Januari 2018

Ungkapan dengan Cerita

Untuk seri ke 4 dari #30HariBercerita agak telat karena kemarin harus siap-siap flight pagi. Mari kita teruskan bercerita tentang story telling. Pernah ga sih kalian ingin menyampaikan atau mengungkapkan sesuatu tapi hanya tertahan? Atau kalian punya pemikiran, tapi bingung mengungkapkan dengan cara apa? Banyak cara untuk mengungkapkan sesuatu, tapi yang paling asik dengan cerita.

Ya, hari ini aku akan bercerita tentang story telling bisa dijadikan untuk menyampaikan sesuatu. Aku pernah menulis sebuah cerpen saat kelas dua SMA. Sebenarnya ini merupakan tugas mata pelajaran bahasa Indonesia. Pak Didik, guruku saat itu, meminta kami agar menulis sebuah cerpen. Tema dan alur cerita terserah. Entah bagaimana, aku menulis sebuah cerpen rekaanku sendiri tentang pergerakan mahasiswa tahun 1998. Aku beri judul cerpen itu “Jakarta Sore Itu”.

Cerpen ini bercerita tentang mahasiswa aktifis yang terlibat aktif dalam upaya penjatuhan Soeharto dan menuntut reformasi. Dia sudah dilarang ibunya untuk ikut dalam aktivitas seperti itu. Singkat cerita, tubuhnya diterjang peluru tajam dari aparat. Cerpen ini aku dedikasikan untuk elang dan 3 mahasiswa Trisakti lainnya yang gugur.

Tema cerpen seperti ini tidak lazim ditulis oleh anak SMA kelas 2. Di saat lainnya menulis tentang romansa, persahabatan, atau tema sejenisnya, aku malah menulis tentang reformasi. Pak Didik sempat memanggil aku karena ini. “Kenapa kamu menulis dengan cerita ini?” tanya beliau di ruang guru. Aku dengan singkat menjawab, “Saya tidak suka Soeharto.” Jawaban singkatku saat itu.

Aku memilih cerita untuk mengungkapkan pemikiran dan perasaanku dengan sebuah cerita. Tidak ada jargon keras di dalamnya, tidak ada tuntutan eksplisit di dalamnya. Hanya sebuah cerita ibu yang kehilangan anak aktifis. Pemikiran yang diungkapkan dengan cerita, apalagi sebuah cerita yang dekat dengan kita, akan lebih mudah sampai pada orang yang membaca atau mendengar. Kita tidak perlu menyusun argumen panjang untuk sebuah pemikiran.

Ditulis di kamar, rumah.

5 Januari 2018

#30HariBercerita

Rabu, 03 Januari 2018

Halo Story Telling

Halo hari ketiga untuk #30HariBercerita. Aku mau cerita tentang…. Cerita. Cerita atau bahasa kerennya sekarang itu story telling adalah hal yang sangat dekat dengan kehidupanku. Aku bisa membaginya ke dalam 3 fase. Fase pertama adalah story telling sebagai hiburan. Fase kedua adalah story telling sebagai cara berkomunikasi. Fase ketiga, story telling sebagai alat propaganda. Biar agak panjang dan aku biar ada bahan untuk tiga hari ke depan, aku akan bahas per fase.

Untuk kali ini aku akan bercerita tentang story telling sebagai hiburan. Aku mulai berkenalan dengan story telling sejak aku masih sangat kecil. Ayahku sering mendongengkan  aku berbagai cerita sebelum tidur. Ya, dongeng adalah alat story telling paling sederhana  dan paling awal yang aku kenal, sebelum aku berkenalan dengan story telling berupa tulisan. Saat aku mulai besar, aku mulai berkenalan dengan story telling berupa tulisan. Aku sudah lupa kesenanganku membaca dimulai sejak kapan. Tapi kemungkinan besar sejak kelas 4 SD. Sejak aku pindah tinggal bersama nenek di Ponorogo. Sebelumnya aku tinggal bersama orang tuaku di desa yang cukup pelosok di Blitar bagian selatan. Dikarenakan orang tuaku khawatir akan kualitas pendidikanku, aku dipindah untuk tinggal bersama nenekku di Ponorogo. Sebelumnya, akses bacaan sangatlah sulit di desa. Perpustakaan sekolah hanyalah ruang berdebu tempat meletakkan buku satu rak, bersama dengan barang-barang tidak terpakai. Dan pada akhirnya, perpustakaan nyaman hanyalah dongeng pada saat itu. Ketika di Ponorogo, mulailah terbuka bahan bacaan yang sangat luas. Yang aku suka? Komik tentu saja. Tidak berat. Komik sinchan. Dan beberapa seri komik lain yang aku punya sepeti paman gober dan komik disney lainnya. Bahan bacaan lain? Kebanyakan cerita rakyat atau legenda.

Cerita sebagai hiburan. Ya, cerita selalu bisa menghiburku. Sinchan tidak pernah gagal membuat aku tertawa. Paman gober menyusul berikutnya. Dan pada akhirnya aku sangat keranjingan dengan membaca. Dikarenakan tidak tahunya cara membaca dengan sehat, aku mendapatkan kaca mata pertamaku di kelas 4 SD. Kelas 5 mulai berkenalan dengan novel. Novel pertama yang aku baca adalah Harry Potter and the Sorcerer's Stone, pemberian Om Nanang. Makin menjadi saat aku kembali tinggal bersama orang tua di Blitar. Kali ini di kota. Aku masih ingat, di kota Blitar ada persewaan komik. Mungkin aku menjadi salah satu pelanggan tetap di sana. Alhamdulillah, aku mempunyai orang tua yang mensupport kebiasaan membaca cerita ini. Seluruh serial Harry Potter dibelikan oleh ayahku.

Ya, cerita tidak pernah gagal menjadi hiburan. Hiburan bernilai, hiburan yang menyentuh, hiburan yang menginspirasi. Cerita tidak harus disampaikan dalam tulisan, karena ada yang bilang budaya Indonesia itu bukan budaya baca tulis, tapi budaya tutur. Namun apapun bentuknya, story telling menjadi alat hiburan sederhana untukku. Bagaimana dengan kamu?

Ditulis di kegalauan malam hari

3 Januari 2018

#30HariBercerita

Selasa, 02 Januari 2018

Tuntaskan Bukumu

Hari sudah akan berganti, tapi aku baru memulai cerita hari ke dua untuk #30HariBercerita. Untuk malam ini aku akan cerita tentang membaca. Akhir-akhir ini aku mulai lagi memupuk semangat untuk menyelesaikan membaca buku. Setelah sekian lama aku tidak pernah menyelesaikan membaca satu buku utuh. Kalau ada yang bertanya, emang baca harus satu buku utuh? Aku pikir tidak. Kamu bisa melewati bagian yang mungkin kamu kurang suka. Mungkin juga kamu bisa menyelingi dengan buku lain. Namun kalau aku pikir, ada bahayanya kalau kamu berhenti membaca di tengah jalan. Kamu hanya mengerti sebagian topik dari keseluruhan ide yang ada di dalam buku. Emang akibatnya apa? Ada kemungkinan kamu salah tafsir atas ide buku itu, atau kamu salah “ilmu” dalam merespon sesuatu. Analogi sederhananya adalah kamu tidak akan rela diperiksa oleh dokter yang hanya belajar satu bagian tubuh saja kan? Yup, semua muara dari membaca sebagian buku adalah kedangkalan. Ya masih mending ini sih daripada kamu membaca artikel online dengan hanya membaca judul saja (btw, banyak netizen yang kayak gini sih)

Kenapa sih aku sempat malas baca buku? Aku berpikir, mungkin penyebab utamanya aku malas. Okay, aku tidak memungkiri itu. Tapi ada penyebab lain kenapa aku jadi malas membaca buku. Karena aku terbebani sesuatu dalam membaca buku. Yup, beberapa kali aku memilih buku yang sebenarnya aku tidak suka. Namun karena ada beban, antara lain agar bacaanku lebih berbobot, atau membaca buku rekomendasi orang terkenal, atau terbebani best seller, atau yang paling sering adalah membaca buku dengan topik terkini, akhirnya aku membaca sesuatu yang tidak aku suka. Yang pada akhirnya, aku hanya terbebani argumen-argumen saja. Tidak menyentuh aspek dalam hidupku. Akibatnya aku dan buku itu menjadi berjarak. Menyelesaikannya pun menjadi beban. Nah pada akhirnya, aku tidak ada keinginan untuk menyelesaikan satu buku utuh.

Karena itu, akhir-akhir ini aku membaca buku yang benar-benar aku suka, atau topiknya memang dekat dengan kehidupan personalku. Aku sekarang sedang berusaha menyelesaikan dua buku yang aku selang-seling bacanya, yaitu buku Hidup Sederhana dari Desi Anwar dan When Strangers Meet dari Kio Stark.

Kalau kamu, apa buku yang sedang kamu baca?

Ditulis di kosan di tengah deadline kerjaan kantor

2 Januari 2018

Senin, 01 Januari 2018

Memulai #30HariBercerita

Aku memulai #30HariBercerita dengan tidak mood. Dalam kepalaku aku sudah punya kerangka cerita yang lain, cerita menyenangkan tentang pantai. Tapi malam ini tiba-tiba perasaan menjadi tidak enak. Daripada aku tetap menulis dan nanti pada akhirnya jadi tulisan galau nan cengeng, mohon maaf tulisan hari pertama tidak terlalu menyenangkan.

Tapi, tahukah kalian apa yang bisa membuat hati orang bisa sedikit lebih baik? Kata beberapa orang, termasuk psikolog, dengan membuat daftar apa yang kamu syukuri hari ini. Oke, biar hati ini agak mendingan, kita buat gratitude list aja ya.

1. Hari ini supermoon. Hei, kalau kau lihat bulan di tanggal 1 Januari 2018 ini, bulan begitu terlihat dekat dan besar. Sekilas yang aku baca, hari ini adalah titik terdekat bumi-bulan untuk sekian tahun. Bulannya indah dan terang banget meskipun kamu melihatnya dari Jakarta.

2. Hari ini nyoba nyari barang, dan berhasil. Walau agak mahal dibandingkan perkiraan, setidaknya berhasil dapat. Barangnya apa? Emmm… tidak untuk diceritakan dulu deh.

3. Badan yang kemarin remuk redam, hari ini agak mendingan. Oleh-oleh dari pantai dan nyetir 12 jam adalah badan yang lemas seharian. Nah, hari ini udah jauh lebih mendingan.

Sebenarnya banyak lagi sih hal-hal yang seharusnya disyukuri hari ini, tapi itu dulu aja yang di share kali ini. Semoga kita bisa tetap bersyukur tiap paginya.

Ditulis di warung seafood tebet

1 Januari 2018

Dalam rangka #30HariBercerita